Friday, May 5, 2017

NGOMONG SENDIRI, PERLU GAK SIH

"Self-talk reflects your innermost feelings" 
-Asa Don Brown-


Apakah berbicara pada diri sendiri selalu dicap abnormal? Tentu tidak. Berbicara pada diri sendiri atau yang dalam bahasa Inggris disebut self-talk ini memiliki beberapa manfaat. Berbicara sendiri yang dilakukan oleh orang dengan gangguan psikotik dan self-talk yang saya maksud itu berbeda ya.


Menurut Professor Psikologi, Gary Lupyan dari Universitas Wisconsin, self-talk bukanlah perilaku abnormal. Seorang psikolog di bidang pertanian yaitu Anne Wilson Schaef dan psikolog dari Universitas Michigan yaitu Ethan Kross menambahkan bahwa berbicara pada diri sendiri atau self-talk yang semisal dilakukan oleh seseorang di depan cermin, bisa memberikan manfaat. Manfaat tersebut antara lain membantu seseorang menguatkan memorinya mengenai hal yang dibicarakan. Kok bisa? Saya yakin kita semua pernah melakukannya, sadar atau tidak. Seperti saat hendak berdiri di panggung untuk melakukan sebuah pidato, sebagian orang ada yang memilih untuk menghapalkan naskah pidatonya dengan cara self-talk, berdiri di depan cermin kemudian melihat apa yang telah ditulisnya di kertas lalu menghapalkannya sedikit demi sedikit. Teknik seperti ini cukup membantunya untuk memahami serta mengingat apa saja poin-poin penting atau isi yang ingin disampaikan melalui pidatonya. 

Self-talk ini membuat kita bisa mengorganisir dan memfilter mana hal-hal yang prioritas, mana yang penting namun bisa ditunda dan mana yang benar-benar tidak penting. Melalui self-talk, kita bisa memahami dan menguasai diri sendiri. Ketika kita baru saja mengalami kegagalan atau melakukan kesalahan, pasti akan berpikir bagaimana cara untuk menghindari agar tidak gagal/salah kedua kalinya, menerima dan mengakui kesalahan itu dengan jujur, memaafkan diri, membuat planning dan memberi motivasi untuk teguh mewujudkan planning tersebut ke dalam perbuatan nyata bahkan menciptakan produk kreatif yang mungkin bisa memberi manfaat bagi orang lain juga. Kita pun bisa menemukan hal mengejutkan terjadi pada diri kita apabila konsisten dan commit melakukan berbagai perbaikan diri dan itu semua bermula hanya dari self-talk.

Manfaat lainnya adalah menenangkan seseorang sehingga dapat mengontrol emosinya ketika akan atau tengah menghadapi bahaya. Nah, ini biasanya yang paling sering terjadi. Saat kita dalam keadaan under pressure atau sedang dalam situasi tertekan, cemas berlebihan maka tidak jarang akan keluar kalimat-kalimat tertentu dari bibir kita. Ada yang bersumpah serapah sampai mulutnya penuh dengan kebun binatang dan ada pula yang memilih kalimat-kalimat positif seperti, "sabar", "kuat, "aku pasti bisa", "semangat" dan sebagainya. Iya, nggak? Kalimat-kalimat positif dalam self-talk yang kita lakukan ini bisa memantik rasa percaya diri seseorang sehingga mampu menghadapi situasi tekanan tersebut.

Self-talk ini juga merupakan salah satu teknik dari psikoterapi dengan pendekatan perilaku atau behaviorisme dan ini sering digunakan oleh para ahli ataupun psikolog kepada kliennya. 

Self-talk bisa dilakukan kapan dan di mana saja. Tidak harus menunggu ada situasi penuh tekanan dulu kok. Setiap malam sebelum tidur, saya pribadi pun sangat sering melakukan self-talk. Bukan karena mentang-mentang saya tidur di kamar sendiri tapi saya memang orang yang cukup sering berbicara pada diri sendiri sebagai sebuah bagian dari proses introspeksi, refleksi, atau kontemplasi atas kesalahan, kegagalan, keberhasilan dan apapun yang terjadi pada hari itu. Ya, pikir saya, tidak perlu menunggu orang lain untuk memberi pujian atau menyemangati diri kita. Kitalah yang sangat paham terhadap diri kita dan kita pulalah yang terlebih dahulu harus menyemangati diri sendiri.

Sudahkah kita self-talk?

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.