Thursday, July 6, 2017

WHAT IF



Lebaran itu identik sama silaturahmi ya dan biasanya di momen ini nggak jarang juga muncul proses saling banding-membandingkan antar kerabat dalam keluarga. Sikap membanding-bandingkan inipun nggak jarang bikin bikez alias bikin kezel karena dari comparison itu, pintu-pintu anxiety makin terbuka lebar di kepala. Kecemasan inilah yang saya mau bahas dan saya kemas dalam kalimat WHAT IF... Dan yak, tulisan ini bakal saya sangkut-pautkan antara perbandingan-kecemasan-keluhan yang kemudian bisa melahirkan what if.

Saya yakin semua orang, kamu, kamu dan kamu juga saya sendiri pasti pernah memendam what if. Apalagi perempuan yang cenderung lebih emosional ketimbang laki-laki jadi pasti segala sesuatunya dipikirin, dirasain, ditimbang-timbang dulu. Jadi jangan heran kalau perempuan dua kali lebih rentan cemas daripada laki-laki.

Saya masih ingat dulu ketika baru saja lulus SMA dan ingin memilih jurusan kuliah. Salah satu saudara keluarga ada yang berkomentar miring saat saya ingin mengambil jurusan psikologi. Orang tersebut berkata, "Huh, psikologi, mau jadi apa kamu ambil psikologi? Mau kerja apa? Susah kayaknya itu kerjanya."

Saat itu saya geram tapi untungnya saya masih punya hati sehingga bisa menekan untuk tidak marah-marah di depan orang tersebut. Saya cuman mikir dulu kan jurusan psikologi masih belum se-primadona kayak sekarang bahkan di tempat tinggal saya di Parepare dulu, denger kata psikolog aja, mereka masih suka nyamain sama paranormal.

Saya pun dulu kerap dibanding-bandingkan. Di keluarga bapak maupun mama, saya memang cucu pertama. Tapi khusus keluarga bapak, saya bukan cucu yang lahir pertama karena adik-adik bapak yang perempuan sudah lebih dulu menikah meski bapak adalah anak sulung. Sementara dari keluarga mama, saya adalah cucu yang pertama lahir dan adik-adik sepupu saya semua usianya di bawah saya. Perbandingan pun lebih sering muncul di antara keluarga bapak. Tapi di keluarga mama (dari garis keluarga jauh) juga masih ada yang suka banding-bandingin sih.

Ya, saya akui memang banyak saudara dari keluarga jauh saya yang anak-anaknya jauh lebih sukses, semuanya sekolah dan kuliah di kampus negeri bergengsi, dipenuhi fasilitas yang memadai, berkali-kali dapat beasiswa, jurusan kuliahnya pun yang bisa dengan sangat mudahnya dapat kerja setelah lulus dan tetek bengek lainnya. Saya akui itu dan saya pribadi pun bangga dengan mereka. Bangga memiliki saudara-saudara yang tangguh dan cerdas seperti mereka dan saya jadi termotivasi untuk lebih berprestasi semasa sekolah dulu.

Saya pun kadang dibandingin hanya karena nggak nikah muda, hanya karena saya lebih memilih fight untuk sekolah sampai S2 yang actually di garis keluarga inti mama dan bapak memang cuman saya yang sekolah sampai strata dua (tapi kalau dijejer sampai garis keluarga jauh baik itu dari tante om nya mama atau dari keluarga ipar sih memang ada yang S2 cuman saya ngebahasnya dari garis keluarga inti aja). Sepupu saya dari keluarga bapak semua nikah muda bahkan udah pada punya anak. Jadi, kalau ketemu mereka pun saya juga kurang bisa luwes dan kurang akrab, karena concern kita beda, cara berpikir kita beda dan beberapa dari mereka masih ada yang old-fashioned.

Tapi, saya menghormati pendapat dan pemikiran mereka kok. Bisa dimaklumi lah karena adik-adik bapak punya track record nikah muda jadi nggak terlalu saya ambil pusing. Cuman saya sempat merasa sedikit kecewa aja ketika mereka bertanya begitu, bapak terlihat seolah disudutkan karena bapak anak sulung sedangkan anaknya kami-kami ini lebih fight for study. Saya kurang setuju dengan cara mereka yang kadang kurang tepat dalam menyampaikan pertanyaan atau pendapat. Mungkin mereka lupa bahwa masing-masing orang punya rezeki dan waktu sendiri-sendiri bukan?

