2019-08-30

PSIKOLOG KLINIS PERLU CICIL SKP IPK

7:49 PM 0 Comments
"Jika hal itu penting bagi kita, maka kita akan mencari cara untuk meraihnya. Jika tidak penting, kita cenderung mencari-cari alasan." -Paresma-



Sempat desperate dan merasa tertinggal jauh. Compare myself to my colleague pun menjadi bumerang sebab saya seolah baru merangkak sedang teman sejawat sudah terbang. Menjadi seorang psikolog yang nggak/belum berkelimpahan materi, bekerja freelance a.k.a. serabutan meski judulnya sebagai founder team biro bareng teman-teman adalah identitas yang melekat pada diri saya sekarang. Malu? Actually, sebenarnya nggak karena saya pun punya kelebihan yang saya apresiasi untuk diri sendiri. Namun, kalo bicara soal tuntutan psikolog klinis jaman now, saya merasa sungguh tertatih.

Kenapa sih saya nggak lamar kerja aja? Bagi yang udah sering ngikutin blog ini pasti tahu tentang cerita di balik titel psikolog saya ini. Nggak kok, nggak self-criticism, justru saat ini saya sedang kontemplasi alias merenung sekaligus banyak-banyak usaha dan berdoa pada Allah. Karena di titik ini, hanya Allah tempat saya meminta agar Dia dengan senang hati melapangkan dan memudahkan rezeki saya. Supaya apa? Supaya saya bisa mencicil SKP (Sertifikat Kompetensi Psikolog) IPK dalam kurun 5 tahun dari sekarang sebelum masa SIPPK saya habis nanti. Saya bukannya nggak ada usaha buat nyari kerja, hanya saja takdir nasib saya saat ini mungkin belum cocok menjadi seorang karyawan.

Berkaca dari pengalaman kerja yang terakhir pun, saya sering izin. Kadang izin karena sakit. Kadang izinnya karena pengen ikutan nugas keluar buat upgrade diri, tapi nggak tahunya cuma gara-gara kebanyakan izin, saya dicap buruk. Padahal saya juga nggak minta dikasih sakit kalo lagi kerja. Ya, mungkin kemarin-kemarin saya sering sakit karena beban mental. Atau, mungkin aja takdir saya ini cocoknya bekerja secara independen, sebagai CEO mungkin heheheh :D amiin. Saya emang punya ambisi untuk membangun bisnis sih. Saya suka tantangan dan senang bereksperimen dengan ketidakpastian. Meski rumit tapi saya merasa I'm alive. Cuma karena keterbatasan sumber daya keuangan, saya pun belum tahu mau bisnis apa di luar habit. Maybe someday, I'll find it.

Di sini saya berbicara sebagai psikolog klinis ya. Psikolog klinis diwajibkan memenuhi SKP minimal 100 kredit sebagai syarat perpanjangan lisensi keprofesiannya. 100 SKP dengan biaya seminar atau workshop psikologi klinis yang sungguh fantastis. Di Malang dan Surabaya luar biasa biayanya, dari rentang setengah juta sampai dua hingga tiga jutaan rupiah ada. Sebenarnya sangat worth it sebab narasumbernya tentu bukan abal-abal dan materinya pasti ngena dan aplikatif banget. Tapi sayangnya, hingga detik ini saya belum seberuntung teman-teman yang udah mulai nyicil SKP IPKnya. Saya masih stuck di mode "Qerja bagai Quda dengan penghasilan kadang pas-pasan". Nggak naif kok, saya pun mencari klien demi tuntutan SKP dan portofolio namun saya pun juga ikhlas membantu siapapun yang membutuhkan jasa saya.

Ya, lagi-lagi realistis dengan topik kehidupan. Hidup saya biasa-biasa aja sejak kuliah S1. Achievement? Kalau akademik kuliah, saya cuma pernah dapat predikat lulusan terbaik ke-2 tingkat fakultas. Saya bersyukur sih meski memang nggak berharap untuk bisa dapat predikat itu. Kenapa? Karena sejak fase kuliah, mungkin aja saya udah ada di titik antara lelah dan puas dengan berbagai pencapaian yang udah saya capai sejak di bangku sekolah, dari SD-SMA. Jadi ambisi untuk berprestasi saya bukan fokus ke hal-hal yang sifatnya akademis, melainkan beralih pada hal-hal yang sifatnya aplikatif. Sebab diri saya haus akan ilmu-ilmu baru. Saya senang duduk menyimak dan belajar materi baru baik itu yang sesuai profesi atau sesuai passion atau terkait hobi atau terkait bisnis.

