Thursday, May 9, 2013

CATATAN HATI DOSEN JUNIOR (8)

3:46 PM 0 Comments
Sudah menginjak pertemuan ke-11. Untuk mata kuliah teori BK, selasa depan insyaallah kami akan memasuki sesi praktek konseling. Untuk mata kuliah Pengantar Psikologi sendiri, masih ada tersisa satu kuis, satu diskusi dan review materi di pertemuan ke-13 nanti.

Selama belajar bersama mereka, kami telah menuai banyak suka dan canda. Nyaris tidak ada duka dan luka. Tidak lama lagi, kontrak mengajar saya pun akan berakhir. Insyaallah Juni nanti. Itu juga berarti sebentar lagi saya juga akan pindah ke Malang. Tinggal menunggu rumah laku terjual.

Sedih, bila harus berpisah dengan teman-teman BKI STAIN. Saya memang bisa saja meminta perpanjangan kontrak, namun, tuntutan hidup yang lain juga harus saya jalani.

Iis, Nurmadinah, Nurkumala, Anti, Fitri, Ayu, Fajrul, Tanwir, Jamal, Kadir, Faisal dan Arif. Meski mahasiswa yang kutangani hanya berjumlah 12 orang, tetapi rasanya seperti saudara. Kedekatan emosional di antara kami sudah cukup kuat terjalin, apalagi di antara mahasiswi.

Hingga saat ini, sejauh ini, aku masih saja belum mampu memberikan yang terbaik. Meski mereka menunjukkan progres yang cukup baik dan meningkat, aku masih merasa bahwa apa yang kuberikan belumlah bisa dibilang apa-apa.

Namun, aku pernah berpesan pada mereka. Semoga apa yang telah kita pelajari bersama, walaupun itu hanya sedikiiiiit saja, itu semua dapat menjadi kado perpisahan untuk mereka. Ilmu yang pernah kita tuai bersama semoga dapat menjadi bekal yang berarti untuk masa depan.

Pengalaman ini sungguh sangat menantang dan tidak akan pernah terlupakan. Menjadi dosen junior, dikelilingi mahasiswa yang baik, ramah dan cerdas adalah nikmat yang tiada terkira. Mudah-mudahan mereka kelak bisa menjadi orang besar di periode masing-masing. Suatu hari, aku ingin mendengar cerita mereka. Bagaimanapun juga, mereka tetaplah sahabat-sahabatku.

Wednesday, May 8, 2013

SAHABAT BUKAN TONG SAMPAH

4:56 PM 4 Comments
Bagi sebagian orang, sahabat itu adalah tong sampahnya. Yang namanya tong sampah pasti dapat menjadi tempat pembuangan terakhir atas segala apapun yang ia rasakan dan ia alami.

Tapi, pernahkah kamu berpikir? Sahabat itu tidak pantas untuk dijuluki sebagai tong sampah. Ia hanya manusia biasa. Ketika kamu mengeluh, sedih, gusar, rapuh, kamu memang bisa menjadikannya sandaran terakhir saat yang lain menjauh. Namun, tidak pernahkah kamu berpikir bahwa sahabat itu juga butuh senyumanmu, butuh keceriaanmu, butuh kabar bahagia darimu.

Jika ia terus-menerus kau gelontorkan kesedihan, kerapuhan, kegusaran, kemarahan atas apa yang kamu alami, ingatlah, ia juga manusia. Ia bukan malaikat, bukan pula Tuhan. Ia manusia biasa yang juga membutuhkan sapaan hangat dan kebahagiaan dari orang-orang terdekatnya.

Jangan pernah menganggap sahabat adalah ia yang paling ampuh untuk menjadi pemecah masalahmu. Sebab, ia pun sama denganmu. Sama-sama manusia. Ia memang peka terhadap keadaanmu, tapi bukan berarti kamu bisa sesuka hati berkeluh kesah padanya. Ia tentu saja akan jenuh dengan sikapmu yang terus-menerus seperti itu.

Jadi, pahamilah sahabatmu. Jika pun kamu nyaman curhat padanya, jangan sekali-kali kamu menumpahkan semua hal negatif yang kamu pendam. Rajinlah menyapanya dengan kabar bahagia dan buatlah ia tersenyum sebagaimana ia selalu memberikan berbagai upaya agar kamu tersenyum. Berikan ia semangat seperti ia yang senantiasa rela menyuntikkan semangat kala kamu gundah gulana.

MENGHAYATI CINTA DAN KEBAHAGIAAN MELALUI MEDITASI

8:50 AM 0 Comments
Rinai hujan menyeringai dari balik jendela. Banyak orang yang berkata bahwa hujan itu adalah anugerah Tuhan yang sangat romantis. Tapi, bagiku, hujan itu selain romantis, juga menjadi bentuk cinta Sang Pencipta bagi seluruh alam semesta. Berbicara mengenai cinta, tak akan habis dan tak lekang oleh waktu. Kita bisa dilahirkan ke bumi ini, bisa bernapas hari ini, itu semua karena cinta. Cinta pun sejatinya senantiasa disandingkan dengan kebahagiaan. Seseorang yang merasakan cinta dalam hatinya, baik itu karena memandang atau mendengar sesuatu, pasti akan cenderung merasakan sensasi kebahagiaan yang menggelora dan menggebu-gebu. Cinta juga merupakan suatu hal yang sangat sulit diterjemahkan sebab energi dan pengaruh yang dihasilkan olehnya sungguh tak terhitung dan tak terbilang, seperti cinta ibu kepada anaknya. Sungguh dahsyat nikmat cinta yang dianugerahkan pada tiap insan dan siapapun pasti tidak akan mampu mengelak atau menolak bila membahasnya. 