Jadi, ya baiknya berkomentar sih berkomentar aja, asal tepat pada batasannya, nggak yang sampai bernada menyudutkan apalagi memaksa. ✔

Kalau di jajaran keluarga mama, saya lebih leluasa untuk berpendapat dan bersikap sesuai dengan cita-cita dan prinsip saya karena mereka lebih open-minded. Mereka memang lebih ceplas-ceplos tapi nyaris nggak pernah tuh saya dengerin pertanyaan dari jajaran keluarga mama, "Kapan kamu nikah? Kok sekolah terus sih?" Justru saya senang karena salah satu adik sepupu saya juga alhamdulillah bisa sampai strata satu jadi saya lebih merasa punya teman sebaya yang beneran sebaya di keluarga mama daripada keluarga bapak. CMIIW ya. Bukan berarti saya lebih berat sebelah. Saya hanya berkata sesuai fakta dan apa yang saya rasakan.

Ohya, selain itu saya bukannya orang yang suka gembar-gemborkan prestasi saya juga sih tapi kalau diminta sebutin bakal saya jembrengin semua HAHAHA... *pengennya belagak songong tapi lihat diri sendiri ngalem begini tetep aja nggak bisa. Itulah kenapa mereka nggak pernah tahu kalau semasa sekolah saya pun pernah dapat beasiswa, juara di berbagai lomba, pernah jadi siswi teladan, dan lainnya, tapi saya diam. Diam karena saya paham bahwa everybody will blossom in their own season. Menurut saya, kita nggak perlu sih banding-bandingin diri sampai sebegitunya dengan orang lain karena kita punya "waktu" masing-masing dan kita akan berjalan sesuai dengan waktu tersebut.



Saya jadi ingat beberapa hari lalu dan memang sih tulisan ini juga terinspirasi berkat kiriman chat dari salah seorang teman sekolah di grup Whatsapp kelas kami. Dan, yang intinya, teman saya menuliskan, "Setiap orang punya zona waktu masing-masing dan seseorang bisa meraih banyak hal dengan kecepatan masing-masing. Setiap orang di dunia ini berlari di perlombaanya sendiri-sendiri, jalurnya sendiri-sendiri, dalam waktunya masing-masing. Obama pun pensiun dari presiden di usianya yang ke-55 tahun sementara Trump terpilih sebagai presiden di usianya ke-70 tahun. Kita tidak terlambat, tidak juga lebih cepat karena kita punya waktu masing-masing."

Overall, saya setuju banget sama tulisan kiriman dari teman saya itu. 4 THUMBS UP FOR IT!! 

Beside that, saya dulu memang sempat cemas. Banyak hal yang saya pikirkan termasuk mikirin perkataan saudara yang tadi. Jadilah akhirnya muncul what if what if di kepala saya. Gimana nanti kalau ternyata bener saya bakal susah dapat kerja karena saya kuliah di jurusan psikologi? Gimana ya kalau nanti ternyata bener, saya justru semakin dibanding-bandingin sama beliau karena nggak bisa seperti anak-anaknya? Gimana ya kalau saya kerjanya cuman ongkang kaki di rumah doang? Gimana kalau orang lain bakal nge-judge dan ngejekin saya hanya karena saya salah jurusan, salah pilih kerjaan dan salah-salah lainnya? HOW?? WHAT IF.....?

Tapi, lama-kelamaan, saya skip kecemasan itu dan mulai sadar setelah saya belajar sendiri di psikologi. Justru berkat kuliah di jurusan psikologi lah seenggaknya saya bisa lebih mengontrol untuk nggak kebanyakan micin mikir negatif. Sebelum kuliah pun saya sempat ragu karena what if tadi. Desperate dan upset sih iya pasti tapi in another side, saya berpikir lagi, kalau saya terus-terusan mengeluh, ngurusin judgment orang lain dan mencoba untuk mencari jurusan lain saat itu, mungkin saya nggak bakal betah kuliahnya atau mungkin saya mau saja ambil jurusan lain tapi nggak bakal selesai sampai lulus kuliahnya, naudzubillah deh.

