2019-08-30

PSIKOLOG KLINIS PERLU CICIL SKP IPK

"Jika hal itu penting bagi kita, maka kita akan mencari cara untuk meraihnya. Jika tidak penting, kita cenderung mencari-cari alasan." -Paresma-



Sempat desperate dan merasa tertinggal jauh. Compare myself to my colleague pun menjadi bumerang sebab saya seolah baru merangkak sedang teman sejawat sudah terbang. Tapi percuma juga membandingkan diri dengan orang lain, jadinya capek kan. Oke stop membandingkan. Menjadi seorang psikolog yang nggak/belum berkelimpahan materi, bekerja freelance a.k.a. serabutan meski judulnya sebagai founder team biro bareng teman-teman adalah identitas yang melekat pada diri saya sekarang. Malu? Actually, sebenarnya nggak karena saya pun punya kelebihan yang saya apresiasi untuk diri sendiri. Namun, kalo bicara soal tuntutan psikolog klinis jaman now, saya merasa sungguh tertatih.

Kenapa sih saya nggak lamar kerja aja? Bagi yang udah sering ngikutin blog ini pasti tahu tentang cerita di balik titel psikolog saya ini. Nggak kok, nggak self-criticism, justru saat ini saya sedang kontemplasi alias merenung sekaligus banyak-banyak usaha dan berdoa pada Allah. Karena di titik ini, hanya Allah tempat saya meminta agar Dia dengan senang hati melapangkan dan memudahkan rezeki saya. Supaya apa? Supaya saya bisa mencicil SKP (Sertifikat Kompetensi Psikolog) IPK dalam kurun 5 tahun dari sekarang sebelum masa SIPPK saya habis nanti. Saya bukannya nggak ada usaha buat nyari kerja, hanya saja takdir nasib saya saat ini mungkin belum cocok menjadi seorang karyawan.

Berkaca dari pengalaman kerja yang terakhir pun, saya sering izin. Kadang izin karena sakit. Kadang izinnya karena pengen ikutan nugas keluar buat upgrade diri, tapi nggak tahunya cuma gara-gara kebanyakan izin, saya dicap buruk. Padahal saya juga nggak minta dikasih sakit kalo lagi kerja. Ya, mungkin kemarin-kemarin saya sering sakit karena beban mental. Atau, mungkin aja takdir saya ini cocoknya bekerja secara independen, sebagai CEO mungkin heheheh :D amiin. Saya emang punya ambisi untuk membangun bisnis sih. Saya suka tantangan dan senang bereksperimen dengan ketidakpastian. Meski rumit tapi saya merasa I'm alive. Cuma karena keterbatasan sumber daya keuangan, saya pun belum tahu mau bisnis apa di luar habit. Maybe someday, I'll find it.

Di sini saya berbicara sebagai psikolog klinis ya. Psikolog klinis diwajibkan memenuhi SKP minimal 100 kredit sebagai syarat perpanjangan lisensi keprofesiannya. 100 SKP dengan biaya seminar atau workshop psikologi klinis yang sungguh fantastis. Di Malang dan Surabaya luar biasa biayanya, dari rentang setengah juta sampai dua hingga tiga jutaan rupiah ada. Sebenarnya sangat worth it sebab narasumbernya tentu bukan abal-abal dan materinya pasti ngena dan aplikatif banget. Tapi sayangnya, hingga detik ini saya belum seberuntung teman-teman yang udah mulai nyicil SKP IPKnya. Saya masih stuck di mode "Qerja bagai Quda dengan penghasilan kadang pas-pasan". Nggak naif kok, saya pun mencari klien demi tuntutan SKP dan portofolio namun saya pun juga ikhlas membantu siapapun yang membutuhkan jasa saya.

