Wednesday, July 3, 2013

DELIVERY CINTA

By: Paresma Elvigro

credit from 123rf.com

“Nenek, hati-hati ya kalau menyeberang. Di sini ramai sekali,” ujar seorang gadis bertopi sembari menuntun nenek pemulung ke tepi trotoar.

Lengkingan klakson yang dijulurkan pada dua insan penyeberang jalan semakin mengudara seolah membangunkan pepohonan yang masih terbuai dalam hawa dingin. Mentari seperti malu menyapa daratan semests padahal waktu telah menunjukkan pukul 09.25 WIB. 
“Matur nuwun nggih[1], Nak,” balas si nenek sambil membenahi kain jarik yang diselempang di bahu.

“Sama-sama, Nek. Ini ada sedikit makanan buat Nenek. Saya pergi dulu ya, Nek.”

Nenek tersebut hanya tersenyum menyaksikan kebaikan hati si gadis. Ya, gadis itu sudah sering menemui nenek tadi di tempat yang sama—di depan lapangan Rampal kota Malang—yang tidak jauh dari area traffic light. Hampir setiap minggu. Bukan hanya nenek itu saja, melainkan beberapa pengemis, anak jalanan atau para pengamen yang sering ditemuinya.

Gadis itu biasa dipanggil Cinta. Dia adalah pendatang dari Jakarta yang kebetulan ikut pindah bersama orang tuanya yang dimutasikan ke Malang atas usulan pimpinan perusahaan. Sudah hampir dua tahun. Cinta lega sebab ia akhirnya terbebas dari tempat tinggal yang sarat akan kemacetan dan masalah-masalah lainnya.

***

“Cin, tolong kamu antarkan paket ini ke rumah Bu Mudji ya. Rumahnya tahu kan?” tanya salah seorang wanita berpakaian serba merah muda sambil mengangsurkan sebuh kotak berisi kue kepada Cinta.

“Iya, yang di dekat Rampal.” Jawab Cinta mantap.

Cinta bergegas keluar. Langkahnya begitu kokoh. Senyuman manis melengkung indah bagai pelangi yang sedang mendarat di tepi bibirnya. Satu demi satu kotak kue dimasukkan ke dalam box besar berwarna hijau yang memeluk erat jok motornya. Mesin mulai dihidupkan. Tidak lupa, jemarinya pun turut meyakinkan posisi topi hijau yang membungkus jilbab putih di kepalanya. Lalu, ia melaju bersama angin. Menikmati udara dingin yang menusuk setiap tetesan aspal beku yang dilaluinya.

Tidak jauh dari tempatnya berangkat tadi, ia tiba di rumah Bu Mudji—pelanggan rutin Cinta. Setelah paket telah berada di tangan Bu Mudji, dengan gesit Cinta kembali menyusuri jalan kota menuju tempat pelanggan lain.

Setelah dua jam mengitari sebagian daerah Malang, Cinta mematikan mesin motornya lalu duduk di bawah rimbunnya pohon di depan lapangan Rampal—tempat ia biasanya bertemu dengan nenek tempo hari. Topi dibuka lalu dikibaskan ke arah jilbab dan bajunya. Cinta tampak sangat gerah. Butir-butir bening berhamburan di kening dan wajahnya. Namun, milyaran aliran oksigen dari pohon-pohon kayu di tepi trotoar mampu menyejukkan kembali jiwa dan raganya.

Dari kejauhan—sekitar 20 meter dari Rampal—tampak seorang polisi lalu lintas sedang menunaikan tugasnya. Dengan tegas bin lugas, polisi muda itu mampu mengatasi kendaraan di sekitar alur persimpangan lampu merah. Sesekali ia menegur para pengguna kendaraan yang sering melewati batas traffic light—tidak sabar menunggu puluhan angka hitungan mundur dari lampu lalu lintas.

Polisi itu sempat melirik ke arah Cinta yang tengah asyik duduk bersandar di badan pohon. Polisi tersebut hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala lalu kembali melanjutkan tugasnya.