Sampai saat inipun, saya tahu keluarga saya itu memang nggak sepenuhnya bisa menghargai semua usaha saya. Meskipun saya pernah mengajar sebagai dosen saat lulus S1, meski saya pernah menulis 4 buku dan bisa dapat penghasilan dari hobi saya sendiri, meski saya pernah jadi lulusan terbaik waktu S1 dan meskipun sekarang saya sudah jadi psikolog ya mungkin di matanya, terang saja masih jauh lebih sukses anak-anaknya dibanding saya. Despite of that, saya nggak terlalu pusingin karena toh orang punya jalannya sendiri, rezekinya masing-masing dan punya battle masing-masing. Dan saya jadi ingat sama nasehat dari teman baik saya bahwa kita nggak akan pernah bisa meraih simpati, memenuhi harapan dan tuntutan apalagi ngebahagiain semua orang? WHAT A SUCH IMPOSSIBLE THING.



Emang sangat gampang kalau kita mau nyari bahan untuk dikeluhkan. Mengeluh karena hidup kita dinilai nggak sebagus dan seindah inces-inces di negeri dongeng. Mengeluh dan berandai-andai karena pusingin perkataan orang lain.

Ya cukup dengan melihat "rumput" di rumah orang lain maka secara otomatis keluhan itu muncul dengan banyak rupa. Betapa capeknya kalau hidup seperti itu, melulu dengerin judgment orang yang nggak ada habis-habisnya, melulu melihat ke atas, banding-bandingin diri sama milik orang lain.

Mengeluhkan hidup yang kita hadapi dan jalani saat ini pun juga nggak baik. Allah saja udah berfirman bahwa setiap manusia itu diuji sesuai kadar kemampuan masing-masing. Menurut saya, mengeluh itu wajar tapi jangan berlebihan dan terus-terusan. Kalau hari ini masih aja kita ngeluh, misalnya ngeluh karena kok ya nggak selesai-selesai kuliahnya padahal udah mati-matian berjuang, kok ya pekerjaan kita susah banget ya di kantor, kok ya gaji yang didapetin dikit banget ya, kok ya kita nggak dilamar-lamar sih sama pujaan hati kita, kok ya masih nganggur aja sih bosen deh, dan kok ya.. kok ya.. lainnya.

Kalau udah gitu ya, hasrat untuk menjadi seperti orang lain pasti muncul. Iya nggak? Orang lain kok ya hidupnya selow nyaman dan sejahteran wae gitu ya sedangkan kita msaih gini-gini aja? Belum tentu. Belum tentu mereka senyaman dan se-sejahtera yang kita pikir loh. Inget lagi bahwa setiap orang dan setiap rumah itu punya ujian masing-masing. Belum tentu juga kan kalau kita ngotot harus seperti orang lain, kita bakal sanggup dan mau ngejalanin ujian yang dialami orang itu di balik kisahnya yang mana kita cuma bisa lihat dia di cover sehingga kita amazed sama orang itu. 

Kalau ternyata mereka sukses dan kaya tapi di sisi lain hidupnya berantakan dan terlibat kasus kriminal, apa kita mau kayak gitu? Kalau memang mereka punya kerjaan bagus dengan gaji yang menggiurkan tapi ternyata di tempat kerja mereka diuji dengan kehadiran "mulut-mulut singa" yang hobinya nge-bully mereka tiap hari tiada henti, apa kita sanggup? Belum tentu juga kan.

Kenapa sih harus ada drama kepengen kayak orang lain? Kenapa harus khawatir kalau nggak kayak mereka kita bakal sengsara dan nggak hidup dengan layak? Kenapa nggak mencoba untuk be the best of own self aja sih? Bukankah melihat sisi positif dari diri kita jauh lebih berharga daripada terus-terusan khawatir dan berandai-andai 

Di lain sisi, kalau kita termasuk orang yang hobinya menilai orang, coba deh belajar nge-rem. Ya, kita memang paling bisa menilai orang lain, takjub  atau ngeremehin orang lain tapi kita nggak pernah mencoba untuk nge-break down sisi-sisi tantangan/cobaan yang dihadapi orang tersebut, gimana usaha dia untuk sampai pada titik itu dan hal positif apa yang bisa bikin kita untuk menghargai orang tersebut.



