Monday, July 10, 2017

SALAHKAH MEMVONIS ORANG LAIN



Beberapa minggu yang lalu, saya menonton salah satu tayangan di televisi yang berbasis reality show. Ada scene dimana seorang ibu (dengan fisik kurang sempurna) ingin melaksanakan sholat di sebuah masjid. Saat ibu itu hendak memasuki masjid, tiba-tiba keluar seorang bapak-bapak yang kira-kira usianya nggak jauh beda lah sama ibu itu. Bapak itu mengangkat tangan kanannya dengan posisi ibu jari menunjuk ke depan wajah sang ibu tadi sambil melarang si ibu tadi sholat. Alasannya? Bapak itu dengan entengnya bilang karena ibu itu kotor (Bapak itu secara frontal bilang si ibu itu kotor karena melihat si ibu berjalan dengan tangan dan maaf memang nggak punya kaki).

Saya nontonnya aja pakai nangis segala loh, terus saya juga sempat share ke si abang dan dia lebih jengkel lagi sewaktu saya ceritain. Tahukah apa yang dia bilang? Si abang bilang terkadang orang yang menuduh seperti itu mau dikata paling suci padahal imannya bisa aja nol.

WOW!! Saya tercengang juga sih dia bilang gitu, but it's just opinion, don't take it personally ya.

Belum lagi di media sosial yang nggak dipungkiri kita bisa dengan sangat mudah menelusuri laman gosip hanya dengan sekali klik. Lebih-lebih lagi di Instagram.

Saya agak gerah juga sih membaca postingan akun-akun gosip... ya you know lah ya, nggak usah saya jabarin satu-satu di sini. Entah itu bahasan atau singgungan atau battle-an antara haters-nya si ini dan si itu yang katanya suaminya selingkuh (wallahu'alam), ataupun soal artis atau aktor yang salah kostum, tattoo-nya dikomenin atau yang ngubah bentuk hidungnya pakai injeksi filler de el el.. de el el...

VONIS?

Please, ini bukan lagi pengen posting soal hukum atau pengadilan. Kenapa saya pakai kata "Vonis"? Biar greget aja sih, hahaha...

Nggak gitu juga sih. Kata vonis ini agak mirip-mirip gitu sama kata "menghakimi" atau jugding. Berhubung bosan pakai kata judge terus jadi sekali-kali tak apalah yeu. *Alasan aja*

Ahh... sudahlah.

Actually, merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, vonis berarti putusan hakim pada sidang pengadilan yang berkaitan dengan persengketaan di antara pihak yang maju ke pengadilan. Memvonis diartikan sebagai menuduh melakukan perbuatan melanggar hukum.

Jadi, biar ngebahasnya lebih enak, nyantai dan nyikologis sesuai tema blog ini, maka saya pakai terjemahan dari kata memvonis tersebut aja ya.

Siapapun kita, dari status sosial macam apapun dan usia berapapun, I believe many of us pernah lidahnya kepleset ngomentarin bahkan menuduh atau memvonis orang lain? Kayaknya nggak ada deh yang nggak pernah nuduh orang lain kecuali kalau orang itu memang malaikat yang turun ke bumi dan pura-pura menjelma jadi manusia. Halah apaan coba...

Sebelum kita ngobrol santai pakai contoh di kehidupan sehari-hari, coba deh kita sama-sama telaah dulu sebenarnya salah nggak sih kalau memvonis orang lain? 

Kapan vonis atau judging itu bisa dipakai dengan tanpa menyinggung orang lain? 

Apa ada yang namanya vonis positif? Judgment positif?

Terus, apa bedanya ya judging dengan assess dan evaluating dalam ranah profesionalisme?

Pada penasaran kan.. Penasaran kaaan?

Iya saya juga sih. Makanya, saya juga sempat kepoin akun-akun Psychology Today dan beberapa akun lain yang pernah membahas tentang itu demi mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas.