Saya juga nggak nyangka kalo jadi psikolog itu demand-nya banyak. Di satu sisi, saya kerja begini pun sebenarnya ingin menabung lebih banyak buat masa depan. Jujur, saya nggak punya asuransi kesehatan kayak BPJS dan semacamnya. Tabungan saya pun ada sih cuma nominalnya masih biasa aja. Hidup sehari-hari pun seadanya. Kalo pengen beli ini itu yang bukan kebutuhan urgent, saya bakal mikir berulang kali sampai nggak jadi beli. Sekarang pun udah jarang belanja baju karena sadar baju saya udah selemari penuh. Walau ada beberapa baju rumahan yang udah buluk, selama nggak robek masih saya pake.

Saya beberapa kali mendapat email dari teman-teman baru yang antusias untuk kuliah profesi psikologi klinis. Saya senang karena melalui blog ini, mereka bisa antusias ngejar mimpi mereka. Tapi saat mereka amaze dengan jalan hidup saya, saya merasa sungguh kayak belum ada yang bisa saya banggakan buat diceritain ke orang lain sebagai bentuk motivasi.

Kehidupan karir saya pun nggak ada yang brilian. Biasa aja bahkan cenderung di bawah rekan-rekan lain. Saya kerap mendapat penolakan saat melamar kerja. Saya paham bahwa saya punya kelemahan saat mengerjakan psikotes yang bentuknya hitungan/angka-angka. Saya kurang bisa berpikir abstrak melalui media angka apalagi kalo soal-soalnya udah sulit. Itu udah dari dulu, Dari SMP, saya memang sering dapat nilai nggak bagus di pelajaran Matematika. Tapi lucunya, saya bisa dapat nilai yang memuaskan di pelajaran Fisika, Kimia dan Biologi. Ketika tahu bahwa berpikir abstrak melalui angka itu sebagai pintu gimana problem-solving kita, saya pun berkecil hati dan mengelak. Menurut saya, bukan berarti orang-orang yang lemah di hitungan atau angka lantas dengan mudah dicap nggak bisa berpikir secara holistik dan problem-solving serta daya analisanya nggak bagus. No. Bukan subjektif tapi saya pun belajar banyak hal di luar itu dan melihat beberapa orang yang lemah matematika justru punya kelebihan di hal lain. Dan untuk assess apalagi mendiagnosa seseorang menurut saya nggak sedangkal itu juga.

Walaupun kehidupan saya sekarang cenderung ordinary banget, tapi saya bersyukur menjadi diri saya. Kalo orang lain yang ada di posisi saya, mereka belum tentu bisa menjadi saya. Mungkin bisa jadi mereka bakal stres berat karena selalu menemui kegagalan meski udah ribuan kali berusaha.

Saya masih bisa maintain diri dengan cukup baik. Cukup sih, belum sampe ke tahap yang wow banget maintainnya. Apa sih yang saya lakukan supaya nggak stres berlebihan?

Pertama, setiap hari saya belajar menerima dan memaafkan diri saya. Walau orang lain gak suka. Walau begini dan begitu, tapi saya udah bersyukur karena ruh yang Allah titipkan buat saya ini ternyata masih sudi menemani saya melanjutkan hidup.

Kedua, setiap hari saya rajin self-talk. Kalo ada hal yang mengharuskan saya membuat keputusan, saya biasanya ngomong sama diri sendiri di depan kaca sembari pake skincare. Self-talk juga membantu saya untuk re-framming pikiran dan perasaan yang awalnya negatif menjadi lebih sehat dan realistis tentunya.

Ketiga, gratitude. Saya perbanyak ngucap hamdalah atas sekecil dan se-sepele apapun pencapaian saya. Misal, dalam minggu lalu saya bisa nangani 5 sampai 6 klien kemudian minggu ini sepi klien, saya bersyukur karena ternyata masih ada loh yang mau pake jasa saya dan dapat insight dari saya. Saya juga mengupayakan diri untuk solat tepat waktu. Ibarat mau berangkat ke sekolah, saya perlu disiplin supaya saya bisa ngikutin pelajaran lebih awal. Begitu juga saat solat, saya berusaha banget buat tepat waktu though kadang kalo pas di luar rumah atau pas ada klien yang mau gak mau sesinya lama banget kepentok jadwal solat kadang molor dari tepat waktu. Lalu, saya juga berusaha untuk rajin sedekah. Karena ketika saya bisa bantu orang lain, saya merasa ganjalan di dalam hati tuh lepas perlahan. Tenang.

Keempat, berusaha untuk tidur cukup sebab udah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kualitas tidur itu berbanding lurus dengan kesehatan mental dan fisik. Ya, mentok-mentok jam 11 wkwk, tapi kalo tidur kurang, kalo lagi gak ada klien di jadwal siang, ya saya cicil kekurangan waktu tidur saya di jam tidur siang. Jadi fresh lagi, kan?