Di samping itu, Cinta bangkit membersihkan celananya dan merapikan topi serta jilbabnya. Getar-getar ranting bunga liar di sepanjang jalan turut menyuntikkan energi semangat pada Cinta. Cinta kemudian pulang.

***

Puing-puing asap knalpot bertebaran di angkasa. Semilir angin meniupkan siulan mesra. Akhir pekan terkadang melenakan manusia. Ada yang betah memeluk kasur tetapi ada pula yang tengah bercucuran peluh sehabis bersepeda atau jogging di sekitar rumah masing-masing. Berbeda dengan Cinta. Setiap Minggu, ia selalu menyempatkan diri berbaur dalam lingkaran anak jalanan yang sering mangkal di sekitar Rampal.

Bagi Cinta, mendung di langit ataupun kegalauan di relung hati akan musnah seketika saat bercengkerama bersama mereka. Meskipun Cinta belum sepenuhnya mengerti bahasa Jawa, kawan-kawannya tidak pernah pelit untuk mengajarkan padanya. Tidak jarang pula Cinta ikut memetik senar-senar gitar atau mengibas tongkat kecil yang ditancapkan beberapa buah tutup botol minuman ringan. Bukan untuk mengais pundi-pundi rupiah, melainkan ia berusaha menyatu dalam alunan musik yang khas dari para anak jalanan. Betapa beruntung dapat mengenal mereka. Dari mereka, Cinta belajar banyak tentang gurat-gurat kehidupan. Hampir sama seperti yang biasa ia temukan saat masih tinggal di Jakarta.

“Kak, kok Kakak baik banget sama kita? Suka ngasih kita nasi kotak. Terus, pernah juga ngasih kita kue tart. Apa Kakak nggak dimarahi sama bos Kakak?” tanya salah seorang bocah perempuan dengan logat khas Jawa.

“Iya, Kak. Sa’aken[2] kalau Kakak sampai dimarahin sama bos-nya,” timpal anak laki-laki yang berumur lebih tua di antara yang lain.

Cinta tersenyum lalu berkata, “santai aja. Bos Kakak itu baik kok. Lagipula, Kakak ngasih makanan ke kalian itu bukan diambil dari pesanan orang tetapi dari jatah makan siang Kakak sendiri, he he he. Kakak kan masih bisa makan di rumah jadi mending makanannya untuk kalian aja.”

“Semoga Allah membalas kebaikan Kakak, ya,” gumam salah seorang dari mereka.

“Semoga Kakak dikasih rezeki yang banyak wes[3] sama Allah,” kata anak laki-laki tadi.

“Amin.”

Hari berlalu bagai kilat. Para bikers yang tadinya meramaikan lapangan Rampal kini mulai hilang satu demi satu. Langit kian terik. Anak-anak jalanan pun kembali ke gubuk masing-masing. Sementara itu, Cinta telah berada di antara belasan mobil dan motor yang sedang menunggu hitungan mundur lampu lalu lintas.

Saat hitungan telah berada di angka sepuluh, tiba-tiba seorang polisi yang berdiri di sisi trotoar menyerunya dari belakang. Polisi tersebut memberi aba-aba agar Cinta memundurkan motornya dan berbalik menuju tempat di mana polisi itu berdiri.

Cinta terkejut. Dahinya tiada henti berkerut. Degup irama nadinya semakin berloncatan di sekitar dada hingga menembus ke ubun-ubun dalam hitungan detik. Dengan gemetar, ia memutar balik motornya ke arah polisi tersebut.

Polisi yang masih terlihat muda, berkulit putih dan berseragam rapi itu melemparkan senyuman ke arah Cinta.

“Pak, Bapak mau menilang saya? Saya kan nggak ngebut, baru aja antre di lampu merah. Saya punya SIM kok. STNK juga selalu saya bawa. KTP juga ada. Terus, kenapa Bapak memanggil saya?” papar Cinta gugup.

Ia mengeluarkan semua surat-surat kendaraan dan ditunjukkan ke polisi yang menahannya.

“Iya, kamu ditilang,” balas polisi itu dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya. Lesung pipinya tergores semakin dalam, sangat serasi dengan bentuk rahangnya.

