Tuesday, May 28, 2013

CATATAN HATI DOSEN JUNIOR (10)

Pagi ini saya ingin mengulang kembali untaian cerita lalu pada saat saya masih mengajar di kajian Guidance Club bersama teman-teman BKI dan KPI STAIN Parepare.

Sebelumnya, saya sudah pernah posting dengan judul berbeda, namun saya ingin merangkumnya kembali dengan judul yang sama yaitu "Catatan Hati" saya.

Sekitar Desember 2012 pertengahan lalu, kami belajar outdoor di bawah pohon ketapang, depan gedung perkuliahan fakultas Syariah/Tarbiyah. Karpet plastik pun digelar. Hanya ada lebih kurang 8 orang mungkin yang hadir saat itu. Namun, seiring mendekati dhuhur, salah seorang dosen senior, Mbak Nur (kenalan saya, kakak dari adik tingkat kuliah saya) datang bersama anak-anaknya yang masih unyu dan kecil-kecil, hehehe. Eh, tidak tahunya, kami semua disuguhi makanan ringan, ada teh gelas stroberi, kue-kue basah maupun kue kering yang dibawakan oleh Mbak Nur.

Dalam kesempatan itu, kami membahas tentang apa impian yang belum atau ingin terwujud sebelum kita bertemu dengan kematian? Respon yang terlontar dari masing-masing teman mahasiswa/i tentu berbeda-beda.



Sebelum membahas impian mereka, saya terlebih dulu ingin mengatakan bahwa, sesuatu yang sangat berkebalikan saya temukan selama mengajar di sini. Apa saja itu? Pertama, dulu saat kuliah, iklim dan situasi di sekeliling saya, begitu juga teman-teman saya adalah mereka yang tergolong berasal dari keluarga ekonomi menengah ke atas, bahkan di kelas saya waktu itu hampir seluruh teman adalah mereka yang berasal dari keluarga terpandang dan ada pula yang orangtuanya pejabat/pemerintah.

Ketika saya pulang ke tanah kelahiran saya dan mengajar di sini, saya tercengang sekaligus tercenung mengetahui kondisi yang sungguh berkebalikan. Eitts, saya tidak ingin membandingkan dari segi "ekonomi orangtuanya" atau dari mana mereka berasal.

Bertemu dengan teman-teman BKI maupun KPI STAIN adalah suatu anugerah.  Dari mereka, saya belajar banyak hal. Kalau saat kuliah dulu, saya seringkali mendengar celotehan atau cerita teman-teman tentang bagaimana keluarganya, betapa tersohornya orangtua mereka lalu mereka ikut kecipratan, tingginya kasih sayang orangtua mereka yang sering pula ditunjukkan dalam bentuk materi, mendengar berbagai cerita kesenangan, kebahagiaan menurut pandangan mereka dan sebagainya..., justru itu tidaklah saya dapatkan dari teman-teman saya di STAIN ini. Namun, saya justru bangga dengan mereka. Kebanggaan itu mencuat ketika mendengar berbagai cerita dari mereka, impian mereka ataupun dari curhatan Mbak Nur selaku dosen mereka juga.

Dari seluruh cerita impian yang mereka sodorkan ke depan saya, ke depan semuanya waktu itu, saya mengambil satu benang merah. Kebahagiaan adalah sebuah perjuangan. Ya, itulah kalimat yang dapat mewakili mereka.

Untuk dapat berjumpa dengan bangku perkuliahan maupun strata pendidikan di bawahnya, mereka terlebih dahulu harus berjuang. Bukan berarti mereka seratus persen diacuhkan oleh lingkungan maupun keluarganya. Namun, kegigihan dan kemandirian dini merekalah yang membuat mereka berani mengambil langkah sendiri tanpa campur tangan orangtua.

Bagaimana dengan latar belakang keluarga mereka? Complicated. Ya, ada yang berasal dari keluarga dengan ekonomi serba pas-pasan, ada yang dari keluarga broken home dan ada pula yang berasal dari keluarga permisif hingga yang otoriter berlebihan.

