Sunday, June 9, 2013

TENAGA PSIKOLOGI DI INDONESIA PERLU DITINGKATKAN

Barusan saya blog walking ke psikologizone.com dan membaca salah satu artikel yang judulnya mirip dengan yang saya posting ini. Saya memang sangat merasa bahwa sejak terjun ke fakultas psikologi, tenaga psikologi di Indonesia masih terbilang minim. Dan itu benar adanya. Di Indonesia, riset kesehatan tahun 2007 menyebutkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional, khususnya kecemasan dan depresi pada masyarakat dalam kategori usia 15 tahun mencapai 11,6%. Itu di tahun 2007, lalu bagaimana di tahun 2013 ini? Kita bisa menghitungnya sendiri dan itu tentunya sangat miris.

Perbandingan jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahunnya disandingkan dengan jumlah tenaga psikolog, konselor dan psikiater jelas masih sangat jauh. Jumlah penduduk di tahun 2011 lalu ada sekitar 241 juta orang. Sedangkan, jumlah psikiater hanya ada 600 orang dan jumlah psikolog klinis hanya sekitar 365 orang. Jumlah ini jelas masih berada di bawah rasio standar kuota minimal yang ditetapkan oleh WHO, yaitu 22:100 ribu dan konselor 1:30 ribu.


Beberapa fakta di atas jelas menunjukkan betapa pentingnya peran tenaga psikologi sebagai sarana kesehatan dan perkembangan jiwa masyarakat. Mengingat sekarang ini, jumlah kasus kejiwaan/psikologis makin kompleks dan beragam. Para penyandang gangguan skizofrenia di daerah terpencil banyak yang terabaikan bahkan mendapatkan perlakuan yang 'mengenaskan', dibiarkan, diasingkan, dikurung, dipasung dan tidak mendapat pertolongan/treatment yang sewajarnya, dimusuhi dan bahkan dibunuh karena dianggap meresahkan lingkungan sekitar.

Membaca hal tersebut, sangat berbanding terbalik dengan jurusan sejenisnya seperti kedokteran dan FIKES. Meski sama-sama bergelut dalam bidang 'kesehatan', namun jumlah peminat fakultas kedokteran masih jauh lebih tinggi bahkan membludak di negara ini. Ini bukan hal yang mengejutkan lagi, sebab dari dulu, fakultas kedokteran memang selalu dielu-elukan oleh para calon mahasiswa. Fakultas tersebut dianggap lebih bergengsi dan menjanjikan. Tapi pada akhirnya, profesi 'dokter' tidak lagi bisa dibilang sebagai profesi di atas segala profesi atau rajanya profesi.

Tidak hanya fakultas kesehatan saja, fakultas lain seperti akuntansi dan ekonomi pun menempati rasio peminatan yang cukup tinggi. Bahkan saat saya mengajar di prodi BKI (Bimbingan Konseling Islam) di STAIN sini pun, peminatnya sangat jauh dari dugaan saya, jumlah mahasiswa di kelas saya pun terbilang fantastis 12 PERSON ONLY, itupun ada yang memilih bidang konseling karena terpaksa ataupun kepasrahan. Jurusannya memang terbilang baru tapi bila dibandingkan dengan jurusan tarbiyah, syariah dan komunikasi, mungkin perbandinganny hanya sekitar 1:100.

Dengan kenyataan seperti ini, saya juga merasa kecewa sebenarnya apabila tidak melanjutkan kuliah ke jenjang magister profesi. Bukan untuk gengsi, namun saya merasa ingin bisa bergabung bersama HIMPSI, duduk bersama para psikolog muda dan senior lain untuk memberdayakan masyarakat dan menyelesaikan berbagai fenomena patologik di masyarakat. Kalau hanya lulus S1 seperti ini rasanya tanggung. Saya bekerja sebagai dosen untuk satu semester ditambah setengah semester tahun lalu pun merasa 'janggal', ibarat hanya sebagai 'tenaga psikologi bayangan'. Biar bagaimana pun melanjutkan ke jenjang S2 memang adalah sebuah pilihan. Ingin rasanya mengaktualisasikan harapan tersebut agar bisa benar-benar terjun sebagai the real clinical psychologist untuk menolong fakta-fakta permasalahan di atas.

