Friday, April 27, 2012

Rahasia Takdir Cinta (cerpen jadul yang ngasal nulis aja nih)


Kehidupan menyimpan begitu banyak rahasia. Terkadang rahasia itu akan mencuat dengan cara dan arah yang tidak terduga. Tetapi untuk saat ini aku belum tahu apakah masih ada rahasia yang tidak pernah kuketahui atau memang tidak ada. Aku Lyra Keiradinata. Aku terlahir dari keluarga yang tidak begitu kaya dan tidak pula begitu miskin. Alhamduillah ayah dan ibuku masih hidup. Tetapi yang aku sesali, terkadang aku menjadi seorang yang terlalu mencintai kebersihan sehingga setiap bertemu dengan debu yang ukurannya nol koma nol satu mili saja aku sudah sangat kesal dan bisa saja aku memberi kritikan kepada siapa pun yang ada di hadapanku. Semua orang memenggilku dengan nama Keira tetapi tidak sedikit pula yang memanggilku Lyra hanya saja aku terlalu budek untuk dipanggil dengan nama Lyra karena sejak kecil aku sudah dipanggil Keira atau Kei.
            Aku mempunyai begitu banyak ambisi dan cita-cita. Mungkin karena umurku yang masih 17 tahun tepatnya baru memasuki semester II di bangku perkuliahan dan masih dalam proses mencoba, kecuali hal-hal negatif tentunya. Sepintas aku memandangi seluruh tubuhku di depan cermin di dinding kamarku. Aku tidak begitu cantik tetapi aku pun tidak merasa jelek dan bagian tubuhku yang paling aku senangi adalah mata dan rambut. Untuk dua hal tersebut aku mempunyai budget perawatan tersendiri. Budget itu bisa kuperoleh dengan menabung setiap harinya Sebenarnya aku paling tidak bisa menabung karena aku pasti selalu mengambilnya. Memang aku mempunyai rekening tabungan sendiri tetapi itu untuk keperluan pendidikanku ke depan sehingga untuk memiliki uang khusus perawatan tubuh. Aku menabung di rumah dengan memakai celengan sapi kesayanganku. Oleh karena itu, aku punya cara jitu agar uang tabunganku awet. Tiap kali aku akan memasukkan uang ke celengan, aku berdoa terlebih dahulu dan setelah itu aku akan meminta tolong kepada ibu untuk menyimpannya di tempat rahasia yang tidak aku ketahui. Mungkin kedengarannya rumit akan tetapi menurutku ini sangat efektif dan unik bagiku. Jadi, aku selalu menyebutnya sebagai ritual menabung.
   Mendung menghampiri kota Malang, kota tempatku berhijrah karena memperoleh kesempatan untuk bisa melanjutkan kuliah di sebuah universitas swasta terkemuka di kota tersebut. Meskipun swasta, tetapi tidak kalah berkualitas dengan universitas negeri. Ini adalah hari pertamaku ke kampus setelah libur semester satu selama satu bulan. Masih teringat, Awalnya aku sempat mengalami shock culture ketika pertama kali kupijakkan kaki di kota ini pada saat aku masih berumur 12 tahun. Waktu itu aku diajak ke kota ini untuk mengunjungi sanak saudara dari keluarga ayah. Tidak kusangka hawa dingin kota Malang merasuk hingga ke pori-pori terkecil kulitku. Selain itu aku belum mengerti akan bahasa Jawa meskipun terkadang ayah dan ibu menggunakan bahasa tersebut di rumah. Namun, berbeda dengan saat ini. Aku sudah tidak mengalaminya lagi dan mulai paham sedikit demi sedikit tentang bahasa dan adat Jawa, hanya saja satu hal yang tidak bisa aku praktekkan pada diriku. Aku tidak bisa bersikap terlalu lemah lembut baik dalam berbicara maupun bertindak. Mungkin karena dari kecil aku memang tinggal di Sulawesi Selatan yang sangat berbeda budayanya dengan Jawa. Lingkungan pun mendidikku seperti sekarang ini. Tetapi terus terang aku sama sekali tidak tahu bahasa bugis.
