Wednesday, October 30, 2013

KEPRIBADIAN ITU TAK MUDAH DIUBAH

ureport.news.viva.co.id
Judul ini saya peroleh saat membaca salah satu tweet teman. Kepribadian seseorang sangat sulit untuk diubah, bahkan setelah menikah

Berbicara mengenai kepribadian. Kepribadian itu terdiri dari komponen: Sifat, Sikap, dan Karakter. Jika ditanya, manakah komponen yang sulit untuk diubah? Jawabannya tentu saja sifat. Kenapa? Sifat itu adalah permanen atau menetap dalam kepribadian seseorang dan menjadi ciri khas yang jarang dimiliki oleh orang lain. Sifat inilah yang biasanya menjadi tolak ukur dalam skala atau alat-alat tes psikologi.

Sedangkan, sikap, masing-masing individu memiliki sikap yang berbeda karena bersifat individual. Dalam kesempatan-kesempatan tertentu, sikap digunakan untuk melakukan berbagai perubahan sehingga bisa dibilang sikap itu tidak permanen. Sikap dapat berubah karena faktor kebutuhan. Ini juga menjadi objek penelitian dalam alat-alat tes psikologi karena sikap dapat diukur.

Sementara itu, karakter ialah hal-hal baik yang diharapkan oleh masyarakat. Seseorang memunculkan karakter tertentu sesuai dengan norma-norma atau nilai-nilai di lingkungannya.

Sekarang, saya ingin membahas mengapa kita perlu selektif dalam memilih pasangan hidup? Kembali lagi pada kalimat, "Karena kepribadian seseorang itu sulit diubah, bahkan setelah menikah:. Bila ada di antara kalian yang awalnya berpacaran, apakah Anda sudah yakin bahwa si dia adalah yang terbaik untuk kita? Sudah yakinkah Anda bahwa si dia yang pada waktu pacaran saja sudah berani memukul, akan berubah lembut setelah menikah? Sudah yakinkah Anda bahwa sifat "kejam"nya saat pertama kenal akan berubah "baik" setelah menikah? Sudah yakinkah Anda? Sekali lagi, sudah yakinkah Anda bahwa si dia akan berubah sesuai dengan keinginan Anda? 

Saya pribadi berani menjawab, TIDAK! Saya pikir, Anda pun akan menjawab demikian setelah merenungi apa yang telah terjadi belakangan, bukan? 

Hmm... kenapa begitu banyak KDRT terjadi, begitu banyak angka perceraian yang tercatat di pengadilan agama, itu karena sejak awal kita merasa yakin menerima si dia apa adanya dan yakin bahwa dia akan berubah dari buruk menjadi baik setelah menikah. Nyatanya apa? Kita tidak bisa mengubah kepribadan seseorang semudah mengoperasi wajahnya.

Jika dari awal, kita memilih seseorang yang pemalas, sekalipun dia berjanji akan mengubah sifat malasnya, toh... kita harus ingat bahwa sifat itu adalah ciri khas dalam kepribadian seseorang dan amat sangat sulit untuk mengubahnya, baik itu ada kesadaran dari individunya ataupun adanya dorongan eksternal dari kita atau keluarganya.

Memiliki pasangan yang setia, baik luar dalam, bertanggung jawab, salih, religius dan sebagainya memang merupakan idealisme kita semua, kan? Tapi, saat memutuskan untuk menikah, masih saja ada seseorang yang "kecolongan" seolah ditipu oleh janji-janji manis dari si dia. Awalnya saja baik, manis dan lembut. Tapi, setelah menikah, bisa saja berubah ganal, kasar dan sering memperlakukan istrinya secara keji.

Lalu, bagaimana caranya agar hal itu tidak kita alami? Caranya yaa... carilah yang sejak awal memang BENAR-BENAR BAIK LUAR DALAM. Tapi, makhluk yang seperti ini agak-agak sulit untuk dicari. Bak satu banding seribu. Caranya bisa dengan ta'aruf. Pada saat tahap perkenalan dan usai membaca proposal diri masing-masing, mengetahui visi dan misi masing-masing, dan apabila di tengah-tengah ternyata kita temukan "kekurangan", maka hal ini bisa dinegosiasikan. Jika memang kekurangan ini masih bisa diterima dengan lapang dada, ya tidak ada masalah, silakan dilanjutkan. Namun, apabila kita merasa kekurangan itu adalah hal paling urgent yang sulit untuk diubah, sulit untuk dinegosiasikan, sulit untuk dipertimbangkan, maka sampaikanlah dengan baik-baik dan putuskan dengan baik-baik, apakah ingin melanjutkan atau menyudahinya. Yaaah... tidak selamanya ta'aruf itu berujung "diterima" dan dilanjutkan ke proses selanjutnya, kan? Jadi, yaaa harus ikhlas dengan apapun keputusannya.

