Thursday, May 17, 2018

HOW TO HANDLE WORKPLACE CONFLICT

"Speaking without Thinking is like Shooting without Aiming." 
-Ancient Proverb- 


Long time no see...
Thanks for all my silent reader in here..
Sudah memasuki bulan Mei. So excited soalnya Mei itu adalah momennya si blog ini ulang tahun. Blog ini sejak Mei 2011 mulai beroperasi (tsaah... kek mau launching mobil aja ya pake kata beroperasi). Sekarang udah 2018 jadi udah 7 tahun. Wow... 7 tahun saya ngeblog meskipun dengan time schedule yang berantakan, maksud saya, udah mulai jarang-jarang ngeblognya karena harus multi-tasking.



Alhamdulillah tepat di bulan blog anniversary ini, saya juga udah dua bulan lebih bekerja di kampus. Kampus mana? UMM lagi cuy. Hahaha... Kalo ada yang bilang, kok di situ-situ aja sih? Kok nggak nyoba ke luar aja sih? Udah gans, tapi ya untuk saat ini rejekinya berlabuh di kampus sendiri.  But, it's seems..not bad lah, daripada saya luntang-lantung di rumah cuman ngerjain itu-itu aja.

Kok agak nggak nyambung sama judulnya ya.

Kembali ke topik yang mau kita bahas. Judul ini bukan semata-mata saya comot dari pikiran mentang-mentang karena saya udah dapat kerjaan, bukan juga pengen gibah karena ini lagi ramadhan (oya betewe, happy fasting ya) dan bukan juga karena saya mau sok-sok jadi pakar resolusi konflik. Bukan. Kepikiran buat nulis tentang topik ini karena... di mana pun kita kerja dan apapun pekerjaannya, pasti akan ada konflik. Konflik apakah itu? Pastinya berbeda tiap orang tiap lembaga tiap perusahaan.

Konflik adalah situasi dimana terdapat suatu ketidaknyamanan atau adanya tujuan, emosi atau kognisi yang tidak kompatibel di dalam sebuah perusahaan/lembaga/tempat kerja atau antara individu atau kelompok yang mengarah pada interaksi oposisi. Konflik bisa terjadi karena adanya ketidaksesuaian/pertentangan dengan pihak atau orang lain menyangkut kebutuhan. keinginan, persepsi, nilai, gagasan, sumber daya, minat, tujuan, kepribadian dan pendekatan dalam penyelesaian masalah. Dan... konflik adalah sesuatu yang normal terjadi sebagai bagian dari kehidupan berorganisasi, bekerja dan berinteraksi.

Di awal-awal semester genap ini, saya sudah menghadapi konflik. Sebagai instruktur yang tugasnya menjadi perantara dosen dengan mahasiswa, banyak hal yang bisa aja terjadi. Miskomunikasi terkait jadwal perkuliahan, RPS, hingga terkait cara mengajar dosen ditambah mahasiswa jaman now yang udah kalo ibarat Bon Cabe tuh mungkin udah di atas level 30. Why? Mahasiswa jaman now itu udah nyaris-nyaris setara aja sama seorang kritikus, apa-apa dikomen, dapat tugas dari dosen susah sedikit aja dikomenin, dikeluhin de es be de es be...Syukurlah mereka nggak kayak penyanyi dangdut yang ngomenin segala sesuatunya pake dilagukan. Padahal teknologi tu udah canggih. Antara instruktur, mahasiswa dan dosen udah diwadahi Grup Whatsapp. Eh, tapi ada aja alasan mahasiswa nih, yang kalo buka WA saking udah panjang banget notifnya jadi males baca. Ya, salah siapa dong kalo ketinggalan info???

Di semester ini, saya kedapetan matkul Tes Psikologi Lanjut yang isinya adalah praktikum tes proyektif. Dua dosen yang saya dampingi pun mempunyai karakter/ciri khas mengajar yang sedikit berbeda dibanding dosen-dosen lain dalam jajaran pengampu matkul itu. Jadi, saya awalnya juga udah nggak shock karena udah tahu jam terbang dosen-dosen tersebut dan pola pikirnya dan lainnya. Yang jadi konflik adalah bagaimana memenej supaya meskipun ada dosen yang keurutan RPS berbeda dari dosen lainnya, mahasiswa tetap memperoleh tugas yang sama dan jadwal praktikum seperti kelas yang diampu dosen lain.