  Di Malang aku tinggal bersama bibi Saniya, saudara dari keluarga ibu yang juga kupanggil dengan sebutan ibu. Dia lah orang yang menjaga diriku plus tabunganku. Kami hanya tinggal berdua sebab beliau masih muda dan belum menikah. Bahkan sebenarnya beliau pun kebetulan hijrah ke kota ini karena tuntutan pekerjaan. Sementara orang tua dan adik-adikku masih menetap di kota Parepare, kota di mana aku dan kedua adikku dilahirkan. Kami menempati sebuah rumah mungil di Jalan Raya Sawojajar gang II. Upss..waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Bibi Saniya sudah siap dengan seragam kantornya. Sementara, aku berkutat dengan rambut yang masih sedang di-blow ini Aku  ingin terlihat anggun tetapi tidak meninggalkan kesan rapi dan santun.
“Kei, kamu sudah siap belum…?”ujar bibi Saniya dengan suara lantang dari arah ruang tamu.
“Iya, sebentar lagi, Bi,”
Sebelumnya, aku menuju dapur untuk meneguk susu coklat dan mengambil sepotong roti yang dihidangkan bibi sejak tadi pagi. Bibi Saniya tampaknya sudah siap di depan pagar. Aku segera mengunci pintu dan seperti biasa, kuncinya kubawa karena aku pulang lebih dulu daripada bibiku.
“Kamu rapi betul. Oh, ya seperti biasa, nanti kamu pulang naik angkot saja ya, Kei.”
“Iya, Bi..he he…,”
            Aku dan bibi Saniya berbeda jalur sehingga kami naik angkot yang berbeda pula. Dari depan gang, aku langsung naik angkot yang bertuliskan kode CKL, yang merupakan singkatan dari Cemoro Kandang Landung Sari. Maklumlah, sudah setahun lebih aku berada di sini sehingga aku hapal benar jalur beberapa angkutan kota. Namun, itupun belum seluruhnya. Naik angkot CKL ini memakan waktu yang lama dibandingkan jika aku memilih angkutan kota MM lalu turun di depan stasiun Kota Baru kemudian melanjutkan perjalanan dengan angkutan kota ADL atau AL, hanya saja kalau mengoper seperti itu makan biaya sepuluh ribu pulang balik. Meskipun demikian, aku berkeinginan naik angkutan kota CKL karena kebetulan hari ini masuk kuliah pukul delapan jadi tidak apa-apa jika berlama-lama di angkot.
            Akhirnya tiba juga di kampus. Waktu telah menunjukkan pukul setengah delapan. Aku tidak langsung menuju kelas tetapi ingin ke area hotspotan di lantai tiga setengah, tempat di mana seringkali aku menghabiskan waktu 30 menit untuk chatting atau meng-update profilku di Facebook. Tidak perlu naik lift jadi langsung menuju lantai tiga saja yang tangganya bersebelahan dengan gedung laboratorium dan berada kurang lebih 100 meter dari pos satpam. Ups, tepat di depan mata, aku melihat seorang mahasiswa yang wajahnya bernuansa oriental Korea dengan potongan rambut persis aktor mandarin yang berasal dari Brunei Darussalam, Wu Zhun. Ia membawa beberapa buku yang sangat tebal dan kewalahan hingga buku-buku tersebut jatuh. Aku segera menolongnya.
“Eee..biar saya bantu ya, Kak!”ucapku sembari membantu mengambil dua buku tebal yang jatuh.
“Terima kasih, ya!” di sebelah kanannya yang terlihat estetik, pas untuk bentuk wajahnya yang lonjong.
“Iya, sama-sama,” Dan aku melanjutkan langkahku menaiki tangga menuju lantai tiga setengah.
             Cukup berat juga ransel yang kubawa. Apalagi hari ini aku harus membawa satu buku tebal yang merupakan mata kuliah psikologi umum. Kukeluarkan laptop kesayanganku dan aku mulai browsing ke internet, log in via Facebook dan mulai masuk ke ruang chat. Seperti biasa, setiap aku online pasti kawanku di dunia maya yang bernama Mr. Raj juga online. Namanya berkesan India akan tetapi selama hampir tiga tahun aku mengenalnya dan akrab dengannya walaupun hanya di dunia maya ini, sebenarnya dia bukan berasal dari Negara dugaanku melainkan dari Indonesia. Namun, di info profilnya bertuliskan bahwa dia lahir di kota Seoul. Awalnya aku sempat tidak percaya dan aku menyodorkannya beberapa pertanyaan mudah hingga tersulit mengenai Korea dan ternyata dia tahu semua. Meskipun dia sekeluarga berdomisili di Indonesia, dia ternyata juga pandai berbahasa Korea. Mungkin hanya itu yang kuketahui darinya. Mr. Raj mulai menyapaku.
