Thursday, October 3, 2013

BABY SITTER DAN INSECURE ATTACHMENT PADA ANAK

Indonesia adalah negara yang sedang berkembang. Perkembangan ini meliputi segala aspek kehidupan. Semakin berkembang, maka tuntutan akan kehidupan pun semakin mendesak untuk segera dipenuhi. Untuk memenuhi segala tuntutan itu, manusia pun menciptakan sarana, prasarana, infrastruktur, jasa, dan ‘ala-alat bantu’ lainnya yang lebih memadai, juga lebih memudahkan. Sehingga, waktu yang banyak tersita untuk dua atau lebih urusan dapat terselesaikan dalam waktu cepat, praktis dan efisien (menurut mereka).

Untuk dunia keluarga, salah satu ‘alat bantu’ yang kita kenal dan telah dipergunakan oleh sebagian besar manusia yang hidup di belahan ‘kota sibuk’, yaitu jasa Baby Sitter.

Baby sitter memang sangat menguntungkan bagi keluarga, utamanya orangtua dengan jam kerja yang teramat sibuk (multitasking), yang merasa ‘tak punya waktu memadai’ untuk mengurusi anak-anak mereka. Baby sitter sangat membantu pekerjaan ibu-ibu yang juga punya pekerjaan di luar rumah (career woman) ataupun bagi ibu-ibu yang ‘tak sanggup’ menjalankan urusan rumah tangga+mengasuh anak dalam satu waktu.

Tapi, tunggu dulu? Apakah jasa Baby sitter ini sudah tepat, sudah menguntungkan? Jawabannya tergantung dari pribadi masing-masing. Dan, saya di sini mencoba menjelaskan dari sudut pandang Psikologi.

Kalau saya pribadi, berhubung saya belum berumah tangga dan belum punya anak, tapi karena saya pernah tinggal di rumah saudara yang notabene kedua orangtuanya sama-sama bekerja, untuk saat ini (dengan status single saya Open-mouthed smile), saya berani mengatakan bahwa jasa Baby sitter ini ‘kurang tepat’. Label kurang tepat ini saya sematkan pada diri si ‘anak’, bukan orangtua. Kenapa harus difokuskan ke anak? Karena jasa Baby sitter kan tujuannya untuk mengasuh anak, bukan orangtua toh? hehe…

Mengapa jasa Baby sitter ini kurang tepat bagi anak? Coba kita lihat figur para orangtua di sekitar kita, di luar sana yang memakai jasa ini. Memang sih tak semuanya seperti yang kita bayangkan. Tapi, lebih banyak, mereka yang memakai jasa pengasuh lalu kemudian seolah melepaskan perannya sebagai ‘pengasuh yang utama’ bagi si anak.

Eum, back to Psychological focused-nya. Hubungan orangtua dan anak adalah sumber emosional dan kognitif yang utama bagi anak. Hubungan tersebut memberikan kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi kehidupan sosial maupun lingkungannya. Hubungan kedekatan di awal-awal masa setelah anak itu baru saja dilahirkan, akan menjadi model dalam hubungan-hubungan ke masa selanjutnya. Penelitian menunjukkan bahwa kontak yang dilakukan ibu pada satu jam pertama setelah melahirkan selama 30 menit akan memberikan pengalaman mendasar pada si anak (Klaus dan Kennel dalam Bee, 1981).

Hubungan kelekatan antara ibu dan anak di tahun-tahun awal kehidupannya akan memudahkan bagi si ibu untuk mengasah kepekaan terhadap anak, memahami sinyal-sinyal yang ditunjukkan bayinya, kapan waktu yang tepat untuk sesegera mungkin atau menunda memberi respon pada anak dan mempelajari apakah respon yang diberi tersebut sudah tepat atau tidak bagi si anak.

Berbicara tentang attachment (sesuai judul di atas), kelekatan ini adalah hubungan emosional yang lebih bersifat afektif dan memiliki arti khusus antara individu satu dengan yang lain, dalam hal ini ibu dan anak. Kelekatan ini bukan ikatan yang terjadi secara alamiah walau dibilang perempuan itu punya naluri keibuan, melainkan kelekatan ibu dan anak ini adalah serangkaian proses yang harus dilalui untuk membentuk kelekatan itu sendiri.