Overall, semua bisa saya atasi. Mahasiswa pun udah paham, dan saya juga sering berpesan dan mengabarkan kepada dosen pengampu bahwa ketika mereka nggak masuk dan saya yang mengisi materi, saya selalu minta untuk dikoreksi apabila ada penjelasan saya yang nggak match atau menyimpang banget. Alhamdulillah dosen-dosen tersebut pun juga memahami bahwa meskipun saya udah S2 tapi nggak menutup kemungkinan kesalahan dalam penyampaian maksud dan tujuan iu muncul karena berbagai sebab.





Next, how to handle when workplace conflict exist?

Coba deh kalian baca salah satu buku terbitan McGraw-Hill tentang sumber dan resolusi konflik. Atau, kalo kalian pernah baca Five Conflict Management Style yang diidentifikasi oleh Thoman dan Kilmann, maka mungkin kalian bisa mencobanya tuh.


Conflict Management Styles | Michelle Bañuelos | Pulse | LinkedIn


Jadi, menurut Thoman dan Kilmann, gaya manajemen konflik itu ada 5 tipe. Nah, melalui 5 tipe tadi, kita juga bisa mengidentifikasi orang ini nih termasuk asertif ataukah kooperatif dalam memenej konflik (seperti gambar di atas tuh. Mau dibahas satu-satu nggak? Okke, kita bahas deh ya.

  1. Accomodating, Orang dengan tipe ini persis seperti slogan, mendahulukan kepentingan kelompok daripada kepentingan pribadi. Dibilang ngalahan, nggak juga sih. Cuman lebih bisa membangun emosi yang positif dengan lebih mendengarkan apa yang dibutuhkan orang lain dan perusahaan, percaya bahwa relasi itu adalah hal penting daripada hal lainnya, dan pendekatan accomodating ini dalam penyelesaian masalah akan efektif apabila pihak lain sudah mempunyai solusi terbaik sehingga bisa beradaptasi dengan keputusan atau solusi yang disepakati bersama.
  2. Avoiding, tipe pendekatan dimana seseorang dengan ciri seperti ini tidak ingin terlibat dalam konflik apapun. Bagi mereka, saat ada konflik, mereka membiarkan orang lain yang memutuskan dengan catatan asalkan diri mereka nggak disangkutpautkan dengan masalah yang terjadi. Orang kayak gini juga cenderung mengutamakan keuntungan pribadi atas solusi yang ditetapkan oleh orang lain namun dirinya sendiri nggak mau berkontribusi.
  3. Collaborating, orang dengan tipe pendekatan ini adalah mereka yang tidak berparadigma win and lose, buat mereka saat ada masalah, nggak ada yang untung atau rugi dan nggak ada yang menang dan kalah. Bagi mereka, bekerja/berusaha mencapai tujuan bersama dan "menang" bersama merupakan hal pokok. Orang kayak gini juga pandai mencari solusi yang dapat disepakati atau dapat bermanfaat bagi kepentingan bersama, mampu memantai ketika ada kres dalam relasi antar individu atau kelompok dan mampu berpikir kreatif dalam memecahkan masalah.
  4. Competing, orang dengan tipe pendekatan ini adalah mereka yang menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang banyak. Mereka ingin didengarkan dan dipenuhi kehendaknya tanpa memikirkan orang lain, nggak bisa diajak kooperatif alias keras kepala banget, mudah mengacaukan suasana dan relasi dan paradigma win and lose itu kepake banget. Tapi sebenarnya pendekatan ini akan berguna jika memang outcomenya sangat penting dan memang ada dalam situasi sangat mendesak alias harus mengambil keputusan dalam waktu singkat.
  5. Compromising, ini merupakan level pendekatan yang moderate, nggak yang asertif tapi juga nggak kooperatif. Orang seperti ini menganut paham bahwa ketika berada dalam situasi mencekam dan solusi yang diputuskan tidak cukup baik, maka semua orang mau nggak mau harus ngerasain "ketidakbaikan" atas konsekuensi dari solusi itu nantinya. Dengan kata lain, apapun solusinya dan konsekuensinya, akhirnya kudu sama-sama impas dah daripada nggak sama sekali.


Nah, apapun pendekatan manajemen konflik yang digunakan, semua pasti ada sisi positif dan negatifnya. Tinggal kita aja yang siap apa nggak menghadapi dan memutuskan.


Oke, sekian dulu ya, semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment

Makasih banget ya udah mau baca-baca di blog ini. Jangan sungkan untuk tinggalin komentar. Senang bila mau diskusi bareng di sini. Bila ingin share tulisan ini, tolong sertakan link ya. Yuk sama-sama belajar untuk gak plagiasi.