“Hai, Kei… Tidak kuliah kah ? Tumben online di jam-jam begini !!”
Kemudian aku pun membalas setiap pertanyaan yang muncul darinya. Sewaktu aku memberikan saran agar dia mengganti foto profilnya dengan gambar dirinya, ia tetap tidak mau diketahui tanpa alasan yang jelas. Selama ini aku cukup bosan melihatnya memasang foto kartun dan koleksi fotonya pun berbau kartun. Tak ada satupun foto dirinya. Setelah 30 menit ber-chatting ria dengannya, aku pun langsung menuju lantai empat ke ruang kelas 418 untuk mata kuliah pertama, Psikologi Kepribadian II.
 “Vin…Vina…!”tegurku pelan
“Ada apa Kei?”
“Si Kenny mana? Kok tidak kelihatan dari tadi?”
“Ooh. Kenny sedang menghubungi pacarnya di balkon depan,”jawab Vina yang terus menatap layar ponselnya dan memainkan irama jari jemarinya pada setiap keypad yang ada. Tidak memandangku sedetik pun. Begitulah hobi cewek yang satu ini dan tidak salah jika aku menyebutnya si raja SMS. Bahkan yang lebih parahnya lagi, dia pernah bercerita padaku, Kenny dan Fero bahwa setiap tiga harinya ia mampu menghabiskan pulsa hingga mencapai nominal seratus ribu. Wow, angka yang fantastik menurutku tapi tidak untuk dia ataupun Kenny. Maklum, mereka berdua sama-sama berasal dari keluarga kaya dan mempunyai pacar sehingga dianggap wajar bagi mereka.
            Dosen sudah masuk dan kami pun belajar dengan tenang di kelas. Hari ini ada beberapa yang tidak masuk sehingga suasana kelas menjadi sepi daripada biasanya. Fero pun terpaksa izin sebab sedang mengikuti lomba ajang kreasi anak band di gedung Samantha Krida di universitas Brawijaya, Malang. Sayangnya, kita tidak bisa hadir untuk memberinya support.
  Mata kuliah pertama telah selesai dan tersisa waktu istirahat sekitar satu setengah jam. Aku dan seorang teman dari fakultas sama tetapi dari kelas yang berbeda, dan dia akrab kusapa Micha. Kami  memutuskan untuk makan di warung belakang kampus. Vina dan Kenny tidak turut serta. Suasana warung cukup ramai dan menu yang disediakan prasmanan. Setelah mengambil nasi beserta lauk pauk, dengan hikmat aku menyantapnya. Perut yang tadinya bergenderang merdu tidak terdengar lagi gesekannya. Kusyukuri dari apa yang dapat kuperoleh hari ini. Sembari memutar aduk makanan dalam piring bermotif bunga-bunga tersebut, aku mengajak Micha berbincang-bincang mengenai hal apa saja termasuk tugas-tugas kuliah masing-masing.
Ponselku lagi-lagi bergetar hingga aku suntuk dibuatnya. Mataku mulai menyususri rangkaian kata demi kata yang tertulis dalam pesan yang disampaikan pada diriku. Pesan itu berasal dari kawan sekelasku, Prilia tetapi aku tidak begitu akrab dengannya. Aku harus bertemu dengan Prilia. Dahiku mulai berkerut. Kakiku mondar-mandir bak setrika. Pikiranku bercabang dan kacau. Ada apa lagi ini. Seberapa pentingkah berita yang akan disampaikan Prilia kepadaku. Telingaku sudah terasa panas untuk mendengar berita tersebut dan kuberharap itu bukanlah gonggongan peristiwa yang alurnya mengerikan dan bukan pula syair yang terlalu merdu yang akan menghujam batinku.
 Aku pamit pada Micha padahal aku sendiri belum menghabiskan makananku lalu bergegas menuju ke gedung kuliah tepatnya di koridor yang terletak antara ruang 410 dan 412. Di sanalah Prilia menunggu kedatanganku.
  Dengan napas tersengal-sengal, aku duduk di depan Prilia dan meneguk setengah air mineral dari botol yang diberikan Prilia kepadaku.
