Friday, December 20, 2013

PERTEMUAN MENDEBARKAN

rumahcurhat
1 Desember 2013 

Masih hujan. Siang jadi basah. Alis Nilon mengerucut, hampir menyambung. Dia masih terpekur dalam lautan kertas-kertas di meja belajarnya. Punggungnya disandarkan ke bantalan kursi. Kedua kakinya diangkat menyilang di atas meja, menjajah kertas-kertas yang sedari tadi menguras emosinya. Tangan kirinya menjepit pinggiran HVS bertuliskan materi kepribadian. Sementara itu, tangan kanannya memutar-mutar pulpen dengan kompulsif. Tulisan itu, dia sendiri yang membuatnya, dicetak dengan huruf besar dan warna-warni. Kepala plontos lonjongnya digoyangkan dari atas ke bawah seraya mengangguk, sekadar memberi pemahaman terhadap konsep Id dari teori psikoanalisa Freud.

“Id itu bekerja secara pleasure principal dan...” Nilon melongok ke langit-langit seraya menghapalkan apa yang dibacanya.

Kriiiiiing..... kriiiiiiiing...

Ponsel bututnya berdering, makin lama makin tinggi nadanya. Nilon berdesis kesal lalu mengambil bantalan kursinya dan ditutupkan ke atas ponsel itu.

Kriiiiiiing..... kriiiiiiiiiiiing....kriiiiiiiiiiiiiiiiing....

Ponsel hitam mungil bututnya makin beringas, tidak peduli kalau Nilon sedang belajar untuk ujian semester besok. Pria berhidung betet itu makin geram. Seharusnya, sebelum belajar, dia mematikan alat komunikasinya.

Nilon mengedikkan bahu dengan wajah kusut. Tangannya mengelus-elus kepala plontosnya, semacam ada asap panas keluar dari ubun-ubunnya. Diletakkan pulpen dan kertas materinya itu dengan sedikit tekanan ke atas meja. Disingkapnya bantalan kursi di meja belajarnya itu seraya memungut ponsel dengan setengah hati. Dia berdiri dari kursi, berjalan satu langkah mendekati jendela kamarnya.

“Halo! Kenapa sih loe nelpon gue lagi? Mana pake private number pula,” ceracaunya lalu melepas telepon itu dari telinganya sembari melirik layar ponsel. “Loe kan tahu besok gue mau ujian! Terus, loe mau ngomong apa? Buruan!” omel Nilon dengan suara baritonnya.

Napas Nilon belum juga tertata rapi sementara di seberang sana, tak ada balasan apapun atas gertakan tadi. Nilon makin kesal. Dia memencet speakerphone-nya dan meletakkan ponsel butut itu ke atas meja belajar.

“Hei! Loe denger, nggak sih gue ngomong apa? Ngapain loe nelpon gue?!” Paksa Nilon, tangannya bersedekap dan bibirnya mengerucut.

“Kamu galak amat sih, Lon? Maaf deh... kalo gue udah ganggu.”

Nilon menelan ludah lamat-lamat. Dia tampak kikuk sampai-sampai kuku kakinya seolah mati rasa. Suara lembut yang meletus dari pengeras suara itu membuatnya mati kutu. Astaga! Gawat! Dia cemas kalau-kalau si penelepon itu mendadak ilfil karena gertakannnya. Dia pikir, penelepon itu adalah si kribo teman sekelasnya. Ternyata, dia salah kaprah. Tak ada suara si kribo yang meletup-letup di seberang sana, melainkan nada lembut seorang putri keraton modern.

“So... sori, Inka. Gu-gue... gue kirain tadi si kribo.” Nilon menggigit bibirnya, gugup.

“Oke, gue ngerti kok. Sekali lagi, maaf ya, Lon.”

Ah! Suara itu selalu bisa mengenyahkan bad mood Nilon. Suara itu juga masih sering menghiasi mimpi indahnya. Yaa... walaupun dia sebenarnya tidak suka dipanggil dengan sebutan “Lon”. 

“Eum, oh... oke, nggak papa kok.” Nilon membanting punggungnya ke atas kasur dengan senyum ceria. “Loe... apa kabar, Ka?” Ditumpukan kaki kirinya menyiku di atas kaki kanannya.

“Gue baik.”

“Umm...” Nilon semakin gugup. “Loe kuliah di mana sekarang?” tanyanya lagi.

“Oh ya, Lon... Gue harus buru-buru pergi nih. Kapan-kapan gue telepon lagi ya. Sori banget udah ganggu loe belajar. Daaah...”