Cinta semakin bingung melihat sikap polisi itu lalu menyergah, “Bapak polisi yang terhormat, kalau menilang orang itu lihat-lihat dong! Jangan karena mau uangnya saja. Itu sama saja dengan makan uang haram.”

“Namamu Cinta kan? Nama saya Reihan. Saya sering melihatmu duduk-duduk dan main bareng anak-anak jalanan di situ. Saya juga sering melihat kamu menolong nenek tua yang takut menyeberang jalan. Saya juga sering memperhatikan kamu memberikan nasi kotak hampir setiap minggu ke anak-anak jalanan itu dan saya....” 

“Apa?” Cinta memotong pembicaraan polisi itu dengan tanda tanya yang sangat besar.

Matanya dipicingkan hingga sipit. Cinta berusaha bersikap baik kepada polisi tadi tetapi emosinya justru meledak lebih dulu.

“Tilang? Saya tidak mau menilang kamu kok. Maaf kalau saya membuat kamu kesal. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih sama kamu,” lanjut polisi berbadan atletis itu sembari menyembunyikan kelima jemarinya di saku celana.

Rasa penasaran membakar saraf pendengaran Cinta. Ia terusik dengan ungkapan polisi tersebut yang dianggapnya salah alamat.

“Terima kasih? Bapak salah orang. Saya tidak kenal dengan Bapak.” Balas Cinta dengan gelengan kepala.

“Tidak salah alamat kok. Saya berterima kasih karena dulu, sekitar satu tahun lalu, seorang pekerja delivery makanan yang berseragam hijau memberi saya nasi kotak, kue dan menghibur saya di situ. Sama seperti anak-anak jalanan itu,” ungkap Reihan sambil menunjuk ke arah tempat di mana Cinta biasa duduk bermain dengan anak jalanan.

“Saya juga anak dari pelangganmu yang bernama Bu Mudji yang sering memesan kue di tempatmu bekerja,” lanjut Reihan.

Cinta terbelalak tidak percaya. Secepat kilat, ia memutar kembali hard disk otaknya untuk mengingat-ingat peristiwa yang dimaksud Reihan. 

Astaga! Cinta terngiang akan memori setahun yang lalu. Ketika itu, ia menemukan sosok Reihan dengan baju berlumuran lumpur sedang duduk lesu tidak jauh dari traffic light—tepat di samping pohon tempat Cinta dan anak-anak jalanan berkumpul.

“Jadi, kamu...” tebak Cinta yang tidak menyangka kalau polisi yang sedang menghadangnya itu adalah sosok pemuda rapuh yang pernah ia temukan merenung di tepi jalan. Dia menyangka bahwa Reihan termasuk kumpulan anak-anak jalanan. Ternyata dugaannya salah.

“Terima kasih ya, Cinta. Kalau boleh, suatu saat nanti saya juga ingin memesan paket delivery cinta dari hatimu,” tutur Reihan mantap. Rona pipinya bermekaran. Sudah lama ia jatuh hati pada Cinta sejak pertama kali bertemu di lampu merah itu.

Cinta hanya membisu kemudian berbalik menyalakan mesin motornya. Hatinya bergemuruh. Sesuatu sedang berbisik dari jendela jantungnya.

“Iya, jika Allah mempertemukan kembali,” batin Cinta lalu pergi. Ia melaju kencang dengan sayap-sayap permadani di udara—meninggalkan tempat polisi itu.
***
[1] Terima kasih, ya 
[2] Kasihan 
[3] Sudah

3 comments:

  1. panjang juga ceritanya saya broookmak dulu mba biar bisa baca nanti dari judulnya aneh dan menarik "DELIVERY CINTA"
    kaya pizza ya ???

    ReplyDelete
  2. Haaaa, agak gombal polisinyaaa >.< hihi

    ReplyDelete
  3. Megi: hehehe saya emang suka bereksperimen dan aneh2 :D xxixixi

    Aya: hehehehe gombal ya? hahaha just a little fiction, not real fact tp klo beneran ada polisi ky gitu, gak tau deh :D

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.