“Tadi sebelum mata kuliah pertama dimulai, aku datang ke kelas lebih dulu dan aku melihat setangkai bunga mawar putih plus surat kaleng ini di salah satu bangku yang ada di kelas. Karena aku penasaran makanya aku baca bagian depan surat itu bertuliskan untuk Keira. Ini…,”paparnya tanpa basa-basi.
Aku terkejut, lidahku terasa kelu. Atas dasar apakah sehingga ada seseorang yang mengirimkan semua benda itu. Aku bukan satu-satunya wanita di kampus dan aku juga bukan seorang artis atau tokoh terkenal seantero kampus. Lebih hebohnya lagi kejadian ini bukanlah untuk kali pertama. Prilia yang kukenal pendiam itu mengaku memang sering menemukan benda yang sama seperti apa yang ia tunjukkan padaku kali ini. Dia tidak sempat memberitahukan padaku karena mengira mungkin itu ulah dari keisengan teman-teman di kelas saja dan tidak begitu penting. Prilia menjelaskannya panjang lebar. Ia juga mengatakan bahwa masih ada tujuh benda yang sama yang ia simpan di kost-nya dan ia akan memberikan semuanya padaku besok. Setelah itu, Prilia kemudian meninggalkanku seorang diri karena dia mempunyai urusan mendadak. Gemetar jemariku di saat mencoba membuka surat bersampul putih kekuning-kuningan tersebut. Astaga ! Yang kulihat hanyalah kalimat salam dan inisial si pengirim misterius dari bunga dan surat kaleng ini.
 “Mr. R”.
Aku terpaku menatap jendela kelas, mengikuti gerak-gerik awan yang berpindah-pindah. Sel neuron pada otakku mulai menginterpretasikan sesuatu. Aku pun menduga apakah si pengirim itu adalah kak Bara sebab yang kuketahui dia mempunyai nama lengkap Randi Baraputra. Lantas kalau memang benar, mengapa dia mengirimkan semua ini kepadaku.
                                                               ***
  Keesokan harinya, aku datang ke kampus pada pukul setengah tujuh. Hari itu kuliah bahasa Inggris Speaking diadakan di taman baca depan kolam, letaknya di depan gedung kuliah bersama atau GKB I. Suasana kampus masih sepi. Seekor angsa asyik berenang di kolam dan dedaunan tampak berjatuhan dari tangkainya bak musim gugur. Angin membuat tubuhku terpaku dan entah apakah yang sedang melintas dalam palung pikiranku. Dari arah belakang kudengar gesekan sepatu yang berjalan menuju ke arahku. Seseorang duduk di depanku dan menyapa,
”Hai, aku boleh duduk di sini tidak ?”
Aku hanya mengucapkan kata “ya” dan terdiam. Dua menit berlalu, seorang mahasiswa yang duduk di sampingku itu sepertinya bermaksud mengajakku berbincang-bincang.
“Oh, ya. Sepertinya kita pernah bertemu. Tetapi…, di mana ya ?” ujarnya setelah menatapku dengan seksama.
Aku seperti terbangun saat mendengar suaranya yang halus itu. Sekilas aku melihatnya memegang komik dari kartun Bleach, kartun yang juga kusenangi. Aku langsung semangat,
”Eee..kakak suka membaca komik itu juga ya ?”
“Eum, iya. Memangnya kenapa ?”
“Kebetulan aku juga suka. Oh ya, kakak bukannya orang yang waktu itu membawa banyak buku tebal dan berjatuhan di depan pos satpam ?”aku mulai mengingat-ingat wajahnya yang sudah tidak asing.
“Oo..iya..iya. Aku baru ingat sekarang.”
“ Eh, kita belum kenalan. Namaku Revin Azhar, panggil saja Evin. Kamu siapa ?“
“Aku Keira. Panggil saja Kei,”jawabku.
 Sepertinya dia terkejut ketika mendengar namaku dan ia membuka-buka ponselnya melihat-lihat sesuatu. Aku melanjutkan perbincangan,
”Ada apa kak ?”
“Ee..tidak. Tidak ada apa-apa. Oh ya, kamu kuliah apa ?”
“Sedang menunggu teman-teman ya ?”
 Lalu perbincangan itu terus berlanjut makin akrab. Kita saling bertukar nomor ponsel dan kak Evin pun meminjamkanku sebuah komik dan besok lusa dia mengajakku makan es krim serta mengunjungi tempat di mana ia berlangganan komik. Satu persatu kawanku mulai berdatangan.
