Tuesday, February 9, 2016

BOLEHKAH SAYA KECEWA?

Memang benar.
Seharusnya nggak perlu berharap pada manusia, karena hanya akan merasa kecewa.

Tapi, kalau boleh jujur.. sebagai manusia normal, saya merasa ada yang nggak adil.
Maaf ya Rabb... bukan karena saya nggak ikhlas. Biarlah itu Engkau yang menilainya.

Saat salah satu teman berulang tahun, belain datang dari rumah ke kampus yang jaraknya lumayan... dan itu malam hari.
Tapi, giliran saya yang ulang tahun kemarin... saya agak sedih, karena nggak ada yang mau datang ke rumah.
Bedanya, tahu sih... mereka jauh dari orangtua dan kampung halaman. Saya justru di rumah sendiri. Tapi, ternyata memang saya salah berharap pada manusia. Saya pikir, mereka akan datang ke rumah. Tak perlulah membawa bingkisan, minimal meluangkan waktu duduk bersama sambil minum teh. Ternyata nggak seperti yang saya bayangkan.


Apakah ini soal jarak rumah saya yang jauh hingga enggan meluangkan waktu sebentar saja mengetuk dan duduk bersama?

Sempat terpikir, yaa mungkin mereka sibuk. Jadi, cuman bisa komunikasi via bbm. Tapi kalau memang berteman dekat, bukannya bakal meluangkan waktu untuk datang, duduk bergurau bareng gitu ya? Hmm... ya, saya nggak seharusnya terlalu berharap.

Makanya Emma, berharap itu cukup sama Allah aja.
Ya.. ya itu benar sekali.
Kecewa sih karena selama berteman, ada banyak sekali permasalahan. Ada yang berbohong dengan motif yang saya juga nggak tahu mengapa. Ada yang saling delcont.

Saya juga nggak suka bila ada di antara mereka yang saling ngomongin dari belakang.
Saya juga nggak suka karena sempat beberapa kali memergoki sikap mereka--yang mungkin baginya itu bergurau--tapi bagi saya itu agak menyakiti dan kurang sopan.

Bolehkah saya merasa kecewa?
Maaf jika saya mulai menarik diri karena saya nggak mau terlibat terlalu jauh lagi dalam isu-isu "omongan dari belakang" yang udah terlalu banyak saya dengar.

Saya juga nggak nyangka kenapa sih waktu itu salah satu antara mereka berbohong. Kenapa nggak bilang aja kalau lagi dianterin ke tempat praktek sama si A? Kenapa harus bohong bilang itu teman yang lain? Karena saya bakal marah kalau tahu? Memangnya untuk apa saya marah?

Kenapa pula harus berbohong atas pemberian palsu yang dikasih ke salah satu teman? Apa hanya karena agar dibilang "kaya"? Kenapa lantas dibedakan?

Saya juga merasa kecewa pada diri sendiri karena akhirnya terseret arus ngomongin dari belakang. Omongin mengenai kekecewaan yang saya pendam terhadap mereka pada sahabat-sahabat S1 saya.

Saya juga merasa kecewa karena ada di antara mereka yang sudah sempat berburuk sangka pada saya.
Mereka baru kenal saya satu tahun di bangku S2 sudah bisa menyimpulkan sedangkal itu. Sementara teman S1 yang sampe sekarang udah kenal 5 tahun walau jarang ketemu nggak pernah sekalipun beranggapan begitu.

Apakah saya se-brengsek itu seperti anggapan mereka bahwa saya pelit ilmu? Nggak mau berbagi cuman gegara salah memahami kata-kata? Lalu mereka sendiri bilang, ini adalah persaingan? Kalau saja saya pelit, mungkin kemarin saya nggak akan ngasih liat lampiran dan laporan saya. Mungkin akan saya tarik kembali niat saya. Oh, saya jadi tahu bahwa teman yang selama ini ada di hadapannya juga dianggap rival. Baiklah, tak masalah. Terserah dia saja.

Hati yang kecewa, nggak akan sama lagi detak dan rasanya seperti semula. Bila sikap saya mulai berubah dan saya mulai menjauh, itu karena saya sudah merasa sangat kecewa. Saya memang sudah memaafkan meski mereka tak meminta, tapi kepercayaan sudah jauh berkurang, nggak seperti dulu lagi. Meskipun begitu, sebagai sesama manusia, saya akan berusaha bersikap baik. Bukan karena ingin mengemis pujian. Tidak. Karena itu sudah menjadi tugas saya sebagai manusia.

Bagi saya, jika orang lain tidak baik terhadap saya, maka saya harus tetap berusaha bersikap baik di hadapan mereka. Bukan karena ingin diterima oleh mereka, tapi karena dengan berbuat baik, Allah bisa memberikan saya ketenangan.

Jika ada orang lain yang membohongi saya, maka cara yang saya lakukan adalah memberikan kepercayaan saya kepada mereka secara penuh. Seorang pembohong yang diberikan kepercayaan penuh, kelak pasti akan menyesal dan sadar bahwa mereka sudah menyia-nyiakan kepercayaan orang lain.

Jika tak sadar juga, saya hanya bisa berdoa semoga Allah membukakan hati mereka dan memberikan kelapangan untuk tidak lagi lari dari kebenaran.

Ya, cukup berharap pada Allah
Saya nggak akan membalas apa-apa.
Biarlah waktu yang menjawab dan menyeleksi
dan... biarlah Allah saja yang membalas.



2 comments:

  1. dulu ada yang bilang: "kepahitan paling pahit dalam hidup ini adalah ketika kita terlalu berharap pada manusia."
    mungkin begitu

    ReplyDelete
  2. Mbak, saya juga banyak kecewa dengan apa yang terjadi dengan hidup saya. Tpi setelah membaca blog mbak. Ada sesuatu yang saya akhirnya sadari, ga ada yang lebih baik dari skenario allah. Makasi ya mbak, semoga blog nya terus dipertahankan

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.