Kelima, setiap hari saya belajar kelola ekspektasi. Sebab, mau ini itu tentu banyak juga yang nggak gratis. Dan kalo saya memang belum mampu, ya maka saya nggak akan memaksa diri. Saya juga mengelola ekspektasi terhadap orang lain ke saya. Saya belajar buat ngerawat diri dan menjauhkan diri dari hal-hal toxic supaya saya bisa berpikir jernih dan ngurangin drama.

Cara lainnya banyak sih, ya saya juga selingi bermain dengan hobi saya atau jalan-jalan gitu hangout sama teman meski bujetnya murah meriah. Kalo akhir-akhir ini saya gemar nge-doodling walau jelek. Itupun pake aplikasi Ibis Paint yang bisa didonlod gretongan di android. Jadi, hape yang satunya dipake buat hobi, hape yang lainnya khusus buat qerja. Wkwkwk.. sesistematis itu, but it's thoughful for me ya buat diri sendiri aja dulu bijaksananya hehehe.

Buat kalian yang pengen jadi psikolog, persiapkan segalanya aja sejak dini. Terutama materi. Beruntung kalau kalian bisa dapat kerja bagus. Jadi bisa nabung dan nyicil SKP sejak dini juga. Kalau kalian ada yang kisahnya hampir mirip kayak aku, toss, you're not alone, bibeeh... Kalian nggak sendiri. Sebaiknya jangan kebanyakan judging diri ya karena itu akan menghambat kalian untuk bergerak. Bergerak dan berprogreslah meski itu sepele dan dari langkah yang kecil.

Saya cuma berharap, Allah ngasih saya kesempatan untuk bisa menjadi psikolog hingga akhir hayat. It means, semoga Allah ngasih rezeki agar saya bisa nabung untuk masa depan, bisa nabung buat nyicil SKP IPK supaya 5 tahun mendatang dan seterusnya SIPPK saya aktif terus. Dengan memenuhi kebijakan birokrasi pun saya jadi lebih bisa berkontribusi membantu orang lain melalui profesi saya ini karena mau gak mau ya memang urusannya lisensi tapi worth it kok dan i'm proud of myself though I'm not special as others.

Makasih buat yang udah baca. Sampe ketemu lagi.

Best regards,

Paresma

Malang, 30 Agustus 2019


2019-08-22

KECANTIKAN DAN BERAT BADAN

9:24 PM 0 Comments
"Real women are fat and thin and neither and otherwise" -Hanne Blank-

Apa itu Body Shaming?

Beauty has no weight limit. Begitulah kalimat aji pamungkas yang pernah saya baca dari mbah google.

Body Shaming adalah suatu bentuk intimidasi, hinaan, celaan dan komentar negatif terhadap kondisi tubuh atau fisik seseorang. Body Shaming juga termasuk salah satu bentuk verbal bullying loh.

Siapa yang pernah atau sedang mengalami Body Shaming? Sip, kita senasib tetapi nggak sepenanggungan hehehe.

Sejak kuliah S2 2014 silam dan lulus 2017 kemarin, berat badan saya "hobi" naik turun alias nggak stabil. Banyak makan tapi juga imbang dengan banyaknya aktivitas yang dilakukan ditambah lagi saya pernah mengalami gangguan di lambung yang perlu setahun masa pemulihan. It's not easy sometimes when people around me keep observed that I'm thin. Ya, memang sih people changed as time goes by, but perubahan paling menonjol yang terjadi pada diri saya dan observable banget adalah berat badan. 

Perlu kalian tahu bahwa di luar sana bukan hanya yang obesitas aja yang kerap diejek. Tapi, yang kurus pun jadi bahan "bulanan". Kalau aja saya mau protes, udah dari dulu saya ngeluh, why. Di saat saya makan banyak, ngemil banyak, minum susu dan sebagainya, metabolisme tubuh saya justru bertambah cepat pula sampai saya juga nggak tahu terabsorbsi ke mana kah asupan yang saya makan?

Saya juga bosan mendengar sekitar saya mengira bahwa saya ini makannya sedikit, malas makan, cacingan, nggak doyan ngemil atau apalah. Bahkan ada yang pernah bilang sih (tapi bukan ke saya melainkan ke adek saya yang justru lebih kurus lagi daripada saya), they said, "Orangtuanya nggak ngasih makan ya kok kurus banget?" Well, mendengar itu ya saya nggak terima dong. Kalau kamu merasa gemuk toh masih makan dibayarin sama orangtua juga lalu apakah saya mesti bangga dengan itu? Nggak. Sekali lagi, nggak.