Kata vonis tadi sudah saya paparkan ya definisinya. Jadi, kata vonis itu lebih sering digunakan dalam ranah hukum. Saya nggak tahu apa-apa soal hukum jadi CMIIW ya. Cuman, menurut saya, vonis dalam ranah hukum ini sifatnya profesionalisme dan ada syaratnya sehingga ya bisa dianggap sah. Seorang hakim bukan asal ujug-ujug ngejatuhin vonis bagi terdakwa/terpidana. Pastinya ada proses yang panjang sebelum vonis ini bisa ditetapkan *sambil ketok palu*. Vonis ini menentukan hukuman atau tindakan apa yang akan diberikan kepada pihak yang terhukum, entah itu vonis hukuman penjara, bayar denda, hukuman mati, dan lain-lain.

Kata vonis juga sering kita dengar kan ya kalau nonton sinetron-sinetron yang ada scene dokter sama pasien (ketahuan ye kan suka nonton sinetron).... Kata-kata yang sering kita dengar, bahwa si dokter ini memvonis si itu umurnya nggak lama lagi melihat rekam medis dan penyakit yang diderita si itu.

Kok memvonis umurnya nggak lama lagi sih? Emangnya dokter itu Tuhan? Kenapa sih di sinetron atau pembaca berita kadang lebay gitu pilihan katanya harus pakai vonis memvonis segala? Saya juga nggak tahu tapi kayaknya kalau di dunia medis nggak jauh-jauh amat sama psikologi klinis yang pakai kata diagnosa/diagnosis.

Terus, kata vonis? Entah mungkin kata itu dipakai buat nge-hype-in kancah persinetronan dan per-gosipan dan per-socmed-an supaya yang baca jadi greget. 

Tapi, tapi... barangkali habis ini ada mahasiswa kedokteran yang main ke sini, jangan lupa komen ya hehehe.. dan saya mau tahu aja gitu, apa benar kalau di dunia kedokteran itu, para dokter memvonis usia si pasien sekian bulan, sekian tahun bla bla bla? Ya, supaya kita nggak kemakan sama influence dari sinetron dan infotainment dan sosmed aja sih nih karena kadang orang awam yang nggak tahu apa-apa pasti langsung nelan gitu aja informasi atau statement yang mereka dengar.

Nah, kalau di dunia psikologi sendiri. Seumur-umur sih, saya nggak pernah ya denger ada pembaca berita gitu yang menyiarkan bahwa "....si psikolog ini memvonis kliennya mengalami skizofrenia katatonik...." Misalnya aja. Nggak pernah kan denger kayak gitu? Ya semoga aja nggak ada yang begitu karena emang psikolog bukan orang yang kerjanya memvonis.

Di dalam ranah psikologi, kita mengenal kata judging/judgment, assessing/assessment dan evaluation. Ketiga hal itu apakah sama aja artinya? Kalau beda, bedanya apa dong?

Kadang, orang-orang awam pun asal ceplas-ceplos aja tanpa tahu kata judge itu apa sih maknanya dan asesmen juga evaluasi itu bukannya hampir mirip-mirip aja ya dengan kata judge. Dan kenapa sih orang-orang lebih suka pakai kata judge juga sekalian suka nge-judge orang lain?

Merujuk pada definisi yang tertera pada Wikipedia, judgment diartikan sebagai sebuah evaluasi dari berbagai sumber bukti guna pengambilan keputusan. Di Wikipedia-Judgment, judgment itu ada banyak term-nya loh ternyata antara lain informal judgment, informal and psychological judgment, legal judgment, dan religious judgment dan satu additional meaning yaitu personality judgment.

Informal judgment, yaitu opini yang diekspresikan sebagai sebuah fakta.

Informal and psychological judgment, digunakan untuk menyebutkan kualitas kemampuan kognitif maupun kemampuan ajudikasi seseorang, biasanya disebut sebagai kebijakan.

Legal judgment, digunakan dalam konteks persidangan hukum yang merujuk pada pernyataan akhir atau putusan berdasarkan pertimbangan berat ringannya bukti.

Religious judgment, digunakan dalam konsep ajudikasi Tuhan untuk menentukan baik buruknya, surga dan nerakanya setiap manusia.

Additionalnya, yaitu Personality judgment yang diartikan sebagai fenomena psikologis dimana seseorang membentuk sebuah opini tentang orang lain.

