Thursday, June 15, 2017

BAD SILENCE CAN KILL YOUR RELATIONSHIP



Silence is golden
---------

Saya pikir, kalian pasti sering mendengar atau membaca kalimat ini. Benarkah bahwa diam itu identik dengan "emas"? Benarkah bahwa diam itu adalah jalan terbaik? Benarkah diam itu akan menyelamatkan banyak hal? I'm not sure if it will heal everything or be the best thing at all. Kenapa? Because silence can also destroy our relationship with our partner or others. 

Dalam hubungan percintaan, pernikahan, pertemanan dan social relationship lainnya, siapa sih yang tidak bad mood ketika pasangan/teman/rekan kita diam saja? Ketika seseorang sedang dilanda sebuah masalah, respon yang muncul pasti bermacam-macam. Ada yang fight for it tapi ada juga yang flight from it. Diam termasuk salah satu respon flight from it. Terkadang, seseorang memilih untuk diam saat lelah karena ucapannya tidak didengarkan. Ada pula yang diam karena menghindari situasi yang lebih fatal jika mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Biasanya, orang-orang yang tergolong conflict avoider adalah mereka yang takut akan kritik sebagaimana mereka takut dengan penolakan dan amarah. Hal ini jika dibiarkan terus-menerus maka bisa menyebabkan berkurangnya keintiman atau kedekatan dan memicu kebencian pada pasangan/teman/rekan kerja.

Diam juga tidak salah jika bisa memposisikannya dengan benar dan tidak berlarut-larut. Sebagai contohnya, dalam hubungan percintaan, diam bisa berubah menjadi racun jika hal itu sering terjadi antara kita dengan pasangan. Ketika marah atau tidak suka dengan perilaku/ucapan pasangan, ada orang-orang tertentu yang memilih untuk mendiamkan sejenak. Mostly, mereka berpikir bahwa jika berterus terang, mungkin saja akan keluar kata-kata yang bisa lebih menyakiti pasangannya. Benarkah? Mungkin saja ada benarnya, namun, jika memiliki pasangan yang notabene ekspresif sementara kita cenderung lebih sering menarik diri saat terjadi konflik berdua, maka keeping quiet will only make things worse. Diam dalam hal ini tentu tidak akan pernah bisa menuntaskan masalah. Jika kita diam untuk menenangkan diri sejenak, menunggu sampai suasana hati calm down dan situasi agak tenang, itu tidak masalah. Tapi, diam dan mengabaikan pasangan berlarut-larut sementara pasangan kita sudah mulai membuka diri untuk membahasnya dengan lapang hati dan kepala dingin, maka hal itu bisa membuat pasangan ikut terluka.

What kind of silence which can lead to relationship damaged?

Not responding text messages, no need to explain and hearing or rejecting calls for amount of time

I understand because mostly, it may take us a while to respond a text from our partner or others. Entah karena sedang sibuk bekerja, sedang ada jadwal kuliah dan harus keep your phone silent, sedang mengendarai kendaraan dan terjebak macet atau karena urusan yang reasonable or understandable lainnya. 

Sebelum membahas poin intinya, saya ingin bercerita dahulu.
Terkadang ada sih memang orang yang tidak mau tahu urusan kita apa dan tidak peduli mau kita sedang sibuk atau tidak, ya harus ingat untuk membalas pesan atau menelepon secepatnya. Biasanya hal ini sering terjadi dalam hubungan antara atasan dan bawahan atau hubungan yang sifatnya formal/berhubungan dengan pekerjaan. Setiap orang dituntut untuk memberikan performa terbaik dan menuntaskan semua pekerjaanya secepat dan sebagus mungkin. Pressure yang cenderung tinggi di kantor kadang tidak diimbangi dengan relationship yang baik dengan sesama rekan kerja. Apabila atmosfer ini tercipta terus-menerus maka tidak heran sih jika banyak kita temui kasus dimana karyawan hengkang dari kantor. 

