Sunday, August 9, 2015

RUMAHKU (BUKAN) SURGAKU

Hasil gambar untuk RUMAHKU SURGAKU

Setiap postingan, selalu menggunakan kata saya. Izinkan kali ini berganti pakai aku ya.

Sejak pindah ke Malang, banyak masalah berhamburan, menyeruak, menggerutu tiada henti. Aku awalnya memang tidak pernah bilang setuju atau tidak setuju atas rencana kepindahan ini. Ini adalah ide bapak, kami hanya follower. Emang nggak enak ya jadi follower doang. 

Aku ngerasa bapak kurang bersyukur. Di Parepare, kami sudah punya rumah yang nyaman, telah berkali-kali renovasi hingga menghabiskan tabungan hidup. Aku dan adik-adik bisa punya kamar pribadi masing-masing. Aku juga punya spot di mana tiap sore, pasti aku duduk di meja belajar ruangan itu untuk menuntaskan tulisan-tulisanku. Kamarku sangat nyaman, ventilasinya sangat memadai dan cahaya matahari bisa masuk leluasa sebab langsung berhadapan dengan teras lantai dua. Selain itu, rezeki kami sangat melimpah ketika tinggal di sana. Walaupun tinggal jauh dari keluarga besar, tapi hampir tiap tahun kami mudik ke Jawa. 

Bukan berarti aku nggak mau keluar dari zona nyaman. Justru kami di Parepare--maksudnya orangtuaku--pun adalah perantau. Mereka sudah berpuluh tahun berjuang untuk hidup di sana. Bisnis penjualan pakaian mama pun laris manis tiap tahunnya karena sudah banyak pelanggan yang selalu sedia mampir berbelanja di kiosnya. Aku juga merasakan lebih mudah aja sih nyari pekerjaan, bukan mencari malah ditawari seperti momen di mana aku pernah mengajar di STAIN kemarin. Bapak nggak usah pusing mau memarkir mobilnya di sebelah mana karena parking area kantor cabang Bank Mandiri Parepare cukup luas. Mau makan seafood, nggak susah, banyak yang segar karena dekat dengan laut. Keuangan keluarga pun cukup terkendali.

Meski memang kota pesisi Parepare itu nggak ada mall apalagi Gramedia atau toko buku besar, tapi aku tetap bersyukur pernah tinggal di sana. Tiap pagi, aku bisa jogging baik sendiri maupun bersama mahasiswi, start dari perumahan sampai ke belakang, pas di pinggir pantai. Ya, di belakang perumahan itu ada pantai. Kalau nggak gitu, aku juga bisa gowes tiap subuh.

Pindah ke Malang, bukan aku nggak bersyukur. Tapi, aku ngerasa kepindahan ini adalah ujian dari Allah. Maaf, tapi nggak bisa kuceritakan sedetilnya apa permasalahan utama karena itu adalah privasi keluarga. Pindah ke Malang pun, aku malah berubah alergi. Ya, alergi udara dingin. Dulu ketika S1, aku masih bisa bertahan. Tapi, mulai pindah total ke sini, justru alergi makin menjadi. Aku juga takut tapi semoga nggak sampai mengalami sinusitis apalagi rhinitis. Semoga aja.

Meskipun aku anak sulung, tapi sebagai perempuan aku tetap saja makhluk yang lebih lemah daripada laki-laki. Aku juga nggak habis pikir, punya adik laki-laki manja. Lagi dan lagi, tiap ada masalah, aku yang jadi sorotan pelampiasan kesalahan. Seolah aku yang nggak bisa memberikan contoh, bla bla bla... Aku muak. Aku muak ketika mendengar teriakan. Aku muak dengan situasi yang terkadang seperti sedang berada di dalam "kapal pecah". Dulu, aku sedih karena nggak ada teman kuliah yang sudi mampir ke rumah pamanku (saat aku masih S1 dan masih tinggal di rumah paman) karena alasan jauh dari kampus. Sekarang, setelah S2, aku sangat bersyukur punya sahabat yang mau berkunjung jauh-jauh ke rumahku. Tapi, terkadang aku berpikir, takut dan nggak mau kalau mereka datang ke rumah. Kenapa? Aku cuma nggak mau, jika saja mereka datang pada saat rumah ini berubah menjadi "kapal pecah". Aku takut ketika mereka datang lalu setelah itu mereka menjauhiku. Tapi, terima kasih buat sahabat-sahabatku yang pernah berkunjung ke rumah tanpa diminta, pernah nganterin aku pulang waktu sakit dan pernah bela-belain nyari alamat rumahku padahal aku lagi nggak ada di rumah. Terima kasih sudah mau mengunjungi tempat pribadiku yang penuh dengan wajah kekurangan ini.

