Wednesday, October 30, 2013

WANITA DAN MAHAR

"Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah (ringan)." HR Al-Hakim

Wanita yang shalihah adalah yang paling ringan maharnya. Namun, melihat potret masa kini, begitu banyak standarisasi mahar yang tidak jarang menjadi masalah bahkan penghalang bagi seorang pria untuk melamar. Contohnya saja di beberapa daerah di Indonesia yang masih kental akan adat istiadat soal pernikahan. Mereka tidak segan-segan mematok mahar yang melambung tinggi apalagi yang punya strata sosial yang tinggi di masyarakat. Bahkan, tidak jarang pula kita dengar celetukan bahwa mahar yang tinggi itu disamakan seperti transaksi jual-beli (karena anak perempuan yang menjadi istri sama saja 'dibeli' oleh seseorang yang akan menjadi suaminya). Heumm... saya amat tidak setuju dengan paradigma ini sekalipun itu adalah tradisi adat. 

Mahar adalah hak penuh seorang wanita. Hak tersebut tidak boleh diambil alih oleh orangtua, keluarga ataupun suami, kecuali perempuan itu telah merelakannya. Dalam Islam, tidak ada batasan atau ketentuan besar dan jumlah mahar. Wanita berhak menentukan besar dan jumlahnya. Namun, sesuai hadits di atas, Islam menganjurkan untuk meringankan mahar. Kalau seandainya, calon mempelai pria sepakat dengan besarnya mahar yang telah ditentukan oleh wanita, bahkan jika itu tinggi sekalipun, kalau misalnya si calon prianya ini mampu, ya tidak ada masalah. Tapi, jika sebaliknya, calon pria justru tidak sanggup memenuhi, sementara pihak wanita tidak terima, yaaa... sebaiknya dinegosiasikan lagi bagaimana baiknya. Jangan menjadikan mahar menjadi penghalang bagi calon pria. Wanita harus tetap memerhatikan dari segi kemampuan calon prianya juga.

Nah, sekarang ini juga sangat banyak jasa yang menjual aneka ragam bentuk mahar yang unyu-unyu, uangnya dilipat-lipat bahkan digunting-gunting membentuk sebuah replika. Ini memang inovasi yang bagus. Tapi, tahukah kita, kelak, mahar yang bentuknya unyu-unyu itu, masih bisa dipergunakan atau tidak? Apalagi yang sudah digunting sana-sini membentu replika, sayang banget kan, percuma saja bentuknya cantik tapi tidak lagi bernilai.

Kemudian, dalam adat Jawa, ada juga yang namanya seserahan (kebetulan keluarga besar saya seluruhnya asli Jawa). Seserahan itu merupakan pemberian dari sang pria berupa barang-barang yang dibutuhkan oleh calon mempelai wanita. Ini dikaitkan dengan tanda kesiapan seorang pria untuk bertanggung jawab penuh terhadap seorang wanita yang akan menjadi istrinya kelak. Nah, seperti yang sudah-sudah saya saksika di pernikahan keluarga saya yang masih memegang adat Jawa, kebanyakan mereka yang "berstatus sosial tinggi/orang kaya" biasanya mendapatkan seserahan yang sangat mewah, pernah juga ada keluarga saya yang menikah dan seserahan serta maharnya sama-sama berlian. Wow, untung pihak laki-lakinya juga sama kayanya, sehingga tak jadi masalah. Tidak jarang, seserahan ini juga memberatkan sang pria sama seperti halnya mahar tadi. Jadi, ada baiknya, jika ingin ada seserahan, ya disesuaikan dengan kemampuan calon pria dan bukan karena gengsi. Seperti contohnya, saat saya mengamati pernikahan tetangga tante saya yang tinggal di pinggiran kota. Seserahannya sangat banyak, tapi juga sangat bermanfaat dan ada pula barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti perlengkapan mandi yang sederhana, pakaian, hingga pisang pun bisa menjadi bagian dari seserahan itu. Lucu ya :).

Nah, kalau saya pribadi sih, saya ingin kelak maharnya bisa bermanfaat dan masih ada nilainya walaupun disimpan dalam waktu lama, seperti emas atau sejenisnya. Memang sih, saya jujur saja, tidak begitu suka pakai perhiasan. Dulu, saya dibelikan satu set perhiasan oleh almarhumah Mbah putri saya, tapi tidak saya pakai semuanya. Saya punya kalung, malah tidak saya pakai tapi saya jual karena saat itu untuk membantu kesulitan ekonomi  yang mendadak menimpa kami sekeluarga. Saya juga pernah dibelikan giwang baru waktu SMP (waktu itu saya belum berjilbab) tapi selama dipakai, giwang itu sering copot di sekolah, untung saja tidak hilang atau dicuri. Jadi, saya putuskan untuk tidak lagi memakai giwang/anting hingga sekarang ini. Dan satu-satunya emas yang masih saya pakai dari SMP hingga sekarang hanyalah cincin mungil sederhana pemberian almarhumah Mbah. Sengaja saya pilih yang besar tapi cukup murah harganya agar ada kenangan yang masih bisa saya lihat ketika Mbah meninggal. Alhamdulillah, meski mungkin harganya murah jika dijual, tapi nilai kenangannya tentu sangat mahal bagi saya. Ada cinta yang diberikan Mbah melalui cincin itu dan tidak akan pernah saya lepas meski sudah menikah nanti.

