Monday, March 2, 2015

PUSKESMAS BUTUH PSIKOLOG

pic by multiplesclerosis.net

Setiap kelas pak La, pasti kelas mapro '14 datang sebelum jam 8. Karena kalau udah lewat jam 8, bakal dikunciin pintu. Alhamdulillah, setidaknya temen-temen yang lain udah pada disiplin dengan jadwal. Terus hari ini, tadi, teman-teman yang tidak masuk minggu lalu, dapat tugas presentasi. Hehehe...rupanya apa yang mereka presentasikan tidak sesuai dengan tema mata kuliah. Bapaknya pun senyum-senyum nyindir gitu aja. 

Menarik sekali setiap masuk kelas Pak La. Beliau ngajar 2 kali seminggu. Satunya hari Senin, kelas Karya Ilmiah 2 dan satunya lagi kelas Intervensi Komunitas Jumat. Ada aja topik atau quotes menarik yang kami peroleh dari Bapaknya. Saya selalu nge-share di Facebook. Contohnya waktu ada kelas Intervensi Komunitas, begini deh kutipan omongan Bapaknya waktu itu yang udah saya tulis di FB pake kata-kata sendiri:

Intervensi itu memang harus diberikan oleh tenaga spesialis profesional. Meskipun di Indonesia ini misalkan dalam satu hari berhasil menelurkan 1000 psikolog, masalah kesehatan mental yang ada tidak akan cukup terselesaikan. Sebab, psikolog ada pula yang akan menjadi bagian dari masalah tersebut (artinya semua orang pasti punya masalah termasuk psikolog). Oleh karena itu, perlunya membangun kesadaran di lingkup masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mental.

*Memang sih. Sempat baca juga di data WHO, ternyata jumlah psikolog khususnya di Indonesia sendiri masih jauh dari jumlah yg diharapkan. Berarti sampai detik ini masih ada kesenjangan rasio antara kebutuhan tenaga profesional dengan jumlah "kasus" kesehatan mental yg semakin hari semakin bertambah.Euum...selain itu, masyarakat perlu diberikan psikoedukasi mengenai kesehatan mental dan bagaimana mencegah terjadinya gangguan mental. Semakin tinggi tingkat pengetahuan masyarakat, maka semakin meningkat pula kesadaran untuk menjaga kesehatan (mental).

Lalu, kalau ada yg nanya, "Kalo semua orang tahu solusi preventifnya terus.. ntar psikolog jadi nggak laku dong?!"

Jawabannya, "Ooh tenang aja. Justru dengan begitu, akan semakin tinggi pula kebutuhan masyarakat terhadap tenaga spesialis profesional seperti psikolog. Nah, kalo ada yg gak sembuh-sembuh juga setelah diberi psikoedukasi kan bisa menghubungi psikolog untuk konsultasi atau terapi di tempat praktek."


Begitulah pelajaran di pengantar awal pembuka matkul IntKom. Jadi, Bapaknya itu ngasih semangat buat kami semua biar nggak menyesali jurusan yang dipilih. Toh, semua jurusan itu baik, tergantung bagaimana kita memandang dan menilainya.

Saya jadi ingat juga kata dosen (Bu Is) yang waktu itu pernah bercerita bahwa lulusan psikologi di Jogja sekarang enak banget. Jadi, salah satu kampus negeri di sana tuh udah ada link dengan pemerintah setempat. So, tiap ada mahasiswa profesi psikologi yang lulus, mereka akan rekomendasikan untuk bekerja di sebuah puskesmas. Waah..subhanallah, Setidaknya dikasih pilihan bidang pekerjaan dah buat psikolog. Kenapa dipilih puskesmas? Karena ternyata di Indonesia, tempat yang paling membutuhkan tenaga psikolog saat ini adalah puskesmas. 

Etts...jangan salah. Tiap mahasiswa program profesi psikologi yang kelak praktek profesi kerja juga akan digilir ke puskesmas. Jadi, nggak hanya praktek di RSJ, tapi juga puskesmas, lapas, dinsos dan sekolah. Dari tempat-tempat itulah, kami akan mencari dan mengumpulkan 7 kasus psikologi untuk akhirnya kami presentasikan sebagai bahan/salah satu syarat kelulusan. Jadi, nggak cuman ngerjain thesis. Kami pun juga akan menghadapi ujian di hadapan pihak HIMPSI.

