Sunday, March 8, 2015

PSIKOLOG HARUS KUASAI PSIKOPATOLOGI

Sabtu kemarin, kami mengikuti kuliah tambahan untuk praktikum Cognitive-Behavior Therapy (CBT). Sebelum ibunya ngejelasin tentang dasar-dasar CBT, beliau terlebih dulu memberikan feedback setelah melakukan review terhadap tugas laporan asesmen kami di semester kemarin. Kebetulan memang laporan asesmen integrasi klien beliaulah yang memeriksa dan memberikan bimbingan. Tidak disangka, pola laporan yang kami buat satu kelas sama semua padahal itu beda-beda kasus dan memang nggak ada yang bisa dicontek.

Ya ampun, ternyata pe-er kami masih banyak. Saya pribadi juga menyadari bahwa laporan asesmen kemarin masih jauh dari kata bagus. Ya, laporan asesmen yang isinya meliputi penegakan diagnosis serta menulis dinamika keluhan klien sampai kepada prognosis dan saran intervensi itu memang sangat tidak mudah. Itu butuh keterampilan menulis tingkat tinggi. Kakak tingkat kami pun banyak yang mengeluhkan soal ini. Bisa dikatakan tidak ada yang benar-benar mendekati bagus.


Sedih sih karena saya merasa kemampuan masih jauh banget. Kata ibunya pun, wajar jika memang kami semua belum mampu karena masih semester awal. Menulis laporan itu juga merupakan tugas untuk semester atas nanti jadi sangat...sangat wajar jika masih ada kesalahan. Laporan kemarin itu juga baru pemanasan.

Nah, yang mengherankannya, semua teman-teman termasuk saya menjelaskan dinamika keluhan klien menggunakan teori kepribadian. Kalau saya sendiri memang memiliki klien yang bermasalah pada fungsi kepribadiannya. Tidak ada satupun yang menggunakan literatur psikopatologi. Saya juga demikian. Hahaha... astaghfirullah... Padahal literatur psikopatologi itu adalah kuncinya yang wajib hadir dalam menulis dinamika. Pas bikin laporan itu juga mendadak sih jadi nggak sempat kepikiran untuk menggunakan buku psikopatologi jadi ngebahas satu teori utuhnya Adler saja untuk menjelaskan keluhan kompleks inferioritas klien.

Dari situlah, ibunya ngasih kita wejangan yang kemudian wajib ditulis dengan huruf tebal plus garis bawah.  

"Jika ingin menjadi seorang psikolog, kalian harus menguasai dan mendalami psikopatologi karena itu adalah kunci utamanya."

Kenapa psikopatologi itu sangat penting? Bukan hanya DSM saja yang menjadi kitab wajib yang harus dimiliki seorang psikolog. Kata ibunya, kami ini kan psikolog klinis jadi harus mendalami ilmu psikopatologi, harus mampu menarik benang merah mengapa keluhan bisa muncul pada klien, penyebab yang menjadikan masalah itu patologi tuh gimana. Ya, calon psikolog wajib rajin baca buku psikopatologi.

Selain itu, psikolog juga harus punya pengetahuan yang luas. Seorang psikolog industri organisasi (PIO) atau yang ngambil bidang perkembangan, pendidikan atau sosial, tidak begitu penting untuk mempelajari bidang klinis karena mereka mayoritas terus dihadapkan oleh tugas-tugas yang memang hanya berhubungan dengan bidang mereka. Tapi, seorang psikolog klinis kebalikannya. Psikolog klinis harus punya pengetahuan tentang industri organisasi, perkembangan, pendidikan, sosial, budaya dan lainnya. Sebab, ketika terjun ke lapangan, psikolog klinis akan menghadapi klien dari beragam latar belakang itu.

Sekarang ini, saya berani dah bilang bahwa menjadi psikolog itu nggak gampang. Bukan cuman nguras otak, tenaga dan duit, melainkan juga harus punya banyak keterampilan. Apalagi menulis laporan asesmen untuk kepentingan praktek, kita tentu saja akan memberikan laporan pada klien setelah mereka menjalani serangkaian asesmen (observasi, wawancara dan dengan bantuan alat tes psikologi). Kita tentu saja akan mengkomunikasikan apa sih masalah yang sebenarnya dialami oleh klien dan bagaimana dinamikanya. Laporan itulah yang nantinya akan kita pertanggungjawabkan ketika memberikan intervensi. 

Kalau dokter salah mendiagnosis penyakit pasien dan salah ngasih obat, maka nyawa pasien akan terancam. Begitu pula psikolog. Salah mendiagnosis problem atau gangguan yang dialami klien, maka salah pula intervensi yang akan diberikan dan tamatlah hidup sang klien. Parahnya, kalau semua salah dari awal, rusaklah reputasi psikolog di mata masyarakat.

Oh My God.... Susah juga ya jadi psikolog itu. Nah, bagi yang mau kuliah di psikologi, (seperti yang pernah saya bilang), luruskan dulu niatnya dan tekunlah. Kalau nggak serius, mending nggak usah sekalian kuliah psikologi. Bukannya nakut-nakutin. Kuliah di jurusan manapun itu butuh komitmen. Tantangan setiap semester apalagi kalau udah ngambil profesi itu semakin tinggi dan beragam. Kalau nggak kuat untuk survive, bisa ketinggalan. Psikologi itu bukan cuman sekadar membaca karakter orang, bla bla bla.... Bukan! Tugas psikolog itu pertanggungjawabannya besar, di hadapan klien, masyarakat dan juga Tuhan. 

Nah buat yang udah kelelep di jurusan psikologi khususnya magister profesi, lanjutkanlah langkah itu. Hadapi tiap tantangan. Belajar lebih rajin dan membaca lebih banyak lagi. Kuasai psikopatologi secara mendalam. Intinya, jangan main-main!

Saya berharap banget, semoga semester ini sampai akhir, ada lah ya yang bisa saya kuasai dari sekian banyaknya konsep psikopatologi. Semoga nggak cuman bisa lulus cumlaude, tapi kelak bisa mempertanggungjawabkan tugas dan gelar psikolog ini di hadapan Tuhan. Aamiin...

Semangaaat!!!

4 comments:

  1. hai mbak.. ambil magister profesi psikologi peminatan klinis kah mbak di umm ?
    saya berencana daftar jg ambil peminatan klinis.. apakah tes awal mahasiswa magister di umm bahas tntg klinis jg mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya
      kalo di umm mmg adanya klinis
      hehe tes awalnya banyak, intinya ttg teori2 yg pnh dipelajari waktu S1

      Delete
  2. ada psikotesnya jg gak mbak pas awal itu?
    rangkaian tesnya selain teori yg pernah di pelajari adalagi gak mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. tes psikologinya cm tes proyektif aja
      waah banyak gak bisa sebutin satu2
      yg pasti, hadapi aja

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.