Aroma kompetisi antara karyawan pun tidak jarang bisa melukai hubungan kerja mereka. Sebagai contoh, salah seorang kerabat saya pernah bekerja di salah satu bank pemerintah. Namun, karena di tempat kerjanya rata-rata teman kerjanya memiliki jiwa kompetitif yang tidak sehat (I mean, saling menjatuhkan) dan atasannya pun kurang lebih sama seperti itu, kurang peduli terhadap karyawannya. Tidak lama setelah itu dia akhirnya memutuskan untuk resign. Dia tidak tahan dengan banyaknya tuntutan ini-itu sementara atasan dan rekannya tidak pernah mau "mendengar" usulannya dan tidak peduli apapun kondisinya. Padahal dia belum lama bekerja dan posisinya pun cukup bagus. Lebih parahnya lagi, dia sempat mengalami depresi. Ya, depresi yang saya maksud bukan depresi receh yang kadang anehnya serng ditampakkan dengan bangga oleh orang-orang di sosmed hanya untuk mencuri perhatian, melainkan depresi betulan yang sudah terdiagnosa sebagai gangguan jiwa. Depresinya cenderung berat karena sudah ada tanda-tanda gejala psikotik. Bahasa ringannya, sudah setengah gila (karena saya yakin tidak banyak yang familiar dengan kata "skizofrenia" jadi saya pakai bahasa awamnya "orang gila").

Nah, apa sih hal yang bisa dipetik dari sosok rekan kerja yang tidak mau tahu, atasan yang arogan dan tidak mau mendengar penjelasan/keluhan karyawannya sedikit pun seperti kisah di atas? Yap, kembali ke poin pertama dari bentuk silence yang bisa merusak hubungan. Ini sama halnya ketika kita sedang marah dengan pasangan atau teman lantas kemudian enggan membalas pesannya dan me-reject teleponnya berkali-kali bahkan tidak mau mendengar apapun dari dia dalam waktu yang lama.

Jika memang pasangan atau teman kita salah, marah atau tidak suka atas tindakan atau ucapan yang mungkin tanpa sengaja menyakiti kita itu wajar. Namun, jika kita tidak mengkomunikasikannya, malah membiarkan dalam waktu sangat lama sampai pesannya pun tidak dibalas berhari-hari dan teleponnya pun tidak diangkat, itu juga salah. Mungkin sejenak kita lega bisa memberi pelajaran pada pasangan atau teman, hal itu juga sebenarnya bukan hanya akan menyakiti pasangan tapi juga menyakiti diri kita sendiri. Because you both are created to become one, jadi bisa dipastikan rasa sakit yang muncul akan dirasakan berdua, bukan hanya salah satunya. 

Kesalahan yang dibiarkan dan tidak dikonfirmasi akan semakin menyulut banyaknya prasangka lebih dan lebih buruk lagi. Jika kita atau pasangan tidak mau membalas pesan atau tidak ingin berkomunikasi dalam bentuk apapun for a while, baiklah, bisa dimaklumi karena kita juga perlu menenangkan diri. We have to take a time and sometimes want to withdrawl from each other, tapi jika keduanya sama-sama egois, tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang mau berinisiatif untuk meluruskan, tidak ada yang berinisiatif untuk minta maaf lebih dulu, maka I think your relationship will die soon and you should ask yourself first, are you sure your spouse/friend is a better person to be with? 

Jadi, bersyukurlah bila meski semarah apapun kita, pasangan/teman masih mampu untuk mengimbangi. Mengimbangi yang saya maksud bukan harus sama-sama strong atau sama-sama lemah, justru sebaliknya, ketika pasangan/teman kita marah besar dan masih dikuasai oleh egonya, ada baiknya kita yang mengalah. Mengalah bukan berarti pasangan kita yang menang karena dalam relationship tidak ada menang atau kalah. Relationship bukan sarana untuk berkompetisi.

Kemarin, saya sempat mendengarkan siaran di radio. Kayaknya sih Young on Top cuman versi on air radio. Ada sebuah kalimat yang mungkin bisa kita tanamkan untuk diri kita. Billy Boen selaku presenter/pembawa acara Young on Top ini berkata yang kurang lebih seperti ini, "Adalah hal yang patut lo syukuri saat lo melakukan kesalahan tapi atasan lo masih mau negur, ngasih tau ini itu. Kalau atasan lo diemin lo saat lo salah, itu yang berbahaya, bahaya banget itu." 