I guess, the last additional term of judgment adalah bentuk vonis atau judge yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan mungkin juga kita pernah melakukannya. Ya, we judge other people and we (sometimes) take it personally, namun seringkali menilai orang lain tanpa berdasarkan bukti yang nyata/jelas/pasti yang kemudian judgement/judging ini dianggap sebagai sebuah kata dan sikap negatif. 

Padahal, merujuk pada definisinya di Wikipedia saja, saya pikir sudah cukup jelas sih bahwa judgment itu dipakai dalam empat kondisi tertentu seperti yang saya jelaskan di atas ya. Kata vonis sendiri, itu masuk pada legal judgment ya.

Personality judgment itu memang sangat rawan. RAWAN GHIBAH, RAWAN GOSIP, RAWAN TERHADAP TUDUHAN YANG SIFATNYA FITNAH YANG BERARTI TANPA BUKTI NYATA, TANPA PERTANGGUNGJAWABAN, DAN DENGAN TUJUAN YANG SIFATNYA DESTRUKTIF.

Dalam keilmuan psikologi, para psikolog biasanya lebih menggunakan kata asesmen. Seorang psikolog terlebih dahulu melakukan asesmen yang artinya menilai individu atau kliennya dalam berbagai aspek, baik itu aspek kognitifnya, afeksi, psikomotorik, kepribadian, hubungan sosialnya dan masih banyak lagi. 

Asesmen yang dilakukan pun tentunya dibantu dengan instrumen berupa alat-alat tes psikologi juga melalui proses wawancara dan observasi sesuai dengan kebutuhan serta permasalahan klien. Proses asesmen yang berlangsung pun nggak semata melibatkan klien aja ya, melainkan juga significant others dari si klien yang berarti bisa saja itu adalah keluarganya, temannya, sahabatnya, saudaranya, pacarnya, suami atau istrinya, gurunya, dosennya, rekan kerjanya, dan mungkin juga WIL DAN PIL-nya (pada beberapa kasus juga ada loh yang begini) bahkan mungkin sampai pada pembantu atau tukang sapu jalanan yang sekiranya dapat memberikan informasi tentang diri klien dan pernah berhubungan dengan klien.

Melalui hasil asesmen inilah nantinya, psikolog menemukan simpulan atau putusan akhir guna dicocokkan dengan kriteria diagnosis sehingga memperoleh gangguan atau problem apakah yang sebenarnya dialami oleh si klien serta how or what kind of treatment yang sebaiknya diberikan pada klien untuk mengatasi problem atau gangguan tersebut.

Gimana udah lumayan jelas ya soal-menyoal judgment ini. Jadi, asesmen itu juga merupakan proses judging atau evaluasi tapi dalam ranah legal judgment sama seperti putusan hakim atau diagnosa dokter.

Tapi, semakin ke sini, penggunaan kata judge ini udah banyak disalahartikan karena nggak tahu term of-nya tadi sehingga dicap sebagai negatif. Padahal nggak gitu juga kali. Makanya di zaman sosmed modern sekarang ini kata judge yang kerap dipakai, diumbar, diungkit-ungkit, di-hype-in sampai sebegitunya ya yang sifatnya personality. Seseorang langsung menilai hanya lewat diri/personal/kepribadian orang lain sehingga jatuhnya udah bukan murni evaluasi yang bisa membangun atau penilaian yang akurat tapi justru penghakiman sepihak hanya berdasarkan pendapat.

Yang namanya pendapat itu bisa benar bisa salah ye kan? Namanya juga pendapat, orang pun bisa asal bunyi aja tanpa peduli yang sebenarnya terjadi dan tanpa tahu background dari orang atau sesuatu yang dinilainya. 

Orang bisa aja gitu ngomentarin mie yang dimasak sama si anu itu ya nggak sedap karena nggak ada garamnya padahal dia nggak tahu di balik proses pembuatan mie itu bisa aja si tukang masaknya sengaja kasih garam sedikit karena takut keasinan atau karena takut selera orang beda-beda atau dia mungkin lupa kasih garam.