Aku bercita-cita, suatu hari nanti akan keluar dari rumah ini. Jika perlu merantau. Kalau sudah menikah nanti, aku ingin tinggal bukan di kota ini. Aku merasa lebih nyaman ketika merantau seperti saat masih S1 dulu. Aku bisa ngontrak, nyari makan sendiri, masak sendiri, jarang ketemu orangtua dan adik-adik. Itu lebih baik. Dengan berpisahnya kami dalam beberapa waktu dan dengan jarangnya kami bertatap muka, justru itu menjadikan suasana rumah lebih kondusif ketika berkumpul kembali. Beda ketika setiap hari bertemu tapi terkadang harus seperti ini.

Selain itu, aku ingin keluar dari kota Malang juga untuk menyembuhkan alergi dingin ini. Aku benar-benar tersiksa sampai belum berani check-up ke dokter. Aku mau tinggal di daerah tropis, panas. Aku mau sembuh.

Aku juga nggak tahu dan nggak bisa cerita pada siapapun termasuk sahabatku. Blog ini cukuplah jadi ruang kedap udaraku untuk menumpahkan keresahan. Tak peduli akan ada yang membaca atau tidak. Kalaupun ada yang membaca, mereka pasti nggak akan paham atau bahkan mungkin udah salah paham dengan apa yang kutulis ini. Jadi, sudahlah. Aku tak perlu banyak bicara. Biarkan ini jadi privasi saja karena nggak semua harus diceritakan pada orang lain yang memang nggak ada sangkut-pautnya.

Rumahku, surgaku.
Itu adalah kalimat yang selalu kuagungkan saat masih tinggal di Parepare.
Setelah pindah di Malang, kalimat itu terasa hambar.
Rumahku, antara surga dan bukan. 
Mungkin ini yang pantas.
Ya, aku nggak menampik, kadang kala aku lebih suka menginap di rumah teman daripada pulang ke rumah. Kadang, aku lebih suka menghabiskan waktu di luar mencari inspirasi atau hangout bersama teman-teman dekat daripada memilih untuk cepat-cepat pulang.
Dicari atau ditanya kapan pulang, aku suka kalimat itu
Ketika orang rumah mencari, benar-benar mencari bukan dengan alasan yang nggak bisa kuterima, aku menyukainya.
Tapi jika orang rumah mencari atau menahan dengan alasan yang sulit untuk diterima oleh hatiku, itu hal yang kubenci.
Kadang...
Sudahlah
Jalani saja
Sekarang, mencoba bersyukur dengan ujian di depan mata
Ini bukan soal rumah yang sempit. Jika hati lapang, rumah seukuran apapun tetap akan membuat nyaman, bukan? Bukan itu yang kupermasalahkan.
Hanya saja, cara pandang dan cahaya yang ada di dalam rumah itu... kadang nggak bisa menyatu... kadang remang-remang.. Itu yang membuat rumah ini seperti tempat persinggahan yang kurang dirindukan.
Maaf jika aku harus menulis seperti ini karena saat ini, inilah yang terjadi.
Tapi, aku juga berharap semoga masalah ini bisa segera teratasi, kalau bisa nggak harus nunggu sepuluh tahun lagi seperti kata orang rumah.
Semoga Allah membukakan jalan aamiin.

sumber gambar: youtube.com

2 comments:

  1. Waduh Mak, kebalikan ya kita. Aku malah krasan banget tinggal di Malang.
    Tetep semangat Mak. Hidup cuma sekali, dan tinggal di tempat yang tidak diinginkan itu memang nyebelin.
    *bighug

    ReplyDelete
  2. Bener mbak... tinggal berjauhan dg keluarga kadang memang lebih baik, dan terhindar dr konflik2 kecil sama mereka. Yang dominan jd kangennya :)
    Sabar ya mbak... semoga alerginya segera sembuh...

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.