Tidak jarang, dalam proses ta'aruf tersebut, para calon pasangan menemukan keberatan saat mempertimbangkan "sifat" masing-masing. Memang sih, kelebihan kita akan menutupi kekurangannya dan begitu pula sebaliknya. Tapi, kita juga harus tahu, tidak semua bisa diupayakan perubahannya. Jika misalnya yang membuat kita keberatan itu karena sifat si dia yang malas bersih-bersih, mungkin masih bisa ditolerir dan diajarkan pelan-pelan tentang kebersihan. Namun, jika misalnya sifatnya itu keras, susah mengendalikan emosi saat sedang marah, naah ini yang perlu dipertimbangkan berkali-kali. Kita perlu mengecek, bagaimana reaksinya saat marah? Apakah dia main tangan atau justru lebih banyak diam saat tengah marah? Apakah dia akan berkata kasar? Apakah egonya tinggi dan susah untuk diturunkan ketika labil? Bagaimana cara mengingatkannya saat sedang khilaf? Bagaimana... dan bagaimana lainnya.

Tapi, bagi kalian yang memang lagi pacaran, tidak ada salahnya untuk mencari tahu tentang si dia dari berbagai orang. Sometimes, cinta itu membutakan kita dari melihat sisi buruk pasangan. Tapi, bila semasa pacaran, walaupun mungkin si dia punya sifat yang keras dan kala bertengkar, dia tidak sampai main tangan, kalaupun kata-katanya tidak kasar tapi juga masih bisa diajak baikan setelah itu, mungkin masih tidak masalah sebab si dia masih bisa diajak berkompromi. Tergantung bagaimana sikap kita pada pasangan juga. Jika kita pun suka marah-marah, maka jangan heran jika pasangan kita pun akan tersulut sebab emosi itu menular loh.

Semenjak masuk dan kuliah di psikologi, berhubungan dengan banyak orang, sering mengasah kemampuan mengobservasi seseorang, membuat saya sering menilai seseorang secara detil. Bertemu dengan seseorang pada pandangan pertama saja, tidak jarang membuat saya bertanya-tanya, apakah dia benar-benar baik? Bagaimana caranya agar saya bisa memutuskan bahwa dia memang benar baik? Verbal seseorang bisa saja tidak sesuai dengan non verbalnya. Kalaupun di mulut berkata "A" dan hatinya pun berkata "A", belum tentu di pikirannya juga sama "A". Karena, manusia itu cirinya kalau tidak faking good ya faking bad atau menggunakan defense mechanism sebagai pengalihan masalahnya. Bukannya berprasangka buruk, tapi untuk menginterpretasi seorang manusia itu sangatlah tidak mudah. Sekalipun banyak alat-alat tes psikologi yang tercipta, pada saat skoring dan interpretasi, tidak jarang hasilnya kurang sesuai dengan apa klarifikasi orang yang bersangkutan.

Oleh karena itu, bila ingin memiliki seorang pasangan hidup yang baik, selain dengan cara memilih yang membuat kita nyaman, semua juga berpulang pada diri kita sendiri. Jodoh atau pasangan hidup adalah cerminan dari diri kita. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran bahwa wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, begitu juga sebaliknya. Dan, wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, begitu pula sebaliknya. Nah, jika pada kenyataannya ada seseorang yang malah mempunyai pasangan tidak baik sementara dirinya baik, itu kembali lagi pada bagaimana cara dia mengenal pasangannya itu sebelum memutuskan untuk menikah dan jika memang dia menikah dengan "mantan" orang yang dulunya terkenal jahat, bukan tidak mungkin sih Tuhan membukakan hidayah baginya untuk bisa berubah lebih baik asal kita pun sanggup membimbingnya ke arah yang baik dan paling penting adalah saling mengingatkan. Terkadang, banyak juga orang-orang yang sudah menikah, ketika ditanya, apakah Anda sudah percaya bahwa istri atau suami Anda benar-benar baik? Mereka rata-rata menjawabnya, "Saya tidak tahu, tapi saya percaya." Kepercayaan saja tentu tidak cukup. Kalau sudah terlanjur, yaaa... itulah konsekuensi yang harus dijalani dan diterima dengan lapang dada.