Nggak menutup kemungkinan orang yang kebanyakan ngeremehin sebenarnya deep in their heart mereka sangat jealous dan karena dialah yang membuat hidupnya merasa bosan sampai kurang kerjaan keluhin diri sendiri lalu ngeremehin orang lain. Saya bukannya ngejek tapi kebanyakan sih seperti itu. Dari sini saya pun berpikir memang bener sih untuk selalu remind ourselves to not taking something for granted. Jangan. Jangan biasain nggak ngehargain atau ngeremehin hidup orang lain lalu menyimpulkan sendiri sesuai persepsi kita kayak gitu padahal kita nggak tahu di balik layarnya kayak gimana. Jangan juga biasain untuk ngeluhin hidup kita sendiri karena kitalah yang benar-benar tahu bahwa sebenarnya ada usaha yang pernah atau sedang kita kencengin demi bisa sampai pada tahap saat ini kan? Kita nggak pernah tahu kalau hidup yang kerap kita keluhkan adalah the things that someone else is praying for loh.

Kalau kita masih aja suka komen soal hidup orang lain, coba deh dikontrol karena itu bisa membahayakan hidup orang lain. Awal-awalnya sih mereka bakal keep in mind banget sama komentar kita, tapi lama-kelamaan kalau pikirannya udah kacau, yang tadinya orang itu bukan pencemas lama-lama bisa ngalamin gangguan kecemasan kan bahaya juga buat hidupnya. Jangan dikira gangguan kecemasan itu adalah hal yang receh loh ya. Nggak tahu kan nyembuhinnya pake terapi ke psikolog atau psikiater bayarnya berapa?

Kalian juga nggak tahu kan gimana tersiksanya kalau ternyata kecemasan yang dia derita berkembang menjadi depresi dan harus divonis minum antidepresan dalam jangka panjang efeknya kayak gimana? Dan ada juga loh orang yang sulit untuk kembali normal meski udah ikut terapi model apapun. Kalau kayak gitu apa kita nggak takut dosa?

Gimana caranya biar what if  di kepala kita berkurang?

Gimana caranya biar kita nggak ngomentarin hidup orang lagi?

Dan, gimana caranya biar kita nggak ngeluhin hidup diri sendiri?

Jawabannya nggak lain adalah bersyukur. Ingatlah bahwa di antara makhluk lain, manusia, kita ini adalah makhluk dalam penciptaan paling sempurna. Ingatlah bahwa kita ini masih dikasih oksigen gratis loh, masih bisa napas lega. Coba deh lihat orang-orang yang harus dibantu pernapasannya pake selang oksigen, yang cuman bisa terkapar di pembaringan, yang udah kena stroke sampai stuck nggak bisa ngapa-ngapain? Nah, kalaupun mau banding-bandingin diri, maka rajin-rajin tengok ke bawah. Bandingin sama orang lain jauh di bawah kita, maka kita bisa lebih mudah nemuin something to be thankful.

Daripada cuman fokus ngeluh yang akhirnya bikin makin cemas dan makin berandai-andai ngawur buat mirip-miripin sama hidup orang lain, mungkin kita perlu perbanyak luangkan waktu untuk mendekatkan diri sama Tuhan, minta ampunan-Nya. Mungkin kita juga perlu lebih kreatif. Kenapa saya bilang kreatif karena orang yang suka ngeluh biasanya cenderung mudah bosan. Sebab bosan bisa bikin kita menyalahkan keadaan padahal orang bosan itu ya karena dia sendiri yang membuat hidupnya membosankan, nggak pernah do or challenging their selves to do something new. Kreatif bukan berarti musti nyiptain pesawat kayak Pak BJ Habibie atau musti bikin kreasi kerajinan tangan. Kreatif yang saya maksud sebagai contoh misal kalau tiap hari kita ngeluh karena gaji dari pekerjaan nggak cukup untuk menuhi hidup, jangan pernah ragu untuk membuka usaha sendiri, bisa dari hobi atau cari kesibukan lain yang sekiranya bisa menghasilkan juga di luar pekerjaan di kantor. Atau contoh lain, semisal kita ngeluh karena tiap kali beli bensin di pom yang sama selalu antre panjang, maka cobalah sesekali beli ke pom lain meskipun agak jauh. Selain memungkinkan untuk nggak antre panjang di pom lain itu, kita jadi bisa melihat pemandangan di sekitar jalan yang jarang atau bahkan nggak pernah kita lewati. Barangkali bukan cuman dapet bensin tapi juga dapat rezeki lain. Heheh... ngaco deh.

Ya udah segitu aja sih tulisan saya kali ini. Semoga bermanfaat ya.

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.