Saturday, September 21, 2013

LESBIAN; ABNORMALITAS ATAU LIFESTYLE?

Hai.. haiiii... :D Sudah lama aja nih, saya nggak posting seputar psikologi. Barusan, saya mampir nyari ide buat nulis artikel. Nah, nemu deh judul ini. Meski terbilang bukan sesuatu hal yang baru, tapi saya juga mau coba berbagi seputar Lesbian ini.

Lesbian atau secara garis besar kita sebut sebagai homoseksualitas, fenomena ini memang bukan hal baru, karena pada zaman Nabi Luth pun, telah banyak terjadi seperti ini. Sekarang, kita bahas yuk tentang topik ini.
satumedia.info
Perspektif Psikologi Tentang Lesbian

Lesbian berasal dari kata Lesbos. Lesbos itu adalah sebuah pulau di tengah Lautan Egeis, pada zaman kuno dihuni oleh para wanita (Kartono, 1985). 
Psikologi adalah salah satu bidang ilmu yang pertama melakukan penelitian terkait homoseksualitas. Di sepanjang abad ke-20, Psikologi memandang homoseksualitas sebagai model penyimpangan atau bahasa kerennya, model perilaku yang patologis. Sebagian besar subjek penelitiannya rata-rata diambil dari pasien RSJ, narapidana di penjara atau mereka yang sering datang konsultasi di psikolog-psikolog.

Pada tahun 1970-an, terjadi pergeseran pandangan terhadap homoseksualitas ini. Ini berawal dari protes yang dilakukan oleh para aktivis gay dibantu banyak psikiatris dalam konferensi di San Fransisco. Sebagai dampaknya, maka lesbian dan homoseksual ini kemudian dibuang dari DSM (Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorder) oleh APA (American Psychiatric Association). Setelah terjadi pemungutan suara oleh para komite APA tahun 1973 dan dikonfirmasi oleh keanggotaan APA tahun 1974, maka disimpulkanlah bahwa: homoseksual bukan lagi termasuk jenis gangguan mental, melainkan gangguan orientasi seksual. Kemudian, tahun 1975, APA mendesak para psikiatris agar menghilangkan stigma "sakit jiwa" pada para kaum homoseksual dan lesbian ini.

Perkembangan Lesbian di Indonesia

Bukan hanya di negara Barat saja kita mengenal begitu banyak forum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transeksual) ini. Di Indonesia zaman kini pun kian marak menjamur berbagai forum pemerhati homoseksualitas ini. Entah itu grup-grup "closed" di Facebook atau di jejaring maya lainnya.


Para peneliti di Cornell University, mengumpulkan sampel yang representatif dari wanita muda yang mencakup lebih dari 20.000 orang di 80 komunitas di seluruh Amerika Serikat, menemukan bahwa 85,1% wanita muda diidentifikasi sebagai heteroseksual; 0,5% melaporkan tidak ada identitas seksual; dan 14,4% sisanya adalah lesbian atau biseksual. Di antara pria muda, 94,0% mengidentifikasi diri mereka sebagai heteroseksual, 0,4% pria melaporkan tidak ada identitas seksual; dan 5,6% sisanya diidentifikasi sebagai gay atau biseksual.

Lalu, bagaimana proporsi kaum lesbian di Indonesia? Wallahu'alam, bisa jadi lebih sedikit atau malah lebih tinggi, mengingat di Indonesia begitu banyak budaya, agama, kebiasaan, lingkungan dsb yang dapat memengaruhi penelitian terkait orientasi seksual ini.

Tapi, jika ingin meneliti terkait homoseksual di Indonesia ini masih terbilang cukup sulit. Di beberapa universitas, mungkin judul penelitian (skripsi/thesis) terkait hal ini tidaklah sebanyak topik-topik lain. Apalagi, mencari subjek penelitian seorang lesbi/homo di Indonesia juga teramat sulit. Menurut sharing pengalaman seorang teman yang dulu mengambil tema penelitian akhir menyangkut lesbian, dia sampai harus mendapat masalah dengan si calon subjek penelitian. Tentu tidak mudah ya karena ini adalah topik yang sangaaaat sensitif. Sehingga, teman saya itu awalnya sempat dimintai bayaran tinggi untuk mewawancarai si subjek tadi.