Kembali pada poin tadi, lalu bagaimana bila pasangan mendiamkan, enggan membalas pesan atau mengangkat telepon/menelepon balik? Ambil waktu sejenak. Tidak masalah untuk mengirimkan pesan sambil menjelaskan perkara yang terjadi. Setelah itu, let it flow, take your time as your spouse/friend does. Jika pasangan/teman butuh waktu sendiri, maka berikanlah haknya. Begitu pula dengan kita, tetap lakukan aktivitas seperti biasa dan di saat-saat seperti ini jangan berlebihan fokus dan terlalu memprioritaskan pasangan/teman. Mereka memang penting tapi bukan berarti kamu melenggang dan mengabaikan pekerjaan atau aktivitas lain yang tidak kalah penting. Kalau saja kita bekerja sebagai seorang dokter dan di saat bersamaan kita sedang konflik dengan pasangan dan di satu sisi ada nyawa pasien yang harus ditangani di ruang operasi, maka kita tidak mungkin kan mengorbankan nyawa pasien karena terus-menerus fokus pada pasangan?

Biarkan kalian sama-sama beristirahat sejenak dan jika dirasa perlu, tetap berikan perhatian kecil pada pasangan, tegur dia untuk sekadar mengingatkan makan atau istirahat (saat sepulang kerja atau setelah suasana mulai calm). Jadi, bukan berarti komunikasinya berhenti total. Kalau yang satu enggan untuk berinisiatif mengirimkan kabar, yang satunya harus proaktif. Ya, kira-kira begitu sih.

Expecting your partner to read your mind

Selain mahasiswa baru yang sering bertanya apakah psikolog itu pandai membaca pikiran dan meramal masa depan, hal serupa juga terjadi pada pasangan atau teman atau rekan yang menganggap kita ini bak "dewa" yang "harus" tahu apa sih yang ada di pikiran mereka?

Biar tidak lompat-lompat, maka saya fokuskan untuk membahas ini dalam ranah hubungan romansa ya (ya walau saya bukan relationship coach, saya hanya berbagi dari apa yang pernah saya dengar, baca, amati dan pernah saya alami sendiri).

Memang sih ketika hubungan dengan pasangan sudah semakin akrab, sudah terjalin cukup lama dan intens, bukan tidak mungkin kita dan pasangan memiliki "kontak batin". Entah bagaimana menjelaskan asal usulnya, tapi kita sering merasa hati dan pikiran kita bertautan dengan milik pasangan, bukan? Ibaratnya seperti seorang ibu yang tahu anaknya sakit walau mereka tinggal berjauhan. 

Jangankan yang tinggalnya berjauhan, yang dekat dan tiap hari bisa ketemu saja, kalau ada apa-apa, pasti kita akan berfirasat. Saya tidak akan mengaitkannya dengan six sense atau indigo atau sejenisnya ya. Kita bahas sebagaimana manusia pada umumnya. Ya, balik lagi, karena kita adalah manusia yang memang diberikan akal untuk menganalisa apa yang sedang terjadi dan mata untuk mengobservasi keadaan, namun menuntut pasangan untuk selalu tahu apa yang kita pikir dan rasa adalah sesuatu yang salah. Kalau di dunia ini semua orang bisa seperti itu, pasti tidak akan ada yang namanya "penasaran", tidak akan ada curiosity, tidak akan ada yang bisa membuat api cinta kita terhadap pasangan jadi lebih greget, tsaaah... (ini kalimat pernah saya dengar dari orang sih, jadi murni bukan saya yang ngomong hehehe).

Saat kita menginginkan sesuatu tapi malah bersikap diam dan berharap pasangan bisa menerkanya, maka tunggulah sampai semua monyet di dunia ini merayakan lebaran. Bagaimana pesan kita pada pasangan bisa nyampe kalau sikap kita seperti itu? Pasangan bukan alien, mereka pun punya perangkat panca indera juga otak sama seperti kita. Jadi, kalau kita ingin agar pasangan tahu apa keinginan dan harapan kita, ya caranya cuma satu: speak up, ngomong, bilang, bicara, sampaikan. Misalnya, saat kita sedang jalan bersama pasangan terus pas ada abang penjual es krim lewat, kita tuh pengen pasangan beliin es krim atau singgah sebentar supaya kita bisa makan es krim sebelum melanjutkan perjalanan. Nah, biar maksud kita nyampe, kan kita tinggal ngomong ke pasangan, "Yang, singgah bentar dong. Aku mau beli es krim nih, lagi pengen makan es krim? Kamu mau juga nggak?" Bukankah ini lebih jelas ya daripada kita diam sambil menatap abang penjual es krim itu lenyap dari hadapan kita lalu marah-marah ke pasangan karena tidak singgah atau tidak bisa baca pikiran kalau kita mau es krim.

