Tuesday, July 15, 2014

KAPAN ANAK SIAP BERSOSIALISASI?

Bismillahirrahmanirrahim...
Ngapunten banget buat yang udah request. Langsung aja, sekarang saya akan coba uraikan hasil request-an Bunda Tri Wahyu Handayani.

Berikut ini adalah pertanyaan beliau:
by halocities.com
"Saya punya side job sebagai guru les musik (piano). Akhir2 ini ada trend, ibu2 muda me-les-kan putra-putrinya msh sangat muda, 2 sampai 4 tahun. Mereka agak 'maksa' me-les-kan anak2nya tsb, alasannya spy ada kesibukan. Nah, beberapa anak tsb memang tidak siap, ada yg nangis tiap les. Ada yg tenang2 udh les, tapi Bundanya diam2 keluar ruangan, pergi kemana. Minggu berikutnya anak tsb ga mau ditinggal oleh Bundanya, nangis berkepanjangan dan tantrum. Ini terjadi bukan pada satu anak saja.
Sebagai guru suka bingung menghadapi anak yg tantrum dan Bunda yg memaksakan kehendak.
Memang ada sih anak2 yg siap belajar musik di usia yg sangat muda. Tetapi tidak semua anak siap bukan?
Bahkan ada anak2 yg diam saja, tidak siap menerima arahan, nunduk terus, tidak bicara apapun.
Sebagai guru sering merasakan seorang anak ada masalah atau tidak karena perbandingan dengan anak2 yg lain, tetapi tidak tahu masalahnya apa. Mungkin karena bukan psikolog.

Pertanyaan saya, usia berapa anak siap menerima arahan dan bersosialisasi? Bagaimana menjelaskan ke Bunda2 tersebut bahwa anaknya ada masalah dan sebaiknya dikonsultasikan ke ahlinya."

----
Beberapa hari lalu, saya baru saja sibuk menikmati acara TV melalui Youtube mengenai persoalan psikologis dengan bintang tamu para psikolog anak khususnya. Salah satu topik permasalahan yang sedang dibahas bersama Mbak Lizzie (Psikolog) yaitu mengenai bagaimana orangtua mengarahkan anak untuk mengasah bakatnya.

Zaman modern sekarang kan udah banyak bertaburan les-les private. Ada les private khusus akademik seperti Matematika, Bahasa Inggris dan sebagainya. Ada juga les yang mewadahi hobi/kesenangan/bakat dan minat anak. 

Dari uraian singkat yang dipaparkan oleh Bunda Tri di atas, tampak jelas sekali bahwa ternyata masih ada looh ortu yang "sengaja" memasukkan/mengikutkan anaknya ke sebuah lembaga les/bimbel hanya karena gengsi atau faktor lain yang memang bersifat eksternal. Di samping itu, anak-anak mereka sudah menunjukkan ketidaksukaan/ketidaktertarikan pada jenis tersebut. Lalu, salahkah cara yang dilakukan ortu-ortu itu? 
Mengenai bakat dan minat anak ini biasanya sudah bisa dideteksi sejak dini dan dari usia yang bervariasi. Ada anak yang sudah mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap sesuatu hal pada usia 3 tahun, 4 tahun atau bisa lebih cepat dan lebih lambat dari itu. Sebagai orang tua, tugas mereka bukan hanya sekadar mendeteksi, "Oooh jadi dia suka main piano. Ooh jadi si adek sukanya menggambar." Biasanya, anak itu akan lebih mudah berpindah-pindah dari satu objek ketertarikan ke objek lainnya. Intinya, di usia yang sangat dini ini, minat anak masih sangat mungkin mengalami perubahan.

Trus gimana dong cara mengetahui bahwa A atau B itu adalah bakat/minat anak yang paling menonjol? Cara konvensionalnya adalah, rajinlah mengamati/observasi si anak. Misalnya, belakangan ini dia lagi suka menggambar. Terus amati durasi, frekuensi, intensi anak ketika dia sedang menggambar dari hari ke hari. Sesekali, ortu juga bisa bertanya pada anak, "Adek suka nggambar ya? Emangnya apa yang adek sukai kalo lagi nggambar? Adek senang ya kalo lagi menggambar?" Mungkin, mereka akan bilang, "Suka. Senang."

Amati aja terus aktivitas ini setiap hari. Kalau suatu ketika ada saat di mana ortu beliin peralatan menggambar lagi untuk ke sekian kali tapi si anak mulai ogah-ogahan, coba ditanyain, "Adek mau ngapain lagi? Adek sukanya apa?" Kalo ternyata dia mulai memunculkan ketertarikan pada objek lain, lakukan hal yang sama yaitu observasi.

Kebiasaan anak kayak di atas ini biasanya saat mereka berusia 0-2 tahun. Pada usia ini, minat anak terhadap sesuatu akan semakin berlimpah, seringnya begitu. Sebab, ini adalah fase sensori motorik di mana akan anak lagi senang-senangnya mencoba segala sesuatu, mengamati/meraba/merasakan sesuatu dengan panca inderanya untuk mengenal objek-objek di sekelilingnya.

