2019-07-31

SETELAH LULUS MAPRO PSIKOLOGI KLINIS

"Bahkan Setiap Penolakan Kecil Dapat Mendorong Anda Menuju Kesuksesan"
-Sophie Cornish & Holly Tucker: Build A Business From Your Kitchen Table-

Kebun Binatang Prigen


Sebelumnya, terima kasih bagi siapapun teman-teman yang sudah berkunjung ke blog ini dan mencari bacaan terkait bagaimana kuliah magister profesi psikologi dan semacamnya. Saya pikir belum ada yang mau berbagi selengkap ini sih.

Ohiya, hari ini saya mau sharing terkait perjalanan setelah lulus mapro psikologi.
Mei 2017 lalu saya sudah wisuda dari mapro psikologi di UMM. Saya angkatan 2014 ya. Kalau sekarang mungkin ada beberapa peraturan kampus yang sudah berubah. Don't really know sih. 

Setelah saya lulus dari mapro, flashback sedikit, tibalah saya di titik menjadi "pengangguran lagi". Pengangguran yang sedang mencari pekerjaan dengan level berbeda. Kalau dulu saya pernah mencicipi jadi Dosen meski cuma sebentar, maka hasrat untuk menjadi dosen sesaat setelah lulus dulu masih berapi-api. Lalu, saya masukkanlah lamaran kerja ke mana-mana. Ke perusahaan kecil hingga yang besar (dan kenapa ke perusahaan sedangkan saya ini lulusan psikolog klinis, saya bahkan sepak terjang saja semua lowongan yang ada, di pikiran saya saat itu yang penting kerja, titik). Lalu, setelah berbulan-bulan menanti, ada panggilan di salah satu BUMN ternama di Jakarta. Saya sebenarnya tidak diijinkan oleh ortu tetapi saya ngeyel sedikit dan akhirnya berangkat dengan catatan dari bapak, harus ditemani mama. Oke, Saya pun ikut seleksi. Dan, saya gagal (tidak ada panggilan pasca psikotes hari itu). Saya kembali ke Malang dan melanjutkan petualangan mencari lowongan lagi.

Saya pun mengirimkan berkas ke UMM, kampus saya sendiri. Dan, saat itu saya terlambat memasukkan berkas. Oke, otomatis saya ditolak. Lalu, CPNS sudah dibuka, saya daftar formasi dosen di salah satu kampus negeri berbasis Islam di Malang. Saya gagal.  Saya ikut lagi di kampus itu untuk formasi NON CPNS, saya pikir saya punya peluang besar untuk lolos, eh ternyata mereka mengutamakan pelamar yang sudah lebih dulu pernah menjadi dosen LB di kampus tersebut. Saya gagal lagi. Pergantian tahun dan CPNS buka kembali, saya mencoba daftar formasi dosen di kampus negeri lagi, lagi dan lagi saya gagal di tes CAT.

Saya rehat dari petualangan itu... dan salah satu dosen senior di kampus mengontak saya. Beliau memberikan saya pe er yang berbayar. Jadi, waktu itu beliau sedang menulis buku BERLIAN (buku tentang play therapy) dan saya dipercayakan oleh beliau untuk mengedit beberapa bagian naskahnya. Alhamdulillah, saya dapat pemasukan dari tiga kali project editing yang beliau berikan pada saya. Tidak lama setelah itu, saya pun ditawari kembali oleh dosen tersebut untuk mendaftar sebagai TUTOR di Lab Psikologi kampus. Singkat cerita, saya diterima. Saya persingkat lagi, dan saya pun kembali mengirimkan lamaran dosen ke kampus saya sendiri sembari saya bekerja sebagai tutor. Tetapi nihil. Padahal dekan saya sendiri yang meminta untuk memasukkan berkas. Namun, di sepanjang proses penyeleksian, saya bahkan tidak diberikan konfirmasi apapun terkait apakah saya diterima atau ditolak. Saat memasuki ajaran baru, tahu-tahu saya dengar sudah ada dosen baru yang masuk dari hasil seleksi tersebut. Yap, sakit tapi tak berdarah dan saya mencoba sembuh dari kekecewaan itu. Saya terima.

Saya pun diangkat menjadi karyawan kontrak oleh Universitas dengan posisi sebagai Instruktur di Lab Psikologi. Karena satu dan lain hal, kebijakan mendadak, sangat mendadak dari kampus, membuat saya harus... diPHK. Sedih? Iya. Kecewa? Iya. Kecewa sebab tidak ada konfirmasi apapun saat saya mencoba menerima tawaran memasukkan berkas dosen. Sedih karena tiada angin dan hujan tiba-tiba ada peraturan bahwa kampus sudah tidak menerima calon dosen yang S2 nya lulusan dari kampus sendiri dan tidak boleh ada lulusan S2 yang menjabat sebagai instruktur atau tutor di kampus. Seketika saya gamang harus ke mana lagi. Seketika langit putih biru di atas kepala saya berubah jadi suram, kelam, abu-abu menuju.. hitam. Dunia seakan berhenti sekejap.

Singkat cerita, pasca Juni 2019 lalu, saya sudah tidak lagi bekerja di kampus. Tidak ada keliling ke fakultas sebagai instruktur yang mengasistensikan dosen selama proses belajar mengajar. Pun tidak juga bekerja sebagai instruktur di Lab Psikologi kampus. Saya keluar dengan hati yang sungguh patah, berkeping-keping. Dalam sekian tahun petualangan saya harus berujung pada begitu banyak penolakan. Mungkin ini juga soal nasib. Apakah itu berarti nasib saya jelek? Saya tidak mau bilang begitu karena saya yakin Allah pasti sedang mengatur rencana yang terbaik bagi saya.

