Monday, August 7, 2017

TEMAN YANG COMPASSIONATE ITU PENTING



Mainstream memang saat kita dengar orang bilang, "Kalau berteman itu jangan pilih-pilih."
Ada benarnya tapi bagi sebagian orang yang lain mungkin menerapkan prinsip berbeda, maksud saya sebagian orang yang lain mungkin lebih selektif dalam memilih teman dan ada juga sih orang yang memilih berteman sama si anu atau si inu karena punya "level" yang sama. Level yang saya maksud di sini adalah level status sosial, harta, jabatan/kedudukan, pendidikan dan sejenisnya.

Saya pribadi, untuk inner circle, saya memang selektif memilih teman, teman dalam artian yang benar-benar akrab atau biasa disebut sebagai sahabat. Tapi, kalau cuman teman se-perkenalan doang, saya tidak menerapkan standar harus begini begitu. Kenalan dengan siapa saja, tapi teman yang benar-benar saya anggap teman dan yang tahu/paham saya mungkin hanya sedikit.


Despite of that, saya nggak menyeleksi inner circle pertemanan berdasarkan hal-hal yang bersifat fisikal atau artifisial seperti status, profesi, pendidikan dan sejenisnya itu. Di dalam inner circle saya adalah mereka, orang-orang yang sangat berharga bagi saya.

Kenapa mereka so precious for me? Karena mereka bisa berempati dan paham bagaimana cara berempati. Sebagian yang lain menurut saya juga ada yang sudah masuk dalam tahap compassionate friend. Jadi, bukan sekadar empati, melainkan mereka tahu bagaimana memperlakukan orang lain dengan tepat. Tepat dalam artian memenuhi komponen compassion yang sesungguhnya.

Ya, intinya, kenapa punya teman yang compassionate itu penting dan kenapa menjadi orang compassionate itu baik? Berikut ya saya jelasin apa itu compassion.

Before that, saya mau cerita dulu. Kemarin saya emang nulis tesis yang mana salah satu variabelnya adalah self-compassion. Sebenernya, self-compassion ini tuh berasal dari filosofi Buddhism atau Buddha. Kok saya ngambil itu, mau belajar Buddha kah? Heheh pertanyaan ini se-frontal pertanyaan dosen pembimbing II saya saat itu yang mempertanyakan kenapa sih pilih variabel yang menurutnya berseberangan. You know what I mean, tapi literally, variabel ini loh umum, udah banyak penelitian yang pakai variabel itu tapi belum banyak yang mengaitkannya dengan variabel lain, include self-care ability.

Sekilas terlihat sama namun sebenernya self-compassion dan self-care ability itu beda loh ya dan memang sejauh ini belum saya temuin penelitian yang bener-bener ngungkap hubungan keduanya. Ya karena saya pakai variabel terikat Life satisfaction (terutama pada lanjut usia) jadi variabel self-compassion saya posisikan sebagai moderator, soalnya kalau sebagai variabel bebas biasa, saya nggak nemuin jurnal pendukungnya dengan self-care.

Memang saya suka dengan hal-hal yang menurut saya masih awam atau minimal belum banyak yang pakai di lingkungan kampus, gitu aja lah. Dan, ternyata variabel self-compassion (mungkin) belum familiar di kampus saya, kecuali pernah satu dosen saya zaman S1 dulu, ada tuh penelitiannya mengenai compassion yang dikaitkan dengan variabel lain atau mungkin ada mahasiswa yang pernah neliti cuman saya aja yang nggak tahu.

Dari penelitian saya ini, saya banyak belajar dari variabel compassion or self-compassion. Beyond our empathy, ternyata compassion is further than that. Ternyata, setelah saya baca, empati itu semacam gateaway to compassion, semacam pondasi awal sebelum akhirnya orang bisa atau layak mencapai tahap yang disebut dengan compassionate. Keren kah ih istilahnya, ketjeh parah gimana gitu, hahah...

Compassionate is study-able. Sangat bisa dipelajari atau diasah. Ya, dengan banyak-banyak dan sering-sering berempati, sama diri sendiri juga kepada orang lain. Oiya, selain itu, compassion ini juga bisa diasah dengan cara meditasi. Iya, meditasi. Kalau nggak ngerti apa itu meditasi, coba deh baca-baca tentang Adjie Silarus, dia itu salah satu pakar meditasi di Indonesia loh dan udah banyak memberikan training kepada orang maupun instansi.