Orang bisa aja ngomen ih si anu nah kok dia nikahnya sama si itu sih, si itu lo jelek, nggak cantik, nggak ganteng, apanya sih yang dia lihat dari si itu? Kenapa nggak pilih si ini aja sih yang udah jelas bebet, bobot, bibit dari genus dan marga tanaman apa. Ups...

Ngutaraian pendapat itu amat sangat mudah banget. Ada yang pakai diolah dulum ditimbang dulu, sampai ada juga yang nggak perlu ngolah langsung jebret udah deh kelar lo kena komen gue! Misalnya ya.

Tapi, makin ke sini kita karena mungkin kebanyakan makan micin juga jadi mudah mengambil atau terhasut sama pendapat yang kita dengar atau baca. Kalau kita beneran punya otak, harusnya dipikir dulu sebelum menerima informasi, diolah dulu, caranya ya cari tahu sendiri, cari tahu ke banyak orang termasuk cari tahu ke orangnya sendiri, tanya sendiri gimana sih yang bener, biar kita tuh tahu real, fact, nyata, pastinya kayak gimana. Kalau cuman diawang-awang apalagi cuman dengerin celotehan orang yang nggak bermutu, lama-lama proses kognitif kita jadi nggak bisa berjalan baik lagi, karena lebih mudah kehasut sama yang buruk-buruk, pasti bakal sulit nerima informasi yang baik, membangun dan berkualitas. Iya nggak?

Daripada sibuk mantengin akun gosip mulu, coba deh kita lebih sering lihat diri kita. Kadang emang kita khilaf sih, khilaf buat komenin orang lain. Kalau saya pribadi, kadang greget ngasih tahu orang lain, bukannya komen sih tapi lebih kepada ngasih tahu. Ngasih tahu kalau misalkan si ini atau si itu ngelakuin hal yang salah. Ngingetin sih lebih tepatnya. Cuman kadang juga jatuhnya malah dikira cerewetin, ngomen padahal sifatnya positif. Ini juga yang suka jadi bahan sebel-sebelan, Orang ada yang komen, niatnya baik, cuman mau ngasih tahu tapi orang lain pandangannya beda malah ngira si orang tadi tu cuman komen nggak jelas, cuman mau ikut campur aja.

Saya juga mulai agak berhati-hati. At least, saya pun pernah mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari orang-orang yang sempat saya anggap sebagai teman. Tapi ternyata di belakang, mereka memberikan personality judgment. Saya memang diam, karena bagi saya, nggak ada gunanya juga ngebalas komenin balik. Kalaupun saya pernah komen balik itu amat sangat jarang dan thankful to God sekarang udah nggak lagi ngurusin begituan. 

Bukan apa-apa, saya jadi teringat, saya ini psikolog, kalau saya ikut-ikutan kayak gitu, gimana saya mau membangun hubungan personal serta diri yang baik supaya saya bisa kerja dengan baik, aman, nyaman, tenteram nanti? 

Kalau saya kayak gitu nggak ada bedanya dong, saya sama anjing yang menggonggong, nggak ada bedanya dong sama akun gosip atau hater yang seringkali menebarkan isu-isu miring, kalau kayak gitu, lalu kenapa saya jadi psikolog, nggak pantes deh kayaknya jadi psikolog tapi sikapnya childish tiap ada masalah main belakang kayak gitu. YA, ITULAH. Saya mikir ke situ. Bukan untuk dinilai orang tapi semata saya hanya ingin care pada diri saya sendiri. Kasihan saya kalau terus-menerus ngurusin orang yang pernah fitnah saya, jahatin saya bahkan nyemprot saya di sosmednya berkali-kali. Mungkin saya nggak bisa negur langsung, karena personally, saya pun tahu kalau rasanya ditegur di hadapan orang banyak itu sifatnya mempermalukan dan saya pun nggak mau melakukan hal yang sama seperti apa yang pernah orang lakuin pada saya. I don't deserve it

Jadi, buat orang-orang yang sebaliknya ya bukan lagi tukang komen tapi justru sering kena komen, sering di-bully secara verbal ataupun kena cyberbullying, percayalah bahwa dirimu itu sangat berharga, lebih berharga daripada tukang komen itu. Kalaupun kamu pernah salah, ketika kamu sudah admit kamu memang salah bukan salah yang karena pengen nyari sensasi biar dapat banyak komen, kamu berhak memperbaiki dirimu tanpa perlu mengkonfirmasikannya kepada si tukang komen. Nggak perlu. Nggak penting. 

