Tuesday, February 12, 2013

MY JOB and GAPSILP (GAGAP SILABUS RPP)

Well, saya akan menulis lagi terkait satu permasalahan. Ini juga akan menjadi bahan buat buku solo keduaku.

Ya, meski nggak semua kutulis di blog sih tetapi nanti insyaAllah tulisan di blog ini akan dijadikan proyek buku solo kedua bila buku pertama sudah terbit. InsyaAllah aamiin.

Heum, kepo kepo kepo. Kata itu seolah membawa awan mendung ke pikiranku sehingga yang ada panik, cari tahu sana-sini.

Heum, finally, minggu lalu sudah diberitahukan oleh dosen bahwa SK ngajarku udah keluar. Tapi masalahnya belum juga kuambil karena si ibunya keluar kota, lebih tepatnya ke Makassar.

Apa yang kupikir akhirnya kenyataan, aku harus bikin RPP dan silabus. Dua mata kuliah yang kupegang mulai minggu depan ini hingga Juni semoga tidak memberatkan dan menyurutkan semangatku untuk berbagi ilmu dengan ikhlas.

Sebenarnya, hal yang mengganjal adalah aku kan diterimanya sebagai tim teaching, sudah pasti dengan dosen-dosen lain. Tapi, kenapa malah aku sendiri yang harus buat RPP dan silabus. Aku juga sebenarnya sangat membutuhkan bimbingan dan arahan dari para dosen senior. Sebab, aku sendiri baru pertama kali ini mencicipi profesi dosen meski terbilang kontrak.

Well, aku tidak perlu meratapi nasibku berlama-lama bahwa penghasilanku sebagai dosen kontrak alias PTT tidaklah sebanyak yang lain. Aku tahu, saat ini di pundakku ada dua mata kuliah sekaligus kembali mengajar di GC lagi. Syukurlah, GC dapat kukurangi karena aku juga punya project nulis bareng dengan rekan senior dan insyaAllah aku sudah bertekad menyelesaikannya lebih cepat dari deadline April. Alhamdulillah, sekarang sih sudah tinggal separuhnya dan mumpung masih libur sebelum masuk minggu depan, akan kukejar semaksimal mungkin agar bisa segera kukirim ke Mbaknya dulu.

Yaah… Aku tidak bisa mungkiri bahwa aku GAPSILP alias gagap silabus dan RPP. Aku memang pernah kuliah dan mendapatkan silabus (kontrak belajar) dari dosen2ku tapi aku sama sekali gak ngeh harus menulis dan menyusun dari mana. Kendalanya adalah buku-bukuku semua ada di Malang, sedang di sini, hanya ada satu buku pedoman untuk matkul khusus. Gara-garanya dulu disuruh simpan di Malang saja karena juga toh sebentar lagi mau pindah dan takut kena pajak mahal kalau digotong semua ke bandara.

Kendala selanjutnya adalah, aku sama sekali nggak ngerti bagaimana menyusun RPP. Ya, aku kepo deh ke teman-teman nanya sampai berkoar-koar gak jelas. Bukannya aku tidak yakin dengan kemampuanku untuk menyelesaikannya sendiri. Tapi, terus terang, mereka (dosen-dosen itu) sulit untuk kumintain bimbingan untuk buat RPP. Yaiyalah, mereka sibuk dan sering keluar kota.

Untung saja, ada rekan yang memberiku contoh RPP walaupun itu berbeda jurusan. Tapi, setidaknya ada gambaran lain daripada yang kusearching dari internet.

Finally, dari semua hasil browsing dan contoh dari teman-teman tersebut, aku mengadaptasinya untuk membuat silabus dan RPP. Bukan copy paste sepenuhnya, tapi buat jadi acuan saja bila ada materi yang ternyata sama, lebih baik contohin susunan yang hasil browsing itu biar gak ribet.

RPP, yang katanya kudu dibikin 1 RPP per 1 pertemuan. Ada 14 pertemuan dari dua mata kuliah berarti aku harus bikin 28 RPP. Sippppp,,,tanggal lahirku!!! >__<

Aku cuma berharap dan memohon pertolongan sepenuhnya pada Allah, semoga bisa menyelesaikan RPP ini secepatnya dan sebaik mungkin. Aku punya target, sehabis 1 pertemuan, pulang ke rumah, terus langsung bikin RPP-nya biar gak numpuk. Lagipula, bikin modul buat kegiatan GC dua kali seminggu dan insyaAllah masih ada waktu untuk ngerampungin project nulis bareng (insyaAllah garapan bagianku selesai awal Maret dan bisa kukirim tanpa harus nunggu awal April).

