Friday, April 18, 2014

TENTANGKU, TENTANG TEMANKU

I just don't have any ideas to write about. Malam ini, sembari menanti Isya, saya mau flashback tentang seorang temanku.

Sebelumnya, tulisan ini nggak ada maksud melebih-lebihkan atau gimana-gimana. Saya menulis ini untuk melihat sisi baik darinya, as my classmate, lebih tepatnya mantan teman kelas semasa kuliah.

Kami menyebutnya Mr. Ro. Awal kenal, dia memang agak misterius dan sangat hobi berbicara Bahasa Inggris. Itu adalah salah satu alasan kenapa ada beberapa teman yang ngecap dia nyebelin gegara hobi ber-bahasa Inggris. 

Memang sih, kita semua terpilih untuk masuk dalam kelas spesial. Kelas F Psikologi. Dalam daftar umum yang dibagikan saat usai PESMABA, nggak ada tuh kelas F. Jadi, pas nama saya dipanggil untuk ikutan tes wawancara Bahasa Inggris, setelah memberikan persetujuan, finally, saya akhirnya juga masuk ke kelas itu. Kelas Psikologi dengan program Bilingual, pengantar kuliah pake Bahasa Indonesia-Bahasa Inggris, kadang juga pake Bahasa Alien, hehehe.

Di semeser awal, saya memang belum begitu kenal sama semua teman-teman cowok. Secara, cowoknya cuman 6 biji kalo nggak salah. Dan, memang, kami semua spesial, punya keunikan dan sisi kecerdasan pada masing-masing bidang. Makanya nggak heran kalo dari zaman dulu, kelas F dicap sebagai kelasnya para raja. I don't guess this is right, but its just my conclusion from friend's opinions about F class.

Suatu ketika, saya sedang tertimpa sebuah masalah yang cukup serius. Masalah keluarga. Bukan dengan keluarga inti, tapi dengan keluarga tempat saya bernaung di rumahnya. Ya. Malam harinya, ponsel saya berdering, tanda pesan masuk. Karena sudah mengantuk, saya nggak benar-benar membacanya. Hanya sekilas. Dan isinya kalimat berbahasa Inggris dari nomor yang tak dikenal (nggak ada namanya). Jadi, saya pikir itu adalah SMS dari operator.

Esok paginya, baru saya baca ulang. Saya baca lebih detil dengan berupaya menelaah maknanya. Saya sudah lupa kalimatnya. Yang pasti, isinya adalah semacam kalimat bijak yang mengisyaratkan untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan karena kesedihan akan menelantarkan impian-impian kita. Begitulah kiranya. Saya penasaran. Saya catat tuh nomornya di otak dan simpan di ponsel. Pas nyampe kampus, kebetulan kita waktu itu ada ujian, entah UTS atau UAS, saya lupa. Di kelas, saya nanya ke teman-teman cewek. Nomor siapakah itu, barangkali ada yang tahu atau ada di antara mereka yang SMS, karena saya juga belum menyimpan semua nomor mereka.

Pas saya tanya seorang teman, dia bilang, "Ooooh... itu kayak nomornya Mr. Ro. Coba tanya aja sama dia. Kalau nggak salah sih." Dia berkata begitu karena lihat deretan nomor belakangnya aja. Dikiranya mirip dengan nomor Mr. Ro.

Ya udah, mumpung break istirahat sebelum masuk ujian selanjutnya, saya dengan dag dig dug, ngampiri si Mr. Ro. Dia lagi berdiri di seberang kelas, depan ruang Career Center. Dia pas lagi bincang-bincang sama temen cowok lainnya. Saya beranikan diri dan bertanya, "Maaf, ini nomor kamu, bukan?"

Reaksinya, dia tersenyum terus cengengesan sambil ngangguk dan bilang, "Iya." Nah loooh... saya nggak tahu harus gimana meresponnya. Akhirnya saya cuma mengangguk dan bilang, "Oooh,,, kamu toh rupanya. Kirain siapa?" Terus saya ngacir masuk ke kelas lagi. Saya baca ulang SMS itu, sekadar untuk menguatkan hati saya yang tengah dirundung masalah. Nggak tahu kenapa kok pas banget sih SMS-nya seolah menandakan saya harus segera move on dari rasa perih itu.