Kita nggak perlu konfirmasi untuk menunjukkan eksistensi kita. Kita nggak perlu konfirmasi agar orang lain percaya sama kita. Kalau emang orang lain nggak percaya ya terus percuma aja kan konfirmasi sebab ada pepatah yang bilang, orang yang membenci kita nggak peduli mau kita bilang apapun, mereka tetap akan membenci kita. Sebaliknya orang yang memang baik pada kita dan peduli juga sayang dan tahu kita siapa sebenarnya, tanpa kita ngasih tahu, tanpa pake acara konferensi pers pun mereka akan tetap menyayangi kita. Itulah yang namanya unconditional positive regard. Menghargai tanpa syarat. 

Kalau mau berubah setelah melakukan kesalahan, nggak perlulah pakai acara konfirmasi. Biarkan dan tunjukkan saja dengan sikap yang secara alamiah kamu bentuk, kamu upayakan, dengan begitu jalannya pun bisa lebih enteng. 

Kalau kebanyakan konfirmasi, itu nggak ada bedanya kamu dengan akun gosip itu. Kebanyakan konfirmasi bisa aja kamu nggak bener-bener berubah. Kebanyakan konfirmasi bisa aja nanti jatuhnya kamu cuman mau cari popularitas. Buat apa? Buat apa dengerin dan mengharap populer di mata orang lain? Kalau niatnya sudah begitu, ya silakan aja sih jalan... nanti juga tahu kan ujungnya, hasilnya gimana.

Terus juga, saya greget bin gengges banget kalau ada orang yang dengan gampangnya bilang eh kamu itu kafir banget ya bla bla bla.. Eh eh... emang situ Tuhan kah? Kok enak banget ya bilangin orang kafir? Emang situ tahu kafir itu definisinya apa dan kayak gimana? Emang Tuhan pernah ngasih tahu situ kalau orang yang situ judge bakalan masuk neraka atau kafir? Emang pernah? NGGAK KAN??! Jadi, ngapain sih pakai acara ngatain orang lain kafir segala. Ya ampun, kita ini manusia biasa biangnya dosa dan salah loh. Bisa aja kan diri kita ini punya dosa yang jauh lebih besar, who knows, jadi mending jangan sok gitu deh.

Sempat juga dulu di sosmed ada salah satu orang yang saya tahu. Saya nggak bilang kenal tapi tahu. Mungkin saya kenal tapi nggak sepenuhnya saya kenal dia karena nggak pernah 100 persen berinteraksi penuh sama orang itu. Orang tersebut dengan entengnya nge-judge orang lain yang pakai jilbab syar'i dan laki-laki yang biasa disebut ikhwan yang pakai celana cingkrang/di atas mata kaki. Kenapa sih? Kok lancar jaya banget ya ngatain si hijaber syar'i itu sok suci, sok inilah itulah. LAGI DAN LAGI, emang situ Tuhan kah?

Kenapa juga sih selalu sukanya ngungkit-ungkit masa lalu orang lain? Apa orang lain nggak pernah keluar dari kenistaan di masa lalu dan meraih masa depan yang cerah? Why? Kenapa dengan mudahnya kita menebar kebencian cuman gegara orang itu, si anu dan si inu punya masa lalu yang jelek, yang bangsat. Banyak loh orang lain di luar sana yang akhirnya bisa jadi ulama, bisa jadi orang baik sebaik-baiknya di mata Allah padahal dulunya dia ngelakuin kejahatan yang naudzubillah bahkan mungkin kita jijik nggak mau maafin. Dan, pernah baca kan kisah seorang pelacur yang hanya karena dia ngasih minum anak anjing yang kehausan, lalu kemudian dia bisa masuk surga... Nah, lalu apa hak kita buat nge-judge kayak gitu tadi? Kalau belum paham, coba deh baca, dan tolong jangan langkahin hak prerogatif Tuhan untuk menetapkan legal judgment bagi manusianya ya.