Kenapa begitu? Karena aku paling nggaaaaak doyan numpuk-numpukin tugas apalagi ditunda-tunda. Dulu waktu kuliah, pas bertepatan aku lagi sakit, semua kujabanin sampe selesai. Malah, pas waktu orang-orang lagi pergi malam tahun baruan nih, iyya tahun baruan, aku malah di kamar ngerjain tugas kuliah sampe tengah satu malam. Itu semua kukerjakan secepat dan semaksimal mungkin. Memang sih, pada akhirnya kesehatanku tersita hingga drop. Tapi, itulah namanya siklus belajar. Kalau cuma mengandalkan hari esok, esok dan esok lagi, aku mungkin eneg sendiri lihat tugas numpuk kayak cucian. Wong, cucian aja, aku nggak pernah numpukin, pasti langsung kucuci sepulang kuliah atau bakal kutumpukin cuma sampe sabtu or minggu bila ada kegiatan dakwah kampus.

Please, aku bukan pamer kekuatan dan kemampuan. Aku bilang begitu karena begitulah adanya aku. Saat aku merasa sehat dan punya kekuatan besar, aku kudu cepat bertindak sebelum semuanya menumpuk. Dan, itulah yang kulakukan sampai saat ini.

Jadi, gitu aja yaa bikin RPP-nya nanti. Sekarang mumpung masih ada waktu beberapa hari, bikin silabus mata kuliah yang satunya dulu sembari ngerampungin bagian project nulis bareng. Biarpun nggak se-sistematis yang kutulis, nggak mau pusing lagi ah, intinya, kerjain aja dulu silabusnya semaksimal mungkin. Toh, kalau salah, dunia juga nggak bakal buru-buru runtuh kan?

Silabus…silabus

RPP…RPP…

Kalian memang membuatku kepo. Tapi, aku yakin meski para dosen nggak membimbingku untuk menyusunnya, aku masih punya Allah yang bakal menolongku. Aku yakin, aku bisa menyelesaikannya dan setelah Juni, aku bisa bebaaaaaaaaaaaas.

Aku nggak mau lagi tertindas oleh pekerjaanku.

Yah, my job is not my career, begitulah kata salah seorang pakar enterpreneur yang pernah nongol buku yang berjudul itu di Young on Top.

Kalau merasa pekerjaanmu itu menindasmu sekalipun kamu udah berusaha buat tegar dan ikhlas, pada akhirnya, pekerjaaan bukanlah karir yang akan membawamu sampai ke atas.

Because, karir itu adalah passion. Jadi, bila aku ingin mengejar karirku maka aku juga harus mengoptimalkan passionku.

Aku cuma ingin bilang, menjadi dosen bukanlah impianku. Aku melakukannya karena selain ditawarkan oleh pihak yang berwenang dari institusi, aku juga meyakinkan diri bahwa apa yang kukerjakan sekarang itu semata-mata sesuai dengan passion keduaku yaitu “berbagi”. Ya, tentunya berbagi ilmu atau apapun yang dititipkan Allah padaku.

Lho, kok passion yang kedua? Pertamanya apa? Hehehe, kembali lagi, yaitu menjadi writerpreneur. Aku nggak mau impianku cuma sekadar impian. Mumpung Allah menunjukkan kembali jalan menuju passionku, aku ingin mengejarnya seeeetingggi mungkin. Kalau toh, akhirnya nggak nyampai yang lebih tinggi, setidaknya aku sudah mampu meyakini diriku dan setidaknya, hal itulah yang membawaku untuk melakukan yang terbaik dariku.

So, untuk ke depannya, selamat tinggal silabus, selamat tinggal RPP. Aku masih bisa menagajar dan berbagi ilmu kapan dan pada siapa pun tanpa adanya silabus dan RPP. Aku bisa mengajari anak-anakku kelak, aku bisa berbagi ilmu melalui tulisan-tulisanku dan mungkin saja, wallahu’alam, bisa jadi besok-besok aku malah jadi pembicara hebat di berbagai kota dan daerah, berbagi ilmu ke banyak tempat dan banyak kawan. Aamiin.

Belajar kok mau diatur sama silabus dan RPP. Heheh, yaaa kalau kuliah emang gitu, mau gimana lagi. Tapi, kalau dituntut buat bikin dan ngatur orang pake dua nttuuuh, cukup di profesiku ini aja deh.

2 comments:

  1. hahaha.. Semangat ya Mbak.. itulah pkerjaan kami.. lumayan njelimet..... jadi guru tu mmg hebat ya berarti.. perangkat yg musti disiapkan tu tidak sedikit dan pastinya semua itu akan ada poinnya ^__^ di mata Allah juga manusia (instansi t4 mengajar tentunya) Semoga dimudahkan. aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. syukron ya mbak aya :D iyya salut deh sama guru-guru/dosen-dosen, bru tahu kerjaan mereka kyk gt,, dari dulu g pnh punya cita2 jd guru,,yaa anggap aja dikasih pglmn sm orang lain dan sbg sarana berbagi,,asyik siiih tp besok2 ckup jd guru buat anak2ku saja :p hahaha

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.