Monday, December 22, 2014

MENDAPATKAN TEMAN ITU SANGAT MUDAH, TAPI TIDAK BAGINYA

Sepanjang jalan menuju proses peng-integrasian hasil laporan praktikum alat tes ini, saya jadi kepikiran sama si testee. Sudah lama kenal tapi baru saat ini saya benar-benar memahami apa yang tersembunyi di balik wajah cantik dan polosnya.

Dia sebenarnya cukup cerdas namun dari hasil beberapa tes yang diberikan, ternyata orangnya inferior atau bahasa mudahnya nggak pedean, merasa rendah diri dan cenderung malas action.

Saya baru sadar kalau dia sebenarnya punya banyak sekali unfinished business. Saya juga baru tahu kalau ternyata dia tidak suka diatur. Alhasil, susah juga untuk membuat janji bertemu dengannya. Otomatis, saya yang harus ngalah karena dia sendiri tidak ingin diatur dengan jadwal pertemuan yang saya tentukan. Permasalahannya itu ibarat benang kusut yang udah terulur ke sana kemari namun nggak pernah jelas gimana cara mengembalikannya secara rapi seperti semula. Mulai dari keluarga, akademik hingga persoalan teman pun bermasalah.

Ambil salah satu yaitu persoalan teman. Kalau diamati, dia punya banyak teman. Saya pun juga tergolong temannya karena kami juga satu fakultas (meskipun beda angkatan) dan pernah satu atap dalam organisasi rohis. Namun, dia masih saja merasa kesepian. Ketika ditanya apa arti sahabat, dia sendiri tidak mampu mendefinisikan dan merasa tidak memiliki sahabat atau teman yang benar-benar khusus dan dekat dengannya. Selama ini, dia hanya memendam sendiri masalahnya. Kalaupun cerita, pasti ke orangtua, terutama ibu, itupun juga tidak semua ia tumpahkan.

Seandainya saya ada di posisi benar-benar tidak mengenalnya selama memberikan tes, mungkin saya harus mengerahkan tenaga yang lebih ekstra agar mendapat simpati darinya. Mungkin ini yang saya tarik sebagai salah satu faktor mengapa ia tidak punya banyak teman, sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan dan merasa tidak punya sahabat. 

Kira-kira apa sih cara yang bisa kita lakukan, paling tidak agar orang lain tertarik untuk berteman dengan kita? Ya, tersenyum. Itu adalah cara paling mudah. Ketika kita menampakkan/memberikan senyum tulus pada orang lain, maka itu akan menjadi kesan pertama yang baik untuk menjalin hubungan interpersonal selanjutnya. Dengan tersenyum, orang lain pun akan menilai bahwa kita menerima kehadirannya. Inilah yang tidak saya temukan dalam diri si testee. Itu juga keluar dari hasil interpretasi tes maupun hasil dari alloanamnesa. Banyak orang yang menilai dia sombong padahal orangnya baik looh. Bagi yang mengenalnya, kalau dia tersenyum dikiiiit aja, subhanallah cantik dan manis banget. Cuman, dia memang tipe orang yang memiliki wajah cenderung apatis. Jadi, kesan pertama yang muncul ketika kita baru pertama melihatnya pasti akan mengira dia adalah orang yang sombong, tidak ramah atau sejenisnya. Padahal tidak. Ekspresi natural dari wajahnya memang sudah seperti itu dan itu juga diakui oleh orangtuanya.


Soal senyum, dulu saya juga orang yang jarang bisa senyum ke orang lain. Saya juga susah buat senyum kalau emang nggak bener-bener ada yang menarik atau lucu di mata saya. Makanya paman saya suka ngejahilin saya dan bilang kalau saya ini orang yang jutek. Sampai-sampai, paman saya juga bilang, "Cewek jutek nanti nggak ada yang suka looh."

Akhirnya, saya coba belajar senyum dikit-dikit sampai sekarang. Jadi, kalau lagi papasan sama orang asing gitu, nggak ada angin, saya kasih senyum aja (itu kalau papasan sama sesama jenis) atau sama lawan jenis yang usianya sepantaran sama bapak saya (orang tua gitu lah maksud saya). Karena dulu susah senyum, banyak juga orang yang nggak suka sama saya, banyak teman-teman sekolah yang laki-laki suka ngejahilin saya yang menurutnya jutek (padahal niat mereka cuma pengen kalau saya ini bisa senyum).

Gara-gara senyum dan kadang salah senyum ke orang, saya jadi ingat dengan insiden yang sudah beberapa kali saya alami. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan ihwal salah senyum ke orang di blog ini. Belum lagi cerita waktu saya mendadak di-senyumi oleh seorang lawan jenis di masjid karena waktu itu saya sedang bicara disertai senyum canda bersama adik tingkat (perempuan) yang sekarang bergabung dalam rohis yang sama dengan yang pernah saya ikuti dulu. Terakhir, belum lama ini, saya lagi-lagi dilempari senyum (naasnya selalu dari lawan jenis) padahal waktu itu saya sedang memakai masker karena flu batuk dan ekspresi saya juga datar-datar saja di balik masker tersebut. Aneh. Saya pun bingung. Kalau disenyumi ibu-ibu atau perempuan sih udah sering, tapi kenapa sekarang banyak lawan jenis yang ngasih senyum padahal nih ya (bukannya saya mau merendahkan diri tapi ya memang gitu deh yang saya pikirkan) saya itu nggak cantik-cantik amat. Saya nggak habis pikir betapa hebatnya ya efek senyuman itu walaupun berasal dari cewek yang biasa-biasa saja kayak saya hehehe.

Nah, mungkin next time, saya akan coba bilang ke testee agar bisa belajar tersenyum agar mendatangkan banyak teman bahkan sahabat baik untuknya.

Yuk, kita belajar untuk tersenyum kepada siapapun. Senyum yang tulus ya. Senyum bukan hanya mendatangkan simpati dari orang lain. Senyum yang tulus dari kita (nggak peduli kita itu cantik/ganteng atau wajah pas-pasan) bisa membuat orang lain tertarik untuk berhubungan baik dengan kita. Senyum yang tulus juga sangat mungkin mendatangkan rezeki looh. Aku udah mencobanya. Hasilnya walau cuma hal sepele, berkat senyum, saya sering dapat krupuk gratis kalau beli makan di warung waktu masih zaman S1 ngontrak dulu hehehe :D.

Bagaimana dengan kamu?

1 comment:

  1. Mantra paman kakak amazing ternyata, mampu memecahkan kekakuan kakak sewaktu dulu.. hehe.. sekarang udah murah senyum.. cie...

    Boleh juga nih, saya juga jarang senyum, persis seperti testee yg kakak ceritain.. tapi saya ini cowok.. haha.. saya coba ah membiasakan diri untuk senyum...makasih kak atas tipsnya..

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.