Setiap orang yang bertemu saya pasti bakal melihat perubahan drastis itu pada diri saya. Kenapa sih? Jangan pikir saya juga nggak berpertanyaan serupa dengan mereka. Saya pun bertanya kenapa?

Lambat-laun, saya pun cuek bodo amat dengan ocehan orang lain, termasuk ocehan teman sendiri. Udahlah gaes. Toh, nanti akan ada saatnya saya bisa gemuk. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat. Ya, masih syukur sih kalau cuman bilang, "Kok kurus?" daripada ngejek lalu ditambah-tambahin dengan kalimat interpretasi yang ngawur parah. Toh, mereka yang bener-bener ngejek itu juga nggak ngasih saya makan jadi saya nggak mau ambil pusing. Saya senyumin aja lah. Kalau itu termasuk gunjingan ya, inshaallah nanti saya mungkin bisa dapat pahala sabar. Wkwkwk, sok pede. Tapi, it's true. 

Saya yakin bahwa nggak hanya orang kurus macam saya ini tapi juga yang gemuk atau bahkan sebagian besar perempuan have been ever feel insecure with her body or physical performance when she looked at the mirror dan perempuan adalah makhluk paling lama kalau sudah berdiri di depan cermin.

Tapi tunggu dulu. Kita pun bisa saja ngebodisyeming-in diri sendiri. Hati-hati ya saat bercermin, kebanyakan perempuan tuh sambil nggumam, "Aku kok kurus banget sih ya? Pipiku kok chubby banget ya?"

Efek Body Shaming Terhadap Kesehatan Mental

Baik secara langsung maupun nggak langsung, body shaming yang kerap kita lakukan atau kita terima itu sebenarnya nggak baik. Nggak baik buat kesehatan mental kita. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Iannaccone (klik aja nama Iannaccone ntar keluar jurnalnya) dan kawan-kawan pada tahun 2016, dari 111 responden penelitian dengan rentang usia 13-19 tahun, hasilnya adalah body shame mempunyai hubungan yang sangat kuat/signifikan dengan kerentanan terhadap eating disorder (gangguan makan).

Ya. Ejekan tentang fisik seseorang bisa saja berakibat fatal terhadap kesehatan mentalnya. Seseorang yang diejek biasanya jadi mengubah pola makan menjadi nggak seimbang, diet jadi ketat banget, jadi too much fokus buat ngurusin atau gemukin badan sedangkan aspek hidup yang lain dilewatkan dan mempengaruhi kondisi psikisnya menjadi lebih sensi, makin kurang percaya diri, merasa dirinya nggak berharga dengan tampilan body image-nya dan bisa jadi mempengaruhi hubungan sosialnya (misal karena takut dibilang gendut atau kurus sama temen-temen, akhirnya mending dia memilih untuk ngehindar, milih untuk nggak usah reunian, nggak mau nyapa temen-temennya lagi).



Cantik itu Apakah Memang Harus Kurus/Gemuk Dulu?

Dari waktu ke waktu, stigma sosial mengenai seorang wanita dan pria ideal semakin bergeser. Stigma itu nganggap bahwa perempuan cantik dan ideal adalah perempuan yang punya bentuk tubuh yang berisi (nggak kurus banget, nggak gemuk juga) dan laki-laki yang gagah adalah laki-laki yang rajin nge-gym dan badannya kekar berotot.

Apalagi pengaruh media sosial dan teknologi yang kerap menampilkan figur model perempuan langsing, seksi, tinggi, putih di berbagai iklan produk. Kita yang melihatnya jadi cenderung menginternalisasi pandangan bahwa cantik itu harus seperti stereotype netizen, cantik itu harus putih banget, tinggi semampai, seksi, dan lain sebagainya. Lalu, saat visualisasi mengenai ideal body nggak sesuai dengan realita, akhirnya kepikiran dong. Apalagi cewek yang memang makhluk perasa. Kita jadi ngerasa nggak sesuai sama stereotype tadi, nggak sesuai dengan "standar sosial masyarakat" mengenai kecantikan. Padahal, kita sendiri tahu udah sungguh-sungguh tahu nggak sih makna dari cantik itu apa?

Kecantikan atau Beauty itu definisinya apa sih? Pernah nggak kita bener-bener nyari tahu akar definisi dari cantik ini. Konstruk definisi mengenai Cantik dan Kecantikan itu mempunyai sejarah yang cukup puanjaaang.

