Monday, November 4, 2013

KLIEN DAN KONSELOR

Konseling Sebagai Pengalaman Baru

Sebagai pengalaman baru, sekurang-kurangnya ada 6 macam pengalaman baru yang diperoleh oleh klien dalam proses konseling yaitu :

1. Mengenal konflik internal

2. Menghadapi realitas

3. Mengembangkan konsep diri

4. Memulai suatu hubungan baru

5. Meningkatnya kebebasan psikologis

6. Memperbaiki konsep-konsep yang keliru
-----
Yang Perlu Dipahami Oleh Konselor Dari Seorang Klien

1. Mengenal konflik internal. Penyebab terjadinya konflik internal pada seorang klien yaitu :

a. Penilaian negatif terhadap diri sendiri (misal : saya bodoh, tidak tampan, tidak menarik, salah tingkah dsb). Hal ini akan menimbulkan konflik, karena waktu dan tenaga akan digunakan untuk melawan/menghindar, bermasalah dengan lingkungan, menyalahkan lingkungan/orang lain.

b. Keharusan Psikologis, adalah pikiran/perasaan yang mengharuskan (misal ; “aku harus jadi nomor satu….”; “aku harus dihormati….”; “aku harus jadi panutan…”). Perasaan ini akan membebani klien, memvonis diri sendiri telah gagal apabila “keharusan” tersebut tidak tercapai.

c. Konflik kebutuhan, akan timbul jika klien dihadapkan pada suatu kondisi harus memuaskan beberapa kebutuhan sekaligus (misal : memenuhi kepuasan pribadi sekaligus membanggakan orangtua).

2. Menghadapi realitas. Penyebab seseorang tidak mampu menghadapi realitas (kegagalan, kehilangan, kesedihan ) antara lain :

a.. Menghindar, dengan lebih banyak mengenang pada masa lalu atau merencanakan masa

depan kemudian mengakibatkan seorang klien juga akan cenderung menghindari realitas masa kini yang sesungguhnya. (“Dulu waktu SMA saya pelajar teladan se kotamadya, dan kelak setelah lulus saya akan jadi pengusaha yg sukses”) padahal saat ini nilai IPK nya <2 div="">

b. Generalisasi berlebihan baik terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan (misal : seseorang merasa pandai dalam segala hal, padahal kenyataannya hanya pandai pada satu bidang saja ).

c. Menyalahkan, baik terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan (Misal : menyalahkan dosen, orangtua, temannya sebagai penyebab keterlambatan studi). Jadi, dengan menyalahkan orang lain --> sementara klien merasa terbebas dari masalah—> padahal justru menambah beban masalah

3. Mengembangkan konsep diri

a.. Kesan palsu, apa yg ditampilkan sesungguhnya bukan gambaran keadaan dirinya sendiri ( misal : kepada pihak tertentu menunjukkan kesan kuat, pandai, supel, tapi pada pihak lain menunjukkan kesan sebaliknya : lemah, perlu dikasihani, dikucilkan dan lainnya, sehingga menimbulkan konflik dan khawatir apabila kepalsuannya terbongkar. Jadi, sedapat mungkin, semaksimal mungkin konseling membantu individu berani menampilkan diri sendiri apa adanya.

b. Saringan (filter) psikologis, adalah kesan yang telah lama melekat dalam diri seseorg sehingga menghalangi penampilan yang sebenarnya; dpaat terjadi karena 2 hal, yaitu (1) indoktrinasi yang bersifat dogmatis yang diterima sejak kecil (misal ; ‘ kamu harus rajin, taaat, tekun , ulet dsb…”); (2) peranan yang hrs dipikul (misal : orang yang lama berperan sebagai pemimpin, ketika tidak menjabat lagi akan mengalami kesulitan menampilkan dirinya sendiri)

