Saturday, October 22, 2011

Shalihah, Hati dan Suami

Aku memang bukan wanita yang shalihaaaah banged tetapi selama hidup, aku ingin mencapainya. Istiqomah itu tidaklah semudah memindahkan pasir-pasir dari bak truk. Ya, Rabb...kemarin-kemarin mungkin aku mengalami kemunduran. Alasannya bukan lagi-lagi dengan mengatakan bahwa aku hanyalah manusia biasa. Iman pasti akan naik turun. Ya Rabb, semoga Engkau memberikan ketangguhan untukku tetap berada di jalanMu.




Dalam relung hatiku, aku selalu mendambakan seseorang yang kelak bisa menjadi imam yang shalih bagi keluargaku. Karena aku memang gak pernah mau pacaran, jadi itulah yang menjadi salah satu tugas besar bagiku. Meskipun aku mencintai seseorang namun tak ada sedikitpun keberanian untuk mengutarakan kepada orang tersebut. Lebay ? Nggak kok. Ini bukan sesuatu yang lebay tetapi inim murni dari hati dan jiwaku. je ileuhh. Ya, begitulah. Aku cuma bisa berdoa, semoga kelak aku bisa mendapatkan seorang suami yang shalih tanpa pacaran dan bila perlu yang kekuatan dan keteguhan imannya melebihi dari yang ada pada diriku. Amin amin ya rabbal alamin..


Suami yang shalih itu adalah kekasih bagi istrinya.Laki-laki (Suami) itu pelindung bagi perempuan (Istri),karena Allah telah melebihkan sebagian mereka(laki-laki) atas sebagian yang lain(perempuan) ,dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dar hartanya. Maka perempuan yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara mereka” (Al- Quran, Surat An Nisa:34)
Suami yang shalih hanya untuk istri yang shalih. Suami memiliki peranan yang penting untuk membantu istrinya menjadi perempuan yang shalihah bagi keluarganya. Ia senantiasa menjaga dan memelihara hatinya hanya semata-mata untuk mencinta karena Allah Swt, senantiasa membangun pribadi yang lemah lembut kepada istrinya, mengajarkan banyak hal ke arah kebaikan, menjaga dzikrullahnya pada rabbnya.

Hmm, aku nggak mendambakan tipe yang muluk-muluk yang musti kayak ustadz yang berjanggut dan mengenakan celana cekak seperti ikhwan-ikhwan kebanyakan karena bagiku, "keikhwanan" dia lebih besar maknanya jika bersumber dari hati. Kalau untuk urusan penampilan, gak tau kenapa, aku lebih suka seseorang yang tidak berjanggut lebat yaa meskipun itu adalah sunnah sih. Hmm ada riwayat nih dari Ibnu Abbas ra., Ibnu ‘Abbas ra yang menjadi referensi para ahli tafsir pernah mencukur janggutnya sedemikian, sehingga membuat beberapa sahabatnya bertanya-tanya tentang perbuatannya itu, karena dianggap tidak lazim bagi seorang fakih seperti dirinya. Ternyata Ibnu ‘Abbas melakukan hal ini sebagai upaya berhias bagi istrinya, seraya menyitir sebuah ayat Quran,” Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS 2:228). Tentulah Ibnu ‘Abbas mengingat salah satu arahan gurunya tercinta, Nabi Muhammad saw, agar para sahabatnya senantiasa berpakaian rapi dan juga merapikan rambut mereka. Beliau saw saat itu mengungkapkan salah satu fenomena sosial, yaitu banyaknya kaum perempuan Yahudi yang berselingkuh, karena kaum lelakinya yang tidak memelihara penampilan yang baik. 
Nah, jadi gak masalah kan kalo gak harus memelihara janggut. Ketika kita telah menikah, kita pun berkewajiban untuk memahami keinginan satu sama lain salah satunya dalam hal penampilan. Senantiasa menjaga penampilan tetap bugar dan segar di mata suami/istri itupun adalah suatu sedekah yang diutamakan dalam rumah tangga.


Hahaha..jika ada yang bertanya, lantas kapan aku akan menikah? Hmm..baru aja skripsi, belum lagi kerja. Kalo S2 mungkin ga masalah ngambilnya pas udah nikah.hehehe..Ya, Allah pasti akan mengirimkan jodoh di waktu yang tepat. Mungkin bukan sekarang. Aku juga belum mau. Hehee.. Yaa, tahun kemarin ada seorang kenalan yang tiba-tiba berniat ingin melamarku tetapi aku menolak bukan untuk menyakiti beliau tetapi masih banyak tanggung jawab dan kewajiban yang harus kupenuhi untuk orang tuaku. 

Meskipun ada seseorang yang saat ini kucintai diam-diam tapi bukan berarti aku pun sangat mengharapkan dia yang menjadi imamku. Tidak. Aku memang mencintai dia tetapi aku pun berharap kelak cinta ini akan surut menjadi rasa persahabatan saja ketika aku telah benar-benar menemukan seseorang yang sah di mata Allah untukku. hehehe..aseeek.

Teruslah berjuang menjadi wanita shalihah..Wanita shalihah itu bagaikan mutiara dalam lautan, jarang diperebutkan karena butuh perjuangan dan kegigihan untuk mendapatkannya. Begitu pula dengan lelaki shalih.





No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini. Bila ingin share tulisan ini, tolong sertakan link ya. Yuk sama-sama belajar untuk gak plagiasi.