Kalau nyari di google, kebanyakan orang nulisnya definisi cantik dan kecantikan itu bermula dari Aristoteles dan/atau Plato. Nah, kalau dari referensi jurnal yang saya baca. di zaman Yunani Kuno, kecantikan itu adalah bagian dari estetika. Nah, teori yang mendasarinya disebut sebagai The General Theory of Beauty. Dari teori umum ini, kecantikan atau keindahan itu didefnisikan melalui proporsi bagian-bagian baik itu meliputi ukuran, kualitas, jumlah bagian dan keterkaitan lainnya.

Lalu, The Great Theory of Beauty dikembangkan oleh Phytagoras. Phytagoras mendefinisikan keindahan/kecantikan dalam struktur sempurna, dan struktur ini didefinisikan ke dalam proporsi bagian-bagian. Teori keindahan ini pertama kali diterapkan pada musik, kemudian berlanjut diterapkan pada arsitektur, patung dan keindahan makhluk hidup dan melibatkan penglihatan serta pendengaran, harmoni dan simetri. Wawawaw... ini tahu lah ya kalau nyebut Phytagoras pasti langsung konek ke pelajaran Matematika. Bahkan di zaman kuno kayak gitu, ternyata Phytagoras juga merumuskan keindahan dan kecantikan yang definisinya tuh ada kaitannya sama kalimat-kalimat yang matematis banget, cantik itu adalah sesuatu yang simetris, sederhananya begitu.

Kemudian, teori tentang cantik/indah menurut Phytagoras ini mendapat pertentangan dari berbagai filsuf lain akhirnya direvisilah sama si Socrates, Plato, Aristoteles, Plotinus, Ficcino, Aquinas, Alexander Baumgarten, Hogart, Edmund Burke & George Santayana, Armstrong, Kant, dan muassiiiih banyak lagi. Kalian bisa baca di SINI , Sini dan Sini ya (klik aja kata Sini itu dan bacaannya memang bahasa inggris semua jadi harap bersabar untuk belajar yes). Saya nggak bisa ceritain secara detail semuuuaaanya jadi monggo dibaca aja. Tapi, saya paling tertarik dengan definisi keindahan/kecantikan menurut Edmund Burke & George Santayana.
Menurut Burke yang notabene seorang objectivist berpendapat bahwa kecantikan/keindahan adalah kualitas yang berasal dari dalam objek yang bertindak secara mekanis pada pikiran manusia melalui intervensi panca indera. Sedangkan Santayana (subjectivist) berpendapat bahwa keindahan/kecantikan bukan dikaitkan pada objek melainkan dikaitkan pada diri kita dan menurutnya, kecantikan adalah sebuah fenomena psikologis yang dengannya kita memproyeksikan kualitas sensasi dan emosi ke dalam objek atau benda-benda.

Nah, semakin hari semakin tahun berjalan, definisi kecantikan pun mulai bergeser. Para ilmuwan juga akhirnya sependapat bahwa definisi cantik atau kecantikan sudah semakin depend on social stigma. Dalam artian, setiap orang atau kelompok masyarakat mempunyai konstruk tersendiri dalam mendefinisikan kecantikan. Jadi bisa aja menurut kelompok masyarakat A, cantik itu adalah sesuatu yang tampak secara fisik dan pleasurable ketika dipandang atau didengar. Bisa juga kecantikan itu didefinisikan sebagai suatu hal metafisik dalam bentuk aura misal. Atau bisa aja masyarakat lain berpandangan bahwa cantik itu nggak hanya memenuhi syarat struktur bagian-bagian secara fisik, melainkan juga memenuhi standar spiritual values seperti misal memiliki sifat jujur, punya nilai-nilai moral yang baik atau lainnya.

Nah, gimana? Sampai sini udah paham dikit lah ya bahwa arti dari cantik itu luaaaas banget. Jadi, kita, saya ataupun kalian mendefinisikan kecantikan itu pasti bakal beda-beda kan dan mungkin tergantung konteksnya juga. Well, nggak salah sih kalau ada yang nilai kita cantik apa nggak itu dari fisik. Kalau dari sisi laki-laki yang memang mereka makhluk visual pasti cenderung menilai perempuan dari physical performance-nya dulu, dari outer beauty-nya dulu. Nggak salah memang dengan pepatah "dari mata turun ke hati". Mayoritas laki-laki ya memang begitu. Jadi fenomena dari mata turun ke hati ini ya sejalan banget sama pandangan Aristoteles mengenai kecantikan (menekankan dari segi tampilan fisik/lahiriah). Teori Aristoteles mengenai kecantikan ini kita bisa temui juga pada teori-teori dan praktik tentang Cinta, kalian pasti akan sadar sepenuhnya bahwa outer beauty itu adalah senjata untuk memikat hati lawan jenis dan inner beauty adalah penjaga atau pertahanannya supaya tetep cinta sama kita, ciyeee.. ya gitu, memang bener kok.