Hubungan emosional anak dengan ibunya (pengasuhnya) akan menjadikan anak mengembangkan model kognitif tentang penilaiannya terhadap penerimaan lingkungan. Anak yang merasa yakin akan penerimaan sang pengasuh (membelainya dan senantiasa menjaganya dengan penuh kasih sayang), akan mengembangkan kelekatan yang aman dengan figur pengasuhnya. Inilah yang disebut dengan secure attachment. Dengan perasaan kelekatan yang aman ini, tentu akan membawa efek positif bagi perkembangan si anak.

Lalu, pertanyaannya adalah: jika memang kita memakai jasa Baby sitter, apakah pengasuh tersebut sudah tepat bagi anak? Apakah kita dapat menjamin Baby sitter itu tidak akan melukai anak kita?

Jawabannya: belum tentu! Iya, kan?!

Tetangga saya yang merupakan sahabat keluarga—Mbak Penny, saat dia menikah dan mengikuti suaminya bekerja di Jakarta sempat menggunakan jasa pengasuh dan ART, tapi sayangnya tidak selamanya kinerja pengasuh itu terjamin baik dan tepat bagi si anak sehingga memutuskan untuk tak lagi memakai jasa Baby sitter.

Belum lagi, kasus-kasus penculikan anak yang marak dilakukan di luar sana, sekarang tampaknya sudah mencoreng nama baik “jasa pengasuh anak” itu sendiri.

Saya pikir, kalian tahu apa maksud saya dan bagaimana dampaknya.

Karena tidak semua Baby sitter itu ‘aman’ dan mampu menjaga anak dengan ‘baik’, maka apabila si anak tadi justru mendapatkan pengasuh yang buruk, galak dan suka menyakiti, maka akibatnya si anak akan mengembangkan kelekatan yang tidak aman (insecure attachment). Kelekatan yang tidak aman inilah nantinya akan memicu “kegagalan” dalam proses perkembangan anak. Berbagai permasalahan dan gangguan pada diri anak pun akan bermunculan. Bahayanya jika tak teratasi, maka hal ini akan termanifestasikan hingga si anak tumbuh dewasa, gangguan lain pun akan muncul satu per satu. Parahnya lagi, hubungan antara anak dan orangtua akan terguncang lalu tunggu saja label ‘broken home’ itu tersemat.

Bahaya lagi jika si anak yang selama hidupnya lebih banyak diasuh oleh Baby sitter daripada orangtua malah memilih menginternalisasikan nilai-nilai si pengasuh ke dalam dirinya—yang belum tentu itu baik—daripada patuh pada orangtua aslinya. Ini juga kerap terjadi, kan?

Oleh karena itu, sebagai calon istri, calon ibu, sebagai istri, sebagai ibu, hal ini sangat penting untuk diketahui. Jika memang kita memilih untuk menggunakan jasa Baby sitter, upayakan agar jangan sampai waktu kita sebagai orangtua malah diambil alih secara keseluruhan oleh pengasuh. Fungsikan pengasuh hanya membantu yang tidak bisa kita lakukan sendiri (jika memang demikian), bukan malah memakai pengasuh untuk menggantikan kita sebagai model pengasuh utama bagi anak. Lalu, jika kita harus memakai pengasuh, pastikan pilih pengasuh yang—kalau bisa sih—berasal dari lingkup keluarga dulu deh, jangan pakai jasa luar. Kenapa? Semisal, meminta tolong atau menitipkan anak pada nenek atau kakeknya saat Anda berangkat kerja. Karena selain masih ada tali kekerabatan yang erat, tentunya nilai-nilai yang Anda dan orangtua Anda tanamkan dulu tak akan jauh beda sehingga anak masih bisa melihat figur orangtua ‘aslinya’ pada diri nenek atau kakeknya.

Kalaupun terpaksa menggunakan jasa Baby sitter berbayar, berilah schedule dan batasan rinci terkait apa saja yang perlu dan tidak perlu Baby sitter itu lakukan (maksudnya, kalau si orangtuanya masih bisa melakukan satu tugas itu, yaa tidak perlu lagi dialihkan pada Baby sitter). Lalu, selektiflah dalam memilih Baby sitter (melihat sekarang ini tidak menjamin aman atau tidaknya).