Beda lagi jika diam karena ada hal yang kita sembunyikan dari pasangan. Hal ini sebaliknya, sikap diam kita malah bisa membuat pasangan "sembarangan membaca pikiran/perbuatan" kita alias berprasangka buruk, bertanya-tanya dan berpikir negatif terhadap kita. So, try to be honest to your commitment with spouse. Kenapa saya bilang cobalah untuk jujur pada komitmen yang kalian jalin bukannya try to be honest to the person? Karena kalimat kedua seringkali membuat orang malah tidak mau work out. Tuntutan langsung untuk ngomong jujur dan lugas pada pasangan malah seringkali membuat orang withdrawl. Tapi, ketika seseorang memang menganggap komitmen ini penting bagi mereka berdua, maka he or she just go straight to the point and as we know, they still want to work on their relationship with their partner. Kalau kita tetap keukeuh tidak mau menjelaskan yang sebenarnya meski bukti-bukti sudah di tangan, maka ketidakjujuran itu hanya akan melukai pasangan cepat atau lambat. Pasangan akan berpikir negatif dan feels inadequate. Semakin menumpuk pikiran negatif tersebut, maka semakin lebar pula pertanyaan tentang whether the relationship is beyond repair or not

Beruntunglah jika pasangan masih mau menjelaskan atau mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Terkadang, ada orang yang tidak suka diberi penjelasan karena merasa tidak didengarkan atau tidak dipahami oleh pasangan. Sebenarnya, pasangan yang mau menjelaskan dengan sejujur-jujurnya dan sedetil mungkin, mereka bukan berarti tidak mendengar apalagi memahami. Mereka mendengar dan memahami namun mungkin termasuk orang-orang yang butuh untuk menjelaskan terlebih dahulu agar prasangka buruk yang muncul tidak semakin menyebar ke mana-mana.

You don't know how to speak up 

Ini bisa saja terjadi pada orang-orang yang pada dasarnya sangat pendiam dan tidak banyak pengalaman dalam memecahkan masalah ketika sama-sama dihadapkan oleh pasangan yang mendadak diam. Sudah pendiam ditambah punya pasangan yang tiba-tiba bersikap diam, nah kan jadi bingung sendiri, maunya apa dan harus bagaimana? Despite of that, kita juga jangan malah tambah berdiam diri. I mean, di sinilah kemampuan seorang pendiam mulai ditantang. Meskipun kita ini sangat pendiam, tapi saat ada konflik dengan pasangan atau orang lain, lantas kita jadi semakin membiarkan.

Lalu, bagaimana caranya untuk speak up? Awal-awalnya mungkin akan terasa sangat sulit karena orang pendiam tidak terbiasa untuk berbicara banyak. Jangan jadikan sifat pendiam sebagai kelemahan. Sebaliknya, ketika kita tidak tahu harus bilang apa, maka tunjukkan saja dengan perbuatan yang nyata. Biasanya sih, orang-orang yang merasa minder menyusun kata-kata agar "enak" didengar dan tidak menyakiti, akan jauh lebih mudah bagi mereka untuk menunjukkan maksud tersebut melalui sebuah tindakan. 

Ada satu cara lagi, yaitu menunjukkan dengan bahasa tulisan. Nah, karena tidak semua orang lihai dalam berbicara, ada pula sebagian orang yang baru bisa nyaman untuk berkata jujur atau terbuka dengan cara menuliskannya. Ini seperti saya. Saat terlibat konflik, saya cenderung panik, hectic sendiri hingga mendadak saya kerap merasa semua kata yang hendak diucapkan itu lenyap seketika. Lalu, setelah saya tahu bahwa dengan menulis membuat saya lebih rileks, maka saya terbiasa untuk mengungkapkan atau menjelaskan secara detil lewat tulisan. Ya, pernah juga sih saya ceroboh menulis karena kondisi yang tidak kondusif sehingga terjadi kesalahpahaman. Tapi, saya berusaha untuk meluruskannya kembali dan sambil belajar untuk tidak mengulanginya lagi sih. Kalau ada waktu yang tepat, barulah saya akan speak up meskipun mungkin bakal terdengar aneh kalimatnya hehe.

