Wednesday, May 7, 2014

SELALU ADA ALASAN DARI-NYA

Selalu dan pasti ada alasan mengapa kita dipertemukan dengan cara seperti ini.
Seperti halnya aku mengenal dirinya, meski berbatas ruang dan a bit of different time.

Selalu dan pasti ada alasan mengapa semua ini terjadi begitu saja.
Seperti halnya Dia (Allah) menegurku dengan menghadirkan seseorang yang tak kuketahui muaranya.

Selalu dan pasti ada alasan.
Sebuah kalimat ajaib mengetuk relung hatiku.
Jangan menyimpan segalanya dalam hati sebab hati sifatnya tak menentu.
Perubahan bisa terjadi kapanpun, di mana pun.
Sebaliknya, simpanlah segalanya pada doa sebab itu akan terkenang di langit selamanya, selama Allah meridai.


Hatiku kini tenang, kini lapang.
Absurd? Ya. Aku sudah tak mengharap apa-apa dari sebuah simfoni dadakan ini.
Biarkanlah melodinya mengalun hingga penghujung lagu.
Aku... seperti biasa, tak akan bisa bertahan untuk mendengarkannya.
Aku... seperti biasa, akan berputar kembali ke jalanku yang mungkin kau tak akan pernah berada di sana.

Meski aku masih menyimpannya dalam doa, kurasa itu jauh dari sekadar kata "indah" dan "cukup".
Bila suatu saat kudapati kenyataan yang lain, itu bukan lagi menjadi hal menyakitkan.
Untuk apa aku bilang bahwa itu menyakitkan? Iya, benar. Itu tidaklah menyakitkan, melainkan sebuah ujian.

----

Aku pernah bermimpi, seorang akan begitu peduli padaku meski ku tak pernah tahu alasannya apa.
Itu terjadi.
Aku pernah bermimpi, seorang akan begitu mengagumiku dengan kegilaannya meski ku tak pernah bisa menemukan jejaknya.
Itu terjadi.
Tapi, untuk saat ini, mimpiku tentang siapa yang akan berjalan bersamaku, belum pernah terjadi.
Aku tak tahu.
Entah itu ada di antara mereka ataukah yang lain.
Aku tak tahu
Dan, yang pasti, saat ini aku tak pernah berani bermimpi akan bertemu dengannya.
Dengan dia yang masih menghiasi doa panjangku.
Dengan dia yang selalu kurahasiakan dalam istikharahku.

----

Perlahan, gelas yang berada di ujung meja mulai jatuh.
Retak kah?
Tidak! Tidak pecah sama sekali.
Hanya terguling.
Lunglai, mendarat di ujung jari kakiku.

Sebuah pertanda itu datang.
Tak jelas.
Menyakitkan kah?
Anehnya tidak.
Aku sampai bertanya pada diriku sendiri, mengapa aku begitu tenang?
Karena apa yang selama ini kusimpan rapat-rapat telah tercatat di langit.
Mungkin, langit dan Dia (Allah) memberiku sebuah pil antidepresan yang efeknya sangat langgeng tanpa efek samping.
Aku, kuserahkan semua akhir pada-Nya.
Pada Dia yang hanya dan memang Dia-lah Yang Maha Menjawab semua.

Tak mengapa jika denting waktu kita tak akan berjalan serempak, pada daratan yang sama.
Tak apa.
Aku akan baik-baik saja.
Aku pun tenang karena tak pernah menatap rupanya.
Tak pernah mendengar suaranya.
Tak pernah melihat perubahan body language-nya.
Tak pernah.
Dan, dengan begitulah aku bisa tenang.

----

Jadi, aku akan menunggu sampai jawaban-Nya tiba di pangkuanku
Tentangnya.
Tentang takdir dunia akhiratku.

2 comments:

  1. So sweet banget nih kak!!
    Puisinya aduhai, maknanya dalam sekali..
    Dalam membacanya, aku perlu mengeja kata demi kata
    Bukannya tak mampu memahami, namun begitu nyata keindahan dan dalamnya lautan maknanya...hehe

    Tapi aku salut kak, keyakinan kakak itu kuat sekali.
    Tentang jodoh di masa depan yang sepenuhnya ada di tangan Allah.
    Insyaallah kak! Allah selalu memberikan yang terbaik bagi kakak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe agha... agha.. kamu terlalu berlebihan apa aku yang lebay haha... hohoho...

      iya Gha, kan emang harus yakin :)

      aamiin insya Allah

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.