3. Kebingungan. Mungkin seseorg tahu tentang dirinya, tetapi ragu-ragu sebab lingkungan tidak menganggapnya demikian.

4. Memulai suatu hubungan baru. Hubungan konseling mempunyai kualitas tersendiri yang mungkin tidak didapatkan dari hubungan lainnya, dengan alasan :

a. Ketulusan konselor untuk membantu, ditandai sikap ramah, hangat, bersahabat

b. Pemahaman yang diberikan konselor kepada klien akan membuat klien merasa diterima

c. Dikembangkan interaksi yang tulus

d. Resiko akibat hubungan konselor-klien akan menunjang perkembangan aspek kehidupan klien,

e. Klien belajar membuat respon-respon baru dan efektif

5. Meningkatnya kebebasan psikologis

a. Kebebasan mengakui ketidaksempurnaan diri sendiri

b. Kebebasan mempertanggungjawabkan perilaku diri sendiri

c. Kebebasan mengecewakan orang lain

d. Kebebasan menyatakan perasaan

6. Memperbaiki konsep-konsep yg keliru


Ada beberapa konsepsi keliru yang banyak dibawa ke dalam konseling, yaitu :

a. Konsepsi adanya masalah-masalah yang tidak dapat dipecahkan

b. Konsepsi bawa janji-janji tidak dapat dibatalkan, dan harus ditepati secara pasti

c. Konsepsi bahwa masalah yang dihadapi adalah korban dari situasi atau orang yang bersifat merusak

d. Konsepsi bahwa apa yang dipersepsikan dan diinterpretasikan sesuai

e. Konsepsi bahwa orang lain tahu persis apa yang dilakukannya


Teknik Memahami Klien Dalam Konseling

1. Konsep Psychological strength (daya psikologis) yaitu sesuatu kekuatan yang diperlukan untuk menghadapi berbagai permasalahan kehidupan; mempunyai 3 dimensi yaitu:

a. Need fulfillment (pemenuhan kebutuhan): makin besar kekuatan psikis, makin besar kemampuan memenuhi kebutuhan.

b. Intrapersonal competencies: makin besar daya dalam menghadapi diri sendiri, makin efektif perilaku individu dalam interaksi dengan lingkungannya

c. Interpersonal competencies: makin besar kemampuan interaksi dengan orang lain, makin efektif hubungan dengan orang lain, sehingga makna dan kebahagiaan hidup tercapai
---
Dimensi Self-Fulfillment

Adalah pemenuhan kebutuhan pada klien konseling adalah sebagai berikut:

1. Memberi dan menerima kasih sayang

2. Kebebasan

3. Memiliki kesenangan

4. Menerima stimulasi

5. Perasaan mencapai prestasi

6. Memiliki harapan

7. Memiliki ketenangan

8. Memiliki tujuan hidup secara nyata


Kompetensi Intra pribadi

1. Pengetahuan diri

2. Pengarahan diri

3. Harga diri


Kompetensi Antar pribadi

1. Kepekaan terhadap diri sendiri dan orang lain

2. Ketegasan diri (assertiveness)

3. Menjadi nyaman dengan diri sendiri dan orang lain

4. Menjadi diri yang bebas

5. Harapan realistis terhadap diri sendiri dan orang lain

6. Perlindungan diri dalam situasi antar pribadi


Teknik Menjadi Konselor (Kriteria Pribadi Yang Perlu Dimiliki Oleh Konselor)

1. Self- knowledge: konselor memahami dirinya dengan baik. Dia memahami secara pasti apa kebutuhannya dan apa yang dia lakukan, mengapa dia melakukan hal itu dan masalah apa yang harus diselesaikan. Pemahaman diri ini sangat penting sebab dilandasi oleh beberapa alasan sebagai berikut:

a. Konselor yang terampil dalam memahami dirinya, dia akan terampil juga dalam memahami orang lain termasuk kliennya.

b. Konselor yang memiliki persepsi akurat tentang dirinya cenderung akan memiliki persepsi sama akuratnya terhadap orang lain.

c. Konselor akan mampu mengejar cara untuk memahami orang lain.