Kok sudah jauh ya bahasannya :D
Back to body shaming, so, kalian yang masih menilai cantik itu harus selalu dari standar fisik, nggak salah memang tapi jangan menjadikan itu sebagai satu-satunya pandangan yang benar. Dengan kita banyak membaca sejarah, kita bisa memahami dan nggak asal nyeplos. Kalau kebanyakan cuman lihat kecantikan dari segi fisik, ya jadi bakal mudah untuk ngebodisyeming-in orang. Padahal makna cantik itu luas kan?

Gimana? Masih mau body shaming-in orang lain atau diri sendiri? Coba deh banyak-banyak baca, banyak-banyak tabayyun. Dengan begitu, kita jadi mengerti bahwa kita nggak bisa memaksakan pendapat kita soal "cantik" harus diinternalisasi oleh semua orang. Nggak bisa cuy. Menurut loe, cantik itu gemuk, menurut gue bisa jadi cantik itu lebih ke hal-hal yang bersifat moral values. So, saling terbuka terhadap pandangan orang memang perlu, tapi harus difilter juga ya dan jangan memaksakan standarmu harus selalu mesti sama dengan orang lain.

Sayangi dirimu, values-mu, standarmu. Kamu berharga kok.

See you...

Paresma,

Malang, 22 Agustus 2019

2019-07-31

SETELAH LULUS MAPRO PSIKOLOGI KLINIS

11:47 AM 0 Comments
"Bahkan Setiap Penolakan Kecil Dapat Mendorong Anda Menuju Kesuksesan"
-Sophie Cornish & Holly Tucker: Build A Business From Your Kitchen Table-

Kebun Binatang Prigen


Sebelumnya, terima kasih bagi siapapun teman-teman yang sudah berkunjung ke blog ini dan mencari bacaan terkait bagaimana kuliah magister profesi psikologi dan semacamnya. Saya pikir belum ada yang mau berbagi selengkap ini sih.

Ohiya, hari ini saya mau sharing terkait perjalanan setelah lulus mapro psikologi.
Mei 2017 lalu saya sudah wisuda dari mapro psikologi di UMM. Saya angkatan 2014 ya. Kalau sekarang mungkin ada beberapa peraturan kampus yang sudah berubah. Don't really know sih. 

Setelah saya lulus dari mapro, flashback sedikit, tibalah saya di titik menjadi "pengangguran lagi". Pengangguran yang sedang mencari pekerjaan dengan level berbeda. Kalau dulu saya pernah mencicipi jadi Dosen meski cuma sebentar, maka hasrat untuk menjadi dosen sesaat setelah lulus dulu masih berapi-api. Lalu, saya masukkanlah lamaran kerja ke mana-mana. Ke perusahaan kecil hingga yang besar (dan kenapa ke perusahaan sedangkan saya ini lulusan psikolog klinis, saya bahkan sepak terjang saja semua lowongan yang ada, di pikiran saya saat itu yang penting kerja, titik). Lalu, setelah berbulan-bulan menanti, ada panggilan di salah satu BUMN ternama di Jakarta. Saya sebenarnya tidak diijinkan oleh ortu tetapi saya ngeyel sedikit dan akhirnya berangkat dengan catatan dari bapak, harus ditemani mama. Oke, Saya pun ikut seleksi. Dan, saya gagal (tidak ada panggilan pasca psikotes hari itu). Saya kembali ke Malang dan melanjutkan petualangan mencari lowongan lagi.

Saya pun mengirimkan berkas ke UMM, kampus saya sendiri. Dan, saat itu saya terlambat memasukkan berkas. Oke, otomatis saya ditolak. Lalu, CPNS sudah dibuka, saya daftar formasi dosen di salah satu kampus negeri berbasis Islam di Malang. Saya gagal.  Saya ikut lagi di kampus itu untuk formasi NON CPNS, saya pikir saya punya peluang besar untuk lolos, eh ternyata mereka mengutamakan pelamar yang sudah lebih dulu pernah menjadi dosen LB di kampus tersebut. Saya gagal lagi. Pergantian tahun dan CPNS buka kembali, saya mencoba daftar formasi dosen di kampus negeri lagi, lagi dan lagi saya gagal di tes CAT.