Sebut saja Ani dan Beti (bukan nama sebenarnya), mereka berdua adalah mahasiswi yang berasal dari keluarga broken home akibat perceraian orangtua. Di awal bercerita, mereka tadinya sempat menyalahkan keadaan, menyalahkan kondisi kedua orangtua yang tidak mampu secara maksimal membimbing mereka sebagaimana mestinya. Ada juga Agus (bukan nama sebenarnya), dia baru bisa masuk kuliah setelah melalui perjuangan yang sangat.... sangat... panjang dan terjal. Setiap hari, sejak remaja, dia harus bekerja sendiri, untuk membayar SPP saja, dia harus mencari uang sendiri lantaran tinggal jauh dari orangtua sejak lama dan berasal dari keluarga yang permisif. Agus baru dapat memasuki kuliah ketika bertemu dengan seseorang yang baik hati yang mau mempekerjakannya di tempat itu sehingga ia bisa memulai belajar dan kuliah di tempat itu pula. Ada juga Roy (bukan nama sebenarnya), baru semester dua, dengan seabrek aktivitas kuliah, dia harus bekerja membanting tulang demi bisa membiayai kuliahnya. Setiap pagi, dia biasanya mangkal di beberapa titik keramaian seperti di pelabuhan atau terminal untuk menjajakan minuman ringan atau sejenisnya. Ada juga Jun (nama samaran), yang berasal dari keluarga otoriter, awal kelahirannya yang tidak dianggap dan terlalu diprotektif sampai dia sejak kecil sudah terbentuk oleh lingkungan sebagai seorang preman yang brutal dan akhirnya insaf setelah masuk kuliah. Saya juga tercengang ketika mulai mengajar mata kuliah di kelas lalu mendapati seorang mahasiswa yang usianya 29 tahun, sungguh jauh lebih tua dari saya tapi dia sering memanggil saya "ibu" (yaaa meski memang saya tidak pernah mau teman-teman memanggil saya ibu karena memang belum menjadi seorang ibu). Dia baru kuliah karena keterbatasan biaya dan sambil nyambi kerja sebagai security di kampus itu pula. Dan, masih banyak lagi.

Ketika saya meminta Mbak Nur untuk menyumbang kisah hidupnya pun tidak jauh beda dengan mereka. Untuk bisa sekolah, beliau harus melalui jalan bebukitan yang sangat terjal tanpa alas kaki yang memadai dan cukup memakan waktu perjalanan kaki yang lama.

Mendengar kisah-kisah itu, siapa sih yang tidak akan tersentuh? Saya pun demikian. Namun, lebih dari itu, saya justru malu berhadapan dengan mereka. Kalau tadinya mereka membangga-banggakan saya dengan titel saya, justru sayalah yang harus bangga dengan mereka. Saya malu sebab, seumur hidup, saya sudah terbiasa dengan zona nyaman, materi dari orangtua senantiasa cukup, sekalipun pernah mengalami masa "kritis", saya tetap tercukupi. Apa yang saya bisa sebut sebagai kebahagiaan? Awalnya, tidak ada, tampaknya definisi bahagia menurut mereka tidaklah sejalan dengan definisi bahagia menurut saya, awalnya. Namun, setelah berkenalan dengan mereka, saya jadi paham dan memilih definisi sendiri bahwa kebahagiaan adalah ketika saya mampu mensyukuri setiap apa yang saya peroleh, sekecil apapun itu.

Saya malu, sebab di usia saya yang sudah menginjak 20 tahun kemarin bahkan 23 tahun saat ini, masih saja belum mandiri secara total (mandiri dalam hal ekonomi/penghasilan). Melihat atau mendengar teman-teman yang jauh di atas saya ataupun mereka yang memang dari sononya sudah kaya raya, sempat membuat saya berada di posisi "pecundang". Ya, saya sangat mengakui hal itu. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, jika saya terus berpikir untuk mencari penghasilan, uang dan uang, tentunya definisi bahagia yang tadinya saya bangun pasti akan ambruk. Oleh sebab itu, saya mengubahnya lagi dengan terus belajar dari teman-teman STAIN sekaligus berusaha mengenali diri sendiri.

Jadi, dari sinilah, dari pengalaman mengajar saya inilah saya kemudian mulai berupaya untuk mengubah diri, menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur tetapi juga berupaya untuk terus berproses ke jenjang yang lebih tinggi lagi, sebab semakin tinggi ujian, insyaallah saya juga akan bisa naik kelas.

Semua pribadi memang memiliki porsi impian dan kebahagiaan yang berbeda. Kalaupun sama, tentu jalan yang ditempuh tetaplah beda. Sejauh mata memandang, saya menganggap bahwa pembelajaran tentang makna kesuksesan bukanlah berasal dari seseorang yang sudah memiliki nama besar atau pangkat tertinggi, melainkan dari orang-orang yang tadinya "terpinggirkan" bahkan mungkin tidak diakui. Bukankah Sir Isaac Newton dulunya adalah anak yang sakit-sakitan dan berasal dari janda miskin yang kemudian bermetamorfosis menjadi seorang ilmuwan yang mengentakkan sejarah? Bukankah pemimpin-pemimpin di negeri ini kebanyakan mereka awalnya berasal dari "kaum terpinggirkan"?

Yap, itulah torehan saya pagi ini.
Bagaimana dengan pengalaman mengajarmu?? :)

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.