“Ehm..ehm..husst..Kei..Keira,”
Rupanya Fero, kawanku yang tomboy memanggilku sambil berbisik-bisik.
“Kenapa sih ?”
“Itu siapa ? Pacar kamu ya, Kei ?”
“Kenapa tidak dikenalkan sama kita sih ?”
 “Itu bukan pacarku, itu namanya kak Evin.”
“Aku juga baru kenal hari ini. Eh sebentar ya,”
Aku kembali menghampiri kak Evin yang duduk sendirian.
“Kak Evin sedang menunggu temannya di sini juga kah ?”
“Iya, katanya di taman sini tapi mungkin aku salah tempat kali ya. Eh, kalau begitu aku ke taman sebelah saja mungkin temanku ada di sana. Teman-temanmu juga sudah mulai berdatangan. Aku pergi dulu ya,”
“Eee..iya. Besok lusa akan kukembalikan komiknya,”
Vina dan Kenny mengejekku dari tadi sembari senyum-senyum. Mereka bahkan terpesona dengan kak Evin dan bangga padaku karena bisa mendekatinya. Kebetulan Fero mengenal sosok kak Evin dari seorang kawannya yang rupanya sefakultas dengan cowok yang merupakan mahasiswa transfer alih jenjang dari universitas swasta di Jakarta dan kini menduduki semester empat jurusan ilmu komunikasi. Meskipun demikian, aku merasa biasa saja, tidak ada yang istimewa dari keakrabanku dengan beliau yang baru sehari itu.
                                                                  ***

  Singkat cerita. Hari ini adalah hari yang mana lomba karya puisi dan cerpen yang kuikuti dari sebuah tabloid remaja diumumkan. Aku mulai browsing alamat situs online tabloid tersebut dan kulihat daftar nama pemenang lomba tersebut. Pada kategori lomba karya puisi aku memperoleh juara umum II dan pada lomba menulis cerita pendek aku hanya memperoleh juara umum III. Tetapi, aku tetap mensyukurinya.
            Aku hampir lupa. Hari ini adalah hari di mana aku sudah membuat janji dengan kak Evin untuk ke toko es krim dan komik. Untung saja di hari libur seperti ini aku  mandi lebih cepat dari biasanya. Sisa mengganti baju yang pas. Tidak ada yang kutargetkan dari kedekatanku dengan kak Evin, sama seperti aku akrab dengan kak Bara bahkan lebih akrab dibandingkan dengan kak Evin yang baru kukenal.
             Kak Evin sudah menungguku di kampus dan aku pun pamit pada bibi Saniya. Ketika aku akan menutup pagar, seperti terdengar gesekan benda ringan di bawah tumitku. Oh, tidak. Lagi-lagi surat kaleng itu dengan inisial pengirim misterius yang sama. Dalam surat itu dituliskan kalimat yang menyatakan bahwa itu adalah surat terakhir yang dikirimkannya padaku dan di bawahnya bertuliskan kalimat Hari ini sangat cerah. Aku tidak menghiraukan dan meninggalkan bunga beserta surat itu di kursi teras rumah.
            Sesampainya di kampus, kak Evin terlihat masih antre di ATM. Sementara tiu, datang seseorang yang mengejutkanku dari belakang.

“Hey, Kei..”
“Sedang apa di sini ? Antre juga kah ?”tanya seorang cowok yang hobi paralayang, yang tidak lain ialah kak Bara.
“Eum, tidak. “
“Hanya menunggu teman di sini. Kak Bara tumben datang ke kampus. “
“Ada urusan organisasi lagi ya ?”aku larut dalam perbincangan itu sembari menunggu kak Evin yang sepertinya sudah masuk ke ATM itu.
“Iya, tapi sekarang sudah selesai rapatnya,”
Kak Evin pun menghampiriku dengan senyum simpul lalu turut menyapa kak Bara.
“Dia siapa Kei ?”tanya kak Bara dengan nada berbisik di telingaku.
“Teman, kak. “
“Oh ya, kenalkan. Ini kak Evin.”
“Kak Evin, ini kak Bara,” mereka pun berkenalan dan saling berjabatan tangan.
Kemudian dengan wajah yang tiba-tiba lesu, kak Bara pamit pergi terlebih dahulu. Lalu aku dan kak Evin menuju parkiran.