Selama sekelas bersama dengannya maupun dengan yang lain, saya emang terbilang jarang ngobrol sama dia. Kalaupun ngobrol, itu karena kami terlibat dalam kelompok materi yang sama atau ngobrol seperlunya aja. 

Beberapa semester berikutnya, entah gimana caranya, saya jadi kenal sama adiknya, cewek. Sebut aja Zahra. Nah, si Zahra ini lucu banget, langsung nanya di FB, "Kakak temennya Kak Ro ya? Kak Ro apa kabarnya? Gimana dia Kak di sana, nakal nggak?" Haha lucu sangat. Saya jadi mengasumsikan yang nggak-nggak waktu itu. Kenapa malah nanya sama saya sih. Saya ini kaann bukaan.... ya tahu sendiri lah.

Tapi, sejak kenal sama Zahra, saya jadi lebih mudah dan sedikit nyambung bicara sama Ro, padahal tadinya nggak pernah nyambung sama sekali.

Lamaaa... lamaa.. pas reunian kemarin (belum lama ini). Aku dan salah seorang teman kelas nggak sengaja ketemu sama Ro di kampus kita. Ro yang ngagetin dari belakang sih. Trus kita reuni bertiga, makan di Assalamu'alaikum, depan kampus. Eh, ternyata dia udah baca buku CKUS saya. Lebih tepatnya siiih si Zahra yang cerita, pas pertama kali beli, bukunya langsung diculik sama Ro. Belum aja buka bungkusnya, Ro langsung baca. Dan, klik. Dia nemuin salah satu cerita tentang saya dan gosip di kelas yang dibuat-buat salah satu teman dekat saya si Poet terhadap salah seorang cowok di kelas. DIkirain cowok itu naksir sama saya. Jiaaah itu maaah isengnya si Poet aja emang. Nah, si Ro ini ketawa pas kami makan semeja. Trus nanya-nanya soal pengalaman saya nulis bla bla banyak dah. Dari situ kami mulai agak nyambung dari sebelum-sebelumnya.

Jadi, dari cerita ini saya mau nyimpulin. Mr. Ro itu sebenarnya baik banget orangnya. Memang sih pernah ada tragedi di mana salah seorang teman kelas kami punya insiden buruk yang bikin Mr Ro ikut dicap buruk. Tapi, kalau saya menelaah, waktu itu kayaknya kondisinya emang gak kondusif buat Ro. Mungkin, dia punya masalah soalnya belakangan wajahnya kusut dan sering cemberut.

Dari Zahra, saya cukup mengenal siapa Ro sebenarnya. Sekarang dia mendadak jadi single fighter setelah kemarin waktu reuni cerita kalau dia baru putus dari pacarnya. Hhaahaa... kayaknya bukuku cukup membantu dia biar gak galau2 amat deh.

Mr. Ro itu, menurut Zahra adalah sosok yang penyayang dan baik banget. Soal dia hobi Bahasa Inggris, emang bukan dia aja, tapi Zahra juga. Kayaknya keturunan hobi English semua. Mr. Ro juga rada misterius gitu, dia nggak pernah ngomong tentang pribadinya, kecuali kalau emang dia ngerasa orang itu nyaman untuk dia kasih tahu sedikit tentang pribadinya.

Secara nggak langsung, saya mau minta maaf.. karena dulu sempat berpikir yang nggak-nggak tentang dia. Itu karena situasinya bertepatan dengan insiden waktu itu. Tapi, semenjak berjalannya waktu, saya yakin dia nggak seburuk yang teman lain pikir. Itulah alasan kenapa kita nggak boleh asal nge-judge orang. Sekalipun orang itu penampilannya buruk, tapi belum tentu hatinya buruk, kan?

Saya juga yakin, sebagian besar teman-teman F Class adalah orang-orang baik. Apapun backgroundnya, mereka tetap teman-teman kami, sahabat seperjuangan kami dalam segala suka dan duka. Ya, karena jumlah kami yang sedikit itulah yang bikin kami lebih akrab satu sama lain dibanding kelas-kelas besar. 

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.