Thursday, October 18, 2012

BERKACA DARI KESALAHAN SEPELE YANG BERAKIBAT FATAL

        Sore ini sehabis shalat Ashar, kubuka email dan salah satu situs penyelenggara event lomba menulis puisi yang kuikuti. Melihat pengumuman pemenangnya membuat darahku berdesir hebat. Ketika kutelusuri huruf demi huruf, kudapati apa yang kuinginkan. Yap, aku GAGAL. Naskahku TIDAK LOLOS dalam salah satu dari beberapa event lomba yang kuikuti.

         Aku tidak lengah apalagi putus asa. Untuk apa? Karena aku telah menyalakan obor keOPTIMISanku, aku harus membuka mata lebar-lebar.

        Ini bukan kali pertama aku gagal. Entah sudah berapa puluh kali. 

        Kutengok lagi....

        Kuberkaca lagi dari kegagalanku.

        Apa yang membuat naskahku gagal/tidak menang?

        Kesalahan apa yang telah kuperbuat? Oh, ternyata aku baru sadar setelah melihat email balasan yang kukirim beberapa hari yang lalu, yang mana pihak penyelenggara memintaku untuk mengirim ulang naskah ke dalam bentuk MsWORD, dan itu kukirim TELAT. Sudah melewati batas deadline.

        Tidak ingin menumpahkan amarah karena kelalaianku yang disebabkan oleh hal sepele--sebab beberapa hari setelah aku mengirimkan naskah pertama kali, aku tidak memperpanjang masa aktif internetku. Itulah yang menyebabkan aku tidak membuka email dan melakukan pengiriman ulang melebihi deadline-nya dan tidak dapat dilakukan penjurian lagi.

       Kecewa? ada.

       Sedih? ada.

       Kubuang kata "andai" dalam pikiranku...

       Aku yakin naskahku adalah yang terbaik.

       Tidak ada gunanya menyesal melainkan belajarlah dari kesalahan.

        Kesalahan kecil pun bisa berakibat fatal.

       Namun, inilah perjalanan yang harus kutempuh demi mewujudkan impianku yang telah lama mati. Impian menjadi penulis. Impian di mana aku bisa melihat namaku terpampang di beberapa buku, entah itu dalam antologi ataupun sendiri. Aku ingin kembali menghidupkannya. Aku yakin aku mampu menembusnya asal aku rajin berlatih.

        Sudah berapa lomba yang kuikuti saat ini dan kuharap, kegagalanku akan semakin berkurang.

        Harus lebih teliti lagi agar hal sepele seperti itu tidak terulang kembali

        Aku catat ini sebagai awal dari kelanjutan sepak terjangku.

        Bismillahirrahmanirrahim, Kun Fayakun...

        Mulai membara lagi untuk terus berlatih dan berlatih. (*)

       
NB: Ini kuanggap sebagai catatan pertama dalam sejarah menuju impianku. Ya, Allah semoga aku tetap istiqomah untuk memperjuangkannya, terus berlatih dan berlatih tak kenal henti dan suatu hari menjadi The Winner.


No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.