Lain-lain

Nah, tahun 2012 kemarin, saya mendengar dari seantero fakultas psikologi (hehehe) bahwa APA telah mengganti atau merevisi DSM- IV menjadi DSM-V. Lebih mengejutkan lagi, di dalam DSM-V tersebut, LGBT atau segala hal yang berkaitan dengan diagnostik seputar orientasi seksual sudah dihapus dan tidak lagi menjadi gangguan orientasi seksual. Ini juga berkaca dari berbagai lisensi yang dikeluarkan oleh para pemerintah di negara-negara Barat yang sudah mengesahkan hubungan sesama jenis, perkawinan sesama jenis hingga tercetus hari LGBT sedunia (cuma saya lupa tanggal, bulan dan tahun berapa) sebagai bentuk perlindungan atas hak-hak kaum LGBT.

Dulu, saya sempat berada di garis PRO LGBT. Ketika itu, saya tengah mendapat tugas Psikologi Sosial, membuat sebuah paper yang isinya terkait fenomena sosial. Lalu, saya termasuk satu-satunya orang yang mengambil tema paper seputar tindakan violence terhadap kaum LGBT. Bahkan, saya pun sempat terpikir, ingin sekali mendirikan LSM untuk memberi dukungan moril bagi para kaum LGBT yang tertindas oleh masyarakat.

Hehehe... entah apa yang saya pikirkan waktu itu. Tak lama kemudian, saya pun baru sadar dari kepikunan saya. Hey, LGBT itu di mata DSM boleh berubah menjadi normal, tapi di mata agama, tentu tetap saja merupakan suatu penyimpangan. Inilah yang muncul di benak saya.

Sekarang, saya bukan ingin menekankan apakah saya PRO atau KONTRA terhadap fenomena lesbian ini. Tapi, sebagai seorang yang beragama, tentu saya tetap berkeyakinan bahwa itu adalah perilaku menyimpang. Dan, sebagai seorang ilmuwan psikologi, saya tentu tidak akan menutup "pintu" saya terhadap kaum LGBT. Saya pun pernah diminta sebagai teman sharing oleh salah satu kaum gay, namun bukan hanya fokus pada keinginannya untuk keluar dari gangguan orientasi seksual tersebut, tetapi juga keinginannya untuk menuntaskan berbagai masalah hidup yang dia akui sebagai dampak dari gangguan tersebut. Tentu, dalam konseling, kami pun diajarkan untuk tidak pilah-pilih klien, kan? Siapapun yang datang, apapun masalah dan latar belakangnya, kami harus profesional.

Penyebab Lesbian

Dari dulu, jika ditanya soal penyebab, pemicu, seringkali kita terkecoh pada jawaban yang sifatnya hanya "permukaan" saja. Tentu, permasalahan psikologis tidak semua dilatarbelakangi oleh faktor pola asuh orangtua, faktor imitasi lingkungan atau faktor "keterbatasan ekonomi".

Jika ditelisik lebih dalam, hingga sekarang pun, kita masih sulit untuk mengemukakan apa yang menjadi penyebab sehingga seseorang menjadi lesbian atau gay. Tapi, kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa hal ini justru disebabkan oleh faktor biologis individu tersebut.

Orientasi seksual sebenarnya sudah mulai muncul sejak fase pubertas. Sebab, pada fase ini, sisi emosional, sensitivitas, hubungan keakraban satu sama lain, konformitas dan proses modelling suatu figur, berkembang dengan pesat. Namun, di sisi lain, ada pula penelitian yang menyatakan bahwa faktor lingkungan lah yang lebih mendominasi.

Apakah Lesbian Itu Abnormalitas atau Lifestyle?