Saya rehat dari petualangan itu... dan salah satu dosen senior di kampus mengontak saya. Beliau memberikan saya pe er yang berbayar. Jadi, waktu itu beliau sedang menulis buku BERLIAN (buku tentang play therapy) dan saya dipercayakan oleh beliau untuk mengedit beberapa bagian naskahnya. Alhamdulillah, saya dapat pemasukan dari tiga kali project editing yang beliau berikan pada saya. Tidak lama setelah itu, saya pun ditawari kembali oleh dosen tersebut untuk mendaftar sebagai TUTOR di Lab Psikologi kampus. Singkat cerita, saya diterima. Saya persingkat lagi, dan saya pun kembali mengirimkan lamaran dosen ke kampus saya sendiri sembari saya bekerja sebagai tutor. Tetapi nihil. Padahal dekan saya sendiri yang meminta untuk memasukkan berkas. Namun, di sepanjang proses penyeleksian, saya bahkan tidak diberikan konfirmasi apapun terkait apakah saya diterima atau ditolak. Saat memasuki ajaran baru, tahu-tahu saya dengar sudah ada dosen baru yang masuk dari hasil seleksi tersebut. Yap, sakit tapi tak berdarah dan saya mencoba sembuh dari kekecewaan itu. Saya terima.

Saya pun diangkat menjadi karyawan kontrak oleh Universitas dengan posisi sebagai Instruktur di Lab Psikologi. Karena satu dan lain hal, kebijakan mendadak, sangat mendadak dari kampus, membuat saya harus... diPHK. Sedih? Iya. Kecewa? Iya. Kecewa sebab tidak ada konfirmasi apapun saat saya mencoba menerima tawaran memasukkan berkas dosen. Sedih karena tiada angin dan hujan tiba-tiba ada peraturan bahwa kampus sudah tidak menerima calon dosen yang S2 nya lulusan dari kampus sendiri dan tidak boleh ada lulusan S2 yang menjabat sebagai instruktur atau tutor di kampus. Seketika saya gamang harus ke mana lagi. Seketika langit putih biru di atas kepala saya berubah jadi suram, kelam, abu-abu menuju.. hitam. Dunia seakan berhenti sekejap.

Singkat cerita, pasca Juni 2019 lalu, saya sudah tidak lagi bekerja di kampus. Tidak ada keliling ke fakultas sebagai instruktur yang mengasistensikan dosen selama proses belajar mengajar. Pun tidak juga bekerja sebagai instruktur di Lab Psikologi kampus. Saya keluar dengan hati yang sungguh patah, berkeping-keping. Dalam sekian tahun petualangan saya harus berujung pada begitu banyak penolakan. Mungkin ini juga soal nasib. Apakah itu berarti nasib saya jelek? Saya tidak mau bilang begitu karena saya yakin Allah pasti sedang mengatur rencana yang terbaik bagi saya.

Akhirnya, saya putuskan untuk mengurus sesuatu yang selama dua tahun sejak lulus sempat saya skip sejenak. STR dan SIPPK. Yap, saya putuskan untuk menjadi seorang freelancer. Menjadi associate psikolog bagi yang membutuhkan dan menjadi freelance writer untuk situs yang menyenangi kualitas tulisan saya dan fokus membangun self-branding terkait profesi psikolog klinis saya. Alhamdulillah sejak akhir 2017 hingga sekarang, saya juga sedang merintis Biro Psikologi bersama rekan-rekan sejawat saya, ada adek tingkat dan kakak tingkat. InsyaAllah proses perizinannya masih berjalan dan mudah-mudahan bisa diterima oleh masyarakat. Biro saya namanya Taka Psikologi. Merintis dari nol tentu tidak sama dengan yang sudah punya banyak uang di awal. Tapi kami yakin, rezeki masing-masing sudah diatur. Walau di Malang sudah banyak biro psikologi yang lebih dulu terkenal, itu bukan masalah buat saya dan teman-teman. Saya dan teman-teman toh tidak ingin berkompetisi karena kami juga punya ciri khas dan target masing-masing.

Setelah lulus mapro, urusan sebagai psikolog tidak berhenti di situ saja. Urusan ini berlaku seumur hidup. Apakah urusan yang saya maksud? Urusan keanggotaan dan administratif lainnya. Setelah sumpah profesi dan memperoleh SSP dan SIPP, perjuangan tentu tidak berakhir di situ. Sebab PERMENKES sudah mengeluarkan aturan baru bahwa psikolog klinis adalah bagian dari tenaga kesehatan dan peraturannya hak dan kewajibannya diatur dalam undang-undang oleh MENTERI KESEHATAN RI. Otomatis, kita harus punya STR dan SIPPK.

