Friday, May 16, 2014

YES OR NO

by google
Judul postingan ini adalah judul sebuah drama Thailand, Yes or No. Saat search di youtube, awalnya saya ikuti saja alurnya. Tapi, sudah saya duga. Film ini menyibak tentang sebuah fenomena cinta seorang Lesbian.

Ye or No ada volume 1, 2 dan 3. Untuk sementara ini ada 3 volume. Nggak tahu apa ada volume 4 atau tidak nanti.

Jika kalian sedang menganalisis kasus atau ingin observasi perilaku Lesbi, mungkin film ini cocok masuk list. Tapi, film ini tidak menguak penyebab tokoh Kim mengapa ia menjadi Lesbi. Di volume 1, ia sempat bercerita sekilas mengenai keadaan orangtuanya. Itupun masih dangkal untuk dijadikan sebagai salah satu daftar analisis penyebabnya. 

Makin ke sana, film ini makin absurd saja. Lihat saja cewek-cewek yang dekat dengan Kim. Mulai dari Pie yang udah mendeklarasikan dirinya sebagai "girlfriend" Kim lalu si Yam (teman internship Kim di Provinsi Nan). 
Saat Kim menyebut "I like jam" dengan pronouns "Jam" (selai) disebut menjadi "Yam" (nama temen magangnya, membuat si Yam salting dan jatuh cinta pada Kim. Padahal di teks percakapan ada kata "her" sebagai penyebut Kim. Seharusnya sih Yam tahu kalau si Kim itu cewek tulen, bukan cowok. Hanya memang Kim ini tomboinya kebangetan dan only attracts to girl. 


Cckckck.... Selama menonton, saya selalu cekikan. Memang tidak ada komedinya. Yang saya tertawakan adalah seluruh perilaku absurd Pie-Yam-Kim. Saya kasihan pada Kim. Kalau menurut pengamatan saya, ayah si Kim terlalu cuek dengan "penampakan" Kim. Ayahnya justru sering menyebut Kim sebagai "A tiger" (sebutan yang sebenarnya untuk kaum laki-laki). Nah, dari satu hal itu setidaknya bisa kita tarik benang merah bahwa pola didik ayah Kim dari awal sudah salah. Sejak ibunya Kim tiada, Kim tentu mengimitasi sang ayah secara menyeluruh sebagai figur seorang laki-laki. Absurdnya lagi, saat ayahnya tahu kalau Kim suka sama Pie, sang ayah malah menyetujui hubungan mereka sebagai sepasang kekasih. Memosisikan Kim sebagai seorang "pria" dan Pie sebagai wanitanya. 

LGBT memang sebuah "aib" tersendiri. Meski sekarang di kitab DSM-V telah menghapus LGBT dari list sexual disorder, tapi hal tersebut, menurut saya pribadi tetaplah menjadi disorder selamanya. Namun, dalam menghadapi kasus seperti ini, sebagai seorang Psikolog atau calon Psikolog memang tidak mudah. 

Saya pernah menghadapi satu kasus dan mungkin pernah mempostingnya tapi lupa kapan. Saat itu memang hanya konseling via email. Tapi, perlu ditekankan, sebagai seorang Psikolog tidaklah boleh ujug-ujug langsung "men-judge" ini salah, itu benar. Itu susahnya. Sehingga dalam setiap kasus apapun, kami memang harus dan wajib bersikap netral. Bukan berarti kalau terjadi penyimpangan berarti mendukungnya. Tidak begitu. Maksud netral di sini adalah berusaha seobjektif mungkin dalam mengamati dan memahami alur kasus itu sendiri. Kudu open-minded terhadap segala sebab-musabab dari sebuah kasus.

Jujur, saya selalu kasihan dengan para pelaku LGBT. Terlebih jika mereka demikian akibat salah didikan dari keluarga. Lagi lagi keluarga. Karena sejauh ini selain faktor lingkungan, keluarga-lah yang paling sering terindikasi sebagai pemicu dari masalah semacam ini. Yaa memang masih banyak faktor lainnya.

Kembali ke film Yes or No. Dalam film itu, seolah-olah lingkungan pun makin kondusif saja. Tentu ada yang tidak setuju, dari pihak ortu si Pie, teman laki-laki Pie yaitu si Van dan anak geng laki-laki di kampus. Namun, coba lihat sikap dan perilaku Bibi Inn terhadap Kim. Makin mengesahkan Kim untuk melampaui kodratnya saja. Terlebih saat Bibi Inn bilang pada Kim, "Kau cukup bertindak sebagaimana kata hatimu. Kau adalah apa yang ada dalam hatimu."

Memang.. memang. Masalah cinta dan LGBT itu adalah dua hal berbeda. Dan, di film tersebut memang lebih bercerita betapa kokohnya cinta si Kim dan Pie. Walau begitu, saya masih bingung. Untuk saat ini, saya berpikir bahwa faktor "cinta" tidak bisa dikatakan sebagai faktor penyebab yang valid untuk masalah LGBT. Sebab cinta itu terlalu luas dan merupakan salah satu bagian dari faktor emosional. Tentu, kita nggak bisa menjadikan "cinta" sebagai pembanding alat ukur. Itu sih menurut saya. Tapi anehnya, di luar sana, termasuk klien yang pernah konseling pada saya seringkali mengucap, "Karena cinta.. Karena saya cinta .. Karena rasa itu muncul tiba-tiba dan tidak terkendali sehingga segalanya pun dengan begitu mudah diterobos."

Sampai saat ini, belum ada ya penelitian eksperimen klinis untuk "menyembuhkan" kasus LGBT. Rada "mengerikan" juga sih kalau menangani kasus ini karena sering kami mendengar pengalaman kakak-kakak tingkat yang malah hampir "terjerumus" sebagai incaran LGBT kala penelitian. Huhu... apalagi menghadapi lesbian itu masih agak susah dibanding menghadapi seorang gay. Ya mungkin karena kita perempuan kali ya, jadi faktor emosional juga dipakai. Heheh...

Heum, untuk kasus yang pernah saya tangani pun, sayangnya klien saya malah "kabur" sendiri sebelum sempat masuk sesi eksekusi akhir. Memang saat itu dia tengah dirundung masalah. Jadinya, saya juga nggak pernah memaksa. Kalau memang diteruskan sampai tuntas ataupun tidak, semua kembali pada klien. Saya juga belum berani memberikan treatment apapun. Hmm... masih harus belajar keras nih. Semoga kelak akan ada penelitian klinis untuk penyembuhan LGBT. Kalaupun tidak ada, yaaa saya cuma bisa berdoa, semoga tragedi kaum LUTH zaman modern khususnya di Indonesia nggak sampai membuat negeri ini mendadak "Hujan batu". Hiii.. ngeri, kan? Naudzubillah. 

Saya juga turut prihatin dengan seluruh pelaku LGBT. Berharap, jika masih ada kesempatan, semoga Tuhan menunjukkan jalan dan cara terbaik-Nya untuk menggiring mereka kembali.

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.