Saturday, October 6, 2012

Memulung Lebih Mulia daripada Mengemis

Setiap pagi di kompleks BTN kami biasanya ada seorang nenek yang kira-kira bermur 60-70 tahun yang kerjaannya memungut sampah-sampah plastik seperti botol, kaleng hingga kardus maupun barang-barang bekas lainnya. Namun, saya belum pernah melihatnya secara langsung sebab dulu saya sibuk sekolah bahkan kuliah jauh dari tempat tinggal. Saya hanya sering mengetahuinya dari mama saya yang seringkali bertatap muka dengan si nenek jika mama berangkat siang.

Saat saya telah lulus kuliah dan kembali pulang ke rumah, rupanya nenek yang sering mama sebut-sebut itu masih ada dan pekerjaannya masih sama, tetap memulung seperti biasa. Pantas saja mama cukup tahu tentang nenek itu sebab bila di rumah banyak berserakan botol plastik atau barang-barang yang sudah tidak terpakai lainnya, mama pasti akan menunggu di pagi harinya untuk memberikan barang-barang bekas tersebut kepada si nenek.

Hari itu, saya berada di rumah dan kebetulan malam hari sebelumnya ada seorang rekan bapak saya yang memberikan buah tangan berupa satu termos besar yang berisi ikan bandeng, kalau orang sini biasa menyebutnya "ikan bolu". Entah berapa jumlah ikan bandeng tersebut, yang jelas kami sekeluarga tidak mungkin bisa menghabiskan sendiri ikan sebanyak itu lagipula kulkas kami pun sudah cukup sesak untuk menampung ikan sebanyak itu. Dan, saya disuruh mama untuk menunggu si nenek pemulung itu untuk memberikan sejumlah ikan bandeng yang telah mama kemas di kantong plastik. Akan tetapi, setelah lama menunggu, nenek tersebut belum juga datang. Biasanya beliau akan lewat di kompleks sekitar jam tujuh pagi tetapi tumben nenek tersebut tidak kunjung lewat setelah jam menunjukkan pukul 08.15.

Mama pun juga belum berangkat. Ia yang memutuskan untuk menunggu nenek tersebut di teras rumah. Eh, akhirnya si nenek itu lewat juga. Mama memanggil nenek tersebut untuk mempersilahkannya masuk. Dari ruang makan, aku menjatuhkan pandanganku keluar, mencari-cari sosok nenek tersebut. Beberapa menit kemudian, tidak ada seorang pun yang masuk ke dalam rumah, rupanya nenek tersebut malu sehingga dia hanya duduk di teras rumah. Ketika saya mengintip dari dalam, tampak terselip garis-garis tenang dan bahagia dari wajahnya. Setelah saya tengok pakaian nenek tersebut, sepertinya saya sudah pernah melihat nenek tersebut di depan rumah, hanya saja saya lupa tepatnya kapan. Masih seperti yang dulu, si nenek yang sangat sederhana dengan kain penutup melingkat di kepalanya sembari membawa tongkat dan sebuah karung goni sebagai wadah untuk menyimpan barang pulungannya. Ternyata memang benar, saya sudah pernah melihatnya dulu.

Sungguh bahagianya, senyum simpul yang muncul dari bibirnya ketika mama memberikan bungkusan berupa ikan bandeng kepada beliau. Heuum, hati ini lagi-lagi terenyuh. Banyak hal yang selama ini saya temukan dan saya pelajari dari mereka yang hidup di bawah garis cukup. Saya saut dengan nenek tersebut. Padahal banyak orang tua yang seumuran dengan si nenek justru memilih untuk duduk tenang sambil menengadahkan tangan hanya dengan modal tangisan atau wajah muram alias menjadi pengemis. Berbeda dengan si nenek itu, di usianya yang sudah di ujung hari, beliau masih semangat untuk mencari sesuap nasi dengan modal tongkat dan karung goni miliknya. Badannya yang tak lagi tegap tidak menyurutkan semangatnya untuk terus memulung barang-barang bekas, karena hanya itulah yang ia mampu. Bagi orang-orang yang tidak mengenalnya mungkin akan mengira beliau adalah seorang pengemis yang memiliki sampingan sebagai pemulung. Yang jelas, beberapa warga sini sudah banyak yang kenal dengan beliau. Jadi, kalau beliau lewat sini, pasti sudah bisa menebak akan memulung barang-barang bekas dan sampah plastik, terkadang, mereka juga telah menyiapkan beberapa sampah plastik dan barang-barang bekas miliknya di depan rumah untuk diberikan pada si nenek. Betapa senangnya si nenek ketika ia berhasil memulung dalam jumlah banyak.

Semua pekerjaan, apapun jenisnya asalkan itu masih halal bahkan memulung sekalipun, itu lebih mulia daripada hanya mengemis kepada orang lain. Bukankah tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah? 

Saya pikir banyak di pinggiran kota lainnya yang juga bernasib sama dengan si nenek. Memang sangat berat mengatakannya namun yang pasti, apapun yang kita kerjakan selama itu tidak bertentangan dengan agama dan moral, berusahalah untuk ikhlas dalam menjalaninya sebab akan selalu ada hikmah dan berkah yang menyertainya.

Mengemis pun tidak bisa dikatakan sebagai hal yang nista karena itu juga menjadi sebuah pilihan bagi kebanyakan potret masyarakat bawah dari dulu hingga sekarang. Namun, selagi masih mampu untuk melakukan hal-hal yang lebih produktif dan bermanfaa, asah saja terus kemampuan itu, biarlah letih itu mengikuti sampai rasa letih itu hilang dengan sendirinya. Meminta bantuan itu memang boleh tapi tidak sama halnya dengan hanya berpangku tangan seperti potret pengemis, mereka hanya mengandalkan bantuan orang lain terhadap diri sendiri tanpa ada usaha yang bermanfaat bagi diri pribadi dan orang lain. Rata-rata pengemis akan mengatakan bahwa mereka tidak bisa bekerja yang lain sebab tidak mempunyai kemampuan apa-apa atau berkata,"saya bahkan tidak lulus sekolah".

Padahal Allah sangat dekat pertolongan-Nya. Allah menebarkan banyak cara baik yang bisa dilakukan tanpa harus menjadi pengemis. Namun, sayangnya kebanyakan dari mereka tidak mau untuk melihat peluang itu. Coba lihat, Henry Ford saja yang bahkan tidak lulus SD bisa bekerja dengan giat hingga menghasilkan mahakarya yang luar biasa, salah satunya memproduksi mobil Ford yang sering kita lihat di berbagai iklan.

Banyak di luar sana saya temukan kisah nyata pengemis yang kaya. Ya, mereka "mendadak kaya" hanya dengan meminta-minta mulai pagi hingga malam, bahkan ada seorang pengemis yang bisa menghasilkan uang jutaan tiap hari hingga bisa menyekolahkan anak-anaknya. Namun, ternyata di balik itu semua, pengemis tersebut  juga memakai cara-cara yang tidak benar, menipu orang lain dengan berpura-pura sakit keras. 

Jaga agar jangan sampai pikiran ini disempitkan hanya melihat satu sudut saja, jangan sampai kita berotak seperti pengemis.
Bila di dunia ini hanya ada satu pekerjaan baik yaitu memulung, itu lebih mulia daripada mengemis.

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.