Meditasi itu memberikan manfaat yang sangat baik gengs. Salah satunya adalah mendatangkan kedamaian di hati. Nah, orang-orang yang compassionate itu cenderung tenang, nggak neko-neko, cinta damai, segala sesuatu berusaha dipikirkan dengan tenang dan matang.

Baca: Meditasi Oleh Adjie Silarus

Jadi, empati itu adalah how we feel what someone feel by imagine their position, their problems. 

Tapi, compassion jauh dari itu lagi.

Compassion is we know what others feel, we accept it, we holding it, and we realize that we all want or pass the same things out of this world. Jadi, compassion itu terdiri atas tiga komponen pembentuknya. Memperlakukan diri dengan baik atau penuh kasih sayang dan begitu pula memperlakukan orang lain (Self-Kindness); Menerima bahwa permasalahan, penderitaan, kesulitan, musibah/bencana, ujian yang terjadi merupakan salah satu bagian dari kehidupan dan dialami juga oleh orang lain. Hal inilah yang membuat kita bisa merasakan kasih sayang kepada sesama. Inilah yang dinamakan Common Humanity; serta menyadari dan menerima berbagai peristiwa yang terjadi juga menerima pikiran dan perasaan positif maupun negatif yang muncul tanpa menghakimi, menyangkal atau melebih-lebihkan/over-identifikasi (Mindfulness).

Udah jelas kan kira-kira, compassion itu seperti apa?

Right!!

Teman yang compassionate itu nggak mesti kok berasal dari background pendidikan yang tinggi, nggak harus dia itu orang yang berpenampilan rapi, nggak mesti kok dia itu orang yang berasal dari keluarga terpandang atau punya status sosial dan profesi di tempatnya. NGGAK MESTI.

Sometimes, kita justru menemukan teman atau orang-orang compassionate yang hidup atau penampilannya sederhana, atau mungkin dia yang diberi label "nakal" tapi di belakang layar dia banyak melakukan hal-hal yang bermanfaat buat orang-orang sekitarnya meski orang lain nggak pernah tahu atau melihat kehidupannya dengan dekat. Who knows ya.

Seseorang yang compassionate bisa mengerti cara berpikir dan perasaan orang lain. Lebih dari sekadar empati. Dia juga memahami bahwa menghakimi orang lain atau hidup orang lain secara sepihak itu bukanlah hal yang baik. Karena setiap orang pasti mengalami fase dimana hidupnya berada di "atas" maupun di "bawah", terpuruk maupun bahagia, menjadi buruk maupun menjadi baik. Dia meyakini bahwa itu semua adalah proses yang pasti dialami oleh semua manusia di dunia namun hanya saja beragam bentuk permasalahan dalam hidupnya. Orang yang compassionate juga bisa mengerti bahwa setiap orang punya hak untuk diterima, hak untuk dicintai, hak untuk diperlakukan secara adil, hak untuk diberi kebebasan dan hak-hak lainnya.

Teman yang compassionate kira-kira kayak gitu deh. Sekilas mungkin definisinya tampak sempurna, tapi yang namanya manusia nggak ada yang bisa sesempurna itu tanpa cacat. Tapi setidaknya, teman yang compassionate nggak akan dengan mudah menghakimi. Ketika kita terjatuh atau sedang mengalami kesulitan atau sedang menghadapi masalah besar, dia nggak akan mempertanyakan seolah nggak percaya kalau kita benar-benar kesulitan. Dia nggak akan banyak nanya, tapi justru merangkul dan memberikan penguatan atau dorongan supaya kita bisa menghadapi situasi serta mengambil keputusan dengan baik tanpa dia perlu ikut campur atau tanpa dia bilang "Nggak mau tahu."