Ini cukup sensitif ya?! Tapi, saya hanya menuliskan artikel ini sesuai pandangan seorang alumni psikologi. Saya pribadi, tidaklah menuliskan ini sebagai bentuk kecaman terhadap kaum LGBT.

Saya ulangi, sebagai seorang ilmuwan psikologi, jika ditanya apakah lesbian/homo/biseks/transeks adalah abnormalitas atau lifestyle? Maka saya--bahkan sebagian besar ilmuwan psikologi--akan menjawab: LGBT tetaplah merupakan gangguan orientasi seksual, bukan hanya berdasarkan apa yang termaktub dalam PPDGJ (Pedoman Diagnostik Gangguan Jiwa versi Indonesia). 

Garis "normal" itu, jika digambarkan pada sebuah kurva maka akan berbentuk seperti garis lengkungan, di mana titik normal itu bukan hanya "di kanan" atau "kiri" tapi keduanya (kanan dan kiri). Sedangkan "abnormalitas" adalah titik yang berada di tengah-tengah. Jika antara hitam dan putih, maka abnormalitas itu tergolong dalam warna "abu-abu". Demikian halnya dengan "gangguan", apapun itu, dalam sudut pandang Psikologi akan menjadi suatu "abnormalitas" perilaku. 

Lalu, jika ada yang menganggap bahwa lesbian adalah lifestyle atau gaya hidup, saya pikir, itu adalah label yang pantas disematkan di "kening" budaya Barat, bukan di Indonesia. Indonesia yang sarat akan adat ketimuran dan terdiri dari berbagai agama, jelas masih menganggap LGBT sebagai suatu yang "tabu" dan "menyimpang".

Sekarang, tergantung dari diri kita pribadi, apakah kita menganggap LGBT sebagai bentuk abnormalitas atau gaya hidup???! Up to You, biarlah masyarakat atau Anda sendiri yang menilai.

:)

sumber: duniapsikologi



14 comments:

  1. Waahh.., menarik sekali...:) jadi tau kenapa mereka bisa menjadi beda...:)

    ReplyDelete
  2. Saya tahu perilaku LGBT itu salah, tapi saya juga nggak mau nge-judge. Saya punya beberapa teman yang sexual preference-nya menyimpang dan saya tahu mereka tersiksa karena itu. Mereka nggak pengen kayak gitu, tapi secara alami mereka memang nggak bisa suka sama lawan jenis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emi: :) terima kasih atas kunjungannya

      Mbak ....: hehe maaf gak tau baca huruf namanya. iya, saya juga pernah konseling dgn mereka. mereka sebenarnya memang sangat tersiksa dan pengen "normal". kebayakan mengakui ada permasalahan biologis saat mulai memasuki masa pubertas

      Delete
  3. Wuih.... tulisannya ngeri...
    TFS Mbak. Jadi banyak tahu tentang ini. :)

    ReplyDelete
  4. wah persentase yang lesbian itu ternyata lebih banyak ya, daripada yang gay. Padahal dalam keseharian yang saya lihat, justru yanng gay yang kentara. Mungkin karena faktor malu, kali ya? Jadinya yang lesbian lebih 'nyaru'. Dari Ngeri

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya..yang gay atopun transeksual (banci) lebih sering menampakkan dirinya dan mudah terekspos.

      Delete
  5. Bukan untuk menghakimi...tp hidup adalah pilihan, klo seorang muslim/muslimah tinggal pilih jln yg lurus yg sdh digariskan Rabbnya...atau mencari jln2 yg lain...hanya mau memperturutkan hawa nafsu yg sesaat atau mendambakan kenikmatan akherat yg kekal...berat memang tapi semua sebanding dg imbalannya masing2...dan mereka bth bimbingan dr org spt emak paresma u kembali ke jln yg benar...kita doakan sj ya mak mereka kembali ke jln yg benar sebelum pintu2 ampunan ditutup oleh sang Pencipta...Amiiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... saya masih jomblo Bund, belum jadi emak-emak :D suer deh.