“Kak Evin, mana motornya ?”
“Kita naik mobil saja. Matahari sudah terik begini,”
Mobil Toyota Swift berwarna silver miliknya menyilaukan pandanganku saja. Tanpa basa-basi lagi, kami pun menuju kota. Kita berhenti di toko es krim Oen yang terletak di bilangan kota Malang. Dari bangunannya terlihat sudah berumur puluhan tahun tetapi yang aku dengar ini adalah tempat yang menyajikan berbagai aneka es krim yang super enak dan tentu saja harganya juga super. Hari itu pengunjungnya cukup ramai mulai dari orang tua hingga anak-anak.
“Kenapa, Kei ? Kamu tidak suka ya ke tempat ini ?”
“Oo. Bukan begitu.”
“Aku suka kok tetapi jujur, baru kali ini aku ke sini.”
“Awalnya pengin ke Oen ini bersama teman-temanku dan kita menabung agar suatu hari bisa makan es krim di sini. He..he..,”
 “Ooh. Sama saja. Aku juga baru pertama kali ke sini,”
Kami memesan es krim dengan rasa yang berbeda agar bisa saling mencicipi. Ajib! Es krimnya top…Sangat enak dan lembut, merasuk hingga ke pori-pori terkecil lidahku. Ketika aku menyendok yang kedua kali, aku merasakan seperti ada benda berat yang terselip di dalam tumpukan es krim yang sungguh anggun bentuknya itu. Aku penasaran dan perlahan membuka celah di mana benda itu bersembunyi.
“Haa…Cincin ?”
“Oow, pasti ini cincin mbak-mbaknya atau mas-masnya yang mengantarkan es krim ini.”
“Atau mungkin cincin si koki.”
“Mungkin saja sewaktu memasak tiba-tiba cincinnya yang longgar terjatuh dan bercampur dengan es krim. “
“Pasti kokinya mencari-cari cincin ini. Aku harus…,”
Belum sempat aku melanjutkan perkataanku yang sedari tadi tidak dipedulikan oleh kak Evin. Tetapi, tiba-tiba kak Evin menahanku yang ingin beranjak dari kursi.
“Bukan. Itu bukan cincin siapa pun.”
“Itu cincin kamu, Kei…!”ujar kak Evin dengan tatapan yang tajam.
“Cincinku ? Tidak mungkin lah, kak.”
“Ini jelas-jelas bukan cincinku.”
“Kalau pun cincinku, tidak masuk akal juga tiba-tiba bercampur dalam es krim ini.”
“Seperti sulap saja. Ini pasti cincin si koki,”
Kak Evin yang hobi go kart itu menghela napas panjang dan menaruh sendok ke mangkuk es krim rasa tiramisu  yang masih banyak itu.
“Kei, aku mau menanyakan sesuatu sama kamu.”
“Apa kamu masih ingat dengan kawan chatting-mu yang bernama Mr. Raj ?”
Mengapa dia bisa tahu bahwa aku mempunyai seorang kawan chatting berinisial Mr. Raj ? Batinku tidak tenang. Darahku yang tenang kini mengalir begitu deras seiring dengan detak jantung yang tidak keruan. Kugaruk keningku yang tidak gatal.
“Dari mana kakak tahu tentang itu ?”
“Dan, kamu masih ingat kan dengan seorang misterius yang mengirmkanmu bunga dan surat kaleng ?”
“Ee..eum…Itu…Kak,”
 “Kak Evin tahu dari mana mengenai dua hal itu ? Tolong jawab pertanyaanku, kak !”
“Itu aku, Kei,”
 “Haa? Aku tidak percaya.”
“ Tidak mungkin itu adalah kakak,”
 “Kei, aku tahu kamu adalah Keira,”
“Anak semester dua jurusan psikologi yang hobi membaca komik, yang gemar menulis puisi, teman chatting ku di dunia maya selama tiga tahun ini,”
“Seseorang tempatku berkeluh kesah meskipun tidak pernah ada niat untuk bertemu dengan kamu.”
“Aku mengenalimu dari foto profilmu. Kamu mungkin sudah lupa.”
“Kita pernah bertemu sebelum kejadian pada saat buku-buku terjatuh itu terjadi.”
“Waktu itu mungkin kamu masih semester awal.”
“Aku melihatmu sering ke tempat hotspotan tiga setengah bersama kawan-kawanmu ataupun dengan seorang cowok yang baru saja kukenal hari ini di depan ATM, si Bara.”