Oya, mengenai pekerjaan atau praktek psikolog di puskesmas, nggak jauh beda juga sih sama dokter puskesmas. Yaaa... kalau ditanyain bayarannya berapa, tentu nggak sebanyak ketika bekerja di biro praktek sendiri, di perusahaan atau di rumah sakit. Kata dosen, tiap hari ada saja pasien yang datang konsultasi ke psikolog. Cuman, di puskesmas itu posisi psikolog lebih kepada pengabdian. Oh..oh..oh... Miris juga sih. Kalau pasien yang datang mampu, bisa aja narik bayaran. Apalagi kalau udah dikasih terapi, lumayan kan. Tapi, kalau nggak berpunya, yaa... kita harus pake jiwa sosial. Nggak papa juga sih. Yang namanya psikolog itu emang pekerjaan sosial. Nggak melulu nyari duit. Cuman kalau untuk mencari biaya hidup, tentunya harus nyari pekerjaan lain sebagai pendamping kalau mau bekerja di puskesmas. Tahu sendiri kan berapa gaji dokter puskesmas? Yaa nggak jauh beda lah sama mereka. Malah Bu Is sampai nyeletuk, "Yaa sebenernya miris juga sih kalau bahas masalah gaji di puskesmas. Cuman mau gimana lagi, sekarang ini memang puskesmas di beberapa titik di Indonesia sangat membutuhkan tenaga psikolog."

Selain itu, masyarakat menengah ke bawah juga masih perlu diberikan psikoedukasi mengenai kesehatan mental, bagaimana merawat dan mencegah terjadinya gangguan mental. Oya, anyway, psikoedukasi itu jangan dipikir semacam penyuluhan gitu ya. Sekarang, penyuluhan bin cerama itu nggak banyak guna. Psikoedukasi itu banyak macamnya, bisa dalam bentuk paling sederhana kayak brosur atau booklet dan lainnya. 

Pengetahuan masyarakat bawah mengenai psikologi dan embel-embel di dalamnya pun masih sangat minim. Belum lagi kasus pasung-memasung yang kerap kepergok karena pengetahuan mereka mengenai solusi terhadap pasien gangguan jiwa terutama skizofrenia yaa masih sempit banget. Seolah kembali ke zaman pre-scientific banget, di mana salah satu solusi dan perlakuan yang diberikan kepada orang dengan gangguan mental adalah pemasungan atau diisolir ke tempat terpencil yang jauh dari warga. 

Mereka takut dengan gejala-gejala orang dengan skizofrenia yang kerap disamaratakan--sama-sama suka menyerang. Padahal nggak semua orang dengan skizo begitu loh. Skizofrenia itu banyak tipenya. Jadi, pemasungan itu sangat jelas bukanlah solusi yang manusiawi. Kasihan banget kan, orang dengan skizofrenia di daerah terpencil masih saja dipasung dan malah lebih sadis lagi, ditempatkan di kandang. Biar gimanapun mereka itu manusia. Jadi, perlakuan yang diberikan juga harus sesuai dengan asas hak kemanusiaan. Nah, inilah salah satu pe-er bagi para calon psikolog. Setidaknya, mulai dari psikoedukasi itulah, kita bergerak memberikan informasi kepada masyarakat, khususnya kaum menengah ke bawah.

Yap, demikianlah curhat saya kali ini.
Nanti kalau ada topik menarik yang saya bawa dari kelas, akan saya share lagi di sini. Insya Allah. 
Semoga bermanfaat ^^


1 comment:

  1. Sy butuh data tentang :
    - jumlah sarjana psikologi yang dihasilkan pd tingkat internasional setiap tahun
    - jumlah sarjana psikologi yang dibutuhkan pd tingkat internasional setiap tahun
    - jumlah sarjana psikologi dihasilkan Indonesia setiap tahun
    - jumlah kebutuhan sarjana psikologi di indonesia setiap tahun

    Mohon bantuannya
    Terima Kasih. Psikologi Sukses Slalu

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.