Saturday, March 14, 2015

CURHAT MAPRO PSIKOLOGI: ANAK ABK, AHLI SURGA?

Lagi dan lagi kami memperoleh pelajaran berharga di kelas Intervensi Komunitas yang diampu oleh Pak La. Pokoknya ya, yang namanya diajar sama Pak La itu, bukan cuman bakal menghasilkan produk berupa jurnal, booklet atau produk akademik lain, melainkan juga kami bakal selalu membawa pulang sebuah hikmah dari cerita-cerita yang beliau sampaikan.

Kemarin, kami kuliah dari pagi kemudian dilanjutkan sore hari, sehari penuh bersama Pak La. Pada jam siang menjelang sore, kami membahas tugas dadakan tentang kasus psikologis yang kami cari (beberapa jam lalu) melalui koran disertai upaya preventifnya. Satu kelompok sudah maju mempresentasikan tugas mereka. Salah satu kasus yang mereka temukan di koran adalah kasus ABK. Kelompok saya juga nemu sih satu kasus ABK. Nah, usai kelompok satu presentasi, Pak La ngasih feedback dan evaluasi panjang lebar. Kemudian, sampailah pada cerita beliau mengenai ABK.

Pernah, Pak La bertemu dengan seorang psikolog di Malang. Psikolog tersebut pernah berkata, "Anak-anak yang terlahir down syndrome, cacat fisik ataupun cacat mental lainnya seperti Autis, ADHD dan lainnya itu sepertinya disebabkan oleh dosa-dosa dari orang tua mereka."

Sewaktu mendengar cerita itu, saya teringat dengan kisah-kisah yang ada di sinetron. Ya ampuun, kayaknya tuh psikolog suka nonton sinetron deh jadinya apa yang diomongkan tuh ngawur. Sampai sekarang, nggak ada bukti ilmiah/empiris (jurnal atau lainnya) yang menghasilkan pandangan bahwa anak-anak ABK/cacat adalah hasil dari dosa orang tuanya. Kalau berpikir logis, memang tampaknya juga nggak masuk akal sih omongan psikolog itu. Toh, kalaupun ada, nggak semua ABK seperti itu kan?

Pak La pun teringat dengan pengalamannya sewaktu ke Kelantan, Malaysia. Waktu itu bertepatan bulan April yang merupakan bulan perayaan hari Down Syndrome dunia. Pak La ikut ngumpul-ngumpul bareng peserta seminar lain dalam acara fun bike. Lalu, salah seorang peserta--yang bukan orang psikologi--berkata, "Anak-anak ABK itu adalah ahli surga karena mereka tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk disebabkan kecacatan mental yang dialami."

Mendengar celetukan orang tersebut, Pak La takjub. Beliau kagum pada kalimat orang itu. Pak La pun membandingkan omongan psikolog dengan omongan orang biasa tadi. Ada sebuah hikmah yang bisa kita tarik dari cerita Pak La itu.

Sebagai seorang terpelajar dan berpendidikan tinggi seharusnya tidak pantas langsung memberikan judgment dan menggeneralisir bahwa semua anak cacat disebabkan oleh dosa dari orang tua mereka. Pandangan tersebut tidak disertai dengan bukti empiris sehingga tidak bisa dipertanggungjawabkan dalam ranah akademik. *Ini kita berbicara akademik loh ya, jangan nyampurin sama sudut pandang lain. Dari situ saya juga sempat berpikir, kalau saja waktu itu psikolog tersebut mengatakannya di hadapan orang tua yang punya anak ABK, apakah para ortu itu nggak sakit hati jadinya?

Lalu, Pak La juga menyampaikan pesan kepada kami dengan berkata, "Kalau ngambil pandangan dari orang non psikologi tadi, berarti psikolog, orang tua dan guru selaku pendidik justru harusnya bangga mendidik, merawat dan membimbing anak-anak ABK. Itu artinya, kita memberikan kontribusi dalam merawat calon-calon ahli surga. Hebat, kan?" 

Kami semua tersenyum dan Pak La pun sesumringah. Ya. Satu sih yang saya pahami juga. Anak ABK itu sebenarnya sama aja dengan manusia lain. Yang ngebedain cuman "hal spesial" yang dikaruniai Tuhan pada mereka. Siapapun yang memiliki atau mengasuh anak ABK, ujiannya nggak nanggung-nanggung beratnya dan pantaslah jika kelak orang-orang tersebut akan diberikan balasan berupa pahala yang besar karena telah merawat dan membimbing mereka dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Kata "ahli surga" itu mungkin cocok untuk disampaikan kepada mereka (ortu atau guru yang berhadapan dengan ABK) agar mereka tidak banyak mengeluh, mensyukuri anugerah berupa "anak spesial" titipan Tuhan, bisa bersabar mengurusnya dan merasa bahagia karena memiliki mindset unik yaitu mereka sedang merawat calon ahli surga.

Begitulah cerita kali ini
Kapan-kapan dilanjutin lagi.

NB: Insya Allah, semua cerita-cerita yang berhubungan dengan unsur-unsur psikologi dalam blog ini akan saya terbitkan menjadi buku jadi bila ada yang hendak meng-copy tulisan dalam blog ini, mohon disertai sumbernya yaitu link blog saya ini ya. Terima kasih.

4 comments:

  1. Betul banget, Kak. Kalo pas lagi ngajar anak ABK, hati aku rasanya malah tenteram dan ngerasa hidup ini jadi berguna banget :D

    ReplyDelete
  2. Iya sih bener juga ya. Tapi..aku masih bingung dengan pendapat psikolog pertama yg bilang anak ABK krn dosa terdahulu ortunya.

    ReplyDelete
  3. Ini baru saja kami alamai kisah anak abk yg ditinggal ibunya meninggal dunia

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini. Bila ingin share tulisan ini, tolong sertakan link ya. Yuk sama-sama belajar untuk gak plagiasi.