Ya, lagi-lagi realistis dengan topik kehidupan. Hidup saya biasa-biasa aja sejak kuliah S1. Achievement? Kalau akademik kuliah, saya cuma pernah dapat predikat lulusan terbaik ke-2 tingkat fakultas. Saya bersyukur sih meski memang nggak berharap untuk bisa dapat predikat itu. Kenapa? Karena sejak fase kuliah, mungkin aja saya udah ada di titik antara lelah dan puas dengan berbagai pencapaian yang udah saya capai sejak di bangku sekolah, dari SD-SMA. Jadi ambisi untuk berprestasi saya bukan fokus ke hal-hal yang sifatnya akademis, melainkan beralih pada hal-hal yang sifatnya aplikatif. Sebab diri saya haus akan ilmu-ilmu baru. Saya senang duduk menyimak dan belajar materi baru baik itu yang sesuai profesi atau sesuai passion atau terkait hobi atau terkait bisnis.

Saya juga nggak nyangka kalo jadi psikolog itu demand-nya banyak. Di satu sisi, saya kerja begini pun sebenarnya ingin menabung lebih banyak buat masa depan. Jujur, saya nggak punya asuransi kesehatan kayak BPJS dan semacamnya. Tabungan saya pun ada sih cuma nominalnya masih biasa aja. Hidup sehari-hari pun seadanya. Kalo pengen beli ini itu yang bukan kebutuhan urgent, saya bakal mikir berulang kali sampai nggak jadi beli. Sekarang pun udah jarang belanja baju karena sadar baju saya udah selemari penuh. Walau ada beberapa baju rumahan yang udah buluk, selama nggak robek masih saya pake.

Saya beberapa kali mendapat email dari teman-teman baru yang antusias untuk kuliah profesi psikologi klinis. Saya senang karena melalui blog ini, mereka bisa antusias ngejar mimpi mereka. Tapi saat mereka amaze dengan jalan hidup saya, saya merasa sungguh kayak belum ada yang bisa saya banggakan buat diceritain ke orang lain sebagai bentuk motivasi.

Kehidupan karir saya pun nggak ada yang brilian. Biasa aja bahkan cenderung di bawah rekan-rekan lain. Saya kerap mendapat penolakan saat melamar kerja. Saya paham bahwa saya punya kelemahan saat mengerjakan psikotes yang bentuknya hitungan/angka-angka. Saya kurang bisa berpikir abstrak melalui media angka apalagi kalo soal-soalnya udah sulit. Itu udah dari dulu, Dari SMP, saya memang sering dapat nilai nggak bagus di pelajaran Matematika. Tapi lucunya, saya bisa dapat nilai yang memuaskan di pelajaran Fisika, Kimia dan Biologi. Ketika tahu bahwa berpikir abstrak melalui angka itu sebagai pintu gimana problem-solving kita, saya pun berkecil hati dan mengelak. Menurut saya, bukan berarti orang-orang yang lemah di hitungan atau angka lantas dengan mudah dicap nggak bisa berpikir secara holistik dan problem-solving serta daya analisanya nggak bagus. No. Bukan subjektif tapi saya pun belajar banyak hal di luar itu dan melihat beberapa orang yang lemah matematika justru punya kelebihan di hal lain. Dan untuk assess apalagi mendiagnosa seseorang menurut saya nggak sedangkal itu juga.

Walaupun kehidupan saya sekarang cenderung ordinary banget, tapi saya bersyukur menjadi diri saya. Kalo orang lain yang ada di posisi saya, mereka belum tentu bisa menjadi saya. Mungkin bisa jadi mereka bakal stres berat karena selalu menemui kegagalan meski udah ribuan kali berusaha.

Saya masih bisa maintain diri dengan cukup baik. Cukup sih, belum sampe ke tahap yang wow banget maintainnya. Apa sih yang saya lakukan supaya nggak stres berlebihan?

Pertama, setiap hari saya belajar menerima dan memaafkan diri saya. Walau orang lain gak suka. Walau begini dan begitu, tapi saya udah bersyukur karena ruh yang Allah titipkan buat saya ini ternyata masih sudi menemani saya melanjutkan hidup.

Kedua, setiap hari saya rajin self-talk. Kalo ada hal yang mengharuskan saya membuat keputusan, saya biasanya ngomong sama diri sendiri di depan kaca sembari pake skincare. Self-talk juga membantu saya untuk re-framming pikiran dan perasaan yang awalnya negatif menjadi lebih sehat dan realistis tentunya.

