Wednesday, February 12, 2014

FIKSI: SURAT DI PAGI YANG MENDUNG

Karena lagi bingung mau nulis apa, jadinya ngarang surat aja deh. Surat ini bukan surat sebenarnya. Hanya fiktif belaka. Jadi, jika terdapat kesamaan kisah dan nama, dan apabila ada yang mewek gegara baca ini (andainya) mohon dimaafkan ya karena ini hanya imajinatif belaka. ^__^

----

Pagi itu, aku melihat lingkaran pelangi yang melengkung jauh di atas kepalamu. Dan kau hanya diam menunduk. Kucoba tanya sekali lagi, apa kabarmu dan apa yang sedang kau pikirkan. Tapi, kau hanya mengangkat kepala, menggeleng lemah lalu menerbitkan seutas senyum simpul di bibir tebalmu. Kedua tanganmu sedari tadi meremas-remas ujung jilbab maroon yang kau kenakan pagi itu.

by google
Kau hanya bilang, kau baik-baik saja. Tapi, kau tak bisa membohongiku karena aku sudah hapal setiap gerak-gerik dan mimik wajahmu. Bohlam di matamu meredup, sendu, layu. Melihatmu seperti itu, membuatku merasa bersalah. Kau adalah sahabatku, sahabat terbaik yang tak akan pernah kutemukan lagi di belahan bumi manapun. Kau satu-satunya energi terbesar yang mampu menyalakan cahaya dalam diriku. 

Beberapa jam kumenunggu pernyataan darimu namun bibirmu masih saja kau kunci. Hingga keesokan harinya, kutemui secarik kertas berbungkus amplop merah di atas kasur, di kamarmu. Torehan tinta itu tampak ragu-ragu. Tapi, aku mencoba membaca tulisanmu dengan sangat teliti. Baru satu kalimat kubaca, air mataku merembes, jatuh membasahi jilbab putihku. Kau... kau... Napasku tersengal. Aku tak tahu harus mendengus kesal ataukah menyerah dan coba menerima. 

Sahabatku, mengapa tak kau katakan saja sejak dulu bahwa kau adalah mantan dari lelaki yang kucintai? Mengapa tak kau katakan saja sejak beberapa bulan lalu bahwa kau telah dilamar oleh seseorang yang pernah mengutarakan niat yang sama padaku? 

Lelaki itu... Kupikir, dia akan benar-benar menungguku, seperti janjinya. Dulu, dia pernah melamarku tapi karena suatu kondisi, kedua pihak keluarga kami sepakat untuk menunda pernikahan. Dan, dia bilang akan menungguku sampai titik yang telah ditentukan. Ternyata, belum genap setengah tahun, dia menyalahi janjinya.

Sahabatku, ini bukan salahmu. Aku tak bisa... sungguh tak bisa menyalahkanmu meskipun kau menuliskan pernyataan bahwa kau teramat bersalah dalam hal ini. Entah apa yang harus kukatakan. Tapi, haruskah aku menyalahkan lelaki itu? Yang kutahu hanyalah, lelaki itu dipercaya karena janjinya. Lelaki itu, yang dipegang teguh adalah janjinya. Tapi, semua telah terjadi. Aku tak bisa datang mengemis janjinya lagi. Jadi saat ini, yang kusimpulkan adalah, dia bukanlah jodoh terbaik untukku. Ya, mungkin, dia adalah jodoh terbaik untukmu, sahabatku.

Kalau saja dulu, lelaki itu tak datang menitipkan janji, mungkin aku juga tak akan menumbuhkan harapan sejauh ini terhadapnya. Dan kau sahabatku, jujur, aku sedikit kecewa padamu. Aku kecewa sebab kau tak pernah jujur tentang ini. Kau tahu? Ini adalah masalah besar bagiku. Lelaki yang lebih tepat kupanggil calon suamimu itu telah merontokkan kepercayaan keluargaku. Aku tahu memaafkan kesalahannya tak semudah itu bagi keluargaku. Tapi, insya Allah... aku telah ikhlas merelakan dia untukmu, sahabatku.

Sahabatku, setelah beberapa bulan lamanya kau pergi dengan meninggalkan sebuah undangan pernikahan di depan pintu rumahku, aku pun kini telah bertemu dengan pujaan hatiku, pengayom jiwaku. Dan, hatiku amat yakin, dia lah pria terbaik yang dikirimkan Allah sebagai pengganti yang lalu. 

Sahabatku, aku berterima kasih padamu. Berkat kejujuranmu yang amat terlambat bagiku dan berkat ulah lelaki yang kini telah menjadi suamimu itu, kini kutemukan belahan jiwa yang jauh lebih baik dari yang kubayangkan. Aku bersyukur berjuta kali lipat atas kesabaran menunggu kehadirannya di sisiku.

Sahabatku, meski kau tak di sini lagi, aku tahu, kelak kau pasti akan datang menyapaku kembali. Dan, kuharap, suamimu tak akan pernah mengungkit masa lalu itu. Sebab, aku pun tak ingin mengingatnya lagi.

Dari sahabat yang selalu merindukanmu,

Kisha

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini. Bila ingin share tulisan ini, tolong sertakan link ya. Yuk sama-sama belajar untuk gak plagiasi.