Kalau pada rentang usia 3-6 tahun ini disebut pra-operasional di mana anak suka melakukan sesuatu yang berasal dari apa yang mereka amati atau tiru. Misalnya, si anak ini suka banget nonton Ultramen Mebius. Selain suka, dia juga jadi sering mengimitasi gerakan-gerakan sang Ultramen, suka minta dibeliin baju Ultramen dan apa saja yang berhubungan dengan itu.

Umumnya sih, akan lebih mudah melihat ke arah mana bakat anak ketika sudah berusia sekitar 4-6 tahun. Tapi ada juga looh yang sudah bisa terdeteksi sejak di dalam kandungan. Contohnya saja kayak si Roma, adik sepupu Bastian. Kata sang tante sewaktu diwawancarain gitu, Roma ini sudah ada tanda-tanda menyukai bidang entertain sejak dalam kandungan terutama musik. Soalnya ketika ibunya hamil, janin Roma suka gerak-gerak gitu ketika mendengarkan musik nge-beat. Dan, ketika besar, saat ia tidur lalu terdengar musik, anggota tubuhnya spontanitas turut bergerak merespon musik tersebut. Hingga sekarang, ortunya mulai memperkenalkannya kepada industri musik. Si Roma ini sukanya nyanyi sambil dancer kayak tokoh idolanya yaitu Beyonce.

Usia 3-6 tahun banyak yang bilang sebagai golden age, kan? Makanya di usia-usia ini banyak ortu yang getol mengarahkan sang anak untuk ngasah bakat mereka. Tapi, ternyata masih ada saja ortu yang keliru dalam mengidentifikasi bakat sang anak. Jadinya, ketika si ortu memasukkan mereka untuk les, si anak akan merasa bahwa ortu lagi maksa, mereka nangis dan selalu minta pulang ketika berada di tempat les. Seringnya pula, ortu cuman berargumen, "Biasalah itu! Mungkin karena lingkungan baru jadi mereka cuman butuh adaptasi aja."

Kekeliruan ortu dalam mengarahkan anak ini juga bisa berakibat fatal. Jadi sebaiknya, hindari memaksa anak untuk ikut les tertentu apalagi kalau anak sudah menunjukkan isyarat TIDAK SUKA. Sebaliknya, biarkan sang anak yang lebih berinisiatif, mereka maunya apa. Ortu juga harus bertanya kepada mereka. Kalau mereka memang tertarik dengan musik, maka coba masukkan ke les privat musik. 

Ketika anak berada di tempat les, lalu menangis, cuman ada 2 hal yang mungkin menjadi penyebabnya: pertama karena krisis sosialisasi di mana anak seumuran itu memang belum memiliki kemampuan yang optimal untuk bersosialisasi/beradaptasi pada lingkungan yang baru. Atau faktor kedua yaitu karena anak memang tidak minat dan ortu semakin memaksa/keras kepala.

Jadi,  Bunda Tri mungkin bisa melacak, manakah penyebab yang lebih menonjol di antara keduanya. Kalau sudah bisa terdeteksi, maka lakukan pendekatan dengan ortu. Bicarakan saja kepada mereka secara baik-baik bahwa anak mereka memang tidak menyukai (jika memang penyebabnya karena anak tidak punya minat pada bidang itu). 

Namun, jika masalahnya karena kesulitan beradaptasi, maka ortu dan guru juga harus bersabar, telaten dalam membantu anak untuk melalui masa krisis tersebut. Caranya mungkin di tempat les, bisa diselingi dengan permainan psikologis untuk mengukur leadership, kerja sama dan aspek-aspek lain pada anak itu sendiri. Banyak kok sekarang permainan macam itu, bisa di-download tuh di om google modul-modul PDF-nya atau nyari di buku-buku psikologi populer; buku psikologi bermain pada anak. Jadi, selain belajar serius untuk lebih mengembangkan dan mengarahkan bakat anak, guru juga bisa melatih berbagai aspek sosial pada diri anak. Selain itu, ortu juga harus memberikan support. Oke, nggak masalah kalo mereka menemani anak pada saat jam les dan ikut bermain pula. Tapi, latih anak juga agar mereka bisa ditinggal sendiri dan bersosialisasi sama temen-temen barunya. Harus sabar dan jangan pakai gengsi ya.

Lain halnya kalo masalah ketidaksukaan, tantrum atau perilaku negatif sang anak muncul karena memang ada gejala-gejala kelainan psikologis. Ini tentu harus dikonsultasikan pada ahlinya sebab anak dengan kelainan psikologis ada juga yang lebih suka menarik diri dari lingkungan/sangat sensitif terhadap orang baru karena masalah-masalah/penyebab tertentu yang disebabkan oleh riwayat psikis tadi.

Oke deh, demikian uraian saya. Kalau ada yang kurang, silakan ditambahin ya. Semoga bermanfaat ^__^


2 comments:

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.