Wednesday, December 19, 2012

#postcardfiction - Hari Spesial Berbalut Duka


Kutatap wajahnya yang letih karena bekerja seharian. Angin yang bertiup dari langit Shati ini seolah turut menampar keringat yang luruh membasahi kerah bajunya. Aku mencoba mendekat lalu mengelap peluhnya ketika dia tengah sibuk menggulung selang panjang yang menjulur dari tanki berisi air minum.
“Mm, Abi. Apa Abi ingat sesuatu tentang hari ini?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi, berharap dia dapat menebak apa maksud dari pertanyaanku.
“Sama saja, Ummi. Ini hari Senin dan setiap hari aku harus bekerja. Sudahlah, Ummi temani anak-anak saja ya! Abi mau pergi dulu.”
“Mmm, begitu ya. Abi tidak istirahat dulu sebentar?” tanyaku agak sedikit kecewa dengan jawabannya tadi.
“Nanti saja ya, Ummi. Abi belum lelah. Abi masih harus pergi ke Jabaliya.”
Dia memang seorang laki-laki yang sangat bertanggung jawab dan termasuk tipe pekerja keras. Sudah menjadi hal biasa bila dia tidak mau makan atau istirahat sejenak sebelum benar-benar menyelesaikan tugasnya, mengantarkan air minum dengan mobil tank ke sejumlah tempat pengungsian di sekitar jalur Gaza ini. Dia bahkan tidak peduli dengan ancaman tembakan atau bom yang bisa datang kapan dan di mana saja.
***
Matahari mulai kembali ke peraduannya dan berganti dengan langit senja yang tergores indah. Aku sudah tidak sabar menanti kepulangan suamiku dan ingin segera memberitahukan satu hal spesial padanya.
“Fatimah... Ibrahim, suamimu, Ibrahim, tembakan, Ibrahim” tegur seorang Nenek dengan terbata-bata.
Langkahku terasa berat ketika beranjak keluar tenda bersama si Nenek. Dadaku sesak terhimpit saat melihat wajah Ibrahim terbujur kaku di balik kain putih bersimbah darah. Tangisku pun membuncah.
Pupus sudah harapanku untuk memberitahukan kepada suami tercinta bahwa hari spesial ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang kesepuluh. Tidak ada kecupan mesra. Hari ulang tahun pernikahan ini  kurayakan dalam kubangan darah dan air mata. Ibrahim—suamiku—dia telah pergi dalam keadaan yang sangat mulia di tengah perjalanannya pulang dari daerah perbatasan Israel-Gaza.

2 comments:

  1. lumayan seddih Mbak.. tapi kalau dibikin cerpen *lebih panjang lagi, pasti bakalan meresssssssap... ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya yaah pasti bakalan heboh klo dibikinin cerpen, tp untung aja nggak, ane takut klo anti tambah nangis kyk waktu itu hihi :D ^__^

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.