Tiiiiiit.... tiiiit.... tiiit....

Lelaki bertelinga lebar itu bingung seketika. Dia buru-buru bangun dari tempat tidur lalu memukul-mukul layar ponsel bututnya dengan telunjuk, seolah tak percaya telepon itu sudah terputus. Belum juga puas mendengarkan, suara indah itu memutus sambungan lebih dulu. Padahal, dia ingin tahu keberadaan sosok yang sudah setahun tak dijumpainya itu sejak lulus SMA. 

Dan, mood Nilon berantakan lagi. Dia berjalan malas dengan cenderung membungkuk menuju meja belajarnya. Diambilnya kertas-kertas materi psikologi kepribadian dengan paksa hingga hampir terkoyak akibat genggaman jari yang terlalu kuat. Dia pun duduk di kursi lalu melihat kertas-kertas itu dengan tatapan kosong. Jiwanya mengambang pada sosok bernama Inka. 

“Ah! Inka... Inka... Loe udah bikin gue galau lagi,” keluh Nilon sambil menoyor dahinya.

***
3 Desember 2013

Sore ini, Nilon meninggalkan rumah megahnya yang berada di ruas jalan Ijen. Rumah ini belum tiga bulan ditinggalinya sejak pindah dari Jakarta. Dengan kaos bola putih bernomor punggung tujuh dan jeans hitamnya, dia cukup terlihat tampan meski dilihat dari ujung monas, begitu kata adik perempuannya. Dia pasrah saja. Mungkin, wajah konyol bertahtakan kepala plontosnya itu tak akan pernah bisa tersulap menjadi seseksi Christiano Ronaldo. Tapi, setidaknya, dia pernah beruntung dicintai oleh seorang gadis berparas bule. Aih, sudahlah! Tak perlu lagi membeberkan cinta yang dulu kandas.


Nilon mengemudikan kuda bajanya, si vespa butut yang sudah 10 tahun bersamanya. Vespa biru dengan tempelan stiker baru bertuliskan "plontos tapi beken" itu adalah warisan dari ayahnya. Belum. Ayahnya belum meninggal. Vespa itu diwariskan kepadanya karena ayahnya sudah berpindah hati pada mobil tipe sedan mahalnya. Ketika ayahnya hendak membuang vespa itu, Nilon memungutnya dan memodifikasinya sepenuh hati. Dia suka vespa. Dia suka segala sesuatu berbau butut dan unik seperti dirinya.

Namanya saja vespa butut, tentu tak akan bisa berlari sekencang motor Lorenzo. Setelah lima belas menit, Nilon tiba di perempatan Lapangan Rampal, menanti hitungan mundur traffic light yang masih berjumlah puluhan. Dengan anteng, Nilon melongokkan kepala ke sekitar jalan itu, melirik gedung BCA di seberang kanan jalan, studio foto di seberang kiri, juga melihat seorang gadis tomboi pengendara Vixion dengan pakaian jala-jala tepat di samping kanannya. Namun, hatinya gelisah ketika harus meluruskan pandangan ke arah lapangan Rampal yang menghijau beberapa meter di depan. Lampu hijau telah berpendar tapi dia merasa enggan melanjutkan perjalanan sampai akhirnya ditegur oleh klakson yang bersumber dari truk tangki BBM di belakanganya. Terpaksa, Nilon menuruti ke mana vespanya hendak menepi: Lapangan Rampal.

Para anak basket tampak berlatih di basket court, beberapa ibu-ibu sedang jogging jauh di pinggir lapangan dan jauh di seberang, tampak beberapa pedagang jajanan kaki lima dirubungi oleh anak-anak kecil yang ikut orangtuanya olahraga di sini. Sementara itu, Nilon berjalan pelan-pelan, bahkan cenderung sangat pelan, tapi dengan langkah panjang-panjang. Matanya sedang melirik sana-sini tapi tidak dengan perhatiannya. Hatinya lagi-lagi mengambang pada sesuatu yang mungkin tak dapat ditemukannya di lapangan luas ini.

Meski tak pernah sengaja diingatnya demi menjaga kesehatan mental juga hati, tetap saja hal paling berkesan itu selalu datang mendesak kepalanya. Beberapa tahun yang lalu, di lapangan hijau seperti ini, dia pernah mengutarakan isi hati pada seorang gadis kampung. Gadis yang tak pernah diharapkan akan dapat mencuri perhatiannya. 

"Ah, dia lagi... dia lagi." Separuh bibirnya tersenyum miris.

Nilon terus berjalan hingga menemukan sebuah bangku panjang di salah satu sudut lapangan. Cukup teduh meski dilindungi oleh pohon yang sebagian besar daunnya telah meranggas... seperti cintanya!

Kriiiing..... kriiiing....

Dia buru-buru merogoh saku celana. Dilirik layar ponsel bututnya. Private number...

"Halo, Inka. Loe nelpon gue lagi?" Senyumnya berlayar dari kiri ke kanan, menjereng barisan gigi putihnya dengan satu gingsul di pinggir kiri, yaa lumayan manis.

"Loe pasti lagi ada di lapangan, kan? Loe masih suka latihan bola?"

Jantung Nilon tiba-tiba meriang, membuat tangan kanannya refleks menyentuh dadanya. "Ah, ternyata loe masih ingat masa lalu gue, Ka," gumamnya.

"Halo?"
"Sori, Ka. Gue emang lagi di lapangan sih, tapi udah nggak pernah main bola lagi sejak..." Nilon baru sadar. Dia tak bisa melanjutkan kalimatnya karena ada hal yang tak ingin bisa dikatakannya lagi. Semua sudah berlalu, memang. Dan, dia tak ingin memutarnya barang sebentar saja.

"Kalo aja gue ada di situ sekarang, apa loe bakal main bola?" 

Nilon tergagap tapi mendadak tawanya pecah, sangat renyah. Pertanyaan itu semacam dongeng belaka baginya. Walau dia sendiri tak tahu pasti di mana keberadaan gadis itu, tapi mustahil baginya jika seorang Inka rela menyusulnya ke Malang hanya untuk melihatnya menggelindingkan bola di lapangan ini.

"Gue boleh duduk?" Suara Inka seolah membelah dua. Satu suara terdengar dari hape butut di telinga kiri Nilon sementara satunya lagi terdengar nyata dari telinga kanan. Euh, tidak! Satunya lagi tidak persis suara Inka.

Nilon yang duduk menghadap pohon pelan-pelan memutar badan enam puluh derajat ke kanan. Mulutnya ternganga lebar ketika melihat seseorang berdiri di sampingnya lalu tersenyum memandang wajah dungunya. Agak terkesiap, tapi dia lekas berdiri seraya memberi salam penghormatan pada seseorang yang menyapanya. Ludah di tenggorokannya berlomba meleleh hingga memenuhi serambi mulutnya, lalu ditelannya kembali dengan amat berat. Dia berusaha menjaga sikap ketika gadis berjilbab magenta itu selonong duduk di bangku itu tanpa dipersilahkan.

"Loe pakai baju bola tapi kenapa nggak main bola sekalian?" tanya gadis berjilbab itu dengan senyum manis menjuntai.

Nilon tergeragap sembari memutus sambungan teleponnya yang baginya tak penting lagi untuk dilanjutkan. Entah suara di telepon itu marah atau tidak, dia tak peduli..Kali ini, dia tak bisa menyembunyikan kegugupannya, juga tak berani duduk bersebelahan dengan gadis muslimah itu. Mungkin lebih tepatnya mencoba untuk menghargai seorang wanita yang bukan muhrimnya. Itu yang pernah didengarnya saat mata pelajaran agama waktu SMA dulu.

"Loe kenapa bengong aja?" tanya gadis itu tenang.

Nilon berusaha menampar pelan pipi kirinya. Memang bukan mimpi. Tapi, lucunya, sekalipun gadis itu terlihat anggun dengan jilbabnya, anehnya masih keukeuh menggunakan kata loe gue untuk berbincang. Nilon tadinya mengira, gadis itu akan mengganti sapaannya dengan menggunakan "aku, kamu", tapi ternyata tidak.

"Loe sekarang beda banget," sahut Nilon sambil nyengir kuda. Sebenarnya dia ingin memuji kecantikan gadis itu.

"Oh ya, sori, Lon. Gue sebenarnya ngebuntutin loe dari tadi, makanya gue tau loe ada di sini. Gimana kuliah loe? Lancar? Dosennya heboh?" Gadis itu bertanya dengan ekspresi antusias.

"Nggak papa," komentar Nilon singkat. Dia berupaya menjaga bibirnya agar jangan sampai memuntahkan pertanyaan yang mungkin saja akan membuatnya malu di hadapan gadis yang suaranya baru saja terdengar dari hape bututnya tadi.

Satu ingatan berhasil lolos, keluar dari pintu yang sudah lama digemboknya. Ingatan tentang gadis yang saat ini bersamanya. Gadis itu memang cantik, bahkan semakin cantik setelah berjilbab. Dia tak tahu dan tidak ingin mencari tahu kapan gadis itu mulai berjilbab. Bagi Nilon, itu cukup menjadi privasi gadis itu saja. Sekarang, dia tak berani memandangnya lama-lama. Meski bukan ahli agama, tapi dia juga masih ingat pelajaran menjaga serta menundukkan pandangan bagi laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Saat ini, dia benar-benar mempraktekkannya.

"Lon..."
"Ya?"
"Gue tahu loe pasti masih marah sama gue. Tapi, gue nggak pernah sedikit pun ada maksud untuk nyakitin loe," tutur gadis berwajah lonjong itu serius.

Nilon mendesah dalam hati. Jujur, dia memang belum bisa mengikhlaskan apa yang pernah terjadi antara mereka berdua. Tapi, di sore yang kebetulan sedang cerah ini, tak seharusnya kalimat yang lebih mirip rongsokan baginya itu terkuak lagi. Dia tak tahan. Matanya memilih melambung bersama awan-awan biru di atas kepala. Dimasukkan kedua tangannya rapat-rapat meremas saku celananya dari dalam. Haruskah dia berkomentar? Tapi, apa yang perlu diucapkannya pada gadis itu? Dia masih berpikir.

Sementara itu, di depannya, mata sang gadis mulai basah, tapi airnya membendung di kelopak, menggantung di kantong mata. Bibirnya gemetar kecil tapi berusaha untuk tenang menghadapi sosok plontos yang sedang berpura-pura mengacuhkan perkataannya.

"Loe... loe pasti udah jalan-jalan ke Batu, kan?" tanya Nilon, mengalihkan pembicaraan. Sungguh tak elegan! Dia memang tak pandai mengalihkan fokus perbincangan dan kebodohan itu jelas tertangkap oleh mata biru gadis bule itu.

"Maafin gue, Lon. Mungkin bagi loe ini udah basi, tapi gue nggak tahan kalo loe belum ikhlas maafin gue."
"Loe keliatan cantik pake jilbab magenta itu, Inka." Sekali lagi, Nilon membodohi dirinya, berpura-pura acuh.
"Lon! Gue minta loe denger perkataan gue sebentar aja! Gue tau, loe sakit hati karena gue udah mutusin hubungan kita dulu."
Nilon berubah kaku dan matanya sedikit melotot. "Sori, Inka. Gue nggak mau denger alasan itu lagi. Please, tolong jangan loe lanjutin lagi. Gue udah maafin loe kok."
Inka menggeleng tegas, "Gue mutusin loe bukan karena gue punya gebetan baru seperti yang pernah loe denger. Gue mutusin loe... itu karena gue mau ngejaga loe, Lon," jujurnya lirih.

Mata Nilon yang sedari tadi mengangkasa, perlahan turun dan mendarat, menatap wajah iba sang mantan. Ya, Inka, gadis bule blasteran Belanda-Betawi itu adalah mantannya. Mereka berpacaran sejak duduk di kelas satu SMA dan akhirnya kandas saat kelas dua SMA. Suatu ketika, usai acara perpisahan anak kelas tiga, Inka mendatangi rumah Nilon dan memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Berhari-hari, Inka mengacuhkan Nilon dan selalu berpura-pura tidak mengenal Nilon padahal mereka ditakdirkan sekelas. Hal itu sungguh menyakitkan Nilon. Dipikirnya, Inka memutuskan hubungan mereka karena menyukai cowok lain seperti gosip yang beredar dulu. Tapi, itu memang tidak terbukti. 

Lama-kelamaan hingga kelulusan, Nilon sudah tak peduli. Sampai Nilon memutuskan sendiri untuk belajar melupakan Inka meski tak bisa. Dia masih mencintai gadis yang selalu meraih peringkat satu itu. Sampai memutuskan untuk pindah dan kuliah di Malang pun, dia sejujurnya masih menanti kabar Inka tapi Inka seolah raib ditelan bumi.

Saat ini, Inka tiba-tiba muncul entah dari mana lalu memutar kembali kenangan pahit itu. Mencoba mempertanyakan rasa perih yang sudah coba dibuang oleh Nilon ke timbuktu. Rasa perih yang tadinya berkurang karena kerinduan yang tiba-tiba mencelat, malah berubah perih kembali. Tapi, sesaat setelah mendengar alasan Inka, di hatinya seolah ada yang sedang mencair, entah apa itu. Mendengar kata-kata "menjaga" membuat perasaaannya campur aduk .Dan, Nilon memilih untuk menunduk dan diam.

"Selama kita pacaran, ada banyak hal yang gue sembunyikan dari loe, termasuk skandal aborsi gue," cetus Inka lalu melengos.