But overall, sejatinya, pilihan yang tepat adalah ‘tidak usah memakai Baby sitter’. Sekarang mana yang lebih penting (ini untuk wanita karir yang super sibuk), apakah lebih penting pekerjaan Anda atau anak Anda? Kalau suami juga bekerja dan sudah mampu mencukupi kebutuhan, sebaiknya di tahun-tahun pertama anak, kalau bisa sih resign saja dulu dari pekerjaannya dan fokuslah untuk merawat anak, amati perkembangannya kalau perlu dicatat setiap perubahannya. Tahun-tahun pertama anak itu sangat penting untuk diamati dan dicermati. Di tahun-tahun ini, orangtua hendaknya memaksimalkan perannya untuk menumbuhkan nilai-nilai pada anak dan mengajarkan anak untuk memilah mana yang baik dan mana yang buruk.

Ini juga pernah saya dapatkan ketika belajar Psikologi Perkembangan semasa kuliah. Kata dosen-dosen Psi.Perkembangan kami yang dominan Ibu-ibu, sekalipun mereka bekerja sebagai dosen, mereka selalu berupaya menyempatkan untuk mencatat setiap detil perkembangan si anak. Saat mereka hamil dan melahirkan, kebanyakan dari mereka akan mengambil cuti panjang untuk sementara waktu demi menjalankan peran mereka sebagai pengasuh utama bagi anak. Bahkan, ada juga dosen saya yang membuat diari khusus untuk mengamati proses tumbuh kembang si anak. Kalaupun ditinggal pergi untuk sebentar atau ditinggal mengajar, mereka pun meminta pada si pengasuh untuk mencatat apa saja yang terjadi pada si anak. Ini memudahkan mereka untuk tetap memantau dan mengevaluasi si anak.

Penting juga bagi orangtua untuk menanamkan habit terutama dalam ranah spiritual di tahun-tahun pertama anak (saat anak berusia 0-7 tahun). Ajarkan anak untuk mengenal Tuhannya, ajarkan apa saja tugas-tugas yang harus dilaluinya, ajarkan juga kebiasaan lain seperti salat, mengaji, ajarkan pula kisah-kisah para rasul dan lain sebagainya. Dengan adanya dasar agama yang diajarkan pada si anak, insyaallah anak tidak akan mudah terpengaruh pada model-model yang keliru sekalipun dia sudah mulai mengenal dan terjun ke lingkungan sosialnya.

Kelekatan orangtua dan anak juga akan memengaruhi perilaku anak ke depannya. Jika ada anak yang sering melakukan tindak kriminal atau perilaku menyimpang, maka yang perlu dipertanyakan adalah orangtuanya, bagaimana hubungan kelekatan antara si anak dengan orangtuanya selama ini dan apa saja yang diajarkan oleh orangtua pada anak ini.

Begitulah sedikit analisis saya.

Eherm, terkait judul ini, saya mau curhat sedikit Open-mouthed smile

Jadi, boleh saya bilang, menjadi orangtua itu “susah” jika kita memandang secara detil dari segala aspeknya. Tapi, sebenarnya, menjadi orangtua itu juga tak sesulit yang dipikirkan karena kita punya pedoman yang menjadi landasan hidup kita. Yang jadi pemicu kesulitannya adalah saat kita tidak mau mempergunakan atau memfungsikan pedoman-pedoman baik itu. Sulit, jika orangtua cuma mau yang serba praktis dan tidak mau belajar dari proses. Semua suka duka menjadi orangtua adalah kenikmatan yang luar biasa.

Sejak lahir, saya diasuh oleh ibu dan almarhum nenek saya (orangtua kakak dari ayah mama saya). Tapi, saya juga merasakan bahwa kelekatan saya dengan almarhum nenek justru lebih kuat daripada ibu (ini waktu kecil, saat kami masih numpang di rumah nenek lantaran kedua ortu saya sama-sama merantau ke Sulawesi). Tapi, setelah usia sekolah dan kami punya rumah sendiri, barulah saya merasakan kelekatan dengan kedua orangtua saya. Bisa dibilang, dulu nenek saya berperan sebagai pengasuh sekunder menggantikan peran ibu saya ketika beliau sibuk (sibuk bantuin nenek yang dulu berjualan makanan di rumah sakit).

