Saturday, January 4, 2014

CATATAN HATI DOSEN JUNIOR (EDISI RESIGN)

Alhamdulillah, selesai juga kewajiban sebagai dosen. Saya memilih resign (nggak perpanjang kontrak) karena mau pindahan ke Malang. Tapi... bukan itu yang mau saya ceritakan.

Kamis kemarin, pagi-pagi saya ke kampus, ngumpulin nilai dua kelas yang saya ajar. Ketika lagi nyatet nilai untuk yang belum disetor, datang seorang Bapak (orangtua mahasiswa) bertamu ke kantor jurusan.

Saya nulis sambil duduk di kubikel meja dosen yang kosong di belakang (numpang duduk ceritanya). Lalu, sambil nulis, saya juga dengerin keluh-kesah Bapak itu. Beliau bercerita kalau anaknya sering tidak masuk kuliah. Beliau sampai bela-belain terbang dari luar pulau ke Parepare buat ngomongin soal ini. Anaknya (dia bukan mahasiswi di jurusan yang saya ajar jadi kurang tahu juga). Bapaknya cerita kalo anaknya ini sering banget kecelakaan dan sakit. Makanya jarang masuk. Bu Dosen yang kebetulan ngajar di kelas anak itu mengakui bahwa memang si anak jarang ikut kelas. Sampai si Bapak ini nyesel banget, tahu anaknya malah makin malas kuliah. Udah berapa juta tuh duit yang dibuang.

Eherm, mencermati kasus mahasiswi itu, saya jadi kasihan sama para orangtua. Sebenarnya, bukan hanya satu kasus itu aja. Banyak kasus yang masih tersembunyi, termasuk beberapa mahasiswa di kelas yang saya ajar. Banyak mahasiswa (laki-laki) yang memandang remeh kegiatan perkuliahan. Masuk seenaknya, pulang seenaknya, alpha seenaknya, masuk cuma nitip absen dan setelah itu kabur entah ke mana, nggak ikut ujian, nggak ngerjain tugas, datang terlambat (terlambatnya keterlaluan sampai satu jam, ini serius), nggak bawa buku, hasil ujiannya anjlok dan masalah lainnya. Ada juga mahasiswa yang baru semester awal udah kerja, jadi kuliahnya nggak dilanjutin (dibiarin gitu aja) karena pagi sampai sore harus kerja. Ada juga yang udah kerja dan bisa cari uang sendiri, terus seenaknya ambil cuti kuliah berlama-lama malah ada yang kabur dari bangku kuliah tanpa sepengetahuan orangtua.

Bukan hanya mahasiswa yang bermasalah, tapi juga pendidiknya (dosen). Dari data semu yang ada, hanya sedikit yang terdaftar sebagai dosen tetap sementara yang lain hanya honorer seperti saya. Tapi, saya heran, pola hidup mahasiswa seolah sejalan dengan dosen-dosen tersebut. Permasalahan yang mereka alami sama persis. Masih ada dosen yang datang terlambat, ada yang nggak sampai memenuhi target minimal pertemuan sesuai SKS, ada juga yang nyambi kerja di kota atau tempat lain akhirnya tugas mereka terbengkalai.

Kamis siang kemarin, saya berkunjung ke rumah salah satu teman saya (mahasiswi saya di kelas semester dua tahun lalu). Kami banyak bertukar pikiran. Kasihan juga sih, dia dan teman-teman masih banyak yang belum UAS padahal bulan ini terakhir pengumpulan nilai tuh tanggal 10. Sementara itu masih banyak dosen yang ngegantungin mereka karena target pertemuan yang sangaaaat minim (rata-rata baru selesai 5 pertemuan dan lebih sedikit dari itu). Belum lagi ada isu tahun lalu, seorang dosen (saya juga nggak tahu orangnya yang mana dan nggak penting untuk disebutin juga sih) yang "memalak" mahasiswa yang ngekos di rumahnya.

Dari kasus di atas, saya sangat berharap, sistem yang ada di sekolah perguruan tinggi negeri utamanya di daerah atau kota-kota kecil bisa segera dibenahi. Masih banyak fasilitas yang kurang memadai di antaranya ruang kelas yang jorok, perpustakaan yang minim buku, tata tertib mahasiswa dan dosen. Tenaga pendidiknya juga perlu di-update dan dibina lebih ketat lagi. Maaf, saya memang junior tapi kalau boleh usul, dalam penjaringan tenaga dosen, sebaiknya dipilih yang benar-benar tinggi komitmennya. Nggak cuma berdasarkan kecakapan intelektual atau tingginya "strata pendidikan", tapi juga dari segi kepribadian dan kedisiplinan. Buktinya, masih ada dosen di luar sana yang kurang disiplin. Alhasil, saya bilang, jangan salahkan bila mahasiswa di dalam perguruan tinggi tersebut (di manapun itu) akan meniru kelakuan dosen/gurunya. Karena mahasiswa itu adalah anak dan dosen adalah orangtua. Anak adalah mesin fotokopi orangtua yang paling canggih. So, dosen-dosen pun harus berkaca diri, introspeksi, berubah.

Bagi teman-teman yang ingin mencoba tantangan bekerja sebagai dosen junior di beberapa perguruan tinggi negeri di kota-kota kecil kayak saya, silakan aja dan berikanlah yang terbaik! Banyak sekali kisah-kisah yang pasti bakal kalian alami di sana. Beda kalau ngajar di perguruan tinggi berkelas, keren dan sistemnya udah bagus, tantangannya emang lebih besar lagi, tapi saya pikir kalian coba dulu dari level bawah. 

Nggak tahu mau ngomong apa lagi. Tapi, saya berharap, semoga ke depannya, perguruan tinggi dan para pendidik yang terpilih bisa lebih berdedikasi dan berkualitas tinggi. Semoga sistem dalam lembaga pendidikannya juga bisa segera dibenahi biar dapat nilai akreditasi baik juga. Kasihan mahasiswa atau lulusannya kalo sistemnya masih kurang baik dan akreditasnya buruk.

Sekali lagi, bekerjalah dengan cerdas dan ikhlas. Bekerjalah pake hati, gaji yang dikit atau banyak itu cuma efek samping, yang penting berikan yang terbaik yang kalian punya. ^__^

2 comments:

  1. mau nanya nih klo mau kerja di PTN nunggu ada lowongan ada langsung masukkan berkas? trus syaratnya apaan aja? thanks before

    ReplyDelete
  2. biasanya karena ada rekomendasi dari pihak PTN itu sendiri. sy dulu karena direkomendasikan sm PTNnya jd lgsung kasih berkas aja tanpa ikut tes. tp klo yg umumnya, syarat minimal jadi dosen itu di mana2 harus S2 dan ada tes yg harus diikuti dari PTN/PTS itu sendiri. :)

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini. Bila ingin share tulisan ini, tolong sertakan link ya. Yuk sama-sama belajar untuk gak plagiasi.