Konselor yang menunjukkan self-knowledge yang baik adalah sebagai berikut:

a. Menyadari dengan baik kebutuhan dirinya seperti kebutuhan untuk sukses, kebutuhan untuk merasa dihargai, superior dan kuat.

b. Menyadari tentang apa yang dapat membuat dirinya cemas dalam konseling dan apa yang menyebabkan dirinya melakukan pertahanan diri dalam rangka mereduksi kecemasan tersebut.

c. Memahami dan mengakui kelebihan serta kekurangan dirinya dengan baik.

2. Competent 

Konselor sebaiknya merupakan seseorang yang memiliki kualitas fisik, intelektual, emosional, sosial dan lainnya sebagai pribadi yang berguna. Konselor yang lemah akan cenderung kurang memahami nilai-nilai moral sehingga dia pun tidak akan mampu mengajarkan kompetensi-kompetensi yang dia miliki kepada kliennya. Paling tidak, konselor harus mampu menguasai dan memahami berbagai ilmu pengetahuan terkait seperti ilmu BK, psikologi kepribadian, psikologi perkembangan, psikologi klinis dan abnormal dan ilmu pengetahuan lain yang dibutuhkan.

Konselor yang senantiasa berusaha meningkatkan kompetensinya maka akan menampilkan sifat atau kualitas perilaku sebagai berikut:

a. Mancoba gagasan dan pendekatan-pendekatan baru dalam konseling. Mereka senantiasa mencari cara-cara yang paling tepat dan berguna untuk membantu kliennya.

b. Mengevaluasi efektivitas konseling yang dilakukannya dengan menelaah setiap pertemuan konseling agar dapat bekerja lebih produktif.

3. Psychological Health

Konselor dituntut untuk memiliki kesehatan psikologis yang lebih baik dari kliennya. Hal ini sangat penting sebab kesehatan psikologis konselor akan mendasari pemahamannya terhadap perilaku dan keterampilannya. Konselor merupakan model dalam berperilaku disadari atau tidak perilaku tersebut.

Konselor yang kesehatan psikologisnya baik, akan memiliki kualitas sebagai berikut:

a. Memperoleh pemuasan kebutuhan terhadap rasa aman, cinta, kekuatan hingga seksual.

b. Dapat mengatasi masalah-masalah pribadi yang dihadapinya.

c. Menyadari kelemahan serta keterbatasan kemampuan dirinya.

d. Tidak hanya berjuang untuk hidup, tetapi juga menciptakan kehidupan yang lebih baik, menikmati kehidupannya secara nyaman dan senantiasa melakukan aktivitas yang positif.

4. Trustworthiness (kepercayaan)

Kualitas ini menunjukkan bahwa konselor tidak menjadi ancaman atau penyebab kecemasan bagi klien. Menumbuhkan kepercayaan dengan klien adalah hal yang juga tidak kalah pentingnya. Alasannya sebagai berikut:

a. Klien dalam konseling perlu mempercayai karakter dan motivasi konselornya. Artinya, klien percaya bahwa konselor mempunyai motivasi untuk membantunya.

b. Apabila klien mendapat penerimaan dan kepercayaan dari konselor, klien akan berusaha mengambangkan dirinya sendiri.

Konselor yang dapat dipercaya akan menunjukkan kualitas sifat sebagai berikut:

a. Pribadi yang konsisten

b. Dapat dipercaya oleh orang lain baik ucapan maupun perbuatannya

c. Tidak pernah membuat klien kecewa atau kesal

d. Bertanggung jawab, mampu merespon klien secara utuh, tidak ingkar janji dan mau membantu secara penuh

5. Honesty (kejujuran)

Konselor bersikap tranparan (terbuka) terhadap klien, autentik dan genuine (asli). Kejujuran sangat penting dalam konseling sebab kejujuran memungkinkan konselor untuk memberikan umpan balik secara objektif kepada klien.