Sebagai seorang psikolog pun, saya nggak mau munafik. Pastinya nggak bakal lepas dari yang namanya judgment tapi dalam ranah profesionalisme yaitu asesmen. Iya, bayangin aja selama kuliah kita ini ditempa banget belajar gimana caranya asesmen, gimana caranya menginterpretasi hasil skoring dari tes psikologi dari klien kita.

Kita diajarin cara interpretasi, gimana cara melaporkan hasil observasi itupun dengan pemilihan kata yang tepat, nggak boleh langsung nembak ngedeskripsiin pribadi orangnya, dan itu kudu hati-hati banget. Saya kasih contoh nih ya, semisal lagi ngeobservasi dua orang, orang pertama lagi nangis dan orang kedua semisal lagi nyubit orang pertama, misal aja loh ya.

Nah, untuk mendeskripsikannya ke dalam laporan, kita nggak boleh menjabarkan bahwa orang pertama menangis karena dicubit oleh orang kedua. Deskripsinya kudu detil dan nggak boleh pakai kata-kata direct yang langsung nge-judge perbuatan si orang kedua. Caranya? Panjang bok ya kalau dijabarin. Misal gini deskripsinya, nyubit dan nangis itu diganti dengan kalimat orang kedua mengarahkan tangannya ke arah lengan atas orang pertama dengan posisi ibu jari dan jari telunjuk mengapit kulit lengan orang pertama kemudian kedua jari tersebut diputar ke kanan dan ke kiri bergantian sebanyak dua kali. Lalu, tampak air keluar dari celah-celah kedua mata orang pertama dan dia membuka lebar mulutnya sambil berkata "haaa.." dengan nada tinggi.

Gimana? Susah kan? Nggak kepikiran kan kalau harus sedetil itu. Iya, itu adalah hasil observasi. Belum kalau disuruh nulis hasil asesmen wawancara dan hasil tes juga sama-sama nggak boleh langsung nge-judge. Seringkali biar lebih aman pakai kata "cenderung" atau kata-kata indirect.

Kenapa harus gitu? Sebab persepsi orang tentu beda-beda dan agar penilaiannya tidak timpang kanan dan kiri dan bisa bersifat netral tanpa menghakimi. Yap karena katakan aja orang kedua mencubit dan orang pertama menangis? Bisa aja karena momennya pas barengan, orang kedua lagi gemes sama orang pertama, tapi orang pertama menangis misalnya karena kehabisan diskon di toko atau barusan nonton film korea. Bisa juga karena emang orang kedua niat bikin orang pertama nangis. dan bla bla masih banyak kemungkinan interpretasinya ye kan?

Jangan dipikir itu pekerjaan yang gampang loh ya. Sama kayak dokter, taruhannya adalah kesejahteraan bahkan hidup manusia a.k.a klien loh.

Kalau salah asesmen, sampai pada treatmentnya pun pasti bakal salah, dan apa iya kita mau bertanggung jawab kalau sampai klien kita udah salah perlakuan terus misalkan berubah jadi nggak waras, nggak sehat atau bahkan mengakhiri hidupnya. Nggak mau kan kalau sampai itu terjadi?

Jadi, let's be smart aja sih. Sekian dulu ya tulisan saya, semoga bermanfaat.

2 comments:

  1. Aihh... bener, walaupun seringkali ga bisa enggak secara spontan ngejudge, sebab udah ada nilai2 tertentu yang jadi pegangan kita masing2, pengalaman2 juga membentuk opini kita, yang pastinya sepihak dan cuma sepenggal doang luasnya. Tapi kayaknya, yang perlu banget itu, menahan diri dari langsung melancungkan 'vonis' berdasarkan judgment tanpa mengetahui fakta2 yang jelas. Kudu latihan nahan diri, haha...itu susah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyya mba bener banget, sy pun jg masih latihan nahan diri
      basically, bnr juga yang mbak blg, masing2 punya prinsip punya pendapat tp ya itu kadang kita lupa diri heheh nggak sadar main langsung gaspol aja.
      makasih mbak udah mampir sini

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.