Tuesday, August 13, 2013

DI KALA SAKIT

Dari kemarin, demam melanda...
Sampai pagi ini, ada seorang sahabat karib datang ke rumah membawakan oleh-oleh dari pulang umroh.
Masih lemas dan... mudah-mudahan tidak jadi flu.


Kalau sakit begini, saya selalu ingat kata Dokter Bram. Beliau pernah share di timeline, kalau mau sakit atau lagi sakit, makanlah dengan porsi dua atau tiga kali lipat dari porsi biasanya, tidurlah lebih banyak dan minum lebih banyak. Saat kuliah dulu, saya sudah mulai mempraktekkan saran beliau. Kemarin pun saya coba praktek. Tapi, mungkin saya saja yang bandel. Saat sakit begini, saya paling susah makan nasi, apalagi dalam porsi "besar". Beda lagi kalau ngemil, saya malah suka ngemil kalau sakit. Pernah saya mencoba makan nasi dengan porsi yang menurut saya "porsi kuli" seperti yang dikatakan beliau. Yang ada... saya malah psikosomatis duluan melihat tumpukan nasi yang sudah seperti gunung Himalaya bagi saya (hhee... lebay). Saran beliau menurut saya beda dari dokter-dokter yang pernah saya jumpai. Memang sih, Islam ngajarin, kalau sakit, berlagaklah seperti orang sehat. Mungkin, itu adalah landasan yang dipakai beliau. Hehee... tapi... saya malah psikosomatis kalau makan banyak seperti itu.

Saya tidak tahu apa penyebab saya sakit sekarang. Tapi, seperti kontak batin dengan Bapak. Kemarin pagi, Bapak menelepon. Beliau bilang sedang ada di rumah sakit karena gejala vertigo (kepalanya sering sakit). Saat itu juga, saya mulai demam sampai sekarang. Yaa... mudah-mudahan Bapak lekas sembuh dan bisa kembali beraktivitas. Kasihan, di Malang, beliau sendirian tinggal di rumah, sementara adek tinggal di rumah saudara Bapak karena rumah yang ditempati Bapak (rumah kami) masih dicor.

Di antara semua anggota keluarga, saya bersyukur, sayalah orang yang ketika sakit, tak pernah sampai opname di rumah sakit. Saya ingat betul, mungkin saya salah satu orang yang punya kartu berobat paling banyak di antara anggota keluarga lain. Apalagi saat kuliah dulu, seluruh tempat yang saya singgahi, entah itu Puskesmas atau rumah sakit dan Medical Center milik kampus, semua saya jabanin sampai bingung sendiri menyimpan kartu-kartu berobat itu.

Kalau sakit yang parah, mungkin saat kuliah dulu, sampai dokternya saja rela menelepon ngecek kabar saya. Saya pernah sakit demam seperti ini, tapi bedanya dulu itu lebih parah. Saat semester dua atau tiga kuliah, liburan tiba dan saya demam tinggi. Saya nginap di rumah Om (adik Bapak). Demam saya tak kunjung berhenti. Sampai sekitar seminggu, saya makin tak bisa bangun dari tempat tidur dan... makin kurus. Sampai dua minggu, akhirnya Om yang satunya bawa saya ke klinik dekat kompleks rumah. Di klinik itu, saya mendapat resep obat 4 x 1. Resep yang belum pernah saya dapat seumur hidup kalau sakit. Pas di klinik, Om saya malah senyam-senyum, karena saya diperiksa oleh dokter yang masih sangat muda, ganteng pula, hahaa. Malah saya heran, dokter itu sampai berpesan pada saya untuk tidak telat minum obat setiap enam jam sekali dengan beberapa butir obat. Lalu, lebih surprise-nya lagi, sang dokter ganteng itu malah menelepon saya pagi-pagi sekali sehari setelah saya ke klinik itu. Dia menelepon dan menanyakan kabar saya, apakah obatnya sudah diminum dan bagaimana reaksinya. Saya bilang saja sudah mendingan, padahal masih kliyengan. Saya tidak tahu, apakah dokternya memang begitu pada semua pasiennya atau karena dia memang khawatir dengan saya yang belum pernah memakan resep obat 4 x 1 yang dia bilang itu obat termasuk dosis tinggi dan harus dihabiskan. Alhamdulillah, saya pun sembuh setelah memasuki minggu ketiga.

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini. Bila ingin share tulisan ini, tolong sertakan link ya. Yuk sama-sama belajar untuk gak plagiasi.