Friday, October 25, 2013

WHAT'S YOUR PASSION?

Passion is when you put more energy into something than is required to do it. It is more than just enthusiasm or excitement, passion is ambition that is materialized into action to put as much heart, mind body and soul into something as is possible.

Everything in the room was a mess, as if a typhoon came through, but her face had the expression of bliss and his of exhaustion and bliss, their sweaty bodies lying twisted together, he heard her wishper, "that was passion!"
Passion?! What's your passion? Pertama kali mendengar kata ini saat duduk di bangku kuliah, tepatnya saat mengikuti mata kulish ESP dengan Miss Poppy. Kemudian, saya baru ngeh tentang passion ketika menonton tayangan Youn On Top dengan narasumber Rene Suhardono, yang waktu itu kebetulan membahas mengenai passion.

Dari situ, saya bingung, lalu apa bedanya passion dengan hobi atau bakat?! Nah, pertanyaan itu sebenarnya sudah lama terjawab waktu mendapat mata kuliah TIB (Tes Intelegensi, Minat dan Bakat). Passion itu secara kasar diartikan sebagai gairah. Hobi pun berbeda dengan bakat. Bakat itu pun ada yang berasal dari warisan genetik, ada juga yang diperoleh dari proses belajar.

Heum, saat kuliah TIB, otomatis kami juga belajar segudang alat-alat tes psikologi dan memeragakannya, tidak jarang pula jadi "kelinci percobaan". Sewaktu jadwalnya KD Tes Minat dan Bakat, kami juga ikut mengisi tes-nya. Saat itu kami mengisi lembaran tes RMIB dan tes multiple intelligence. Usai mengeksekusi 'skoring' nya sendiri, diperolehlah hasil: skor multiple intelligence saya di bidang 'linguistic' dan 'intrapersonal' yang paling tinggi. Entah ini kebetulan atau gimana, dari kecil (waktu masih duduk di SD), saya memang suka menulis, terutama diari, cerpen, apalagi puisi. Kalau ada lomba pidato, saya pun menulis pidato itu sendiri tanpa bantuan guru atau orangtua. Tidak menyangka, anak SD bisa bikin pidato yang saya sendiri juga terheran-heran bila momen dulu. Isi pidato itulah yang selalu menempatkan saya pada posisi 1st winner. Semua anak SMP, SMA dan orang dewasa yang ikut waktu itu, saya kalahkan. Isi pidato yang sederhana tapi isinya 'rada nyelekit' itulah yang bikin orang ternganga saat saya membacanya dengan gaya saya yang menggebu-gebu. Hehehe... :p Dari momen itu, saya jadi ingat, Ibu Dinkes Sul-sel sampai bilang, "Nanti kamu yang akan gantikan saya berbicara di 'sini'". Hahaha ibunya lebai, padahal saya gak ngapa-ngapain, cuma pidato doang.

Saya jadi berpikir, sebenarnya apa sih passion saya? Kalau ditanya apa saja yang saya gak bisa, jawabannya banyak. MATEMATIKA, nol besar banget gak bisanya. Malahan, sampai dijerumusin ikut olimpiade Math saat SMP dengan dalih sebagai tantangan, malah saya jadi orang terakhir yang keluar dari "ruang panas" itu :D. Buat kerajinan tangan? Eumm, saya memang suka seni sih. Tapi, jujur, kalau lihat hasil prakarya buatan saya zaman sekolah dulu, absurd banget :p dan rada follower, apa yang dibikin orang, itu juga yang saya buat. Tssah..., sampai saya punya niat mau belajar felt craft...., heuuu, liat rumus ngejahit dan nyulamnya aja bikin saya puyeng. Jadi pedagang/pengusaha?? haha padahal salah satu cita-cita juga pengen jadi pengusaha, namun sayangnya saya tampaknya tak paham dengan marketing apalagi negotiating. Duh... tapi, ya begitulah saya. Maybe, dengan belajar, semoga bisa sedikit lebih "bisa dan berani".

