Friday, September 7, 2012

Asyiknya Jalan Kaki

7:32 PM 0 Comments

Ini kutulis pada hari Kamis, 6 September 2012. Flashback ke belakang ada banyak banged pengalaman menarik yang pernah kuperoleh selama masa kuliah. Aku pengen menuangkannya lagi. Salah satunya tentang 'jalan kaki'. Haha judulnya kedengarannya gak  jual banged ya hehe. Dulu waktu semester pertama kuliah, aku belum punya kendaraan sendiri. Lebih dari itu aku numpang tinggal di rumah adik bapakku yang letaknya jauh di belakang kampus. Mau gak mau harus benar2 menej waktu. Apalagi angkot di daerah situ tuh ya lewatnya itu pake waktu-waktu tertentu ibarat nungguin bus di Korea gitu. Tetapi ini lebih parah, lewatnya hanya setiap jam delapan pagi, dhuhur dan terakhir lewat tuh jam tiga sore. So, mau tidak mau kalo ada jadwal kuliah pagi banget, aku biasanya nebeng berangkat sama pakde, kalau berangkat siang, harus jalan kaki ngelewatin sawah yang terbentang sekitar 2 Km yang menghubungkan antara rumah tanteku dengan daerah belakang kampus. Itu setidaknya jalan potong yang lebih cepat daripada harus jalan kaki lewat jalur utama.

Oke, tanpa berpikir panjang aku berangkat menyusuri jalan tersebut. Sejenak kupikir jalanan itu tuh menyeramkan apalagi kalau jalan kaki sendirian. Dengan modal bismillah, meski hati rada dag dig dug yaa mau gimana lagi. Eh, tapi ketika berjalan kaki menyusuri pematang sawah itu ya, aku ngerasain suasana yang beda banget. Adem banget rasanya lewat situ, pemandangan hamparan sawah yang luas, penuh nuansa hijau kekuningan, bisa menghirup udara sejuk yang bebas polusi, bisa ngelihat langsung petani yang sedang kerja dan bisa foto-foto juga, hehehe. Semua kelelahan akibat jalan kaki sejauh 2 kilo dalam waktu 30 menit itu terbayar dengan suasana adem tadi. Heum, yaa apa boleh buat sih nyampe kampus harus bermandian keringat tapi nggak apa-apa lah yang penting aku bisa nyampe di tempatku menuntut ilmu sembari berolahraga (kan sehat tuh kalo jalan kaki).

Pernah juga nih ini kisahnya pas waktu pulang kuliah di musim UTS (Ujian Tengah Semester). Biasanya kalo aku pulang nih minta tolong mbak-ku atau mas-ku yang jemputin. Hari itu di rumah mbak-ku sedang nggak ada motor dan mas-ku pulangnya malam. Walhasil aku udah nyoba gitu ya nungguin angkot meskipun aku udah tahu jam-jam nanggung segitu tuh nggak ada angkot yang bakal lewat. Mana mataharinya terik banget lagi. Memang sih ada jalan tikus ke pematang sawah itu tapi jalanan di sekitar sawah penuh dengan lumpur dan aku nggak mungkin lewat situ. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan kaki melalui jalur utama. Bayangin aja tuh, jalanannya naik turun-naik turun. Pada 10 menit pertama menyusuri jalanan yang mendaki sih nggak masalah, oke kudu sabar. Namun ketika menyusuri jalanan rata nan berlubang yang juga dipenuhi dengan pemandangan sawah di kiri kanan jalan itu rasanya....ampun panas banget, rasanya sekujur tubuh ini tuh udah terpanggang matang. Dan lebih dramatisnya lagi, sepatu ujian yang baru saja aku beli, meskipun harganya memang sedikit lebih murah tapi akhirnya jebol juga. Gimana nggak jebol, jalanannya berbatu dan sedikit menurun gitu. Mau buka sepatu tapi kalo nyeker yang ada malah kakiku yang melepuh kena terik matahari. Heuum, benar-benar perjuangan pulang yang penuh cobaan. Akhirnya sampe juga di rumah. Nggak tahunya perjalanan itu memakan waktu hampir satu jam. Aku jadi kepikiran, yaa meski demikian, kudu bersyukur juga sih karena masih banyak di luar sana yang lebih menderita daripada aku.

Finally, semester dua aku udah dibelikan motor sehingga lebih mempermudah akses menuju kampus dan ke tempat lain yang diperlukan. Dan, ketika aku memutuskan untuk nge-kost bersama dengan kru kontrakan Siti Hajar, aku masih sangat senang berjalan kaki. Selain itu, tempat kost teman sekelasku pun lumayan tidak terlalu jauh dari kontrakanku sehingga aku sering ke kost dia hanya dengan berjalan kaki menyusuri gang-gang kecil. 

Rata-rata teman-teman di kontrakan pun tidak mempunyai kendaraan sehingga setiap berangkat atau pulang kuliah sudah pasti berjalan kaki melewati gang-gang kecil yang menjadi jalan tikus menuju kampus. Lumayan juga sih jaraknya. Tapi kalo pake motor, nggak nyampe 10 menit udah sampai gerbang kampus kok. Kadang aku juga nebengin teman-teman kontrakan jika mereka butuh tumpangan. Bahkan pernah juga tuh ada adek kontrakan yang ngotot banget maksa minta anter saking takut telat datang syuro' (musyawarah/rapat, biasa dilakukan oleh aktivis organisasi di kampus) yang biasanya diadakan setiap jam 6 pagi, itu khusus untuk lembaga dakwah yang dia masukin sih, kalo aku nggak sampai segitu paginya kok kalo ikut syuro' kecuali kalo akan ngadain event-event besar dan penting, berangkatnya pasti pagi-pagi buta. Hahaha, but no matter. Karena kami semua adalah aktivis dakwah kampus jadi satu sama lain wajib untuk saling menolong, hehehe. 

Oiya, so far, berjalan kaki itu sangat menyenangkan kok sebenarnya. Bisa ngirit ongkos angkot dan bensin, hehehe. Itulah trik yang biasa kulakukan ketika aku harus berhemat sebab uang di dompet menipis. Ya, tapi nggak semua tempat harus diakses dengan berjalan kaki juga kan. Kan nggak lucu kalo mau ke stasiun kereta dari rumahnya jalan kaki, hahaha yang ada bakal ketinggalan kereta tuh. Selain itu, dengan berjalan kaki, apalagi kalo berangkat kuliah pagi-pagi, aku bisa menemukan banyak hal-hal unik di pinggir jalan yang kulewati. Aku bisa melihat si bapak pengangkut rumput liar yang rajin, disiplin dan ulet yang hanya muncul sekitar jam 6 pagi saja. Bahkan aku juga pernah tuh ketemu sama seorang perempuan yang terlihat seperti penyandang skizofrenia di pinggir toko. Waktu itu dia berseru padaku dengan mengatakan,"hati-hati mbak di situ tuh banyak orang gila,"(sambil nunjuk gedung tua di seberang jalan yang dianggap tempatnya orang gila padahal dia nggak menyadari keadaan dirinya sendiri). Kasian juga sih karena nggak ada dinsos yang mau menjangkau wilayah situ tapi tetap aja ak rada ngeri juga waktu itu saking kagetnya, pagi-pagi buta gitu ternyata ada yang nyapa aku, kupikir tadinya nggak ada siapa-siapa. Hahahaha.

Heum, seru deh jalan kaki itu. Sampai sekarang aku selalu merindukan berjalan kaki seperti yang pernah kulakukan semasa kuliah dulu.