“Dan….,”
“Maaf, kak aku potong.”
“Tetapi, mengapa kak Evin mengirimkan surat kaleng itu padaku ?”
“Apakah kakak ingin menerorku ?”
“Lantas, apa pula hubungannya dengan cincin ini ?” aku seakan-akan sedang berlaga di arena permainan catur dan seolah-olah ingin memancing lawan untuk mengetahui trik apa saja yang dipergunakannya.
“Kei, selama tiga tahun lebih aku mengenalmu melalui dunia maya.”
“Dan nama inisialku itu adalah kepanjangan dari nama lengkapku Revin Azhar Jung.”
“Aku pindah kuliah di sini karena aku ingin bisa bertemu denganmu dan tidak kusangka kita bisa bertemu seperti sekarang ini.”
“Oh ya, cincin itu.”
“Apakah kamu masih ingat sewaktu di chatting dua tahun yang lalu aku pernah mengatakan bahwa jika kita nanti dipertemukan, aku akan memberikanmu sebuah cincin seperti bentuk cincin yang dulu kamu impikan.”
“Dan aku masih menyimpan sketsa yang kamu save dalam album foto ketika kamu memperlihatkannya padaku.”
“Jadi intinya apa ?”aku benar-benar terkejut lebih dari apa yang ingin kubayangkan.
“Aku tidak pernah membayangkan bisa seperti ini jadinya.”
“Keakraban itu membuatku merasa hanya kamu yang bisa menarik perhatianku lebih dari yang kamu ketahui selama ini.”
“Aku tidak memaksamu, Kei.”
“Tetapi hari ini aku meminta padamu dan ini hanya akan kuucapkan sekali saja. Maukah kamu menikah denganku ?”
Apa? Ya, Allah. Aku tidak menyangka seseorang yang dulu sempat kujatuh hati padanya, akhirnya aku bertemu juga dengannya. Dalam mataku seakan berputar sebuah kabung asap yang membakar hingga ke dinding pikiranku. Lebih mengejutkannya lagi, hari ini dia melamarku menjadi tunangannya. Aku tahu aku masih remaja tetapi apakah secepat ini semua berjalan ? Aku bingung. Jujur, aku tidak sanggup mengatakan tidak sebab dia satu-satunya orang yang mampu membuka hatiku yang tidak pernah terisi dengan bumbu-bumbu manis. Ya, Tuhan. Tolonglah aku ! Perbincangan serius ini pun membuat aku lupa mengembalikan komiknya yang kutaruh dalam tas.
“Aku masih remaja, Kak.”
“Tetapi, kalau kakak tidak keberatan, tidak salah juga jika kita mencoba melanjutkan ini semua.”
Perkataanku sudah cukup jelas. Aku sangat bahagia hari itu. Aku pun terkejut dengan kehadiran ketiga kawanku di tempat itu. Mereka muncul dan bertepuk tangan. Rupanya selama ini mereka sudah tahu lebih dahulu mengenai kak Evin. Mereka pula yang menceritakan diriku kepada kak Evin ketika cowok bermata agak sipit itu yakin bahwa aku adalah Keira yang selama ini dicarinya.
            Ternyata memang benar. Suatu rahasia sekecil bahkan sebesar apapun pasti akan terbuka pada saat yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Dan, inilah rahasia yang membuatku terkejut setengah mati. Aku berharap, dari yang tadinya aku masih seorang remaja bisa tumbuh menjadi dewasa dengan bimbingan dari seseorang yang kusayangi. Aku tidak menyangka perasaan yang sempat terkubur setahun yang lalu kini mencuat lagi setelah aku tahu yang sebenarnya. Aku, kak Evin, dan ketiga temanku beramai-ramai menuju toko komik langganan kak Evin. Terima kasih ya, Tuhan. Hari ini adalah hari terindah bagiku. Selain memperoleh juara yang lumayan dalam dua perlombaan, aku juga dipertemukan dengan pangeran yang sudah lama kutaksir. Selain itu, aku mendapatkan dukungan penuh dari ketiga sahabatku. Love is true and come to us at the right time at the right place. And, its gonna make all better than you realize in your mind.

                                                            SELESAI

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini. Bila ingin share tulisan ini, tolong sertakan link ya. Yuk sama-sama belajar untuk gak plagiasi.