Nah, kalau soal menulis, ini sih lebih besar karena faktor belajar, bukan bakat alamiah apalagi keturunan. Punya tulisan rapi? iya. Itu juga proses belajar dari SD dulu. Guru wali sempat ngejek tulisan saya yang dia sebut 'tulisan kotak-kotak' saking gedenya. Akhirnya, saya belajar keras untuk mengubah tulisan 'buruk' saya menjadi tulisan yang rapi walaupun gak cantik. Alhamdulillah, saat saya disuruh menulis mading waktu SMA, saya menulisnya secara manual, tapi ketika dibaca, orang-orang pada ngirain itu tulisan komputer, padahal saya tulis dengan tangan sendiri, hihihi.... Lain lagi kalo soal nulis puisi, itu memang saya suka banget, sejak baca karya-karya Chairil Anwar. Sejak itu pula saya mulai rutin nulis puisi hingga terkumpul puluhan hampir ratusan andai buku tempat saya nulis dulu gak dicuri orang.

Sekarang, saya berpikir lagi, sepertinya, menulis memang satu-satunya hobi sekaligus passion yang bisa bikin saya punya energi lebih. Menulis selalu menjadi terapi efektif ketika saya sedang bersedih. Menulis bisa membuat saya betah berjam-jam melihat deretan kata-kata. Menulis juga bisa membuat hobi membaca saya lebih meningkat dari sebelumnya. Dan, menulis bisa bikin hidup saya jadi lebih bermakna dan punya ciri khas di antara teman-teman di kalangan saya di sini. Tapi, sekarang, saya malah menjadi aneh. Karena keseringan menulis dan mulut lebih banyak diam, jadi ketika berhadapan dengan mahasiswa atau jadi pemateri di event-event, saya terkadang gugup dan kata-kata yang saya ucapkan banyak rumpangnya. Beda banget dengan waktu saya masih aktif berpidato dulu, mau tampil di mana dan di hadapan siapa, saya tetap enjoy dan kata-kata yang saya keluarkan jauh lebih lancar. Hehehe... maybe, ini karena karakter saya yang memang terkadang bisa menjadi agak pendiam.

Saya jadi paham, passion bukanlah profesi. Laah, saya jadi dosen bukan karena "bakat" apalagi "hobi", tapi karena saya suka belajar, jadi apa yang saya pelajari, kenapa nggak di-share dan dibagikan juga biar bermanfaat. Passion juga lebih dari sekadar hobi. Menulis dan menjadi penulis adalah hal terkuat yang selalu bisa menyuplai energi dalam jumlah besar kepada diri saya, tanpa kenal waktu, tanpa kenal kondisi apapun, gak peduli bad mood atau good mood, menulis tetap menjadi "karbohidrat, vitamin, mineral, protein dan lemak" utama bagi saya. hehe... 

Dari passion menulis itu, saya juga cenderung masih menyukai korespondensi. Menulis dengan tangan jauh lebih artistik dan menggairahkan daripada menulis dengan gadget. Dari SD hingga terakhir SMA, saya rajin berkorespondensi dengan teman, sahabat hingga kenalan dadakan yang tinggal jauh dari saya. Kalau ada yang berminat surat-suratan, ajak saya ya :D. Eh, asal tahu saja ya. Menulis dengan tangan juga memudahkan kita untuk lebih mengenal kepribadian serta apa yang tersirat di pikiran seseorang loh. Jangan heran, jika saya akan berlama-lama dan berulang-ulang membaca surat dari teman, itu karena saya juga sekalian bermain grafologi. Heehehehe.... peace.

Sekarang, sudah tahu kan apa passion saya. Jadi, jangan coba-coba ya memaksa saya untuk terjun mengikuti olimpiade matematika atau meminta saya menyulam, karena itu hanya akan membuat saya "tertekan" :p

Lalu, apa passionmu? Adakah yang punya passion berbeda dari saya?


2 comments:

  1. sampe sekarang aku masih berusaha nyari apa yang bener-bener jd passion ku. Tapi kl saat ini sih aku lagi seneng-senengnya nulis+belajar psikologi :D eh itu passion bukan ya :D

    ReplyDelete
  2. hehe selama itu "menggairahkan" yaaa bisa jadi itu passion Ade :D hehe

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.