Saturday, January 4, 2014

FIKSI: KAMU??

Aku masih termenung di depan layar komputer jinjing, di meja persegi tepat di seberang tempat tidurku.  Jemariku sibuk meremas-remas gamis warna salem yang kukenakan pagi ini. Mataku dibanjiri ketegangan dan rasa penasaran. Kuselidiki baik-baik paragraf yang tertera di kotak email. Tak ada gombalan yang bersumber dari nafsu. Tapi, entah mengapa begitu manis bagiku.

"Aina, apa kamu udah baca?" Seorang perempuan bergamis hijau pupus datang sambil membawa dua gelas cokelat panas. Satu gelas untukku dan satu lagi untuknya.
'Terima kasih," ucapku sambil meletakkan gelas itu ke mejaku lalu buru-buru kututup laptopku. "Eum, baca apa, Mia?" tanyaku tak paham.

"Kamu ini masih 24 tahun masa udah pikun sih?" seloroh Mia lalu mengipas segelas cokelat panasnya dengan sebuah buku.
Aku mengernyit, sungguh tak paham dengan maksud sahabat satu kostku itu. "Beneran, Mia.... Aku nggak mengerti ucapan kamu?"
Bibir tebal Mia melintangkan senyum tipis, "Email dari Ustazah Fia itu?"

Mataku membelalak. Kututup mulutku dengan tangan kanan. Sedari tadi, aku membatin. Bagaimana Mia bisa tahu kalau pagi ini, lima menit yang lalu, aku baru saja membaca sebuah email? Hanya saja email yang kubaca tadi bukan dari Ustazah Fia.

"Aina...''
"Amm, tadi aku sempat buka tapi sepertinya banyak email yang masuk, jadi aku belum baca dari Ustazah Fia."
Mia mengangguk usai menyeruput cokelat panasnya, "Ooh... eh, tapi, kenapa beliau ngirimin kamu email sih? Apa ada info penting tentang halaqoh kita sore ini?"
Aku hanya mengedikkan bahu.
"Ya udah... Aku balik ke kamarku ya. Nanti sore, kita berangkat halaqoh bareng ya, Na!" seru Mia sambil menghalau tangannya, keluar dari kamarku.

Aku menghela napas dalam-dalam. Kubuka lagi laptopku yang masih standby. Telunjukku cepat-cepat menggerakkan kursor ke bawah halaman. Kucari email dari Ustazah Fia. Aha, ketemu!

Ku-klik email itu. Sekilas, isinya cukup panjang. Kira-kira ada sekitar empat paragraf pendek. Kuarahkan mata dari atas ke bawah, membacanya dengan seksama. Astaga! Kalimat itu... Kenapa kalimat itu sama dengan yang termaktub dalam email pertama yang kubaca tadi? Ustazah Fia... mengenalnya. Jadi, email pertama itu ada hubungannya dengan email Ustazah Fia.

Kuteguk segelas cokelat yang telah mendingin itu sampai habis. Lalu, kumatikan laptop dan mengambil tas kecil di atas lemari yang hanya bejarak satu meter dari meja belajar. Cepat-cepat kupakai kaus kaki dan flat shoes ku. Kukunci kamar dan pergi.
***
“Ustazah?”
Anti udah baca emailnya?” tanya seorang perempuan bergamis hitam dengan bergo putih besar.

Tidak biasanya aku tampak canggung seperti ini. Di salah satu balkon bagian dalam masjid AR. Fachruddin, kami duduk berhadapan. Aku bersandar di tembok sementara Ustazah Fia bersandar di dekat pintu cokelat berbahan kaca transparan yang memisahkan antara balkon dan ruang salat. Kulihat sepasang mata bulat murabbiku berbinar-binar, kilatannya menembus lapisan lensa bening yang sedang dikenakannya. Selang beberapa detik setelah saling pandang, dia kembali tertunduk sambil memeriksa buku catatan halaqoh milikku. Kebetulan, hanya ada aku yang datang pada halaqoh hari ini. Sementara teman-teman yang lain didesak oleh hambatan keperluan lain. Mia juga mendadak diminta pulang kampung oleh ibunya. Jadilah kami hanya berdua: aku dan Ustazah Fia.

“Apa jawaban Anti?” Ustazah Fia mengganti posisi duduknya dengan bersila. Digeser gagang kacamata yang hampir melorot dari hidung mungilnya kemudian memicing ke arahku sambil menyungging senyum hangat.

Kegugupan sontak menggedor-gedor dadaku. Entah kalimat apa yang harus kulantunkan padanya. Sedari tadi aku masih duduk bersila dengan punggung bersandar ke tembok. Kedua tanganku kuletakkan di antara apitan sila kaki. Jari-jariku sibuk mengetuk-ngetuk ujung pulpen hitam. Bibir kukulum rapat-rapat. Sementara mataku berlarian ke sana kemari, menangkap bayangan nyamuk yang mungkin akan terekam dari lantai-lantai putih di sekitarku.

“Kalau Anti masih bingung, ya nggak apa-apa, nggak perlu dijawab sekarang. Tapi, Ana cuma mau ngasih tahu kalau orang yang Ana maksud dalam email itu insya Allah punya akhlak yang hanif. Dia juga berasal dari keluarga cukup terpandang sama seperti Anti dan pengetahuan agamanya juga nggak perlu diragukan lagi,” papar Ustazah Fia sembari menyentuh salah satu lututku.