Jadi, sebelum memutuskan untuk menikah, kita juga harus mempersiapkan diri. Kata mencari pasangan yang baik itu tampak klise. Menurut saya, tidak perlu kita mencari yang terbaik karena yang sesempurna ekspektasi kita tidak akan pernah kita dapatkan di ujung dunia manapun. Sebaliknya, jadilah pribadi yang baik. Sekalipun kita bertemu dengan orang yang tidak baik, tidak menutup kemungkinan, kebaikan kita akan menjadi jalan cahaya bagi seseorang untuk menjadi lebih baik. Tentunya yang begini ini hanya kuasa Tuhan, ya sebab Tuhan itu mampu membolak-balikkan hati manusia. Sifat itu memang sulit diubah tapi bukan berarti kita tidak bisa berlatih untuk menjadi lebih baik daripada sifat tersebut. Kalau dalam satu hari seseorang yang sifatnya buruk melakukan sesuatu yang tidak baik, bukan berarti dalam satu hari 24 jam itu juga seterusnya atau di hari-hari berikutnya dia tidak melakukan hal-hal baik, pasti ada kebaikannya juga kok.

Kalau saya sendiri, saya punya ciri khas sebagai orang yang introvert. Namun, ada beberapa indikator yang masih saya miliki, ada pula yang sudah tidak lagi dimiliki karena proses belajar semenjak remaja hingga sekarang. Orang introvert itu adalah mereka yang suka menyendiri (saya pun terkadang masih suka menyendiri, apalagi saat sedang belajar atau sibuk mengerjakan sesuatu atau sedang menulis, saya tentu tak ingin diganggu), tidak suka basa-basi (inipun saya banget, kalau sedang serius berhadapan dengan situasi yang serius, saya tak suka basa-basi, saya lebih suka langsung to the point), merasa sendiri di keramaian (ini indikator yang sudah tak begitu melekat lagi karena adanya proses belajar, saat saya tengah berlomba pidato, saat saya berbicara sebagai dosen di depan mahasiswa saya, saat saya sedang menjadi pemateri di pelatihan, tentu saya perlu berbaur dan menganggap mereka "ada" bersama saya. Dengan proses belajar tersebut, saya tak lagi merasa sepi saat di tempat ramai karena ikut menikmati keramaian itu bersama teman/sahabat/keluarga juga), memperhatikan detil yang orang lain tidak lakukan (ini saya banget, apa yang tak terlihat oleh orang lain, terkadang malah saya lakukan dan mendadak membuat orang lain sering berkata "oh iya ya", "hmm...baru tahu".), sering berbicara dalam hati (setiap ingin melakukan sesuatu atau mengatakan sesuatu atau tengah sendiri di tempat-tempat tertentu, pasti saya sering berbicara sendiri dalam hati atau berbicara dengan diri saya sendiri seolah ada teman yang mendengarkan, padahal tidak ada. Kenapa begitu? berbicara dengan diri sendiri saya butuhkan untuk dapat mengevaluasi diri dan bertafakkur), lebih mudah mengungkap segalanya melalui tulisan daripada berbicara langsung (it's me, bukan karena sebagai penulis, tapi memang begitulah saya, terkadang ada saat di mana saya benar-benar jauh lebih rileks menumpahkan segalanya lewat tulisan daripada diminta mengatakannya secara langsung, bukan karena gugup tapi yaa memang seperti kenyataannya), lebih baik membaca buku di rumah daripada diajak ke pesta (Ini adalah indikator yang juga tidak begitu melekat, tapi lebih dikontrol saja. ada saat di mana saya harus keluar dan berhadapan dengan banyak orang dan ada kalanya lebih baik memilih diam di rumah daripada keluar tanpa alasan yang jelas. itu semua saya sesuaikan dengan skala prioritas. kalau urusan keluarga, tentu tak mungkin saya abaikan, tapi kalau untuk pergi ke pesta yang tidak ada manfaatnya, yaa lebih baik saya tidak pergi, lebih baik membaca buku atau diam di rumah daripada ke pesta itu tapi nanti akhirnya malah bete lantaran kurang penting).

