Friday, December 13, 2013

KEBAHAGIAAN KLIEN-KONSELOR

Setelah sekian lama menjadi pendengar buat teman-teman, sahabat maupun klien kenalan baru, membuat saya bersyukur tiada henti. Bersyukur karena dari mereka, saya belajar banyak tentang seluk-beluk kehidupan. Dari masalah-masalah mereka, saya selalu ingat bahwa di atas langit masih ada langit.

Canda, tawa, jengkel, sedih, semua pernah saya alami selama konseling atau curhat dengan mereka. Misi kami adalah kebahagiaan klien, ya itulah tujuan utama sebuah konseling. Makanya, jangan sampe klien datang bawa masalah dengan wajah kusut tapi pulangnya malah makin tertekan. Alhamdulillah itu tak pernah terjadi dan mudah-mudahan saja tak pernah.

Beberapa minggu ini juga kemarin, ada seorang kenalan yang curhat pada saya by email. Masalahnya cukup serius dan complicated. Pagi tadi, saya buka akun twitter, ngelihat dia posting sreenshoot dinding email,. Tadinya saya pikir dia nge-shoot semua isi curhatnya (yaaa kan gak boleh nyebarin rahasia ke muka umum, ada kode etik confidentiality). Ternyata dia cuma pajang kata-kata terakhir kami saat sesi conclusion.

Satu kata di depan mention itu, "BAHAGIA". Alhamdulillah, saya juga ikut bahagia mengetahuinya bisa tersenyum lebar setelah nyeritain masalah yang menurut saya masalah tingkat dewa. Meski tak pernah bertemu langsung, tapi saya berharap semoga di sana, dia benar-benar bahagia melewati kehidupannya pasca curhat kemarin, semoga dia bisa pelan-pelan memaafkan semua kejadian yang belakangan ini masih menimpa dia dan keluarga. Memang, mengembalikan semua dalam posisi semula itu tidak semudah kita menuliskannya begini dan tidak semudah memikirkannya. Tapi, saya yakin, siapapun punya kemampuan untuk survive dan itu tergantung pada diri sendiri.

Saya pun bahagia tatkala mendapati klien "bahagia" setelah menumpahkan seluruh keluh kesah dan emosi negatifnya. Saat tujuan konseling itu telah diraih, kenyataannya klien dan konselor pun bisa kemudian menjadi sahabat, menjadi partner yang baik di luar sesi konseling. Namun, sebaliknya, saat tujuan konseling itu belum terpenuhi, bukan cuma klien yang bakal dongkol atau masih kurang damai. Konselor pun pasti akan gelisah mikirin gimana nasib klien di luar sana sementara tujuannya belum juga menemukan titik terang.

Jadi, sesulit apapun masalah itu, saya selalu berusaha menempatkan diri saya seolah-olah menjadi objek dalam masalah itu. Dengan begitu, saya jadi bisa berpikir jernih dan menimbang-nimbang, apa yang bakal saya lakuin kalo saya ada di posisi klien. Dan, yang paling penting adalah, timing pemberian solusi. Saat klien tidak meminta solusi, sebaiknya konselor menahan diri untuk tidak terburu-buru ngasih solusi, kecuali kalo klien sudah memintanya, baru deh bimbing dia untuk nyatet daftar solusi apa saja yang memungkinkan untuk dilakukan selama itu baik bagi dirinya dan orang sekitarnya.

Tapi, setelah saya pikir-pikir (ini menurut saya sih), selama ngasih konseling atau jadi pendengar curhat buat mereka, sebenarnya apa sih yang bisa ngebuat klien itu benar-benar bahagia selain tujuan konseling ini tercapai? Dan, menurut pengalaman saya, ketepatan pemberian solusi tidak mutlak menjadi acuan untuk ngebahagiain si klien. Lalu apa?

Yang membuat klien bahagia adalah karena ada yang mau mendengarkan keluh kesahnya dengan tulus, karena klien merasa nyaman, aman serta percaya pada konselor yang dipilihnya. Ini juga jadi bahan pertimbangan saat memilih konselor. Klien pun berhak memilih dengan siapa dia akan konseling. Nah, itu bedanya, kalo konselor jelas tidak boleh pilih-pilih.

Sebagian besar klien yang curhat atau konseling pada saya itu sering mengatakan alasannya (di awal) kenapa dia memilih datang dan mempercayai rahasianya pada saya. Alasan inilah yang nantinya akan mempengaruhi jalannya konseling serta kesuksesan dalam mencapai tujuan konseling itu.

Akhir kata, saya cuma ingin berterima kasih kepada semua teman dan klien  Terima kasih ^__^ Semoga silaturahmi kita bisa tetap terjaga dan mohon maaf jika saya ada salah kata saat konseling :)

4 comments:

  1. Sejauh ini aku masih belum mengetahui secara betul bagaimana melaksanakan konseling. Jelasnya, aku hanya belajar bersyukur mengikut jejak ibu dengan membuat layanan gratis untuk “problem solving” bagi masalah kepribadian teman-teman saya di blog. Sedikit kata dosen saya bahwa dari klienlah kita bisa lebih mendalam mempelajari psikologi.
    Kalau begini, aku boleh nggak suatu saat minta saran untuk sharing kepada kakak guna terkaitan apa nantinya. Atau membuat situs sendiri layanan sharing yang kita kelola nantinya.. ah terlalu tinggi menghayal, aku mulai dari blogku sendiri dulu..

    Terimakasih kakak.. aku enaknya panggil dengan nama apa ya?
    Silahkan buka www.makruf.com bila ada waktu.. hehehe

    ReplyDelete
  2. iyap, kita belajar dari klien dan klien belajar dari kita, simbiosis mutualisme :)

    wah, hebat sekali impiannya! boleh tuh nanti direalisasikan ^^ boleh boleh silakan aja kalo mau sharing

    panggil Emma aja.

    hehe iya, kemaren sempet mampir ke rumah virtualmu liat postingan galau mu hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya galau kan manusiawi.. masak psikolog ga boleh galau. aku saja punya sarjana psikologi yang phobia. yang penting ga berlebihan.. menulis diary bukannya mengurangi beban pikiran gitu kan kak??

      maaf kak.. aku ngga sengaja panggil ibu tadi.. ibu di sini jangan mengartikan sudah dewasa terus punya anak. aku cuma ingin belajar menghormati terhadap status seorang guru seperti kakak ini.

      oh iya kak, aku jadi was-was kalau buka jasa Sharing, padahal cuma ingin belajar. bukan ingin buka jasa konseling apalagi jasa psikologi.. bagaimana dong kak??

      Delete
    2. haha iya psikolog kan jg manusia :D
      hehe iya gpp

      klo jasa psikologi yg resmi kan hrs S2 dulu trs punya SIPP dr HIMPSI, ada apa kok was-was? kan cm sharing/curhat doang

      Delete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.