You give silent treatment for each other but revenged by shout it into your social media 

Ini adalah tindakan paling receh yang mungkin hampir setiap orang pernah melakukannya, termasuk saya (ngapunten nyak). Tapi, sekarang-sekarang ini saya berusaha untuk mengontrol untuk tidak share mengenai problem dengan orang terdekat. I mean, pasangan, keluarga dan saudara. Pernah sih share saking tidak tahannya harus curhat pada siapa atau bicara langsung pada mereka. Namun, setelah saya tahu hal itu adalah tindakan yang kurang dewasa, saya pun menghapus semua postingan yang mungkin tanpa sengaja pernah menyinggung atau mungkin orang yang saya singgung adalah si A tapi yang merasa malah si B padahal tidak ada maksud menyinggung si B.

Saling memberikan silent treatment lalu membalas dendam dengan cara mengumumkannya ke sosial media ini jelas-jelas perbuatan yang errrrrrghhhh piye ya hahah... Tapi kalau semisal just share the main topic about those problem without figure out their real names or their real characteristic hanya sekadar sebagai contoh dan untuk mengambil hikmah dari situ sih, masih bisa termaafkan, tidak masalah.

Tapi kalau sudah terang-terangan nyebut merk, nah ini nih yang bahaya. Jangankan yang terangan nyebut merk dulu, yang memposting hal-hal ambigu pun kadang bikin kita jadi ikut penasaran apalagi kalau sedang dalam posisi we got a problem with them, iya kan? Jadi, yang sebenarnya, masalah udah clear tapi karena tidak jelas yang diomongin tuh siapa, untuk siapa padahal itu tujuannya untuk umum dan bukan untuk pihak tertentu, hal ini bisa memicu kesalahpahaman juga.

Seperti halnya ketika saya menulis ini, murni karena beberapa jam lalu di pagi hari saya habis baca artikel. Yang tahu banget kalau saya ini suka baca, pasti mereka bisa paham bahwa tulisan ini bukan untuk menyinggung pihak tertentu. Kenapa saya tulis dengan huruf bold, agar yang lain tidak salah paham dan tidak menerka-nerka. Tidak semua yang tertulis di sini based on my own stories or because I want to spread out hatred to others. Saya cuman mau sharing dari bacaan yang sudah saya lahap dan sekiranya bisa memberikan inspirasi atau pelajaran bagi kita semua.

Jadi, bila ada konflik, jangan membiasakan diri untuk diam lalu memilih menyebarkannya ke sosmed. Itu memang tidak dibenarkan. Bukannya malah selesai, yang ada masalah akan semakin meruncing dan orang lain pun akan terpancing untuk kepo. Ya, beberapa waktu lalu, saya sempat memposting hal yang kurang baik tapi hanya untuk diri sendiri, namun setelah merenungkannya, walau untuk diri sendiri, itu tetap saja emosi negatif. Kata salah seorang teman baik, emosi itu menular jadi hendaknya sebarkan hal-hal positif, akhirnya saya hapus postingan tersebut. Padahal cuman curhat receh soal diri sendiri hehe..

Your partner need to talk about but you reply her/his with "nothing to say anymore"

It seems like a little sarcastic. Kalau pasangan udah bilang "Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi" maka bersiap-siaplah untuk menghadapi kenyataan terpahit. Saya tidak menakut-nakuti. Ya, bisa saja kalimat itu tercetus karena pasangan masih terbawa emosi sehingga serba tidak terkontrol. Tapi, jika kalimat tersebut dikatakan dengan tatapan mata seolah sudah sangat kecewa, sudah waktunya he/she will let you go definitely. Kalau ini terjadi, mungkin saja karena kita tidak pernah belajar untuk memperbaiki diri atau mungkin saja karena kita tidak pernah mau meminta maaf and admit it. Wajar jika pasangan sudah di ambang batas sampai bisa bilang seperti itu.