Konselor yang memiliki kualitas kejujuran akan menunjukkan sifat berikut:

a. Bersikap kongruen, artinya segala sifat dirinya yang dipersepsi oleh dirinya sendiri (real self) sama dengan apa yang diperspsikan oleh klien/orang lain (public self)

b. Memiliki pemahaman yang jelas tentang makna kejujuran

6. Strength (kekuatan)

Kekuatan atau kemampuan konselot sangatlah penting dalam konseling. Dengan hal ini, klien akan merasa aman. Klien memandang konselor sebagai orang yang tabah dalam menghadapi musibah/masalah, dapat mendorong klien dalam mengatasi masalah dan dapat menanggulangi kebutuhan dan masalah pribadi.

Konselor yang memiliki kekuatan akan menunjukkan sikap kualitas berikut:

a. Dapat membuat batasan waktu yang pantas dalam konseling

b. Bersifat fleksibel

c. Memiliki identitas yang jelas


7. Warmth (kehangatan)

Bersikap hangat yang dimaksud adalah konselor sebaiknya menumbuhkan sikap ramah, penuh perhatian dan memberikan kasih sayang kepada kliennya. Klien yang datang meminta bantuan konselot, pada umumnya justru kurang memperoleh kehangatan dalam hidupnya, sehingga dia kehilangan kemampuan untuk bersikap ramah, memberikan perhatian dan kasih sayang melalui konseling. Klien ingin mendapatkan kehangatan tersebut agar dapat melakukan sharing dengan konselor. Apabila hal itu diperoleh, maka klien akan mengalami perasaan yang aman dan nyaman berada di dekat konselornya.

8. Patience (sabar)

Kesabaran konselor dalam proses konseling dapat membantu klien untuk mengembangkan dirinya secara alami. Sikap sabar konselor ini otomatis menunjukkan lebih ditunjukkan pada sikap atau perilaku yang tidak tergesa-gesa.

9. Sensitivity (kepekaan)

Kualitas tersebut berarti bahwa konselor memahami dan menyadari tentang adanya dinamika patologis yang tersembunyi atau sifat-sifat mudah tersinggung baik pada diri klien maupun dirinya sendiri. Konselor yang peka akan mampu mengungkapkan atau mengamati apa masalah yang sebenarnya sedang dihadapi klien. 

Konselor yang memiliki kepekaan tinggi akan menunjukkan perilaku berikut:

a. Peka terhadap reaksi dirinya sendiri

b. Mengetahui kapan, di mana dan berapa lama dalam mengungkap masalah klien

c. Sensitif terhadap sifat mudah tersinggung dari dirinya maupun klien

10. Responsive Active

Keterlibatan konselor dalam proses konseling bersifat dinamis dan tidak pasif. Melalui respon yang aktif, konselor dapat mengkomunikasikan perhatian dirinya terhadap kebutuhan klien. Konselor mengajukan pertanyaan yang tepat, memberikan umpan balik yang bermanfaat, memberikan informasi berguna, mengemukakan gagasan yang baru, berdiskusi dengan klien tentang cara mengambil keputusan yang tepat dan membag tanggung jawab dengan klien selama proses konseling.

11. Free (kebebasan)

Konselor sebaiknya tidak bersifat kaku. Konselor harus mampu memberikan kebebasan kepada klien dan dirinya sendiri dalam mengungkap apa yang ada dalam pikirannya, perasaan dan pengalaman. Dengan adanya kebebasan ini, konselor maupun klien akan merasa rileks dan dapat menangkap serta mengeksplor lebih banyak hal-hal terkait permasalahan klien yang sedang dibantunya.

12. Holistic Awareness (kesadaran menyeluruh)

Pendekatan holistik dalam konseling ini berarti seorang konselor perlu memahami kliennya secara utuh dan tidak mendekatinya secara serpihan/sebagian-sebagian.

Konselor yang memiliki kesadaran holistik akan menunjukkan kualitas sikap sebagai berikut:

a. Menyadari secara akurat tentang dimensi-dimensi kepribadian yang kompleks

b. Menemukan cara memberikan konsultasi yang tepat dan mempertimbangkan tentang perlunya referral (rujukan).

c. Akrab dan terbuka terhadap berbagai teori.



No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.