Cinta dan kebahagiaan. Siapa pun pasti merindukan saat-saat dicintai dan berbahagia dalam kehidupan ini. Namun, sangat disayangkan, semakin banyak orang yang kesulitan merasakan keberadaan cinta dan kebahagiaan tersebut dalam hidup mereka. Tuntutan hidup yang tinggi, kesibukan yang seolah tanpa jeda, jalanan macet, keluarga, dan lingkungan yang tidak mendukung. Semua itu membuat pikiran dan hati menjadi pengap dan pepat, tak ubahnya seperti rumah tanpa jendela.

Friday, May 3, 2013

CATATAN HATI DOSEN JUNIOR (7)

5:35 PM 2 Comments
Siang tadi adalah jadwal mata kuliah Pengantar Psikologi. Ada yang beda dari kami. Hari ini, kami memulai kelas dengan metode circle. Metode circle itu adalah posisi duduk. Karena jumlah teman-teman mahasiswa memang cuman 11 orang jadi agar kedekatan emosional bisa semakin tercipta, maka kami semua duduk dengan jejeran kursi membentuk lingkaran kecil. Cukup dekat dan alhamdulillah, tadi rasa kantuk yang menyerang bisa terminimalisir dengan metode tersebut. Bagi keenam mahasiswa yang bertugas presentasi pun tetap duduk dalam lingkaran tersebut tanpa perlu pemisahan dengan mahasiswa audience dan pengajar (aku) ^_^ yang cantik ini, hehehe.

Kami pun berdiskusi terkait materi Psikologi Kognitif. Diskusi berjalan seru, hikmat, santai, dan sesekali diselipi oleh humor dari beberapa mahasiswi yang memang kocak.

Thursday, May 2, 2013

SAHABAT PEMBAWA KEBAHAGIAAN

10:28 AM 2 Comments

Habis tangis terbitlah bahagia. Inilah kalimat yang mewakili perjalananku ketika bertemu dengan seorang sahabat masa SMA. Namanya Sitti Nawira, tapi akrab disapa Wira. Wira, seorang gadis muslimah yang lebih muda setahun dariku. Dia berasal dari keluarga dengan pondasi agama yang cukup kuat dan kental. Kisah persahabatan kami berawal ketika duduk di bangku kelas X SMA.

SMA kelas X, aku belum berhijab apalagi punya niat berhijab. Memasuki kelas setelah diadakan rolling dari pihak sekolah membuatku merasa asing dan agak gentar. Gentar sebab wajah-wajah yang kutemui sungguh sangat cerdas. Ada beberapa siswa yang juga pernah kebetulan kukenal melalui berbagai perlombaan SAINS, olimpiade bahasa Inggris, lomba pidato dan ada pula satu teman SMP yang dulunya menjadi rivalku demi merebut kursi juara umum sekolah tiap semester.

Pagi itu, kami berebut tempat duduk. Sayangnya, aku tidak berhasil menemukan bangku di baris depan, hingga aku memilih untuk duduk di bangku barisan keempat, di belakang. Sepi, sendiri, sekalipun ada teman-teman yang kukenal namun mereka sudah menentukan teman duduk mereka masing-masing. Mereka cenderung memilih teman duduk yang dilansir memiliki kemampuan intelegensi yang juga sama tingginya. Ya, kelas X.6 memang menjadi surga siswa-siswi terbaik saat itu.

Saat ingin menaruh tas di bangku yang kupilih, sontak sebuah suara menyeru ke arahku. "Hei, kamu! Sini duduk sama aku saja!" Suara itu berasal dari seorang gadis berjilbab, berkulit putih, mata sipit dan gaya bicaranya yang terkesan cepat. Aku hanya merespon dengan anggukan dan mataku masih saja memandanginya dengan penuh kejanggalan. "Kok bisa ada anak asing yang sok akrab padahal teman yang kukenal saja tidak mau menawarkan diri untuk duduk denganku karena takut tersaingi," kecamuk batinku.

Akhirnya, aku pun menerima tawaran gadis tersebut kemudian duduk bersebelahan dengannya. Sejenak aku bersyukur karena telah diberi tempat duduk di bangku paling depan. Itu berarti aku bisa semakin bersemangat dalam belajar dan tak perlu lagi gentar terhadap beberapa teman yang mengganggapku rival mereka. 

Gadis itulah yang kusebut di awal tadi, Wira. Awal kenalan sungguh lucu. Dia menanyakan nick name lalu nama panjangku. Dia bahkan mengira bahwa aku ini non-muslim, karena mendengar nama "Paresma" dan entah dia bilang wajahku seperti wajah non-muslim (mungkin karena tidak pakai jilbab). Aku tertawa. Dia pun ikut tertawa. Yang tadinya, aku sangat kalem di depannya, mulai berubah cair dan rileks selama berbincang hangat bersamanya.