Dan, dulu saat keluarga kami terguncang masalah hampir berujung pada ketidakpastian, saya pun sempat kehilangan figur ayah dan ibu yang baik. Saya merasa mengalami insecure attachment dan malah lebih banyak mencontohi figur nenek yang menurut saya lebih baik dari kedua orangtuan saya. Tapi, entah bagaimana caranya (saya sudah lupa), saya sebagai anak menengahi mereka hingga terselamatkanlah keluarga kami. Kami pun tumbuh dengan sangat baik dan sangat dekat dari sebelumnya.

Pertengkaran dengan ibu dan ayah saya yang dipicu oleh pertengkaran mereka alhamdulillah berujung pada damai. Kami saling memaafkan. Lebih tepatnya, sudah sejak lama, kami berkomitmen untuk memaafkan masa lalu yang pahit itu.

Kedekatan dengan orangtua kemudian tetap saya miliki kembali ketika kuliah ke Malang (ke kampung Bapak). Kami terus berkomunikasi dengan baik meskipun jauh.

Kedekatan itulah yang kemudian mengubah cara pandang saya ketika sesekali ada masalah di rumah (meski hal sepele). Saya ingat lagi bagaimana perjuangan mereka sebagai orangtua. Saya menanamkan dua nilai berbeda dari kedua orangtua saya. Ibu saya yang tegas dalam mendidik dan ayah saya yang sangat penyayang dan penasehat yang baik (heheh Bapak saya malah terkadang seperti Ibu-ibu), membuat saya selalu berpikir, nilai mana yang perlu saya terapkan ketika menghadapi masalah A dan nilai mana untuk masalah B. Dan, nilai yang ditanamkan almarhum nenek saya yang basicly khususnya di bidang agama dan muamalah, alhamdulillah masih saya tanam dalam diri saya hingga sekarang. (intinya ambil segi positif dari setiap peran orang yang mengasuh kita ya dan maafkan serta jauhi saja sisi negatifnya).

Yap sekian.

Semoga kita selalu bahagia dan bisa Survive saat menghadapi ancaman ‘gangguan’ ya! ^___^

sumber: modul jurnal jenis-jenis disorder

 

9ED10440761002000A2CA538843A73F1

2 comments:

  1. Dear Moms, sebagai info dan agar tidak mengalami lagi hal seperti saya.
    Saya barusan mengeluarkan Baby Sitter untuk anak balita yang kurang ajar. Saya ambil dari Yayasan Purna Karya yang beralamat di Babakan Sari III No. 16, Bandung.

    Nama Baby Sitter : Yuli Wahiddatun Khasanah
    Asal : Gombong, Jawa Tengah
    Umur : 19 thn
    Fisik : kurus, kecil, rambut lurus panjang

    Alasan saya keluarkan :
    1. Tidak bisa mengurus anak.
    2. Anak saya sering dibentak2.
    3. Kasar. Anak saya nangis mengadu pada saya katanya dipukul mbak. Saya tanya pada suster itu, katanya tidak sengaja. Tetapi hal ini terjadi berkali2.
    4. Sering sibuk telpon dan facebook-an dengan teman2 prianya dan membiarkan anak saya bermain sendiri.
    5. Pernah saya baca facebooknya, tulisannya sangat kasar. Mengatai anak saya (maaf) "anak goblok diajarin gak bisa2, tolol, ngerepotin, anak gak tau diuntung, anjing bgt kerja di rumah ini, dsb." wew..
    6. Sering berbohong.
    7. Mulut manis di depan saya, tetapi berkata tidak baik di belakang saya. Setelah dia keluar, saya menemukan buku anak saya yang hilang yang ternyata dijadikan diary pribadi suster itu. Isinya sungguh kasar. Sad..
    Padahal selama ini saya selalu bersikap baik padanya.

    Secara keseluruhan sifatnya tidak baik untuk standar baby sitter ataupun karyawan. Daripada membahayakan anak saya, lebih baik cepat2 saya keluarkan. Berhati hatilah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. keren bund, thanks ya atas sharingnya. emang harus dipecat aja babsit yang kayak gitu biar gak merajalela urusannya. semoga anak2 bunda sllu dilindungi dan sehat ya aamiin

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.