Monday, October 12, 2015

TIGA MINGGU PKPP DI SLB LAWANG

Alhamdulillah udah genap tiga minggu dan nyaris sebulan kami bertiga PKPP di Lawang. Pengalaman mulai dari yang nggak enak sampai yang uenaak adaa semua di dalam perjalanan praktek kami.

Nggak enaknya, harus berpanas-panasan tiap hari. Ngendarai motor di bawah terik panas matahari ditambah kondisi jalan di daerah Lawang tuh gersang, pohonnya nggak banyak jadi bisa dipastikan tangan saya gosong. Berasa nggak mempan gitu udah pakai sarung tangan, maskeran sama pakai lotion. Sebagai cewek wajarlah ya menggerutu. Nggak enak banget dilihatnya kalau warna kulit belang gini. Apalagi tangan saya. Duuuh...ampun.



Enak dan serunya, di sana banyak kejadian lucu hingga mengharukan yang kami alami maupun amati. Di sekolah itu ada bapak guru muda berkacamata. Jadi, kami bertiga memanggilnya Bapak 'Dikta'. Alasannya karena saya ngefans banget sama si Dikta personil Yovie&Nuno, jadi kalau ada cowok cakep plus berkacamata, saya panggil Dikta. Eh setelah saya selidiki, ternyata Bapak Dikta yang saya ketahui kemudian namanya Andhika, dia itu seumuran dengan saya. Malah lebih muda tiga bulan dari saya. Saya Januari, dia Maret. Sayangnya, dia tunawicara. Entah tunarungu juga apa nggak, yang jelas kekurangannya itu. Saya juga udah selidiki, eeh.. dia udah punya pacar. Baiklaaaah. Hanya untuk dikagumi, bukan untuk dimiliki.

Jumat kemarin, kami bertiga sehabis senam, ke ruang aula. Di situ, ada yang lagi main badminton. Saya waktu itu masih duduk di depan aula, duduk berbaur sama adek-adek yang lagi nonton pramuka-an anak SD. Nggak lama, saya lihat si Bapak Dikta masuk aula. Kedua teman saya udah duluan masuk ke situ. Jadi, saya nunggu waktu yang tepat untuk ikut masuk. Pas masuk, kedua teman saya pun main badminton. Bapak Dikta duduk di sebelah saya. Sempat berdiri dia sebentar terus duduk lagi. Eh, duduknya bergeser haha.. yang tadinya kita dipisahkan oleh dua kursi, itu cuman dipisahin satu kursi. Di kursi kosong itu ada hape teman saya, jadi dia sungkan mau duduk di situ. Haha.. so sweet gitu yaa, makin dekat aja. Dan sempat juga saya ngobrol sedikit dengan dia walau saya nggak paham dia ngomong apa tapi saya cuman bisa senyumin dan bilang, "Iya." Lalu, saya nanya ke dia, "Bapak nggak mau main badminton?" Dia jawab sambil angguk-angguk lalu dia maju deh main sama kedua teman saya. Saya sempat ditawarin sama bapak guru lain yang udah capek main, tapi saya menolak karena malu. Hahaha nanti salting ai di depan si Bapak Dikta.

Oiya, soal klien-klien kami juga lucu-lucu. Jadi, di sana itu kami sangat terhibur. Bukan ngetawain mereka yang tiap jawab pertanyaan tuh nggak bisa. Tapi, ada aja tingkah dan respon verbal mereka yang bikin kita tuh ngakak. Saya sendiri menangani klien anak SMPLB. Satu kelas itu ada tiga orang. Ketiga-tiganya adalah klien saya. Yaa walaupun cuman dua aja nanti yang kasus dilaporkan sebagai laporan PKPP putaran pertama ini. Mereka semua laki-laki. Dua orang usianya 18 tahun dan satunya 17 tahun. Tapi, yang lebih dominan dan agak dewasa dikiiit itu malah yang usia 17 tahun dan emang postur tubuhnya juga lebih tinggi.

Yang usia 17 tahun ini itulah anak yang pertama kali saya datang ke SLB, langsung jabat tangan saya dan minta pin BBM saya. Ceritanya udah pernah saya sharing di postingan sebelumnya. Hahaha... Dia ternyata punya jiwa sosial yang tinggi, peduli banget sama orang lain, sama kondisi di sekitarnya. Tapi, sekali ngomong beuuuh... nggak bisa berhenti udah kayak kereta api dan anaknya gampang terpengaruh dengan hal-hal kasar. Satunya lagi adalah kasus CP yang RM. Ini klien utama saya. Karena CP jadi ada hambatan di komunikasinya. Saya kaget waktu tadi pagi dia cerita kalau kemarin malam tuh dia nongkrong sampai jam dua pagi baru pulang. Herannya, nggak dicariin sama ortunya. Ortunya malah ngebiarin. Satunya lagi itu klien saya. Dia ini seriiiiing banget berkata kasar dan kurang sopan. Sekalinya ngomong kasar atau nggak sopan gitu, dia langsung nutup mulut sambil bangkit dari bangkunya lalu senyam-senyum sendiri. Yang lucunya pas pelajaran tadi, guru nanya, "Sudut itu apa?" Trus dia malah meragakan orang shalat sambil sujud. Haha spontan laah saya dan guru tertawa terus ngingetin, "Sudut dan sujud itu beda." Dia tahunya bahasa Jawa, sudut itu pojok. Lucu..lucu... Kedua anak yang usianya 18 tahun ini mereka dimanjain sama ortunya. Beda yang 17 tahun ini malah mandiri. Udah bisa mikir menabung buat beli handphone katanya. Terus kadang dia juga yang negur kalo dua anak 18 tahun ini berantem atau yang suka berkata kasar ini ngejekin si temannya yang CP (Cerebral Palsy). Kadang juga malah ikut-ikutan mojokin temannya yang CP ini. Kasihan juga.

Eh oh ya, anyway, di SLB kan banyak pohon mangga tuh. Kita aja sampai manjatin pohon mangga dan rujak party sama guru-guru. Hehe seru deh selama kita di sana. Alhamdulillah diterima dengan baik dan semoga ke depannya lancar sampai kita bisa intervensi anak-anak di sana hingga kasus selesai. Aamiin

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.