Akhirnya, saya putuskan untuk mengurus sesuatu yang selama dua tahun sejak lulus sempat saya skip sejenak. STR dan SIPPK. Yap, saya putuskan untuk menjadi seorang freelancer. Menjadi associate psikolog bagi yang membutuhkan dan menjadi freelance writer untuk situs yang menyenangi kualitas tulisan saya dan fokus membangun self-branding terkait profesi psikolog klinis saya. Alhamdulillah sejak akhir 2017 hingga sekarang, saya juga sedang merintis Biro Psikologi bersama rekan-rekan sejawat saya, ada adek tingkat dan kakak tingkat. InsyaAllah proses perizinannya masih berjalan dan mudah-mudahan bisa diterima oleh masyarakat. Biro saya namanya Taka Psikologi. Merintis dari nol tentu tidak sama dengan yang sudah punya banyak uang di awal. Tapi kami yakin, rezeki masing-masing sudah diatur. Walau di Malang sudah banyak biro psikologi yang lebih dulu terkenal, itu bukan masalah buat saya dan teman-teman. Saya dan teman-teman toh tidak ingin berkompetisi karena kami juga punya ciri khas dan target masing-masing.

Setelah lulus mapro, urusan sebagai psikolog tidak berhenti di situ saja. Urusan ini berlaku seumur hidup. Apakah urusan yang saya maksud? Urusan keanggotaan dan administratif lainnya. Setelah sumpah profesi dan memperoleh SSP dan SIPP, perjuangan tentu tidak berakhir di situ. Sebab PERMENKES sudah mengeluarkan aturan baru bahwa psikolog klinis adalah bagian dari tenaga kesehatan dan peraturannya hak dan kewajibannya diatur dalam undang-undang oleh MENTERI KESEHATAN RI. Otomatis, kita harus punya STR dan SIPPK.

Sebelum mengurus STR, harus sumpah profesi klinis dulu. Loh, kan dulu sudah sumpah profesi, kok sumpah lagi? Ya, memang begitulah syaratnya. Harus sumpah profesi yang khusus psikolog klinis. Caranya? Rajin-rajin update informasi di web atau IG IPK Indonesia saja ya untuk tahu di mana dan kapan jadwal sumpah profesi psikolog klinis akan diadakan. Alhamdulillah waktu itu saya sudah ikut sumpah profesi klinis yang kebetulan diadakan di Surabaya. Kemudian dari sumpah itu, saya mendapatkan Surat Sumpah Profesi yang kemudian itu sebagai salah satu syarat berkas untuk mengurus STR. Untuk kelengkapan berkas mengurus STR mending langsung saja buka laman STR ONLINE ya, di situ lengkap kok. Kalau saya jelaskan di sini, tangan saya nanti keriting.

Setelah STR jadi dan sudah ada di tangan, harus mengurus SIPPK (Surat Izin Praktik Psikolog Klinis) dengan meminta rekomendasi surat izin praktik ke IPK wilayah tempat kamu berada dan terdaftar sebagai anggota IPK. Setelah itu membawa surat rekomendasi tersebut menuju ke DINKES KOTA/KABUPATEN setempat sesuai dengan alamat praktik. Kalau alamat praktik kita itu di rumah alias praktik perseorangan psikolog klini ya sesuaikan letaknya di kota atau kabupaten berarti ngurusnya mengikuti dinkes kota atau dinkes kabupaten. 

Alhamdulillah saya sudah punya STR psikolog klinis dan sekarang sedang memulai mencari informasi untuk mengurus SIPPK. Saya sedang mengejar karena November tahun ini SIPP saya akan berakhir masa berlakunya. Jadi sebelum berakhir, saya harus segera mengurus SIPPK. Kalau SIPP mati terus mau ngurus SIPPK, ada syaratnya harus kredensial/ujian lagi sepertinya (untuk info jelasnya tanyakan saja langsung ke sekret IPK Wilayah atau IPK Indonesia ya).

Sekarang saya kesibukannya tidak banyak dan tidak serutin dulu. Tapi banyak hal yang saya syukuri. Saya buka praktik di rumah menangani klien di rumah jadi saya punya banyak waktu untuk branding, untuk mengedukasi masyarakat melalui Instagram, dan waktu ibadah pun jadi lebih fokus dan selalu berusaha tepat waktu untuk sholat. Soalnya kalau kerja kadang harus nunggu selesai kelas dulu baru sholat kadang juga susah tepat waktu. Saya juga jadi lebih mudah untuk ikut kegiatan seperti seminar, workshop lintas ilmu. Sekarang ini saya tertarik dengan dunia membangun bisnis. Ya karena tergerak dari merintis biro bareng teman, jadi saya juga sedang mencari workshop supaya dapat ilmu membangun bisnis di era digital seperti sekarang ini. Saya juga berusaha rutin memberikan edukasi di Instagram. Kalau mau main, monggo saja, Instagram saya @paresma.psikolog.

Alhamdulillah semua saya syukuri. Apapun itu, saya  yakin rezeki saya sudah ada dan pasti akan datang kapanpun di manapun asal saya berusaha.

Semangat buat teman-teman yang ingin kuliah di Psikologi, ingin lanjut Mapro psikologi klinis dan/atau yang sudah lulus dari Mapro. I feel you. Don't Give Up.

1 comment:

  1. Wah, ternyata begini toh perjalanan hidup Mba Emma hehe. Jadi sedikit gugup karena kupikir setelah lulus Mapro bakal cepet digandeng sama perusahaan/instansi tertentu karna sekarang psikolog kan dibutuhkan banget, ternyata lika-likunya banyak hehe.
    Semangat mbaaaa.

    ReplyDelete

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini. Bila ingin share tulisan ini, tolong sertakan link ya. Yuk sama-sama belajar untuk gak plagiasi.