“Tapi, Ustazah... Apa aku boleh meminta fotonya?”
“Boleh... Nanti Ana mintakan sama dia ya. Ada lagi?”
“Eum... Kalau dilihat dari biodatanya, sepertinya... dia itu cukup familiar buat saya,” pikirku sambil mengerutkan dahi.
“Oh ya? Apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya?”
Aku menggeleng ragu, “Aku juga nggak tahu, Ustazah. Tapi, beberapa tahun yang lalu, aku juga pernah mengenal seseorang dengan nama serupa. Tapi, aku nggak tahu nama lengkap orang yang dulu kukenal itu.”
“Oh... begitu. Ya sudah... Kalau gitu, kita sudahi halaqoh hari ini ya. Hapalan surat-suratnya jangan lupa ditambah lagi minggu depan. Oke?”
“Iya, insya Allah.”
***
Hujan. Tapi, aku kurang menikmati hari ini. Sore ini, di masjid yang sama, aku dan Ustazah Fia sedang menanti seseorang. Seseorang yang selama seminggu ini telah mengganggu konsentrasiku. Ustazah Fia memintaku untuk datang lebih awal dari jadwal pertemuan yang ditentukan. Sejak lima menit yang lalu, aku terus mondar-mandir di depan selasar masjid AR. Fachruddin. Pikiranku lelah menebak. Mata dan telunjuk kananku lebih memilih mengerjakan hal yang amat tidak penting: menghitung jumlah sepatu dan sandal yang ada di sekitar tempatku berdiri.

Sementara itu, Ustazah Fia terlihat nyaman dan datar-datar saja. Dia duduk dengan kalem di depanku sambil memijat-mijat layar ponsel pintarnya. Dia tahu aku sedang gusar, tapi diam saja dan sesekali menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.

“Assalamu’alaikum...”

Kira-kira, satu meter di belakangku, terdengar seruan salam. Nadanya lembut dan renyah. Ustazah Fia langsung berdiri dan berjalan dua langkah, membalas salam dan menyambut pemberi salam itu.

Ukh, ini orangnya sudah datang,” sahut Ustazah Fia sambil menepuk bahuku.

Aku makin gugup. Ada getaran kecil di sekitar telapak hingga mata kakiku. Haruskah aku berbalik badan sekarang? Tapi, rasanya aku belum benar-benar siap menebak siapa orang yang dimaksud Ustazah Fia. Sebelum berbalik, kupanggil memoriku lebih cepat hingga ke dalam-dalam. Kucari lagi ingatan tentang nama seseorang yang dulu kukenal. Nama panggilannya mirip dengan kepunyaan orang di belakangku. Tapi, tampaknya memoriku sedang tersandung. Aku gagal mengingatnya.

Ukh Aina...” Ustazah Fia mengetuk bahuku sekali lagi. Ini ketukan terakhir sebelum aku berbalik.

Kuhitung mundur, tiga... dua... satu...

“Masya Allah!” gumamku dalam hati. Jantungku terjun bebas dari singgasananya. Kutahan denyutan nadi yang terlampau cepat ini dengan tanganku, kueratkan ke dada. Kutarik napasku sambil menunduk. Ya, aku sudah melihat wajah orang itu.

“Lama nggak ketemu? Apa kabar, Bu?” tanya seorang pria berbaju koko putih dengan pantalon hitam.
“Bu? Maksud Antum apa, kok manggil Ukh Aina dengan sebutan Ibu?” Ustazah Fia bingung seketika.

Ingatan itupun akhirnya kuingat kembali. Dua tahun berlalu, sudah cukup banyak perubahan yang terjadi. Dia adalah orang yang ada dalam ingatanku itu. Pria berwajah bulat dengan kulit dominan kuning langsat itu tersenyum semakin renyah. Rambut pendek hitamnya tersisir cukup rapi, terbelah di samping kanan. Barisan gigi putih rata yang dipagari kawat warna transparan miliknya semakin manis. Lesung di pipi kanannya juga ikut mengintip. Ada yang beda darinya, janggut tipisnya mulai tumbuh tapi tidak terlihat rambut-rambut halus menyemak di pelipis. Aku hanya menangkap wajahnya sekilas. Pemandangan ini tak sanggup kuteruskan.

“Apa Akh Aditya udah kenal sama Ukh Aina?” tanya Ustazah Fia lagi.

Aku mengangguk lemah sambil menahan senyum malu.

“Iya, Ustazah. Dua tahun yang lalu, kami ketemu di kelas Psikopatologi Anak dan Remaja. Dia berdiri di depan kami sambil menerangkan materi,” tutur pria itu sambil mengingat bagian yang paling diingatnya.
“Loh, maksudnya? Kalian pernah sekelas gitu?”
“Bukan...”
“Lalu?”
“Dia dosenku.”

Pernyataan pria yang usianya terpaut tiga tahun di atasku itu sontak membuat Ustazah Fia geleng-geleng kepala, seolah tak percaya. Memang benar. Dua tahun yang lalu, aku dan Aditya bertemu dalam status yang berbeda. Dia mahasiswa sedang aku dosen. Dia adalah mahasiswa paling tua di kelas, itu karena dia terlambat daftar kuliah. Tak pernah kusangka bila ternyata Aditya mengenal Ustazah Fia. Lebih dari itu, aku tak pernah menduga Aditya akan bertindak sejauh ini. Dulu, tak pernah ada tanda-tanda apapun yang menyiratkan hal ini.

Mendengar cerita kami, Ustazah Fia tertawa sendiri. Dan, senja di AR. Fachruddin ini menjadi saksi di mana sang mahasiswa mengutarakan kesungguhan untuk melamar dosennya sendiri.

--cerita ini fiktif belaka, terinspirasi dari FTV yang ada di SCTV dulu, ada seorang mahasiswa yang suka sama dosennya-- ^_^

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini.