Sunday, November 24, 2013

ANAK ARTIS VS SI PENGACARA, SIAPA YANG SALAH?

google
Mengamati kasus baru yang lagi heboh di Infotainment membuat otak saya jadi gatal pengen ngomentarin juga. Berawal dari kasus yang sebenarnya sudah lama, di mana Farhat seringkali memaki Ahmad Dhani. Bahkan, waktu itu, rumah tangga keluarga artis tersebut sedang di ujung tanduk. Al yang masih belum paham banget, memilih untuk diam.
Lama-kelamaan, kekesalan Al yang tadinya direpresi bertahun-tahun (sejak 2009) mulai meledak bak bom atom. Hingga akhirnya saling meledek. 

Siapakah yang salah?

Coba dengar dan lihat saja apa perkataan dari mereka"
Al: "...jangan bisanya cuma ngoceh di Twitter, kalau berani, coba buktiin kejantanannya dengan duel di ring tinju sama saya! Kalau dia emang gak mau tanding, berarti ya banci!"
Farhat: "... Saya tidak mau menanggapi. Mereka itu hanya anak kecil, bapaknya juga kecil, mereka tahunya cuma uang, tahunya cuma naik mobil. Mereka itu bodoh, malas..."

Mendengar mereka saling tuding seperti ini, tanpa sadar telah menghancurkan image mereka masing-masing. Menurut pandangan saya, di sini, tak ada yang benar. Keduanya bukan salah tapi keliru dalam bersikap. Yang muda menggelontorkan perkataan yang kurang pantas pada seseorang yang seharusnya dihormati selayaknya orangtua. Sedangkan yang tua, juga meledek dan memaki yang muda dengan judge yang sangat tidak mendidik dan bukanlah cerminan seorang intelek sejati.

Lebih parahnya lagi, si pengacara yang dulunya merupakan pembela ibu si anak ganteng ini waktu bercerai dengan suaminya, malah sesumbar di media, "Saya tahu semua rahasia mereka... Saya tahu kejelekan mereka... bla.. bla... blaaa..."

Astaghfirullaahal'adzim....

Nih ya, pertama saya mau bahas dari sisi si pengacara dulu.

Mohon maaf sebelumnya, tapi saya mencoba untuk membahas ini dari kacamata psikologi yang lagi saya pakai sekarang.

Pertama, soal si pengacara itu. Sebagai seseorang yang memiliki jabatan tinggi, apalagi dilansir ingin mencalonkan diri sebagai wakil presiden 2014, apakah pantas berkata sedemikian kasar?

Saat di wawancara mengenai kasus tersebut, beliau dikelilingi oleh warga dan tampak ada shot beliau sedang membagi-bagikan rezeki untuk para warga yang dikunjungi. Lalu, di sekeliling warga, dengan santainya, dia memuntahkan kata-kata yang kurang pantas. Hal ini adalah cerminan yang sangat tidak layak untuk dicontoh. Bisa saja, warga yang mendengar tanggapan beliau lantas tergugah untuk berkata, "Setuju", "Iya" bahkan yang saya lihat di belakangnya, ada seorang ibu berjilbab yang mengangguk seolah mengiyakan ledekan beliau terhadap si Al ini.

Nah, yang namanya ghibah, menjelekkan orang lain apalagi sampai disaksikan oleh banyak orang, bisa saja orang yang menyaksikannya akan terhasud untuk membenci orang yang dikata-katain itu, kan?

Lalu, beliau ini adalah seorang pengacara. Apakah layak seorang pengacara membocorkan kejelekan seseorang apalagi orang tersebut pernah menjadi bagian keluarga kliennya, walaupun dengan kata-kata tak langsung seperti, "Saya tahu kejelekan ayahnya... saya tahu semua rahasia keluarga mereka..."

Saya memang tak paham soal hukum, tapi kalau saja dia itu seorang konselor atau psikolog, secara tak langsung dia sudah melanggar confidentiality antara klien dengan orang yang berhubungan dengan kliennya. Tak seharusnya, dia berkata demikian, seolah memancing orang lain untuk tahu apa sih kejelekan dan rahasia buruk keluarga kliennya?

Dan satu lagi yang paling saya setujui terkait beliau, yaitu pada saat Omesh membawakan beritanya pagi kemarin. Omesh berkata, "Memang benar ya, lisan seseorang itu adalah cerminan dari kepribadiannya..."
Yap, right!!! Saya akui beliau adalah orang intelek, tapi apakah seorang intelek yang tersohor pantas berkata kasar demikian (yaa walaupun negara kita sudah menganut paham demokrasi). But, menggunjing is not demokrasi, you know! hehehe...

Lalu, soal si remaja Al.

Yang namanya remaja, emosinya jelas masih belum stabil atau tidak sestabil orang dewasa. Seperti yang saya bilang tadi, ini adalah masalah lama yang direpresi (ditekan atau ditahan-tahan) terlalu lama. 

Anak siapa sih yang tega ngebiarin orangtuanya dicaci-maki oleh orang lain apalagi oleh sang pengacara mamanya, sekalipun orangtuanya dianggap buruk di kacamata orang lain? Seburuk-buruk apapun orangtua, anak pasti akan membela orangtuanya, begitu juga sebaliknya.