Ketiga, gratitude. Saya perbanyak ngucap hamdalah atas sekecil dan se-sepele apapun pencapaian saya. Misal, dalam minggu lalu saya bisa nangani 5 sampai 6 klien kemudian minggu ini sepi klien, saya bersyukur karena ternyata masih ada loh yang mau pake jasa saya dan dapat insight dari saya. Saya juga mengupayakan diri untuk solat tepat waktu. Ibarat mau berangkat ke sekolah, saya perlu disiplin supaya saya bisa ngikutin pelajaran lebih awal. Begitu juga saat solat, saya berusaha banget buat tepat waktu though kadang kalo pas di luar rumah atau pas ada klien yang mau gak mau sesinya lama banget kepentok jadwal solat kadang molor dari tepat waktu. Lalu, saya juga berusaha untuk rajin sedekah. Karena ketika saya bisa bantu orang lain, saya merasa ganjalan di dalam hati tuh lepas perlahan. Tenang.

Keempat, berusaha untuk tidur cukup sebab udah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kualitas tidur itu berbanding lurus dengan kesehatan mental dan fisik. Ya, mentok-mentok jam 11 wkwk, tapi kalo tidur kurang, kalo lagi gak ada klien di jadwal siang, ya saya cicil kekurangan waktu tidur saya di jam tidur siang. Jadi fresh lagi, kan?

Kelima, setiap hari saya belajar kelola ekspektasi. Sebab, mau ini itu tentu banyak juga yang nggak gratis. Dan kalo saya memang belum mampu, ya maka saya nggak akan memaksa diri. Saya juga mengelola ekspektasi terhadap orang lain ke saya. Saya belajar buat ngerawat diri dan menjauhkan diri dari hal-hal toxic supaya saya bisa berpikir jernih dan ngurangin drama.

Cara lainnya banyak sih, ya saya juga selingi bermain dengan hobi saya atau jalan-jalan gitu hangout sama teman meski bujetnya murah meriah. Kalo akhir-akhir ini saya gemar nge-doodling walau jelek. Itupun pake aplikasi Ibis Paint yang bisa didonlod gretongan di android. Jadi, hape yang satunya dipake buat hobi, hape yang lainnya khusus buat qerja. Wkwkwk.. sesistematis itu, but it's thoughful for me ya buat diri sendiri aja dulu bijaksananya hehehe.

Buat kalian yang pengen jadi psikolog, persiapkan segalanya aja sejak dini. Terutama materi. Beruntung kalau kalian bisa dapat kerja bagus. Jadi bisa nabung dan nyicil SKP sejak dini juga. Kalau kalian ada yang kisahnya hampir mirip kayak aku, toss, you're not alone, bibeeh... Kalian nggak sendiri. Sebaiknya jangan kebanyakan judging diri ya karena itu akan menghambat kalian untuk bergerak. Bergerak dan berprogreslah meski itu sepele dan dari langkah yang kecil.

Saya cuma berharap, Allah ngasih saya kesempatan untuk bisa menjadi psikolog hingga akhir hayat. It means, semoga Allah ngasih rezeki agar saya bisa nabung untuk masa depan, bisa nabung buat nyicil SKP IPK supaya 5 tahun mendatang dan seterusnya SIPPK saya aktif terus. Dengan memenuhi kebijakan birokrasi pun saya jadi lebih bisa berkontribusi membantu orang lain melalui profesi saya ini karena mau gak mau ya memang urusannya lisensi tapi worth it kok dan i'm proud of myself though I'm not special as others.

Makasih buat yang udah baca. Sampe ketemu lagi.

Best regards,

Paresma

Malang, 30 Agustus 2019


2 comments:

  1. Kalo membandingkan diri kita dengan orang lain, jatuhnya nggak akan ada habisnya mbak. Perbandingan yang fair itu, bandingkan diri kita hari ini dengan kemarin. Kalau hari ini udah lebih baik dari kemarin, cukup. Setidaknya kita udah melakukan progres dalam hidup walaupun kecil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya benar, memang ga ada habisnya, apapun hasilnya mmg patut utk diapresiasi, krn kalo bukan diri sendiri lalu siapa lagi. terima kasih udah mau mampir :)

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini. Bila ingin share tulisan ini, tolong sertakan link ya. Yuk sama-sama belajar untuk gak plagiasi.