Masih menyangkut tenaga psikologi, pernah di pertemuan perkuliahan saya di prodi BKI STAIN, salah seorang mahasiswa bertanya, "Kak, sekarang ini begitu banyak masalah psikologis menimpa masyarakat, baik kalangan menengah ke bawah hingga kalangan pejabat/pemerintah, masalah-masalah kriminal, tindak korupsi, hingga masalah yang bersentuhan dengan SARA pun masuk dalam kategori ini. Sementara itu, justru lebih banyak orang yang datang ke dukun, ke guru spiritual dibanding ke psikolog. Bagaimana cara mengatasinya?"

Kalimat pertanyaannya memang rada awut-awutan tapi sepenangkapan saya seperti kalimat di atas. Bagaimana cara mengatasi hal tersebut? Terlebih dulu saya membuat secuil analisis dari pandangan dan pengamatan saya. Pertama, saya mengatakan bahwa upaya edukasi mengenai pentingnya peran psikologi dan tenaga psikologi di Indonesia, terutama di daerah pinggiran kota hingga pelosok jelas masih sangat jauh dari harapan. Kedua, peminat bidang psikologi, konseling dan sejenisnya pun tidak sebanyak jurusan lain. Ketiga, banyak orang/penduduk yang masih awam terhadap apa makna 'psikolog' dan 'konselor' yang sebenarnya, disangkanya psikolog itu masih bersentuhan dengan dunia mistis bahkan ada pula yang masih menyebutkan bahwa psikolog itu adalah 'paranormal' yang bisa menerawang pikiran orang lain, persis seperti zaman pre scientific dulu.

Dengan adanya pandangan-pandangan yang masih menganggap bahwa psikolog adalah profesi yang aneh dan menakutkan, itulah yang sedikit banyak memberikan sumbangsih terhadap fakta terpinggirkannya kaum intelek psikologi.

Cara terbaik untuk mengatasinya adalah pertama, kita sebagai ilmuwan psikologi, magister psikologi ataupun peminat bidang psikologi tentunya harus berupaya lebih ekstra lagi untuk mengedukasi masyarakat tentang apa itu psikologi, apa saja yang dipelajari dalam dunia psikologi. Psikologi adalah ilmu yang universal dan bisa masuk serta disandingkan dengan ilmu pengetahuan lain. Psikologi adalah ilmu kehidupan karena memang pelajaran yang diperoleh tidak lepas dari fenomena yang terserak dalam kehidupan.

Cara lainnya tentu masih berkaitan dengan para lulusan ilmuwan psikologi atau master psikolog. Sebagai mereka, tentunya harus selalu siap memberdayakan ilmu yang dimiliki kepada siapapun, di mana pun dan kapanpun. Saat ini banyak sekali lulusan psikologi, khususnya psikologi klinis yang malah 'tersesat' terdampar pada profesi pekerjaan yang melenceng dari disiplin ilmu mereka. Sehingga, saat mereka sebenarnya sangat dibutuhkan untuk 'berpijak' pada disiplin ilmu tersebut, mereka malah tidak berada di tempat. Memang bukan masalah yang besar, namun jelas memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap kebutuhan peran psikolog untuk dunia medis. Masih mending jika sekalipun mereka 'tersesat' namun masih dengan sukarela mengaplikasikan ilmu yang dimiliki untuk keperluan kerja atau di luar kepentingan kerja. Akan tetapi, saat ini kenyataannya banyak juga yang sudah 'tersesat' hingga 'perlahan' (entah sengaja atau tidak) melupakan disiplin ilmunya atau enggan untuk membaginya.

Masih banyak cara lain yang bisa dilakukan. Namun, saya pribadi masih bisa tersenyum simpul melihat sekarang di TV banyak bermunculan psikolog muda. Menurut saya itu adalah salah satu strategi untuk memperkenalkan sekaligus menggugah kembali peran ilmuwan psikologi agar terus ditingkatkan.

Sebagai lulusan psikologi/ilmuwan psikologi ataupun para master psikologi, yuk kita manfaatkan sebijak mungkin disiplin ilmu yang kita telah kita tempuh, teruslah berkarya untuk bangsa ini dan sebisa mungkin ikut turun andil dalam menyelesaikan permasalahan psikologis yang tengah marak menjamur di negara tercinta ini. ^_^

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini. Bila ingin share tulisan ini, tolong sertakan link ya. Yuk sama-sama belajar untuk gak plagiasi.