Sebelum mengurus STR, harus sumpah profesi klinis dulu. Loh, kan dulu sudah sumpah profesi, kok sumpah lagi? Ya, memang begitulah syaratnya. Harus sumpah profesi yang khusus psikolog klinis. Caranya? Rajin-rajin update informasi di web atau IG IPK Indonesia saja ya untuk tahu di mana dan kapan jadwal sumpah profesi psikolog klinis akan diadakan. Alhamdulillah waktu itu saya sudah ikut sumpah profesi klinis yang kebetulan diadakan di Surabaya. Kemudian dari sumpah itu, saya mendapatkan Surat Sumpah Profesi yang kemudian itu sebagai salah satu syarat berkas untuk mengurus STR. Untuk kelengkapan berkas mengurus STR mending langsung saja buka laman STR ONLINE ya, di situ lengkap kok. Kalau saya jelaskan di sini, tangan saya nanti keriting.

Setelah STR jadi dan sudah ada di tangan, harus mengurus SIPPK (Surat Izin Praktik Psikolog Klinis) dengan meminta rekomendasi surat izin praktik ke IPK wilayah tempat kamu berada dan terdaftar sebagai anggota IPK. Setelah itu membawa surat rekomendasi tersebut menuju ke DINKES KOTA/KABUPATEN setempat sesuai dengan alamat praktik. Kalau alamat praktik kita itu di rumah alias praktik perseorangan psikolog klini ya sesuaikan letaknya di kota atau kabupaten berarti ngurusnya mengikuti dinkes kota atau dinkes kabupaten. 

Alhamdulillah saya sudah punya STR psikolog klinis dan sekarang sedang memulai mencari informasi untuk mengurus SIPPK. Saya sedang mengejar karena November tahun ini SIPP saya akan berakhir masa berlakunya. Jadi sebelum berakhir, saya harus segera mengurus SIPPK. Kalau SIPP mati terus mau ngurus SIPPK, ada syaratnya harus kredensial/ujian lagi sepertinya (untuk info jelasnya tanyakan saja langsung ke sekret IPK Wilayah atau IPK Indonesia ya).

Sekarang saya kesibukannya tidak banyak dan tidak serutin dulu. Tapi banyak hal yang saya syukuri. Saya buka praktik di rumah menangani klien di rumah jadi saya punya banyak waktu untuk branding, untuk mengedukasi masyarakat melalui Instagram, dan waktu ibadah pun jadi lebih fokus dan selalu berusaha tepat waktu untuk sholat. Soalnya kalau kerja kadang harus nunggu selesai kelas dulu baru sholat kadang juga susah tepat waktu. Saya juga jadi lebih mudah untuk ikut kegiatan seperti seminar, workshop lintas ilmu. Sekarang ini saya tertarik dengan dunia membangun bisnis. Ya karena tergerak dari merintis biro bareng teman, jadi saya juga sedang mencari workshop supaya dapat ilmu membangun bisnis di era digital seperti sekarang ini. Saya juga berusaha rutin memberikan edukasi di Instagram. Kalau mau main, monggo saja, Instagram saya @paresma.psikolog.

Alhamdulillah semua saya syukuri. Apapun itu, saya  yakin rezeki saya sudah ada dan pasti akan datang kapanpun di manapun asal saya berusaha.

Semangat buat teman-teman yang ingin kuliah di Psikologi, ingin lanjut Mapro psikologi klinis dan/atau yang sudah lulus dari Mapro. I feel you. Don't Give Up.

2019-05-13

DOWN AS A STRENGTH

1:20 PM 0 Comments
"Life has pounded me down and trashed me around, Time and time again, But I always get right back up, Because I still love life--just as the earth still loves the rain."
-Suzy Kassem, Rise Up and Salute the Sun: The Writings of Suzy Kassem-

Paralayang Batu, Photo by Me


Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi satu tahun, satu bulan, satu minggu, satu hari hingga satu detik ke depan. Sama seperti hari kemarin. Hari penentuan yang mengguncangkan pikiran dan perasaan walau sebenarnya sudah prepare sejak awal. Hari penentuan yang membuat saya harus memilih dengan saklek: melangkah mundur. Mundur yang saya definisikan di sini sesaat terpatri seperti makna kekalahan dan kekecewaan. Namun sesungguhnya esensi dari melangkah mundur yang saya maksud mungkin sejatinya merupakan kiriman jawaban dari Allah agar saya bisa merencanakan planning lain yang lebih baik untuk menenangkan hidup ke depan.

2018-10-07

APA RENCANA SELANJUTNYA

11:09 AM 2 Comments
Image by Paresma

Terhitung sejak Februari lalu saya bekerja di kampus sebagai tutor dan sejak April dikontrak oleh Universitas Muhammadiyah Malang sebagai karyawan dengan perjanjian khusus (Instruktur).

Kerjanya gimana tuh? Kayaknya saya udah cerita deh di postingan sebelum-sebelumnya. Monggo dibaca aja (wkkk ketahuan deh kalau malas mengulas lagi).