      yap hidup itu isinya semua memang pilihan, Bund dan benar semua pilihan ada imbalannya apakah itu reward ato punishment :)

      hehe aamiin, semoga mereka segera diberi hidayah ya Bund. sy juga pernah dapat klien tp yang gay, mereka tersiksa banget dan sbnrnya pngen berubah cuma itu sih, walaupun udh konseling ato terapi sekalipun, semua keputusan akhir kembali pada pribadi masing2. sprti ayat "bagiku agamaku dan bagimu agamamu", kalo kita udh berusaha bantu tapi orangnya tetap enggan berubah, kita udh lepas tangan dan semua balik ke orangnya lagi.

      Delete
  6. Isyu sensitif krn aku tau ini salah. Yang sebel itu karena ada gejala kaum lgbt katanya suka menularkan kelainan mereka ke orang normal.. gimana tuh penjelasannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. dulu kaum lgbt cuma "ngurung diri", karena khususnya di Barat sana mereka udh punya legalitas tersendiri utk status tsb dan makin marak juga forum2 khusus kumpulan lgbt yg tadinya cm buat "pemerhati" aja, akhirnya ad pihak2 tak bertanggun jawab dari "kumpulan mereka" yg kemudian menggunakan hak legalitas itu utk menguasai yg lain, merekrut yg lain dan kemungkinan besar dengan dalih "agar semakin banyak yang peduli dan berpihak pada kelainan orientasi yg mereka alami" sehingga status lgbt ke depannya mereka harapkan sbg status "universal", gak hanya mereka tp juga msyrkt dunia.

      naudzubillah semoga itu gak terjadi, padahal kalo kita ketemu dgn lgbt yg bener2 lgbt tanpa embel2 mau nularin gangguan orientasi itu, sbnrnya mreka ga kyk gitu, mreka pun sama kyk "orang sakit" pada umumnya, juga pengen sehat dan normal

      Delete
  7. Aku pun setuju emma.. menurutku ini perilaku abnormal, bukan lifestyle.. sayang banget DSM V yg akhirnya resmi rilis bener2 menghapus LGBT.
    Yang ngeri,,karna LGBT ini "bukan" lagi perilaku abnormal, pernah ada artikel yg di share di salah 1 milis, bahwa ada orang2 dgn gangguan pedophilic yng "menuntut" penghapusan gangguan itu dari daftar perilaku abnormal. Menurut mereka, itu sudah jadi lifestyle, bukan lg abnormalitas :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Za bener juga. gimana pun juga, protes "penghapusan" gangguan itu tentu juga ngasih pengaruh ke "para penyandang gangguan lain" dgn alasan, "kalo mereka bisa "disahkan" kenapa, kita nggak?" iya kan?! dan lama2 ntar gak ada lagi yg namanya DSM... semua udah dibilang sbg gaya hidup. aneh, "gangguan" kok dibilang gaya hidup.

      yg namanya lifestyle itu sama artinya "sebuah pilihan" dalam hidup, ada konsekuensi/ganjaran/imbalannya msing2 jg. terserah deh mau pilih "gaya hidup" yg mana. semua kembali ke pribadi msing2.

      Delete
  8. Aku pun setuju emma.. menurutku ini perilaku abnormal, bukan lifestyle.. sayang banget DSM V yg akhirnya resmi rilis bener2 menghapus LGBT.
    Yang ngeri,,karna LGBT ini "bukan" lagi perilaku abnormal, pernah ada artikel yg di share di salah 1 milis, bahwa ada orang2 dgn gangguan pedophilic yng "menuntut" penghapusan gangguan itu dari daftar perilaku abnormal. Menurut mereka, itu sudah jadi lifestyle, bukan lg abnormalitas :|

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini. Bila ingin share tulisan ini, tolong sertakan link ya. Yuk sama-sama belajar untuk gak plagiasi.