Tapi, bila situasinya, dibalik. Kita lagi konflik dengan pasangan. Pasangan sudah mengakui kesalahan dan meminta maaf. Dia juga sudah menunjukkan penyesalan melalui tindakan nyata yaitu dimana dia berusaha untuk memperbaiki diri, ucapan dan tingkah lakunya. Masalah pun terjadi karena miskomunikasi atau salah paham dan masih bisa dicari solusinya bersama. Namun, kita tetap saja masih tidak bisa mentolerir sampai kita bilang "Nggak ada lagi yang harus dibicarakan. Bye." tanpa mendengar terlebih dulu penjelasan dan pengakuan dari pasangan, ini juga bisa saja menjadi tindakan yang kurang tepat. Kenapa? Seperti halnya poin pertama, kita tidak mau mendengarkan, kita memilih untuk mengabaikan tanpa memberi kesempatan pada pasangan untuk jujur. Kalau memang pasangan kita terkenal sebagai seseorang yang dapat dipercaya baik perbuatan maupun ucapannya, bukankah mendiamkan hingga berkata tidak ingin bicara apapun lagi adalah hal yang tidak adil bagi pasangan?

Setiap orang punya hak dan kesempatan untuk mengakui, tapi tidak semua orang mau mengakui kesalahannya. Semua orang punya hak untuk didengarkan, tapi tidak semua orang mau mengatakan agar didengarkan. Jika pasangan kita adalah seseorang yang dari dulu memang orang yang buruk, suka berbohong, tidak mau mengakui kebohongannya, dan berulang kali mengulangi kebohongan yang sama, maka mungkin saja tindakan kita untuk tidak mendengarkannya adalah hal tepat. Tepat agar dia menyadari bahwa sikap dia yang sama diamnya dan malah menarik diri tidak mau mengakui adalah hal yang salah. Tapi, jika pasangan pernah berbohong dan sudah mengakui serta tidak lagi mengulangi perbuatannya, atau dia pernah berbuat salah, menyesali kemudian dengan jelas kita amati dia sudah memperbaiki dirinya, maka berilah dia kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati. Barangkali ada maksud/pesan darinya yang ternyata tidak pernah tersampaikan hingga membuat kita juga salah paham dan menuduh-nuduh pasangan. 

Tapi, semua tergantung individu masing-masing. Bila memang yakin hubungan tersebut masih bisa diperbaiki dan dilanjutkan, tidak ada salahnya. Tapi, jika merasa bahwa kita sudah berusaha maksimal namun tidak ada tanda-tanda usaha yang sama dari pasangan, mungkin sudah waktunya kita untuk move on. Karena hubungan itu dijalani oleh dua pihak. Jika salah satu pihak saja yang terus berjuang sementara yang lain ongkang-ongkang kaki, ogah-ogahan, ya itu bukanlah hubungan yang sehat. 

Kita juga jangan lupa berkaca pada diri sendiri. Mungkin saja kita pernah menjadi sosok yang ongkang-ongkang kaki seperti itu, merasa dicintai, dielu-elukan, dibanggakan sementara pasangan sudah memperjuangkan kita mati-matian, membanggakan kita meski kita tidak pernah membalasnya, menantikan kita dalam waktu yang panjang, dan pokoknya dia tu karena saking cintanya bukan tidak realistis tapi justru dialah sosok penyelamat yang kadang kita lupa untuk memperjuangkannya juga, maka kita harus introspeksi diri lagi. Ketika dia sudah berada pada tahap "merasa tidak diinginkan, tidak dihargai, diabaikan terus-menerus" bukan tidak mungkin dia akan pergi perlahan. Pergi karena lelah perjuangannya terasa sia-sia. Pergi karena sikap kita yang egois, maunya menang sendiri. Pergi karena tidak diharapkan. Dan bisa jadi, kita hanya akan menyesal kemudian karena sudah menyia-nyiakan dia yang selalu ada untuk kita.

So, happy contemplation ya guys. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita, biar kita juga introspeksi diri, bukan hanya nimpalin kesalahan pada orang lain atau bahkan mencari-cari kesalahan orang lain.

No comments:

Post a Comment

--Lisanmu adalah cerminan hati dan pribadimu--
--Thanks ya udah mau tinggalin jejak di Catatan Kriuk Calon Psikolog ini--