Ini bisa dibilang buah busuk yang baru saja jatuh dari tangkai yang sebenarnya pohonnya itu sudah lama tumbang. Kekesalan demi kekesalan yang dipicu oleh api amarah lantaran sering mendengar cacian orang lain terhadap orang yang dicintainya, terhadap keluarganya, kemudian menggunung dan menciptakan kawah berapi. #tsaaaah...

Menurut pandangan saya, pemicu awalnya adalah keretakan keluarga (hubungan perkawinan orangtua) mereka. Perceraian, apapun masalahnya, bagaimanapun baik buruk penyelesaiannya, pasti akan menimbulkan efek traumatis dan efek emosional yang sangat tidak baik bagi perkembangan anak. Saya ngerti, Al sangat mencintai kedua orangtuanya meski telah berpisah. Tapi, secara tak sadar, ada kekecewaan yang makin mengggumpal di benaknya. Seorang anak, tentu akan menyesali mengapa orangtuanya berpisah, mengapa keluarga mereka tak seharmonis dulu, dan sebagainya. Namun, alih-alih mau marah kepada kedua orangtua, naah... kekecewaan yang terpendam dalam alam bawah sadarnya itu tiba-tiba terkompensasi ke hal lain. Apa hal lain itu? Pada orang yang telah menghina dan menginjak harga diri kedua orangtuanya, keluarganya. Karena di matanya, orangtua itu tak pernah salah, sesalah apapun mereka, seburuk apapun mereka, maka kekecewaan itu akhirnya ditumpahkan pada si pengacara yang udah maki-maki ayahnya.

Tapi, yang jelas, semua keliru. Si anak keliru, si pengacara keliru, terlebih orangtua mereka. Di sini, didikan orangtua juga berpengaruh pada si anak. Memang sih, kalau yang saya amati, dari wajah ayahnya sudah kelihatan, sang ayah adalah orang yang cukup keras dan diktator tapi di balik itu, sebenarnya ada kecintaan yang sangat luar biasa terhadap anak, sayangnya penyampaiannya kurang tepat.

Hmmm... -__- saya berharap, semoga kericuhan ini lekas berakhir dan tak ada lagi hal serupa kayak gini. Lebih baiknya lagi, buat infotainment, tolong dong, di-blur aja kata-kata kasar seseorang yang lagi diwawancarai atau sekalian saja wajahnya di-blur juga.

Ingat ya, saling menjatuhkan, saling menghina itu tak ada gunanya. Bukankah Rasulullah SAW mengajarkan pada kita untuk membalas kejahatan dengan kebaikan? Rasulullah SAW saja yang selalu mendapat perlakuan buruk selama mensyiarkan Islam, tak pernah sedikitpun berlaku kasar pada orang-orang yang sudah menghina dirinya. Memang sih, di dunia ini, orang-orang seperti itu bisa dihitung jari, tak banyak.

Nggak ada untungnya saling menjatuhkan apalagi di depan media, di depan jutaan pasang mata. Selain akan menimbulkan hasutan, juga akan menambah daftar panjang permusuhan di muka bumi ini. Yaaa.... mungkin, ini juga menjadi salah satu tanda bahwa kiamat itu semakin dekat. Semakin banyaknya permusuhan dan kejahatan, maka akan semakin memperpendek umur dunia.

Ya Allah, jagalah lisan kami dari kemudharatan dan kemaksiatan dan sebaliknya, berilah kelembutan serta kasih sayang di dalamnya. Aamiin. :)

"Jiwa-jiwa manusia ibarat pasukan. Bila saling mengenal menjadi rukun dan bila tidak saling mengenal timbul perselisihan." (HR. Muslim)

9 comments:

  1. twitwar ini gak ada habisnya ya mak, malah jadi berbalik ke mereka sendiri
    masyarakat malah menilai sendiri kualitas mereka

    ReplyDelete
  2. Semuanya sih salah....dr pengacarax yg byk omong tp g prnh mikir dl, dr keluarga si ank yg arogan bla..bla..buang2 wkt kykx ya ngomongin mrk...Astaqfirllah...

    ReplyDelete
  3. Hanna dan Irowati: Iya Bund... tapi ini bukan ngajak ghibah tapi dari twitwar ini kita ambil hikmahnya aja, bhwa lisan itu cerminan dari kepribadian seseorang. insyaallah orang baik, lisannya jg akan terjaga :)

    ReplyDelete
  4. Sudah berbulan2 ini saya gak nonton TV, tahu ttg berita ini dari internet. BTW Hadistnya sungguh menyejukkan hati.

    ReplyDelete
  5. hehehe iya Bunda Santi... hebring banget di TV jadi pengen ikut menganalisis kasusnya..

    iyaa sejuk banget ya Bund kek disiram air es gitu hihi :D

    ReplyDelete
  6. Teko berisi air kopi, ketika dituang gak akan keluar air susu.
    Yang keluar tergantug isinya.
    Kata-kata itu cermin kepribadian seseorang.

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini. Bila ingin share tulisan ini, tolong sertakan link ya. Yuk sama-sama belajar untuk gak plagiasi.