Terutama teman untuk si keras kepala. Seseorang yang keras kepala cenderung punya pendirian yang teguh, sekali A tetap A sekalipun sudah dibilangi atau dilarang, tetap saja dia gaspol. Ketika ada temannya yang berkata "Nggak mau tahu" atau "Terserah" atau mungkin mengatakan sesuatu yang mencerminkan pemaksaan kehendak, kemungkinan temannya itu belum bisa menjadi teman yang baik untuk si keras kepala ini. Semua orang memang bebas untuk melakukan atau memutuskan apapun tapi ya mungkin kalimat yang harusnya dikatakan oleh si teman ini alangkah baiknya diproses dulu. Ada beberapa orang yang nggak tahan mendengar kalimat negatif, tapi ada juga yang kuat-kuat aja. Kalau dia memang betul-betul temannya si keras kepala ini, seharusnya dia nggak berkata kayak gitu. Kalau memang dia nggak mau ikut campur, seharusnya nggak berkata-kata seperti itu. Ya, tapi orang mah terserah lah ya, mulut-mulutnya... Cuman itu aja sih, kita boleh-boleh aja punya ciri khas frontal tapi kalau mau frontal, liat dulu siapa orang yang kita hadapi, nggak semua orang bakal bisa menerima kefrontalan kita loh dan begitu pula sebaliknya nggak semua orang juga bisa menerima kejujuran kita. Intinya, lagi-lagi berhati-hati jugalah dalam "berucap".

Yap, teman yang compassionate itu tahu cara menempatkan ucapan dan tindakannya pada timing yang tepat.

Nah, gimana kalau contohnya kita berhadapan dengan teman yang lagi kesusahan. Susah dalam hal finansial contohnya. Kemudian, misalnya kita ngajak dia hangout atau ikut acara tertentu yang berbayar. Kemudian teman kita yang lagi susah ini menolak karena memang lagi susah. Pantas nggak kalau kita ngomong, "Emang seberapa mahal sih cuman bayar segitu aja?" Gimana kalau kita ada di posisinya lalu dikatain kayak gitu, apa nggak mikir kalau teman kita ini bakalan tersinggung.

Kata-kata tadi "Cuman bayar segitu aja." seolah-olah sok nganggap semua orang yang ada di dalam lingkup kita adalah orang yang sama. Mungkin, mungkin pendidikan atau profesi sama, tapi bukan berarti harus disama-samain dalam beberapa hal lainnya. Kita nggak tahu kan, barangkali dia lagi susah karena sedang banyak keperluan, sedang mendapat musibah, sedang kehabisan tabungan, atau lainnya. Apakah akal kita sependek itu untuk langsung men-judge kayak tadi? Toh, bukan kita yang dirugikan kan? Memangnya, dengan ngomong kayak gitu, kita mau bayarin dia? Sudi kah? Belum tentu kan? Jadi, udah deh ah, santai aja gitu loh, toh hidup-hidup orang jangan sampai segitunya dicampurin.

Sekalipun misal kita sama dia ini satu profesi, sependidikan, kita nggak bisa dong ya pukul rata bahwa semua orang yang ada di sekitar kita punya "standar" dan "kondisi" yang sama atau "harus disama-samain". Jadi, mending pikir dulu deh sebelum ngomong kayak gitu. 

Dan satu hal lagi, teman yang compassionate itu bukan teman yang tukang gosip. Saya juga pernah sih dikasih petuah atau lebih tepatnya larangan atau alarm atau reminder dari si abang superman.

He said, "Usst... jangan suka gosip, nggak baik, jangan ulangi lagi ya." Yap, he always teach me some good things and I feel grateful." 

Jadi, kalaupun saya mau curhat sama dia, saya udah jarang bahkan mungkin hampir nggak pernah lagi sih curhat atau cerita-cerita gosip yang gajebo yang nggak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Ya, ya, ya... kalau dia tahu saya nulis macam terima kasih ke dia, pasti dia bakal besar kepala (emang kepalanya gede).. haha.. canda ding, But, itu emang bener. Sejauh ini, dengan apa yang udah terjadi, dia udah banyak ngajarin ini itu. Kadang kalau saya lagi bersikap annoying, dia ngajarinnya ekstrem, dibalas nggak baik kayak semacam proyeksiin apa yang saya lakukan, HAHAHA...but it works on me! 

Mungkin bukan pure ngebalas, cuman mau mencerminkan aja perilaku saya yang jelek itu yang udah bikin kesel itu kayak gimana supaya saya sadar dan nggak ngulangi lagi. Aiiih, okay deh. Gracias, Mijn.

Udah ya, segitu aja dulu tulisan dari saya. Heehehe... peace...



No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.