Kraaaagh! Bruuuuugh! Semacam ada ribuan piring yang jatuh akibat gempa di sekitar dadanya. ABORSI?! Kata itu, hanya sering didengarnya melalui berita-berita yang ditontonnya tiap pagi. Tapi, dia tak menyangka akan mendengarnya dari seorang gadis yang masih dicintainya. Nilon masih bungkam, tapi matanya melotot tajam dengan alis berkerut dan sudut bibir penasaran.

"Waktu SMP, gue pernah aborsi. Gue malu, Lon! Gue malu dan gue merasa menyesal udah nerima loe sebagai orang terdekat gue waktu itu. Gue malu karena takut aib ini bakal kebongkar dan loe sebagai pacar gue pasti akan tertuduh kalo aja dulu gue jujur sama loe. Gue nggak pantas buat loe, Lon. Gue...." Isak Inka pecah. Kaki Nilon bergetar pelan.

"In... Inka..." Nilon tidak tahu apakah dia harus marah, jijik atau justru makin benci pada Inka. Tapi, matanya menyiratkan segunung iba. Ingin sekali rasanya memeluk gadis itu atau sekadar merelakan pundaknya untuk ditumpahi cucuran air mata. Tapi, lagi-lagi, kalimat "menjaga" itu menghipnotisnya, menjauhkan tangannya untuk tidak menyentuh Inka.

"Maaf, Lon," sambung Inka sambil mengusap sisa air matanya.

"Iya, nggak papa kok."

"Gue mutusin loe karena gue mau menjaga loe biar nggak kena fitnah gara-gara masa lalu gue. Gue nggak mau loe kelak jadi kambing hitam andai hubungan kita diterusin. Gue nggak pantes buat loe Lon."

"Hey, loe kok ngomongnya gitu sih?" Nilon kesal mendengar Inka merendahkan dirinya.

"Ya sudah lah, Lon. Kalo gitu gue pulang dulu. Jaga diri loe baik-baik ya! Kapan-kapan, gue bakal nelpon loe lagi dari Aussie." Tanpa permisi lagi, Inka pergi begitu saja, menyisakan tanda tanya di wajah Nilon. Arrrgh! Selalu seperti itu.

"Gue nggak tau musti ngomong apa, tapi makasih, Ka. Makasih karena loe udah mutusin gue dengan alasan yang nggak terpikirkan sebelumnya. Makasih karena loe udah ngajarin gue buat ngejaga sikap dan pandangan gue di depan loe kayak tadi. Semoga hidayah itu nggak akan pernah kecabut dari diri loe." Senyum tipis Nilon mengantarkan akhir pertemuannya bersama Inka, Dia berbicara sendiri sementara Inka sudah lenyap dari lapangan itu.

Pertemuan ini adalah pertemuan paling mendebarkan baginya. Tak peduli apapun alasan Inka pernah memutuskannya. Tak peduli pula pada segala masa lalu kelam yang diceritakan sekilas oleh Inka tadi. Yang pasti, hal paling berkesan bagi Nilon hari ini yaitu ketika mendengar kata "menjaga" dari bibir sang mantan. Kalimat yang mendadak mengetuk pintu hati terdalamnya, mengajarkannya untuk lebih menghormati wanita, menjaga diri, sikap dan pandangannya yang dulu sudah sering ternodai oleh dosa-dosa. Tangan yang dulunya suka merangkul, mendadak terdiam ciut dan menjauhi pundak Inka, bagian yang paling sering disentuhnya dulu. Mata yang dulu tak henti menikmati keindahan wajah sang mantan, mendadak tertunduk malu.

"Gue juga malu sama loe, Ka. Loe nggak seharusnya jadi pacar gue dulu. Gue juga pernah kotor. Gue pernah tidur sama temen kelas gue waktu SMP dan loe nggak pernah tau itu."  desahnya lalu beranjak pulang

5 comments:

  1. mba emmaaaa, selalu deh tulisannya bikin aku merasa KRIUK.

    by: pembaca setia blog mu ^.^

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. iyaa ^__^ so do I, ehehe

      kamu kayaknya orgnya kocak dan lucu ya? dari gaya bahasanya semangat banget keknya

      Delete
  3. semangat dong kalo ada mba emma. *ehh jadi agak ngegombal*.hehe

    hehe, mba emma bilang kek gitu aku jadi bingung gimana balesnya. hahaha

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini. Bila ingin share tulisan ini, tolong sertakan link ya. Yuk sama-sama belajar untuk gak plagiasi.