Kalau untuk mahar berupa perhiasan, saya juga tidak mau yang terlalu mewah apalagi memberatkan. Kalau misal calon pria bilangnya mau memberikan 'berlian', selama dia mampu, ya saya terima saja. Tapi, kalau saya yang minta berlian itu sedangkan calon pria hanya mampu membeli emas, yaa... tentu itu tidak mungkin saya lakukan. Hehehe.... lagipula, perhiasan itu juga tidak mungkin saya pakai sehari-hari dan kemungkinan besar hanya akan saya jadikan sebagai simpanan untuk berjaga-jaga jika kelak kami mengalami masalah keuangan.

Untuk cincin yang orang bilang sebagai simbol pernikahan, memang tidak ada batasan harus emas atau apapun. Kalau saya sendiri, inginnya yang simple (karena saya memang cenderung casual dan menyukai hal-hal simple) tidak terlalu heboh dan desainnya tidak terlalu menyolok atau besar, yang penting suami saya mampu membelikannya, ikhlas memberikannya dan tidak ada yang keberatan atas itu.

Untuk seserahannya, biasanya berisi kebutuhan atau perlengkapan untuk kita sehari-hari. Ya, sesuaikan saja dengan kemampuan calon suami. Saya pribadi, tentu tidak mungkin meminta seserahan berupa alat kosmetik. Kenapa? karena saya ini suka yang simple, tidak suka berdandan dengan kosmetik dan cenderung lebih suka yang natural. Jadi, lebih baik diganti dengan kosmetik ringan berupa bedak, celak, perlengkapan pembersih wajah, rambut dan kulit atau sejenisnya. Untuk bedak, saya juga lebih cocok dengan yang ringan seperti bedak Marcks putih tabur. Untuk kosmetik rangkaian perawatan wajah, saya lebih cocok dengan produk Sariayu. Lagipula, saya juga masih suka treatment dengan bahan-bahan alami seperti buah tomat atau jeruk nipis dan madu. Biasanya dalam sebulan, saya pasti akan memakai buah-buahan itu sebagai treatment alami untuk wajah saya. Yang penting murah tapi sehat dan menyehatkan :).

Terus, untuk perlengkapan shalatnya, tidak perlulah membeli mukena seharga jutaan atau ratusan juta. Hello, mukena itu fungsinya untuk apa sih? Nah, kalau dengan harga ratusan ribu saja sudah bagus, tidak transparan dan pas saat dikenakan, ya ngapain juga beli yang mahal-mahal. 

Nah, kalau untuk resepsi pernikahan, itu bukan kewajiban dalam Islam. Yang ada dalam Islam itu adalah walimah, bukan resepsi. Walimatul ursy juga hendaknya bukan cuma ngundang kerabat atau kolega atau teman dekat, melainkan juga berbagi pada orang tidak punya. Nah, coba lihat zaman sekarang, banyak yang menikah kemudian menggelar resepsi gila-gilaan hingga milyaran rupiah. Duuuh, sayang banget. Untung kalau duit sendiri, laah kalau ngutang sana-sini cuma buat gengsi, bukannya malah sakral dan khusyuk, eeh malah rugi dan bermasalah di awal. Untuk saya pribadi, jika saya menikah nanti, walaupun saya ini memang anak pertama, dan biasanya kalau di Jawa itu, anak pertama dan anak bungsu biasanya dibesar-besarin pernikahannya. Tapi, kalau saya memilih, tidak perlu mewah, yang penting khidmat, khusyuk, dan yang pasti tidak ngutang. Kalaupun kedua belah pihak keluarga kelak menginginkan resepsi, yaaa... intinya nggak usah mewah-mewah apalagi berhari-hari. Lebih baik, uangnya digunakan untuk kehidupan setelah pernikahan nanti, kan lebih bermanfaat. Sekalipun yang melamar saya andai orang yang kaya tujuh turunan, saya juga tidak tega membuang uang hanya untuk resepsi, walaupun maksudnya baik untuk berbagi kebahagiaan, yaaa... berbagi kebahagiaan ngapain harus mahal-mahal, kan? :)

Yap itulah, sekilas pemikiran saya seputar mahar dalam pernikahan. Bagaimana denganmu? :)

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini. Bila ingin share tulisan ini, tolong sertakan link ya. Yuk sama-sama belajar untuk gak plagiasi.