Dulu, saya juga belum pandai mengendalikan amarah dengan kata lain, saat marah, masih suka menjauh atau menarik diri sejenak dari lingkungan atau membanting-banting bantal dalam kamar. Semenjak kuliah di psikologi, alhamdulillah, saya menyadari perubahan yang signifikan. Saya mulai berbaur dan menjalin hubungan dengan lingkungan sekitar. Saat sedang dimarahi, saya memilih untuk mendengarkan kemarahan orang itu hingga selesai lalu memilih untuk diam dan berpikir apa yang salah dari diri saya. Begitu juga kalau sedang marah, misal lagi marah sama adek yang malas dibangunin shalat atau karena adek yang susah diomongin, tentu tidak sampai membanting barang atau ngacak-acak kamar kayak zaman remaja dulu, hehe... (saya paling nggak suka liat apapun berantakan). Tapi, saat marah, saya cukup menegur dan kembali diam lalu mendoakan. Karena memang manusia sulit untuk diubah, tidak mungkin saya mengubah adek saya secara instan, dan karena sudah sulit diberitahu, yang saya lakukan hanyalah berdoa dan tetap konsisten menunjukkan teladan yang baik. Misal, karena adek saya susah shalat tepat waktu apalagi shalat subuh, saat dia tidak mempan ditegur, saya tetap berkomitmen menunjukkan konsistensi untuk shalat tepat waktu. Walaupun adek belum mencontoh, tapi setidaknya, alhamdulillah Mama saya yang mulai ngikut shalat tepat waktu. Kalau saya marah dengan membuang energi dengan bantingin barang, waaaahhh.... sayang barangnya dan capek juga saya nanti, hehe. Biasanya sih kalau lagi dongkol, ngalihinnya dengan diam sambil nulis blog, main games atau ngaji. Sejauh ini sih, lebih banyak mengalihkannya dengan menulis atau mengaji atau membaca buku.

Yaa, itu sih bukan hanya karena saya pernah kuliah di psikologi, lantas bisa mengelola diri sedemikian rupa. Tapi, semua itu kembali lagi pada diri masing-masing. Dan, tentunya, jangan pernah lepas atau bahkan lari dari Tuhan. Sebab, sejauh mana kita mengenal dan dekat dengan Tuhan, maka sejauh itu pula kita mengenal diri kita sendiri dan mampu mengasah intuisi untuk senantiasa mengevaluasi diri dengan baik.

Jadi, jangan pernah takut untuk belajar memperbaiki diri dan menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak kepribadian kita. Jangan lupa pula untuk senantiasa memohon pada Allah, berdoa dan terus berharap hanya pada-Nya. Bisa juga tuh tiap shalat, kita berdoa seperti ini:
"Ya Allah luruskanlah akidahku, luaskanlah wawasan dan pengetahuanku, mampukanlah aku untuk bertanggung jawab atas diriku dan orang lain, baguskanlah amalanku, indahkanlah akhlakku, lembutkanlah hati dan lisanku dan jadikanlah setiap ketetapanMu padaku adalah ketetapan yang awal dan akhirnya baik, serta berikanlah aku pasangan yang juga lurus akidahnya, luas wawasannya, mampu bertanggung jawab atas dirinya, atas aku dan orang lain di sekitarku, yang bagus dan baik amalannya, yang indah akhlaknya, yang lembut hati serta lisannya dan jadikanlah setiap ketetapanMu atas aku dan dia adalah ketetapan yang awal serta akhirnya penuh dengan kebaikan."
Aamiin ya rabbal'aalamiin...

Yuk, persiapkan diri sebaik-baiknya agar bisa menjadi pasangan yang baik untuk seseorang di masa depan nanti.

Semangaaat!!! ^___^

5 comments:

  1. semoga mba mendapat jodoh terbaik, pria shaleh yang berhati dan berakhlak baik, aamiin ^^

    ReplyDelete
  2. Ohh ya mb boleh tanya nggak............
    Kalau kepribadiannya pendiam terus diubah jadi banyak bicara bisa nggak...... tolong dong balasannya

    ReplyDelete
  3. bagusss tulisannyaa! :") lagi iseng cari di google ternyata muncul blog ini. heeeheheternyata dlunya psikologi juga yaa!

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.