Friday, July 4, 2014

PSIKOLOGI PERKAWINAN, SALAHKAH SAYA SHARING?

Beberapa jam lalu, ada seseorang yang mengomentari status-status saya. Kok, tentang nikah-nikah mulu? Ada apa ini?

Katanya kalau ada adek tingkat yang posting soal nikah, itu kurang elok? Dari mana sih dalilnya?

Saya akhirnya menjawab secara frontal. Belakangan ini, statusnya memang soal psikologi keluarga dan perkawinan. Kenapa saya menulisnya? Sebab, pertama: beberapa minggu lalu saya nyaris tertipu oleh pria tidak baik yang hendak melamar saya. Kedua, karena saya dan adek tingkat memang sedang sharing mengenai pengetahuan pra-nikah (soalnya adek tingkat curhat pada saya). Ketiga, murni karena saya orang yang suka nulis, suka belajar dan sharing. Jadi, apa yang kurang elok? Bukankah pengetahuan itu kudu dibagikan? Lagian, saya juga membagikannya, berharap yang lain bisa ikut diskusi agar pandangan kita bisa semakin luas mengenai topik tersebut.


Memang sih, kalau dibilang saya kurang pantas posting mengenai itu lantaran belum menikah, jujur, saya memang belum punya pengalaman. Namun, apa selamanya harus berpatokan pada adanya pengalaman dulu baru kemudian sharing pengetahuan? Tidak, kan? Lagipula, banyak sekali orang di luar sana, khususnya para alumni psikologi yang kurang berminat untuk membagikan ilmu berkaitan dengan psikologi, apapun bidang konsentrasinya. Bukannya saya menyalahkan, tidak. Tapi, coba deh, kita mengubah pikiran dan pandangan lebih terbuka. 

Selama pengetahuan tersebut tidak melanggar syariat Islam, aturan hukum, SARA dll, saya akan tetap membagikannya. Bagi saya, percuma saya belajar A, tapi cuman saya empet dalam hati. Syukur-syukur pengetahuan itu nantinya bisa diulang dan terpatri kuat, sehingga bisa belajar untuk mengaplikasikannya kelak. Bukankah dengan menulis itu lebih baik daripada hanya mengandalkan ingatan?

Ya sudahlah ^_^. Semua terserah penilaian pembaca. Selagi saya masih hidup, masih bisa sharing, insya Allah saya akan tetep menulisnya. Lagian, hehe memangnya postingan saya cuman baru-baru ini saja toh soal perkawinan? Besok-besok kalau ada tema hangat yang lagi saya obrolin sama temen-temen, pasti saya akan bahas itu juga hingga beberapa hari.

Terima kasih buat kritiknya. Tapi, mungkin akan lebih baik lagi bila kritikan tersebut tidak klise alias jelas apa yang mau dikritik. Kalau cuman bilang "tidak pantas", "tidak elok", kalau itu nggak melanggar syariat, tentu akan saya anggap sebagai angin lalu.

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.